Postingan

Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB

Pada tanggal 29 Agustus 1963, Tunku Abdul Rahman mengumumkan bahwa federasi Malaysia akan didirikan pada tanggal 16 September 1963.  Tunku Abdul Rahman menyatakan bahwa Federasi Malaysia akan tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak pendapat yang diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Sarawak dan Sabah ingin bergabung ke dalamnya atau tidak.  Pernyataan Tunku tersebut dilaporkan dalam New York Times dengan judul yang jelas-jelas membuat kecewa Indonesia: "Malaka Promises A Federation Regardless of Findings by UN" (Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB." (New York Times, 30 Agustus 1963). Indonesia mencurigai adanya intrik-intrik Inggris dan tidak suka dengan fakta tersebut. (Wardaya 2008: 323).

Persaingan Kepentingan AS US dan RRT

A. Internasional  Pada awal tahun 1960-an keterlibatan Amerika di Vietnam Selatan meningkat pesat dan Cina tidak menyukai kemungkinan adanya satu negara lagi yang pro-Barat di selatan setelah Muangthai, Vietnam Selatan, Filipina dan Taiwan. Perpecahan Cina-Sovi kini sudah sangat sulit untuk dirujukkan kembali dan Uni Soviet nyata-nyata telah memanfaatkan perang di Irian Barat untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap pemerintah dan militer Indonesia daripada untuk mendukung PKI.  Ketika Uni Soviet menandatangani percobaan larangan senjata nuklir pada bulan Agustus 1963, Cina khawatir bahwa Soviet siap berkomplot dengan Amerika untuk mengendalikannya. Oleh karena itu Cina dan PKI mengharapkan suatu kebijakan anti-Malaysia yang radikal agar menggagalkan pembentukan Malaysia dan membuat Inggris tidak bisa bergerak dari sana, sambil merusak rencana stabilisasi ekonomi dan pengaruh Amerika di Jakarta. Akan tetapi mereka tidak menginginkan perkembangan pesat pihak militer Indonesia me...

Jajak-pendapat di Sabah dan Serawak

Misi Michelmore tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun jajak-pendapat baru terselenggara tanggal 26 Agustus 1963. Para anggota misi berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis, buruh, para pejabat pemerintahan, para pemimpin politik, serta para kepala suku di Sabah dan Serawak, dan meminta pendapat mereka tentang federasi Malaysia yang akan dibentuk.  Sementara jajak-pendapat tersebut berlangsung, Menlu Indonesia Subandrio menegaskan kepada Howard P. John (Dubes AS) bahwa penolakan Indonesia terhadap Malaysia bukan pertama-tama diarahkan kepada Malaka tetapi kepada Inggris. Indonesia menentang segala bentuk kolonialisme dan imperialisme di mana pun berada.  Setelah merampungkan proses jajak-pendapat, misi PBB menemukan bahwa mayoritas rakyat yang diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. (Howard Palfrey Jones, Indonesia The Possible Dream, New York: Harcourt Brace Javanovich, ...

Misi Michelmore

Sebagai tanggapan atas pertemuan tingkat tinggi Manila, Sekretaris Jenderal PBB U Thant bersedia memfasilitasi jajak-pendapat tersebut dan membentuk Misi Michelmore, seturut nama ketuanya yang berasal dari Amerika Serikat, untuk mencari tahu apakah rakyat kedua wilayah itu benar-benar mau bergabung ke dalam Federasi Malaysia.  Misi Michelmore tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun perbedaan pendapat yang terjadi antara para anggotanya dan perwakilan Maphilindo membuat tertundanya pelaksanaan jajak-pendapat hingga tanggal 26 Agustus (Jones, 287 dalam Wardaya 2008: 321-322). --- Telegram  dari Misi Inggris New York  CONFIDENTIAL 8 Aug 1963 (1) No. 786 (2) No. 708 Following TELEGRAM OF 8TH AUGUST FROM U.K. MISSION NEW YORK, ADDRESSED TO FOREIGN OFFICE No. 1205, repeated for information to Djakarta No. 38, Manila No.2h, Singapore No. 64, Kuala Lumpur No. 60, North Borneo No. 39, Sarawak No. 39 and by saving to Canberra and Wellington (and to Brunei at request ...

