Postingan

Sikap John F. Kennedy Terhadap Indonesia

  Pada tahun 1957 anggota Kongres AS John F. Kennedy berkunjung ke Indonesia. Kunjungan tersebut membuatnya memahami keinginan masyarakat Indonesia. Dalam catatannya, Kennedy menulis bahwa Indonesia, "sedang berusaha menapaki jalan tengah yang netral" dalam ketegangan Timur-Barat Perang Dingin. Alasan utama Indonesia adalah "tidak banyak perbedaan antara AS dan Russia."  Kennedy memahami bahwa Rakyat Indonesia memiliki pengalaman yang sangat pahit dengan Amerika, sebab ketika Perang Dunia II berakhir para pejabat AS membiarkan Inggris dan Belanda kembali ke Indonesia. Amerika enggan mendukung keinginan Indonesia untuk merdeka dan membentuk pemerintahan sendiri. (John F. Kennedy, Personal Papers, Boston Office 1949-1956. Political Miscellany, 1945-55, Box 11, Folder : Asia Trip 1951, Kennedy Library). Kennedy tidak mengecam sikap neutral Indonesia. Ia menempatkan keinginan Indonesia dalam konteks sejarah yang lebih luas. Menjadi Presiden AS Pada tahun 1961 masa jabat...

Presiden Sukarno Berkunjung ke India

Ternyata pada tahun 1950 Bung Karno sudah berkunjung ke India. Kali ini disertai oleh ibu negara, Fatmawati.  Kunjungan Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati  ke India dalam rangka memenuhi undangan Presiden Rajendra Prasad untuk menghadiri perayaan hari kemerdekaan India. Setelah itu Presiden Soekarno diundang oleh Perdana Menteri Pandit Jawaharlal Nehru ke rumahnya.  Sebuah foto Bung Karno dan Bu Fat menaiki sepeda  diunggah oleh steemit.com. Alkisah dalam perjalanan saat mengunjungi Taj Mahal di Agra, Uttar Pradesh, ban mobil yang dinaiki Presiden Soekarno kempes. Sambil menunggu ban mobilnya diganti Presiden Soekarno meminjam sepeda onthel dari warga setempat dan menaiknya dengan Ibu negara Fatmawati.

Bung Karno Naik Haji

Setelah berkunjung ke Mesir, Bung Karno melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Saudi Arabia dan sekaligus melaksanakan ibadah haji. Berikut ini beberapa catatan perjalanan tersebut. Presiden Soekarno pernah mendapatkan keberkahan luar biasa karena bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 1955. Dia dan rombongan berangkat pada Juli 1955 dan harus menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat. Tak tanggung-tanggung, waktu tempuh ketika itu bisa mencapai 6 hari. Lamanya waktu tempuh itu karena pesawat harus transit di banyak negara, seperti Thailand, Singapura, India, Irak, Mesir, dan Uni Emirat Arab. “Di hari Jumat tahun 1955 aku menjalankan ibadah haji di Mekkah. Naik haji di hari yang suci ini membikin seseorang menjadi Haji Akbar, Haji Besar. Ini menandakan bahwa orang mempunyai jiwa keagamaan tujuh kali lebih dalam daripada manusia biasa rata-rata,” tulisnya. Keberkahan lain yang didapatkan Bung Karno dan rombongan pada ibadah haji kala itu adalah bisa melihat berbagai momen penting. ...

