Postingan

Apakah Titoisme Itu ?

Titoisme adalah suatu aliran atau paham politik yang pada dasarnya bertumpu pada ajaran Komunisme-Marxisme murni, tetapi kemudian bergeser menjadi ajaran Komunisme Yugoslavia. Paham ini dikembangkan dan dipopulerkan oleh Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada tahun 1950-an.  Sesudah Perang Dunia II, Tito memangku jabatan pimpinan Partai Komunis Yugoslavia dan sekaligus sebagai Perdana Menteri. Sejak tahun 1954 hingga 1970-an Tito menduduki jabatan Presiden. Tito juga salah seorang pendiri Gerakan Non-Blok bersama Bung Karno, Nasser dan Gandhi. Selain itu, ia juga berhasil menjalankan politik luar negeri yang tidak terlalu bergantung pada Uni Soviet. Untuk mengetahui paham Titoisme ini, perlu pula melihat paham Marxisme-Komunisme, Leninisme, Revisionisme, dan Maoisme sebagai dasar pemikiran dan sekaligus pembandingnya. Dasar Pemikiran Titoisme  Titoisme adalah paham di bidang ekonomi dan politik yang senantiasa mengikuti doktrin Marxisme tentang gabungan yang diharapkan dar...

Mengenal Josip Broz Tito

SOAL gaya berbusana Presiden Sukarno termasuk salah satu pemimpin negara yang paling necis di abad ke-20. Apakah itu dalam balutan seragam militer maupun pakaian sipil, ketika menghadiri hajatan formal Sukarno selalu terlihat dendi.  Barangkali yang mampu menandingi Sukarno perkara fesyen ialah Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Penyandingan ini diakui sendiri oleh putra Bung Karno, Guntur Soekarnoputra. “Aku rasa nggak ada yang bisa ngalahin rapihnya dan menterengnya cara berpakaian Presiden; Pemimpin Revolusi Yugoslavia Josip Broz Tito, baik kalau ia sedang berpakaian secara sipil ataupun militer. Benar-benar bukan main ‘kemepyarnya’ cara dandanan pakaian ‘Banteng Neretva ini’,” kata Guntur dalam Bung Karno dan Kesayangannya (Martin Sitompul, historia.id). Siapakah Tito Josip Broz Tito adalah marsekal dan Presiden Yugoslavia (1953-1980), pendiri Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Ia bersama Bung Karno, Nasser, Nehru merupakan pemrakarsa Gerakan Non-Blok, yang juga dikenal se...

Percakapan dengan Joseph Broz Tito

Saat penyelenggaraan Konferensi Gerakan Non Blok I di Beograd , Megawati ikut serta sebagai anggota delegasi termuda. Dia lalu bercerita mengenai salah satu dialog Bung Karno sebagai perumus Pancasila dengan Presiden Yugoslavia, Joseph Broz Tito. Bung Karno bertanya pada Tito mengenai apa yang ditinggalkannya untuk negerinya jika suatu saat meninggal nanti. Tito menjawab bahwa dirinya meninggalkan tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsanya. Tito berbalik bertanya hal sama ke Sukarno. Dengan tenang Bung Karno menjawab: “Aku tidak khawatir karena aku telah meninggalkan bangsaku dengan sebuah way of life, yakni Pancasila”. “Mungkin Pak Tito tak mengerti apa yang dimaksud. Tetapi kita tahu, ketika dia sudah meninggal, Yugoslavia porak poranda jadi beberapa negara kecil,” kata Megawati. Panca Sila  Presiden RI Kelima yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa Indonesia sungguh beruntung memilik...

