Postingan

Bung Karno dan Bung Hatta Hijrah ke Yogyakarta

Sejak 1942 Bung Karno tinggal di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Setelah Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dipilih secara aklamasi oleh PPKI menjadi Presiden. Bung Hatta dipilih sebagai Wakil Presiden. Saat itu, ibukota Republik Indonesia di Jakarta berada di bawah pengawasan ketat pasukan NICA dan sekutu. Situasi yang terjadi di Jakarta sudah semakin tidak kondusif. Para pemimpin negara kemudian menggelar rapat terbatas pada 1 Januari 1946 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Dari hasil rapat tersebut, pemerintah Indonesia sepakat untuk mengendalikan jalannya pemerintahan dari lingkup daerah. Kemudian pada 2 Januari 1946, Sultan Hamengkubuwono IX saat itu menyarankan agar ibukota RI dipindahkan sementara ke Yogyakarta. Rencana pun disusun dengan cermat mengingat Jakarta sangat rawan. Malam hari tanggal 3 Januari 1946, Presiden Soekarno dan rombongan berangkat ke Yogyakarta menggunakan Kereta Api Luar Biasa untuk menghindari serangan musuh. Perjalanan pem...

Akhirnya Bung Karno Bermukim di Jakarta

Sepulang dari pengasingan di Ende dan Bengkulu akhirnya Bung Karno tinggal di Jakarta atas permintaan penguasa Jepang yang pada tahun 1942 mengusir Belanda dari Hindia Belanda. Bung Karno tinggal di Jalan Pegangsaan Timur No 56 sampai akhirnya hijrah ke Yogyakarta karena situasi Jakarta yang berbahaya.  Berikut ini sejarah kota Jakarta dari portal resmi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Sejarah Jakarta Jakarta bermula dari pelabuhan kecil di estuari sungai Ciliwung sekitar 500 tahun yang lalu. Lambat laun, pelabuhan kecil ini bertransformasi menjadi pusat perdagangan internasional yang mempertemukan ragam bangsa di dunia. Rekam jejak Jakarta bisa ditemukan melalui beberapa prasasti yang ditemukan di sekitar pelabuhan dan sepanjang sungai Ciliwung. Sejarah tentang Jakarta tercatat oleh para pengembara Eropa di abad ke-16. Kala itu, Jakarta marak disebut sebagai Kalapa, yang merupakan pelabuhan utama kerajaan Sunda. Pelabuhan yang turut menjadi pusat perniagaan Portugis kala itu diser...

Rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56

Di dermaga pelabuhan Pasar Ikan yang bacin, 9 Juli 1942 lewat tengah hari, suatu peristiwa bersejarah terjadi. Bung Karno kembali dari pengasingan. Akhirnya ia kembali pulang. Pemerintah penjajahan yang membuangnya telah kalah. Jepang masuk, dan membawa Bung Karno kembali dari pengasingan. Di dermaga Pasar Ikan, di hari yang panas itu, ia pun bersua lagi dengan tokoh-tokoh pergerakan, antara lain Hatta. Suatu babakan baru perjuangan kemerdekaan dimulai. Tapi apakah yang layak dikenang dari peristiwa siang itu? Bung Karno melihat Anwar Tjokroaminoto, bekas iparnya, putra tokoh pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto. Mereka berpelukan. Berciuman. Air mata Anwar terbit ,(data.tempo.com) Eduard Lukman dalam Bung Karno, dari Oranje Boulevard ke Pegangsaan Timur 56, menceritakan bahwa setelah Bung Karno dan Inggit Garnasih mendarat di Pasar Ikan (Pelabuhan Sunda Kelapa), berdasarkan referensi dari beberapa buku memastikan bahwa Soekarno dan keluarganya tidak langsung tinggal menetap di Jalan Pegang...

