Postingan

Defisit Neraca Pembayaran dan Tingkat Inflasi yang Tinggi

Pada tanggal 15 September 1962 Departemen Luar Negeri AS menyerahkan Laporan Rancangan Aksi yang diminta Presiden Kennedy. Rancangan tersebut, yang memadukan kebutuhan untuk membantu Indonesia secara langsung dan tujuan-tujuan jangka panjang kebijakan AS terhadap Indonesia, sejalan dengan pandangan Presiden bahwa selesainya persengketaan atas wilayah Irian Barat membuka keinginan bagi AS untuk memperkuat ikatannya dengan Indonesia dengan cara membantu negara tersebut membangun kembali infrastruktur ekonomi dan militernya (Enclosure pada Memorandum from the Under Secretary of State (Ball) to President Kennedy, 10 Oktober 1962, FRUS, 1961-63, Vol. XXIII, 634-643).m Rancangan Aksi menyebut bahwa Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran yang sangat parah dan tingkat inflasi yang amat tinggi. Sekiranya pemerintah Indonesia gagal memperbaiki perekonomian negara, kekuasaan politis PKI akan bertambah kuat dan akan terbuka pintu yang lebih lebar bagi kelompok komunis untuk mengambil alih I...

Setia Kepada Marhaenisme Sejati

Padahal, pada kongres Partindo di Jakarta, 26 Desember 1961, Bung Karno sudah menegaskan bahwa marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia (Berdikari Online). Pidato Presiden Sukarno pada Kongres Partindo (Partai Indonesia) di Gedung Olah Raga, Jakarta tanggal 26 Desember 1961 itu secara resmi diberi judul "Setia kepada Marhaenisme Sedjati". Poin-poin historis dan substansi penting dari pidato tersebut meliputi: Penegasan Hakikat Marhaenisme:  Dalam kongres ini, Bung Karno menegaskan secara eksplisit definisi ideologi yang dirumuskannya dengan menyatakan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dan dilaksanakan di Indonesia. Melawan Desukarnoisasi / Pemurnian Ideologi:  Pidato ini sering dirujuk oleh para sejarawan dan loyalis Sukarno untuk membantah upaya-upaya politik di masa setelahnya (seperti era Orde Baru) yang mencoba "membersihkan" atau memisahkan Marhaenisme dari akar pemikiran Marxisme-...

Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru

(Terjemahan Pidato Bung Karno pada Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, 18 April 1955) Tuan-tuan Yang Mulia, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan, Saudara-saudara sekalian Saya merasa bangga pada hari yang bersejarah ini mendapat kebormatan dan hak istimewa mengucapkan selamat datang kepada Tuan-tuan sekalian. Atas nama rakyat dan Pemerintah Indonesia -- yang menerima Tuan-tuan saya minta maaf dan kesabaran dari Tuan-tuan, jika kiranya ada keadaan di negeri kami ini yang tidak sesuai dengan apa yang Tuan-tuan harapkan. Saya dapat mengatakan kepada Tuan-tuan, bahwa kami telah berusaha dengan sekuat tenaga supaya tinggal Tuan-tuan di tengah-tengah kita ini akan menjadi kenang-kenangan yang gemilang bagi para tamu kami dan bagi tuan-rumah Tuan-tuan. Kami berharap, semoga semangat persaudaraan kami dapat mengganti segala kekurangan materiil dalam penerimaan ini. Kalau saya melayangkan pandangan saya dalam gedung ini dan melihat para tamu yang terhormat berkumpul di sini, saya sungguh merasa terh...

Lenyapkan Steriliteit dalam Gerakan Mahasiswa

PIDATO TERTULIS PYM PRESIDEN SUKARNO  PADA KONFERENSI BESAR GMNI DI KALIURANG JOGJAKARTA, 17 FEBRUARI 1959 Terlebih dahulu saya mengucapkan selamat dengan Konferensi Besar GMNI ini.  Dengan gembira saya membaca, bahwa asas tujuan GMNI adalah Marhaenisme.  Apa sebab saya gembira? Tidak lain dan tidak bukan, karena lebih dari 30 tahun yang lalu saya juga pernah memimpin suatu gerakan rakyat -suatu partai politik- yang asasnya pun adalah Marhaenisme.  Bagi saya asas Marhaenisme adalah suatu asas yang paling cocok untuk gerakan rakyat di Indonesia.  Rumusannya adalah sebagai berikut:  Marhaenisme adalah asas, yang menghendaki susunan masyarakat dan Negara yang didalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.  Marhaenisme adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya.  Marhaenisme adalah dus asas dan cara perjuangan "tegelijk", menuju kepada hilangnya kapitalisme, imperialisme dan kolonialisme.  Secara pos...