. Pidato Bung Karno pada KTT Gerakan Non-Blok di Beograd Tahun 1961

Dalam pidatonya pada KTT Gerakan Non-Blok Bung Karno membagi dunia menjadi dua yakni kubu yang mewakili kekuatan mapan dan lama sebagai Oldefos (Old Established Forces) dan kubu yang merupakan kekuatan yang baru muncul sebagai Nefos (Newly Emerging Forces), dan Indonesia siap memimpin Nefos (Wardaya, 2008:247-248). Pidato Presiden Sukarno yang bertajuk "Persahabatan, Perdamaian, dan Keadilan Sosial di antara Bangsa-bangsa", tersebut ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO.  Kami masih berusaha memperoleh naskahnya. Kami akan sangat berterima kasih jika ada Bapak Ibu Saudara yang memilikinya dan berkenan untuk berbagi. Hanya ada sedikit kutipan dari Wikisource:  "Janganlah ada salah paham. Non-Blok bukanlah netralitas. Ini bukan sikap pura-pura alim atau munafik dari seseorang yang menjauhkan diri dari penyakit menular. Politik Non-Blok bukanlah politik mencari posisi netral jika ada peperangan, politik Non-Blok bukanlah politik netral tanpa warna sendiri. Menj...

Diplomasi di Forum Internasional

Pada akhir tahun 1961 Bung Karno melancarkan serangkaian kampanye diplomasi di forum forum internasional yang diikuti dengan strategi perjuangan. Dalam pidatonya di Konferensi negara-negara Non-Blok di Beograd pada bulan September 1961, Bung Karno meminta dukungan dari mereka yang hadir bagi klaim Indonesia atas Irian Barat. Bung Karno mengibaratkan perselisihan atas Irian Barat itu sebagai "duri yang menancap dalam daging kami." Kegagalan untuk menyelesaikan persoalan tersebut akan mengancam kemerdekaan Indonesia dan perdamaian Asia maupun dunia.  Nefos vs Oldefos Dalam pidatonya Bung Karno membagi dunia menjadi dua yakni kubu yang mewakili kekuatan mapan dan lama sebagai Oldefos (Old Established Forces) dan kubu yang merupakan kekuatan yang baru muncul sebagai Nefos (Newly Emerging Forces), dan Indonesia siap memimpin Nefos (Wardaya, 2008:247-248). Memory of the World  Pidato Presiden Sukarno tersebut ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO. Sayang kami belum men...

Tentara Bergerak

Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Bab 20 Demokrasi Terpimpin 1957-65 menulis bahwa pihak tentara mengambil tindakan membatasi PKI pada semester kedua tahun 1960.  Pada bulan Juli, PKI melancarkan kecaman-kecaman terhadap kabinet, terutama Subandrio yang dituduh telah menghina Cina, dan terhadap pihak tentara yang masih belum menumpas habis kaum pemberontak PRRI.  Semua anggota Politbiro PKI ditangkap guna diperiksa oleh tentara, tetapi Sukarno mendesak Nasution supaya membebaskan mereka. Para panglima daerah di Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan melarang PKI dan menahan kaum komunis setempat pada bulan Agustus. Atas permintaan Sukarno, larangan-larangan tersebut dicabut pada bulan Desember, kecuali di Kalimantan Selatan di mana larangan itu terus berlangsung selama setahun.  Di daerah-daerah itu, PKI terus diawasi, diganggu dan dibatasi oleh pihak militer.  Pada akhir bulan Oktober, tujuh majalah Politbiro ditutup untuk selamany...

Rencana Luns

Sejak paruh kedua tahun 1961 masalah Irian Barat mulai mendapat perhatian lebih luas dari para anggota PBB, terutama setelah ada rencana Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns untuk menyerahkan masalah tersebut ke Majelis Umum PBB bulan Oktober  tahun itu.  Menurut Rencana Luns, Belanda bermaksud mengalihkan kekuasaan ke PBB, yang diikuti dengan pengiriman Komisi PBB untuk mengawasi plebisit atau pemungutan suara sebagai cara untuk memastikan dijalankannya hak menentukan nasib sendiri oleh Rakyat Papua (William Henderson, West New Guinea The Dispute and It's Settlement, Seton Hall University Pers, 1973 : 141). Belanda yakin bahwa Rakyat Papua tidak akan memilih untuk berintegrasi dengan Indonesia. Irian Barat mungkin tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan mereka, tetapi juga tidak akan jatuh ke tangan Indonesia. Di dalam perdebatan Majelis Umum PBB, rencana tersebut mendapat dukungan luas, walaupun juga tidak memperoleh suara mayoritas 2/3 yang dipersyaratkan.  Sebagi...