Kunjungan Presiden Sukarno ke Mesir

Dalam unggahan terdahulu kami sampaikan bahwa pada tahun 1959, pidato Bung Karno  yang diberi judul Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution) dan dibukukan menjadi Manifesto Politik Republik Indonesia diterjemahkan oleh Al Dar al Arabiyah li al Ulum, Kairo,Mesir. Kali ini kami sampaikan unggahan mengenai kunjungan Presiden Sukarno ke Mesir tahun 1955 yang dimuat oleh Antara.news, 14 September 2013 dengan judul Pesona Bung Karno di negeri Ratu Cleopatra. Antara.news menyebutkan bahwa kunjungan pertama Bung Karno ke Mesir berlangsung hanya tiga bulan setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung yang dihadiri Nasser, dan kunjungan terakhir ke Kairo pada Juni 1965, atau hanya tiga bulan menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Setiap lawatan Bung Karno ke Negeri Lembah Nil itu disambut meriah sejak setibanya di Bandara Kairo hingga kepulangannya. Surat kabar Mesir Al Ahram pada 20 Juli 1955 menggambarkan kunjungan pertama Presiden Soekarno itu disambut gegap...

Terjemahan Manifesto Politik Republik Indonesia ke dalam Bahasa Arab

Beberapa hari yang lalu Pidato Bung Karno di istana negara Jakarta tanggal 17 Agustus 1959 dalam rangka memperingati 14 tahun proklamasi Kemerdekaan RI yang diberi judul Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution) sudah saya unggah secara utuh ke dalam bebeberapa kali unggahan. Ternyata pidato yang kemudian dibukukan menjadi Manifesto Politik itu diterjemahkan oleh Al Dar al Arabiyah li al Ulum, Kairo,Mesir. Hal itu disampaikan oleh A. Ginanjar Sya'ban dosen Pascasarjana STAINU Jakarta dalam sebuah tulisannya di media NU Online, Selasa 1 November 2016, berjudul Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno.   Berikut ini kami kutipkan artikel tersebut secara lengkap. Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno Oleh A. Ginanjar Sya’ban Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman....

Khrushchev Berkunjung ke Indonesia

  Kebutuhan militer untuk melancarkan serangan guna merebut Papua mendorong pihak tentara dan pemerintah berpaling kepada Uni Soviet, yang sedang meningkatkan pengaruhnya di Indonesia supaya merugikan AS maupun Cina (Ricklefs, 2005 : 531). Pada tanggal 18 Februari 1960 Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev menerima undangan Bung Karno untuk berkunjung, dan menghabiskan waktu selama dua belas hari di Indonesia. Selama kunjungan ini Nikita Khrushchev menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama. Nikita Khrushchev juga menjanjikan pinjaman sebesar $ 250 juta untuk Indonesia. Dubes AS untuk Indonesia Jones menyebut bantuan Uni Soviet tersebut sebagai propaganda Khrushchev (Wardaya, 2008 : 204). Dalam kunjungannya ke Indonesia PM Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev Berkunjung ke berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Khrushchev juga berkunjung ke Bali. Menurut  Faishal Hilmy Maulida dalam tirto.id, 18 Mar 2018, Khrushchev beserta rombonga...

Kebijakan Eisenhower Terhadap Indonesia

Pada pertengahan 1958, pemerintahan Eisenhower terpaksa mengakui bahwa campur tangannya di Indonesia telah gagal. Tak lama setelah menghentikan dukungannya kepada para pemberontak daerah, Eisenhower dengan cepat mendukung pemerintah Indonesia khususnya Angkatan Darat meskipun hanya dalam hal taktik. Tujuan yang ingin dicapai dengan  Strategi Perang Dingin tetap sama : pertama, mencegah kelompok komunis menguasai Indonesia; kedua, membangun sebuah Bangsa yang terbuka terhadap Free World yang menentang komunis dan tidak menyerahkan sumber dayanya pada Blok Sino-Soviet. Lima Bidang Pokok  Menurut Baskara T. Wardaya dalam buku Indonesia Melawan Amerika, paling tidak ada lima Bidang Pokok yang mendominasi kebijakan pemerintahan Eisenhower:  (1) PKI yang makin populer dan berkembang; (2) Presiden Sukarno yang semakin dekat dengan PKI dan Uni Soviet; (3) Meningkatnya pengaruh Soviet melalui bantuan militer dan ekonominya; (4) Angkatan Darat yang dipandang sebagai sekutu paling p...