Pasar Ikan Tempo Doeloe

  KAPAL motor itu berukuran kecil saja. Panjangnya delapan meter, sedangkan lebarnya sekira satu setengah meter. Di dalam kapal itulah Sukarno dan Inggit, istrinya, beserta lima orang lainnya berangkat dari Palembang menuju Jakarta pada Juli 1942. Mereka terombang-ambing di laut selama empat hari, empat malam (historia.id). Ada dua versi perjalanan Bung Karno dari Palembang ke pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta. Versi Pertama  Setelah beberapa lama akhirnya waktu yang dinanti tiba. Sukarno kemudian mendapatkan kesempatan untuk berangkat Dia langsung menaiki perahu kecil di 2 Ulu menuju pelabuhan besar di 3 Ilir yang berada di seberang 2 Ulu. Dari sana, Sukarno lalu menumpang kapal Phinisi yang membawanya ke Jakarta. (daerah.sindonews.com). Versi Kedua  “Dokter AK Gani mempunyai inisiatip menjemput Soekarno dan keluarganya di daerah perbatasan dengan Jambi. Setelah di jemput pada waktu sekitar bulan Februari di bawa ke Palembang. Di Palembang Bung Karno menginap di rumah dr AK ...

Dua Bulan di Palembang

  Dalam berbagai catatan sejarah, Bung Karno sempat singgah di kota Palembang dalam perjalanannya dari Padang menuju Jakarta. Setidaknya Bung Karno dan keluarga tinggal di Palembang selama dua bulan. Ada tiga  versi mengenai tempat tinggal Bung Karno selama di Palembang, yakni di kediaman dr AK Gani di kediaman H. Anang, dan di kediaman H. Azharie. Versi Pertama  Pada waktu Jepang masuk, Sukarno bersama istrinya Inggit Ganarsih, termasuk anak angkat serta pelayannya dari Pulau Ende, pergi ke Padang (Sumatera Barat).  Di Padang, Belanda tidak bisa mengawasi dan melayani Soekarno, akhirnya Belanda hanya bisa mengurus keperluan mereka sendiri karena Jepang mulai menyerang. “Dokter AK Gani mempunyai inisiatip menjemput Soekarno dan keluarganya di daerah perbatasan dengan Jambi. Setelah di jemput pada waktu sekitar bulan Februari di bawa ke Palembang. Di Palembang Bung Karno menginap di rumah dr AK Gani, selama paling tidak menurut catatan mungkin 2 bulan.  Setelah i...

Pertemuan di Bukittinggi

  Sebagaimana telah kami sampaikan pada tulisan terdahulu, dari Bengkulu Bung Karno dibawa oleh tentara Belanda menuju Padang. Menurut RIAU ONLINE,  Bung Karno bersama keluarganya tiba di Padang saat kota itu chaos pada 26 Februari 1942 usai perjalanan panjangnya dari Bengkulu. Toko-toko yang ditinggalkan pemilinya dijarah. Sebagian penduduk memilih mengungsi. Sementara aparat keamanan kolonial sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Begitu pula para serdadu KNIL, bukannya mempersiapkan perlawanan terhadap pasukan Jepang yang akan datan, malah lari pontang-panting. Rapat Akbar Bung Karno lantas bertindak. Dibantu temannya, Woworuntu yang dikenalnya sejak masa pembuangan di Bengkulu, Bung Karno mengumpulkan masyarakat di sebuah lapangan dekat sebuah pasar. "Saudara-saudara, saya minta kepada saudara-saudara untuk mematuhi tentara yang akan datang. Jepang mempunyai tentara yang kuat. Sebaliknya kita sangat lemah. Tugas saudara-saudara bukan untuk melawan mereka. Ingatlah, kita t...

Lima Bulan di Padang

  Dalam artikelnya Lima Bulan Sukarno di Padang pada Historia, 8 Juni 1986, Jose Hendra menulis bahwa gagal dibawa Belanda ke Australia, Sukarno terdampar di Padang selama lima bulan. Selanjutnya Hendra mengatakan bahwa  ketika pertengahan  Februari 1942, Belanda terdesak oleh Jepang, Belanda ingin membawa Sukarno yang diasingkan di Bengkulu ke Australia dengan kapal yang disiapkan di Padang. Dikirimlah utusan menjemput Sukarno di Bengkulu. Untuk mengakses Padang, mereka menempuh jalur darat dari Bengkulu. Melewati kampung hingga rimba raya agar tidak diketahui Jepang. Namun, Belanda mendapat informasi Jepang telah menguasai Padang. Sehingga Sukarno dan keluarga tidak jadi dibawa sebab pejabat dan tentara Belanda menyelamatkan diri masing-masing. Chaos M.F. Mukhti, mengatakan bahwa Bung Karno sering pulang-pergi Padang-Bukittinggi untuk menertibkan rakyat sekaligus mengorganisir perjuangan kemerdekaan. Kota Padang chaos ketika Bung Karno dan keluarganya tiba di sana pada ...