Postingan

Misi Michelmore

Sebagai tanggapan atas pertemuan tingkat tinggi Manila, Sekretaris Jenderal PBB U Thant bersedia memfasilitasi jajak-pendapat tersebut dan membentuk Misi Michelmore, seturut nama ketuanya yang berasal dari Amerika Serikat, untuk mencari tahu apakah rakyat kedua wilayah itu benar-benar mau bergabung ke dalam Federasi Malaysia.  Misi Michelmore tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun perbedaan pendapat yang terjadi antara para anggotanya dan perwakilan Maphilindo membuat tertundanya pelaksanaan jajak-pendapat hingga tanggal 26 Agustus (Jones, 287 dalam Wardaya 2008: 321-322). Dari laman UNDP di Malaysia : UNDP in Malaysia 1963: UN Malaysian Mission Completes its Work in North Borneo and Sarawak 10/09/1963, UN, NY: The United Nations Malaysian Mission, after completing its substantive work in North Borneo and Sarawak, returned to New York yesterday to submit its report to Secretary-General U Thant. The Mission is headed by the Secretary-General's representative, Laurenc...

Inggris Kecewa

Pada 5 Agustus 1963, pada KTT di Manila, Presiden Sukarno, Presiden Diosdado Macapagal, dan PM Malaka Tun Abdul Rahman mendukung pendirian Maphilindo. Secara bersama-sama mereka meminta PBB untuk menyelenggarakan sebuah jajak pendapat di Sabah dan Sarawak guna memastikan apakah rakyat kedua wilayah tersebut mau bergabung dengan Federasi Malaysia atau tidak. Baik Indonesia maupun Filipina setuju untuk menerima Malaysia sekiranya jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa rakyat kedua wilayah bekas koloni Inggris itu mendukungnya. Jejak pendapat tidak dilakukan di Brunei karena pada Juli 1963 wilayah tersebut telah memutuskan untuk tidak bergabung dalam federasi. Merasa gusar dan kecewa dengan hasil pertemuan tingkat tinggi Manila, para pejabat Inggris menuduh Bung Karno memang berniat untuk menghancurkan rencana pendirian Malaysia.  Presiden Kennedy menulis surat dan meminta PM Inggris Harold McMillan memperlunak sikapnya mengenai Malaysia. Sebagai balasan atas surat Kennedy, McMilla...

Pernikahan dengan Nina

Berdasarkan pengakuan Rukmini, Bung Karno menikah dengan perempuan asal Bengkulu berdarah Jerman bernama Nina pada tahun 1942.  Siapakah Rukmini ? Rukmini lahir pada 26 Agustus 1942. Ia disebut sebagai putri dari Sukarno dengan seorang perempuan asal Bengkulu berdarah Jerman bernama Nina. Dalam sejumlah biografi luar negeri dan arsip media Amerika Serikat, Nina disebut sebagai salah satu istri Sukarno yang tidak pernah dipublikasikan secara luas karena kondisi politik dan sosial pada masa itu. Secara protokol negara, garis keturunan ini tidak pernah dilembagakan, namun secara historis dan biologis keberadaannya diakui dalam berbagai catatan internasional. Sejak usia sangat muda, kehidupan Rukmini sudah dijauhkan dari Indonesia. Pada usia sekitar delapan tahun, ia dikirim ke Roma untuk menempuh pendidikan seni. Di kota inilah bakatnya berkembang pesat. Rukmini menekuni seni opera secara serius dan tumbuh menjadi penyanyi opera profesional. Ia dikenal fasih dalam delapan bahasa dan s...

Menikah dengan Jetje Langelo

Ini cerita dari Jetje sebelum akhirnya meninggal pada November 2004 sebagaimana diceritakan oleh Bayu Dwi Mardana Kusuma.  Dalam ingatan Jetje, Sukarno mulai mengenalnya ketika berkunjung ke Manado tahun 1953. Sejak itu keduanya menjalin hubungan melalui surat atau telegram, serta sesekali bertemu jika kebetulan Presiden berkunjung ke Manado. Tapi orangtua Jetje tidak merestui niat Sukarno untuk menikahi putri mereka. Maka begitu lulus dari sekolah SGA Roma Katolik Manado, Jetje dinikahkan dengan Leo Nico Christofel, anggota TNI berpangkat Letnan Satu. Meski sudah dikarunia dua anak, akhir 1955, Jetje dan Leo bercerai. Hubungan dengan Sukarno berlanjut kembali hingga akhirnya keduanya menikah secara Islam tahun 1957 di Manado. Perkawinan itu sempat dipestakan juga di Jakarta, namun Jetje yang dipanggil "Ice" oleh Soekarno, kemudian kembali lagi ke Manado. Baru setelah menjelang kelahiran Gempar Soekarnoputra, Jetje berniat menyusul suaminya, tapi batal karena ada pemberontaka...

Genta Suara Republik Indonesia (Gesuri)

AMANAT PRESIDEN SUKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1963 DI JAKARTA Saudara-saudara sekalian! Sebagaimana biasa, maka pada tiap-tiap hari 17 Agustus saya berdiri di hadapan saudara-saudara sekalian. Ini kali di Stadion-Utama Gelora Bung Karno, sedang dahulu selalu di muka Istana Merdeka. Tetapi pada pokoknya : berhadapan dengan Rakyat Indonesia, – muka dengan muka, wajah dengan wajah, jiwa dengan jiwa, semangat dengan semangat, tekad dengan tekad – Rakyat Indonesia, baik yang terkumpul di stadion ini, maupun di seluruh Nusantara melalui radio dan televisi, maupun yang di luar negeri melalui radio dan televisi pula. Dan sayapun sadar, bahwa saya pada tiap hari 17 Agustus itu berhadapan pula dengan dunia luar yang bukan Indonesia, baik sebagai kawan berhadapan dengan kawan, maupun sebagai lawan berhadapan dengan lawan. Dengan kawan-kawan itu saya laksana bermusyawarah atau berkonsultasi antara Ego dengan Alter Ego, – dengan lawan-lawan itu saya tanpa téd...