Inggris Kecewa

Pada 5 Agustus 1963, pada KTT di Manila, Presiden Sukarno, Presiden Diosdado Macapagal, dan PM Malaka Tun Abdul Rahman mendukung pendirian Maphilindo. Secara bersama-sama mereka meminta PBB untuk menyelenggarakan sebuah jajak pendapat di Sabah dan Sarawak guna memastikan apakah rakyat kedua wilayah tersebut mau bergabung dengan Federasi Malaysia atau tidak. Baik Indonesia maupun Filipina setuju untuk menerima Malaysia sekiranya jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa rakyat kedua wilayah bekas koloni Inggris itu mendukungnya. Jejak pendapat tidak dilakukan di Brunei karena pada Juli 1963 wilayah tersebut telah memutuskan untuk tidak bergabung dalam federasi. Merasa gusar dan kecewa dengan hasil pertemuan tingkat tinggi Manila, para pejabat Inggris menuduh Bung Karno memang berniat untuk menghancurkan rencana pendirian Malaysia.  Presiden Kennedy menulis surat dan meminta PM Inggris Harold McMillan memperlunak sikapnya mengenai Malaysia. Sebagai balasan atas surat Kennedy, McMilla...

Pernikahan dengan Nina

Berdasarkan pengakuan Rukmini, Bung Karno menikah dengan perempuan asal Bengkulu berdarah Jerman bernama Nina pada tahun 1942.  Siapakah Rukmini ? Rukmini lahir pada 26 Agustus 1942. Ia disebut sebagai putri dari Sukarno dengan seorang perempuan asal Bengkulu berdarah Jerman bernama Nina. Dalam sejumlah biografi luar negeri dan arsip media Amerika Serikat, Nina disebut sebagai salah satu istri Sukarno yang tidak pernah dipublikasikan secara luas karena kondisi politik dan sosial pada masa itu. Secara protokol negara, garis keturunan ini tidak pernah dilembagakan, namun secara historis dan biologis keberadaannya diakui dalam berbagai catatan internasional. Sejak usia sangat muda, kehidupan Rukmini sudah dijauhkan dari Indonesia. Pada usia sekitar delapan tahun, ia dikirim ke Roma untuk menempuh pendidikan seni. Di kota inilah bakatnya berkembang pesat. Rukmini menekuni seni opera secara serius dan tumbuh menjadi penyanyi opera profesional. Ia dikenal fasih dalam delapan bahasa dan s...

Menikah dengan Jetje Langelo

Ini cerita dari Jetje sebelum akhirnya meninggal pada November 2004 sebagaimana diceritakan oleh Bayu Dwi Mardana Kusuma.  Dalam ingatan Jetje, Sukarno mulai mengenalnya ketika berkunjung ke Manado tahun 1953. Sejak itu keduanya menjalin hubungan melalui surat atau telegram, serta sesekali bertemu jika kebetulan Presiden berkunjung ke Manado. Tapi orangtua Jetje tidak merestui niat Sukarno untuk menikahi putri mereka. Maka begitu lulus dari sekolah SGA Roma Katolik Manado, Jetje dinikahkan dengan Leo Nico Christofel, anggota TNI berpangkat Letnan Satu. Meski sudah dikarunia dua anak, akhir 1955, Jetje dan Leo bercerai. Hubungan dengan Sukarno berlanjut kembali hingga akhirnya keduanya menikah secara Islam tahun 1957 di Manado. Perkawinan itu sempat dipestakan juga di Jakarta, namun Jetje yang dipanggil "Ice" oleh Soekarno, kemudian kembali lagi ke Manado. Baru setelah menjelang kelahiran Gempar Soekarnoputra, Jetje berniat menyusul suaminya, tapi batal karena ada pemberontaka...