Postingan

Masjid Istiqlal (Kemerdekaan)

Masjid Istiqlal merupakan mesjid terbesar di Indonesia yang terletak di Taman Wijayakusuma, Jakarta. Istiqlal berarti kemerdekaan. Nama itu diberikan oleh Presiden Sukarno karena Taman Wijayakusuma dikenal sebagai lambang pemerintahan Hindia Belanda. Untuk menghapus lambang pemerintahan Hindia Belanda, didirikanlah Masjid Istiqlal di tempat itu sebagai lambang kemerdekaan Republik Indonesia. Frederik Silaban  Rancang bangun masjid yang berkapasitas 100.000 orang ini disayembarakan pada tahun 1954 dan dimenangkan oleh arsitek Frederik Silaban. Menurut Silaban, seorang arsitek tidak terikat oleh agama dan kesukuannya dan harus dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dimiliki.Perencanaan masjid ini seratus persen asli, tidak meniru masjid manapun kecuali memenuhi persyaratan-persyaratan sayembara. Pembangunan  Pembangunan masjid ini dimulai tahun 1961. Pada tahun 1977 konstruksi beton bertulang dan bangunan gedung utamanya selesai. Sejak saat itu, meski sarana pelengkap...

Monumen Nasional

Ide pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang terletak di kota Jakarta ini berasal dari Presiden Sukarno, yang menetapkan bahwa bangunan harus mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, melambangkan api yang berkobar, sifat yang dinamis, dan memberikan kesan bergerak. Sayembara Dua kali diadakan sayembara, tak ada yang keluar sebagai juara pertama.  Sayembara pertama diikuti 55 peserta, hanya menghasilkan pemenang ketiga, yaitu arsitek F. Silaban.  Sayembara kedua yang diikuti 222 peserta, tak ada pemenang.  Presiden Sukarno kemudian menyerahkan soal ini kepada Ir. Soedarsono. Silaban dan Soedarsono kemudian mengajukan rancangan kepada Presiden Sukarno, yang kemudian disetujui. Panitia Panitia pembangunan dibentuk dua kali, pertama di tahun 1954, yang diganti tahun 1959, kemudian disempurnakan lagi dengan surat keputusan Presiden tahun 1961. Sebagai konsultan pembangunan ditunjuk Ir. Rooseno, ahli konstruksi beton bertulang di Indonesia. Pembangunan  Pembangunan Mona...

Bendungan Ir. H. Djuanda aka Bendungan Jatiluhur

Memasuki era Demokrasi Terpimpin,  Indonesia memulai pembangunan infrastruktur besar besaran. Salah satunya adalah Bendungan Jatiluhur yang sebenarnya bernama Bendungan Ir. H. Djuanda. Selayang-pandang Waduk Jatiluhur dibangun dengan membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai seluas 4.500 km persegi. Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Ir. Soekarno dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967. Pembangunan bendungan Waduk Jatiluhur menelan dana US$ 230 juta. Nama bendungan waduk dinamakan Ir. H. Juanda dikarenakan perjuangan beliau dalam pembiayaan pelaksanaan konstruksi Bendungan Jatiluhur. Ia yang merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957 – 1959) bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional. Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Waduk Jatiluhur menenggelamkan 14 Desa den...

Sultan Hamid II (Sultan Pontianak VI)

Cikal bakal Garuda Pancasila berawal ketika Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dengan anggota antara lain Sultan Hamid II, yang ketika itu menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas permintaan mereka, dibuat beberapa lambang. Biografi Muhammad Yamin sudah kami sampaikan. Berikut ini biografi Sultan Hamid II. Sayang nama beliau tidak kami temukan pada lema  Ensiklopedia Nasional Indonesia karena itu kami mencarinya dari sumber yang kami anggap kredibel. Berikut ini ada tulisan dari Boyke Sinurat yang dimuat pada RRI.co.id. Sultan Hamid II lahir pada 12 Juli 1913 di Pontianak, dari pasangan Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (Sultan Pontianak ke-VI) dan Ia berasal dari garis keturunan langsung Syarif Abdurrahman Alqadrie, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak pada tahun 1771. Sebagai bangsawan, Sultan Hamid II mendapatkan pendidikan elit sejak kecil. Setelah menamatkan pendidikan dasar di Pontianak, ia melanjutkan ke Europeesche Lagere S...

