Postingan

Pernikahan dengan Haryati

Selanjutnya Bung Karno menikahi seorang penari dan Staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian bernama Haryati. Haryati merupakan putri bungsu dari Bupati Ponorogo periode 1916–1926, Kanjeng Pangeran Koesoemajoedho. Keduanya menikah pada tanggal 21 Mei 1963, namun pernikahan mereka tak diumumkan kepada masyarakat luas. Selama menjadi istri Sukarno, Haryati tak akur dengan  istri yang lain. Sukarno dan Haryati pun memutuskan bercerai pada tahun 1966. (Joni Setiawan, Tribuntrens.com). Surat Cinta Bung Karno kepada Haryati "Ini lho arloji bertahta emas itu. Biasakan memakainya. Nanti setelah sebulan, kamu akan tahu mana yang hendak dipilih: yang hitam, atau yang satunya, atau keduanya? Jadi, nanti sebulan lagi, bilanglah. (Kalau kamu suka keduanya, aku senang juga). Masa aku tidak senang, lha yang meminta saja wanita jantung hatiku!. Jangankan sekedar arloji, minta apa pun akan aku beri. Tie, surat-suratku ini tolong disimpan, ya! Supaya menjadi gambaran cintaku kepadamu, yang bisa dibaca...

Manila Accord

Kedatangan Presiden Sukarno di bandar udara Manila 29 Juli 1963 disambut oleh Presiden Filipina Diosdado Macapagal. Kedatangan Presiden Sukarno di Manila tersebut untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi tiga negara mengenai masalah Malaysia (opac.perpusnas.go.id). KTT tiga negara mengenai masalah Malaysia menghasilkan Kesepakatan Manila (Manila Accord) yang ditandatangani pada tanggal 31 Juli 1963 oleh Federasi Malaya, Republik Indonesia, dan Republik Filipina, menyusul serangkaian pertemuan tingkat menteri yang diselenggarakan di Manila dari tanggal 7 hingga 11 Juni 1963. Para Peserta Utama • Federasi Malaya: Diwakili oleh Wakil Perdana Menteri Tun Abdul Razak. • Republik Indonesia: Diwakili oleh Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio. • Republik Filipina: Diwakili oleh Wakil Presiden sekaligus Menteri Luar Negeri Emmanuel Pelaez, atas inisiatif Presiden Diosdado Macapagal. Naskah Manila Accord  July 31, 1963 MANILA ACCORD 1. The governments of the Federation of Malaya, the Republic...

Pernikahan dengan Ratna Sari Dewi AKA Naoko Nemoto

Awal Pertemuan Dewi-Sukarno Mengenai pertemuan antara Sukarno dengan Dewi, terdapat dua versi berbeda yang dituliskan dalam beberapa referensi. Versi pertama, mereka bertemu di Copacabana Super Club, dan versi kedua—dan yang paling banyak dikisahkan—mereka bertemu di Hotel Imperial. Salah satu referensi yang mengisahkan mengenai pertemuan Sukarno dan Dewi pada versi pertama adalah buku dari Azlizan dan Abdul Ghani (2012) yang berjudul Wanita dan Masyarakat. Diceritakan bahwa Dewi remaja bekerja pada sebuah club mewah yang bernama Copacabana Super Club, yang mana pengunjung dari club tersebut hanya kalangan pejabat dan pengusaha besar saja. Versi kedua, dan yang paling banyak dikisahkan, menyebutkan bahwa pertemuan antara Dewi dan Sukarno terjadi di Hotel Imperial, pada 16 Juni 1959. Karena paras cantik dan kepiawaian dalam dunia seni, khususnya melukis, sastra, dan drama, membuat Sukarno jatuh hati pada Dewi. Setelah pertemuan pertama tersebut, Sukarno kemudian mengirimkan undangan kep...