Asian Games IV 1962 di Jakarta

Pada tahun 1962, Indonesia sempat menjadi tuan rumah Asian Games IV. Setelah sebelumnya di New Delhi, India tahun 1951; Manila, Filipina tahun 1954; dan Tokyo, Jepang tahun 1958. Berbeda dengan Asian Games sekarang yang melombakan 42 cabang olahraga, Asian Games IV hanya melombakan 13 cabang olahraga. Jumlah negara yang berpartisipasi juga tidak sebanyak sekarang, yakni 45 negara. Asian Games yang diselenggarakan tahun 1962 itu hanya diikuti 17 negara saja. Indonesia memiliki alasan tersendiri dibalik pengajuan diri menjadi tuan rumah Asian Games IV itu, mengingat usianya yang baru 17 tahun kala itu. Berdasarkan naskah ‘Putusan Sidang ke-VIII Tgl. 22, 23, dan 24 Djuli 1958’, Asian Games, bagi Indonesia, tidak hanya dimaknai sebagai ajang olahraga semata, melainkan sarana untuk menjalin persahabatan terhadap bangsa-bangsa Asia lainnya. Hal itu, menurut naskah ‘Ketentuan2 Principieel pengurus K.O.I. mengenai rentjana pelaksanaan Asian Games IV’ yang diterbitkan tahun 1958, merupakan kela...

Bung Karno Berobat ke Wina

Kantor Berita Antara Djakarta pada tanggal  16 Oktober 1961 mengeluarkan berita berjudul Bung Karno akan berobat ke Wina. Antara menulis : "Presiden Sukarno pada Kamis 19/10 depan ini akan berangkat ke-Wina chusus untuk berobat atas nasehat para dokter. Presiden sudah sedjak beberapa waktu menderita penjakit kentjing batu dan para dokter ahli memandang perlu Presiden pergi keluar negeri selekas mungkin untuk keperluan diagnostik dan therapi." Menurut Antara, Menteri/Sekretaris Negara Mr Mohammad Ichsan  mengeluarkan keterangan sebagai berikut : "Paduka Jang Mulia Presiden sedjak beberapa waktu menderita penjakit kentjing batu dan karena itu maka dipandang perlu untuk bepergian keluar negeri selekas mungkin untuk keperluan diagnostik dan therapi. Pada tanggal 9 Djanuari 1959 oleh team dokter-dokter jang terdiri dari Prof. Dr Asikin (internist), Prof. De M. Soekarjo (Chirurg), Prof. Dr Oetama (uroloog), Prof.Dr.Siwabessy (radioloog), Dr Moch. Kelan (anaesthesioloog), Dr Sa...

Perbandingan Bantuan Ekonomi Antara Blok Barat dan Blok Timur

Sehari setelah penandatanganan Perjanjian Middleburg, Presiden AS memberitahu Menteri Luar Negeri Dean Rusk, Direktur CIA dan para pejabat tinggi pembuat kebijakan luar negeri mengenai kebijakan untuk membantu Indonesia membangun kembali infrastruktur ekonomi dan militernya. Kennedy lalu memerintahkan Departemen Luar Negeri untuk menyusun suatu Rencana Aksi mengenai inisiatif itu paling lambat tanggal 15 September 1962. (Baskara T. Wardaya, 2008 : 268). Ketika menyusun proposal tersebut para pejabat pemerintah Kennedy menyadari bahwa besarnya bantuan ekonomi Soviet dan bloknya kepada melebihi bantuan AS dan Blok Barat. Bantuan ekonomi Blok Sino-Soviet untuk Indonesia Selamat kurun waktu 1956-1961 mencapai US $ 460,6 juta, sementara bantuan AS selama lima belas tahun (1946-1961) hanya mencapai US $ 120,3 juta. Bantuandari negara-negara Blok Barat lain kepada Indonesia juga sama rendahnya.  Selain bantuan ekonomi, Blok Sino-Soviet juga menyediakan program-program bantuan militer seni...