Postingan

Percakapan dengan Joseph Broz Tito

Saat penyelenggaraan Konferensi Gerakan Non Blok I di Beograd , Megawati ikut serta sebagai anggota delegasi termuda. Dia lalu bercerita mengenai salah satu dialog Bung Karno sebagai perumus Pancasila dengan Presiden Yugoslavia, Joseph Broz Tito. Bung Karno bertanya pada Tito mengenai apa yang ditinggalkannya untuk negerinya jika suatu saat meninggal nanti. Tito menjawab bahwa dirinya meninggalkan tentara-tentara yang berani dan tangguh untuk melindungi bangsanya. Tito berbalik bertanya hal sama ke Sukarno. Dengan tenang Bung Karno menjawab: “Aku tidak khawatir karena aku telah meninggalkan bangsaku dengan sebuah way of life, yakni Pancasila”. “Mungkin Pak Tito tak mengerti apa yang dimaksud. Tetapi kita tahu, ketika dia sudah meninggal, Yugoslavia porak poranda jadi beberapa negara kecil,” kata Megawati. Panca Sila  Presiden RI Kelima yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa Indonesia sungguh beruntung memilik...

. Pidato Bung Karno pada KTT Gerakan Non-Blok di Beograd Tahun 1961

Dalam pidatonya pada KTT Gerakan Non-Blok Bung Karno membagi dunia menjadi dua yakni kubu yang mewakili kekuatan mapan dan lama sebagai Oldefos (Old Established Forces) dan kubu yang merupakan kekuatan yang baru muncul sebagai Nefos (Newly Emerging Forces), dan Indonesia siap memimpin Nefos (Wardaya, 2008:247-248). Pidato Presiden Sukarno yang bertajuk "Persahabatan, Perdamaian, dan Keadilan Sosial di antara Bangsa-bangsa", tersebut ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO.  Kami masih berusaha memperoleh naskahnya. Kami akan sangat berterima kasih jika ada Bapak Ibu Saudara yang memilikinya dan berkenan untuk berbagi. Hanya ada sedikit kutipan dari Wikisource:  "Janganlah ada salah paham. Non-Blok bukanlah netralitas. Ini bukan sikap pura-pura alim atau munafik dari seseorang yang menjauhkan diri dari penyakit menular. Politik Non-Blok bukanlah politik mencari posisi netral jika ada peperangan, politik Non-Blok bukanlah politik netral tanpa warna sendiri. Menj...

Diplomasi di Forum Internasional

Pada akhir tahun 1961 Bung Karno melancarkan serangkaian kampanye diplomasi di forum forum internasional yang diikuti dengan strategi perjuangan. Dalam pidatonya di Konferensi negara-negara Non-Blok di Beograd pada bulan September 1961, Bung Karno meminta dukungan dari mereka yang hadir bagi klaim Indonesia atas Irian Barat. Bung Karno mengibaratkan perselisihan atas Irian Barat itu sebagai "duri yang menancap dalam daging kami." Kegagalan untuk menyelesaikan persoalan tersebut akan mengancam kemerdekaan Indonesia dan perdamaian Asia maupun dunia.  Nefos vs Oldefos Dalam pidatonya Bung Karno membagi dunia menjadi dua yakni kubu yang mewakili kekuatan mapan dan lama sebagai Oldefos (Old Established Forces) dan kubu yang merupakan kekuatan yang baru muncul sebagai Nefos (Newly Emerging Forces), dan Indonesia siap memimpin Nefos (Wardaya, 2008:247-248). Memory of the World  Pidato Presiden Sukarno tersebut ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO. Sayang kami belum men...

Tentara Bergerak

Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Bab 20 Demokrasi Terpimpin 1957-65 menulis bahwa pihak tentara mengambil tindakan membatasi PKI pada semester kedua tahun 1960.  Pada bulan Juli, PKI melancarkan kecaman-kecaman terhadap kabinet, terutama Subandrio yang dituduh telah menghina Cina, dan terhadap pihak tentara yang masih belum menumpas habis kaum pemberontak PRRI.  Semua anggota Politbiro PKI ditangkap guna diperiksa oleh tentara, tetapi Sukarno mendesak Nasution supaya membebaskan mereka. Para panglima daerah di Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan melarang PKI dan menahan kaum komunis setempat pada bulan Agustus. Atas permintaan Sukarno, larangan-larangan tersebut dicabut pada bulan Desember, kecuali di Kalimantan Selatan di mana larangan itu terus berlangsung selama setahun.  Di daerah-daerah itu, PKI terus diawasi, diganggu dan dibatasi oleh pihak militer.  Pada akhir bulan Oktober, tujuh majalah Politbiro ditutup untuk selamany...