Garuda Pancasila Lambang Negara Indonesia

Beberapa hari yang lalu kami sudah mengunggah biografi Muhammad Yamin dan kiprahnya. Ternyata selain sebagai Ketua Depernas (Dewan Perancang Nasional) Yamin juga Ketua Panitia Lencana Negara. Cikal bakal Garuda Pancasila berawal ketika Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dengan anggota antara lain Sultan Hamid II, yang ketika itu menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas permintaan mereka, dibuat beberapa lambang. Beberapa Rancangan  Pada rancangan pertama nampak gambar banteng, mata hari dan pohon kelapa dalam sebuah lingkaran bertuliskan Republik Indonesia Serikat. Pada rancangan kedua nampak figur burung garuda berdiri di atas sebuah bantalan bunga teratai (padma), di dalam lingkaran bertuliskan Republik Indonesia Serikat. Kepala garuda berambut ikal. Tangan garuda memegang perisai yang terbagi menjadi empat bidang. Bidang pertama bergambar banteng, bidang kedua bergambar pohon beringin, bidang ketiga bergambar batang padi dan b...

Jasa Indonesia untuk Sudan

Victor Maulana menulis pada sindionews.com bahwa Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Abdurahman Alrahim al-Sidig menceritakan bagaimana andil Presiden pertama Indonesia, Sukarno dalam membantu kemerdekaan Sudan. Sidiq mengatakan, semuanya berawal dari Konferensi Asia-Afrika (KAA).  Sidig menuturkan, pada saat KAA pertama, Sudan sejatinya belum diakui oleh banyak negara sebagai negara yang merdeka. Namun, Presiden Sukarno kala itu sudah mengakui Sudan sebagai negara merdeka dan bersikukuh Sudan harus dilibatkan dalam KAA.  "Presiden Sukarno mengibarkan bendera Sudan pertama dalam sejarah, yakni sebuah kain putin dengan tulisan Sudan berwarna merah di bagian tengahnya," ucap Sidig kala melakukan jumpa wartawan di kantor Kedutaan Besar Sudan di Jakarta pada Kamis (19/1).  "Bendera tersebut masih ada di museum Asia-Afrika di Bandung." "Satu tahun setelah pengibaran itu, dengan semangat Deklarasi Bandung Presiden Sudan pertama Ismail al-Azhany mendeklarasikan kemerdek...

Jasa Indonesia untuk Tunisia

Zuhairi Mishrawi Dubes RI untuk Tunisia menulis bahwa pada 29 April 1960, jalan-jalan yang dilalui Presiden Soekarno, dari Bandara ’Awinah hingga jantung kota Tunis, dipadati ratusan ribu warga yang menyambut tamu agung dari jauh. Pemandangan yang menunjukkan Tunisia sedang merayakan kebahagiaan, kemenangan, dan kebangkitan.  Zuhairi Mishrawi juga mengutip  harian Al-Shabah, koran terbesar Tunisia, yang menulis  kedatangan Presiden Sukarno ke Tunisia pada 29 April 1960 dengan  judul yang sangat memikat, ”Tunis al-Dzakirah li al-Jamil li al-Wafiyyah li al-Shadaqah Takhrun li Istiqbal al-Rais Ahmad Sukarno wa Tahtaf bi Hayat al-Za’im al-Asiyawi al-’Adhim wi Ukhuwwat al-Sya’bayn al-Syaqiqayn al-Munadlilayn” (Tunis merayakan kebaikan dan persahabatan, warga turun ke jalan menyambut Presiden Ahmad Sukarno sembari mengelu-elukan pemimpin agung Asia dan persaudaraan kedua bangsa pejuang). (Zuhairi Mishrawi, Menghidupkan Sukarno, kompas.id, 17 Juli 2022) Jasa Bung Karno...