Kunjungan Bung Karno ke Jepang Tahun 1963

Pada 29 Januari 1963, pesawat yang menerbangkan Presiden Sukarno mendarat mulus di Tokyo, Jepang. Karena bukan kunjungan resmi, kepolisian Metropolitan Tokyo menolak bertanggungjawab atas keselamatan proklamator kemerdekaan Indonesia. Konsul Jenderal Indonesia di Tokyo, Iskandar Ishak pun menghubungi Kodama Yoshio, pimpinan politisi sayap kanan yang sebenarnya tokoh bawah tanah Yakuza.  Kodama menugaskan orangnya, yakni Kobayashi Kusuo, Direktur Utama Dai Nihon Kyogyo—Perusahan Konstruksi Jepang Raya yang punya "kuasa" atas Polisi Ginza untuk menjalankan tugas.  Kobayashi mengerahkan 20 orang Polisi Ginza untuk mengawal Bung Karno selama berada di Jepang. Kodama juga menugaskan "orangnya" yang lain, yakni Kubo Masao yang lihai berbahasa Inggris sebagai penghubung antara Bung Karno, polisi dan para gangster.    Kobayashi dan Kodama adalah Dewan Direksi Tonichi Trading Company, perusahaan milik Kubo Masao. Kubo memerintahkan Masaya Kirishima, "karyawan" Toni...

Fatmawati Meninggalkan Istana

Kemarin ada kawan yang bertanya, bagaimana perasaan Fatmawati? Tentu saja kecewa. Berikut ini ceritanya. Tahun 1953 Fatmawati memilih untuk pergi meninggalkan istana merdeka tak lama setelah kelahiran sang putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra. Pada siang hari di Istana Merdeka, Fatmawati menghampiri Sukarno. Dia berniat pamit meninggalkan istana negara. Sukarno tak mengabulkan keinginan Fatmawati. Karena baginya, istana adalah rumah mereka yang harus ditinggali bersama. "Di sini bukan rumahku, keadaan kita sekarang sudah lain," ucap Fatmawati yang tertulis dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Ucapan itu ternyata kalimat perpisahan yang dilontarkan Fatmawati. Selepas mengatakan itu, tanpa keributan dan penuh ketenangan, Fatmawati mengucap bissmilah lalu melangkahkan kaki meninggalkan gerbang istana. Winoto Danuasmoro, sahabat dekat dan juga orang kepercayaan Sukarno menceritakan peristiwa setelah kepergian Fatmawati, Sukarno meminta bantuannya untuk membujuk Fatmawati kemba...

Pernikahan dengan Kartini Manoppo

  Setelah menikah dengan Hartini, Bung Karno menikah secara siri dengan Kartini Manoppo pramugari Garuda. Kartini berasal dari keluarga Kerajaan Bolaang Mongondow.  Sebagaimana ditulis oleh Fitri Wahyuni dan  Rusaidah, pada  Bangkapos.com, 19 September 2025, Kartini Manoppo  istri kelima Presiden Pertama RI tersebut bukan sosok sembarangan, ia merupakan seorang pramugari dari maskapai Garuda Indonesia. Ia juga bukan berasal dari keluarga sembarangan, melainkan dari keluarga terpandang, yakni dari Kerajaan Bolaang Mongondow. Sosok Kartini Manoppo Kartini Manoppo dilahirkan  tanggal 19 Maret 1931 di Kotamobagu, Sulawesi, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Di masa itu, Kotamobagu (sekarang bagian dari Sulawesi Utara) adalah Ibu Kota dari Kerajaan Bolaang Mongondow. Kerajaan Bolaang Mongondow pernah eksis di Sulawesi Utara dari tahun 1280 hingga 1 Juli tahun 1950. Kartini Manoppo lahir dan dibesarkan di lingkungan kerajaan Bolaang Mongondow. Ayahnya, Anto C...

Pernikahan dengan Hartini

“Aku bertemu dengan Hartini. Aku jatuh cinta kepadanya,” kata Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. “Dan percintaan kami begitu romantis, sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal itu.”    (Historia) --- Pada beberapa unggahan sebelumnya sudah kami sampaikan pernikahan Bung Karno dengan Utari (bercerai), Inggit Garnasih (bercerai) dan Fatmawati. Kali ini kami sampaikan pernikahan beliau dengan Hartini. Ichram, Yayi , Kleden, Hermien Y., menulis artikel berjudul Hartini Sukarno: "Saya Tidak Merebut Bung Karno" pada Rubrik WAW Majalah Tempo Edisi 24/28, 22 Agustus 1999, Halaman 32 sebagai berikut. NAMANYA singkat saja: Hartini. Wanita yang masih terlihat ayu di usia senja ini pernah menjadi buah bibir di seantero negeri tatkala menikah dengan Presiden Sukarno pada 1954. Kaum ibu Indonesia-terutama yang bergabung dalam Perwari-dan yang waktu itu sangat menjunjung tinggi perkawinan monogami, geger dan g...