Rencana Luns

Sejak paruh kedua tahun 1961 masalah Irian Barat mulai mendapat perhatian lebih luas dari para anggota PBB, terutama setelah ada rencana Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns untuk menyerahkan masalah tersebut ke Majelis Umum PBB bulan Oktober  tahun itu.  Menurut Rencana Luns, Belanda bermaksud mengalihkan kekuasaan ke PBB, yang diikuti dengan pengiriman Komisi PBB untuk mengawasi plebisit atau pemungutan suara sebagai cara untuk memastikan dijalankannya hak menentukan nasib sendiri oleh Rakyat Papua (William Henderson, West New Guinea The Dispute and It's Settlement, Seton Hall University Pers, 1973 : 141). Belanda yakin bahwa Rakyat Papua tidak akan memilih untuk berintegrasi dengan Indonesia. Irian Barat mungkin tidak akan lagi berada di bawah kekuasaan mereka, tetapi juga tidak akan jatuh ke tangan Indonesia. Di dalam perdebatan Majelis Umum PBB, rencana tersebut mendapat dukungan luas, walaupun juga tidak memperoleh suara mayoritas 2/3 yang dipersyaratkan.  Sebagi...

Bertemu Presiden Kennedy

  Bung Karno mulai melancarkan berbagai kampanye di dalam dan luar negeri untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia atas Irian Barat. Bung Karno berpikir bahwa dengan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia, AS akan mendukung klaim Indonesia atas wilayah tersebut. Sementara Bung Karno masih mencari jalan untuk membuat Washington mau menekan Belanda, Presiden Kennedy menyetujui saran para penasihatnya dan mengundang Bung Karno untuk bertemu dengannya di Amerika Serikat. Dengan antusias Bung Karno menyambut undangan tersebut. Ia berharap bahwa kunjungan itu akan dapat memperkokoh persahabatan Indonesia dengan AS, dan yang lebih penting akan memberinya kesempatan untuk mencari dukungan dari Kennedy bagi klaim atas Irian Barat. Bung Karno benar-benar bertemu Presiden Kennedy di Washington pada tanggal 24 April 1961 dan beliau berbicara banyak tentang masalah Irian Barat (Baskara T Wardaya, Indonesia Melawan Amerika, 2008:245). Irian Barat  Kennedy menanyakan keabs...

Jakarta - Bangkok - Kabul

Pada bulan April dan Mei 1961 Presiden Sukarno berkunjung ke Thailand dan Afghanistan. Kunjungan resmi Presiden Sukarno di Kerajaan Thailand, pada pertengahan bulan April 1961. Dari Jakarta Bung Karno tiba di Bandara Don Mueang, Bangkok,  disambut langsung oleh Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit Kitiyakara bersama para pejabat sipil dan militer kerajaan, yang dilanjutkan dengan melawat ke Monumen Kemenangan (Anusawari Chai Samoraphum). Di sebuah lapangan, kemungkinan di luar kota Bangkok, Raja Bhumibol mengajak Presiden Sukarno menyaksikan pertunjukan seni budaya Thailand dari masyarakat tempatan. Kunjungan resmi Presiden Sukarno di Kerajaan Afghanistan, pada akhir bulan Mei 1961. Di Bandara Internasional Kabul, Raja Zahir Shah dan P.M. Pangeran Mohammad Daoud Khan menyambut langsung kedatangan Presiden Sukarno dan Menteri Luar Negeri Subandrio serta rombongan pejabat Indonesia. Selama di ibu kota Kabul, Bung Karno melawat ke Istana Chihil Sutun, Istana Dilkusha, Mausoleum Ke...