Postingan

Ketakutan Inggris akan Munculnya Negara Indonesia Raya

Dalam sebuah telegram tertanggal 11 Oktober 1963 Dinas Luar Negeri Inggris menyatakan sikap antagonistik London terhadap Indonesia dengan harapan Washington akan mengubah pendiriannya dan mengambil langkah-langkah tegas terhadap Jakarta.  Bunyi telegram itu menyatakan bahwa, "Politik konfrontasi terhadap Malaysia bukanlah sekedar ledakan amarah yang sifatnya sesaat. Politik itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan nasional." Selanjutnya menyatakan bahwa politik konfrontasi Indonesia adalah bagian dari suatu kebijakan ekspansionis untuk menciptakan "Indonesia Raya," yang mendapat dukungan kuat dari kelompok komunis. Setelah berhasil merebut Irian Barat, kini Indonesia sedang berusaha mengambil-alih Malaysia, untuk nanti selanjutnya merebut Irian Timur. Pada akhirnya nanti Indonesia akan menginvansi seluruh wilayah Melanesia untuk dijadikan negeri itu sebagai sebuah kekuatan besar di Pasifik. (Indonesia, Papers of President Kennedy, National Security F...

Upaya Kennedy Menenangkan Bung Karno

Pada tanggal 26 September 1963 Presiden Kennedy mengirimkan sebuah pesan pribadi yang isinya mendesak Presiden Sukarno supaya menenangkan diri selama beberapa hari hingga komunikasi dapat berjalan kembali dan sikap kenegarawanan menjalankan fungsinya dalam menyembuhkan luka-luka yang ada.  Bung Karno menjawab dengan mengatakan bahwa asal Tunku Abdul Rahman juga bersedia berhenti sejenak, dia pun akan melakukan hal yang sama. Ia bahkan bersedia untuk ikut dalam suatu pertemuan tingkat tinggi lain yang diadakan di Manila bila perlu.  Bung Karno juga memberitahu Presiden Kennedy bahwa dia siap untuk menenangkan diri tetapi tidak untuk mundur.  Menurut catatan di Departemen Luar Negeri AS, ketika sebelum pendeklarasian Malaysia pemerintah Inggris meminta AS untuk mendukung hasil jajak-pendapat PBB dan pembentukan Federasi Malaysia, pemerintah Kennedy bersedia mengiyakannya, tetapi hanya setelah informasi tentang hal itu disampaikan kepada Jakarta dan Manila. (Department of St...

Deklarasi Ganyang Malaysia

Dalam suratnya kepada Presiden Kennedy, Bung Karno berkata, "dipastikan akan ada penolakan keras, bahkan penolakan yang sifatnya fisik" di antara rakyat Indonesia terhadap federasi tersebut. Massa yang terdiri dari kurang lebih  5.000 orang demonstran melakukan serangan terhadap Kedubes Inggris di Jakarta pada tanggal 18 September 1963 dan membakarnya hingga rata dengan tanah, berikut 21 rumah stafnya.  Sebagai balasan, pada tanggal 19 September 1963, massa di Kuala Lumpur menyerang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di sana.  Hari berikutnya, tanggal 20 September 1963, Jakarta mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil alih semua perusahaan Inggris di Indonesia. Sehari kemudian pemerintah mengumumkan pemutusan segala hubungan dengan Malaysia.  Beberapa hari setelahnya, Bung Karno secara publik menegaskan kembali tekad Indonesia untuk menghancurkan Malaysia.  Ganyang Malaysia  Dalam pidatonya di hadapan rakyat di kota Yogyakarta pada tangga...

Malaysia Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Indonesia

Pada tanggal 17 September 1963, Malaysia memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia.  Pada hari yang sama Bung Karno menulis surat kepada Presiden Kennedy, menjelaskan sikap Indonesia atas masalah Malaysia. Presiden menyatakan bahwa pemerintahnya menolak menerima keberadaan Federasi Malaysia. Beliau mengutip pengakuan Sekretaris Jenderal PBB U Thant dalam laporannya mengenai kurang mencukupinya Tim PBB yang menyelenggarakan jajak-pendapat di Sabah dan Serawak, Kalimantan Utara. Kekurangan ini, " dengan jelas menunjukkan bahwa Tim PBB tersebut tidak mampu sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 1541 Artikel 9.  Selanjutnya Bung Karno berkata, "dipastikan akan ada penolakan keras, bahkan penolakan yang sifatnya fisik" di antara rakyat Indonesia terhadap federasi tersebut. (Papers of President Kennedy,17 September 1963. Papers of President Kennedy, National Security Files, Countries, Box 114A, Folder: Indonesia, General 9...

Pengumuman Sekjen PBB tentang Jajak-pendapat di Sabah dan Serawak

Setelah merampungkan proses jajak-pendapat, misi PBB menemukan bahwa mayoritas rakyat yang diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. (Howard Palfrey Jones, Indonesia The Possible Dream, New York: Harcourt Brace Javanovich, 1971 : 287). Sekjen PBB U Thant, merencanakan untuk mengumumkan hasil jajak-pendapat itu pada tanggal 14 September 1963. (Wardaya, 2008: 322). Sehari sebelum pengumuman, pada tanggal 14 September 1963, Presiden Kennedy mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa dia telah mengetahui hasil referendum yang mengisyaratkan dukungan rakyat bagi pembentukan Malaysia. Kennedy menegaskan kepada Bung Karno bahwa AS akan menerima hasil jajak-pendapat tersebut.  Pada tanggal 14 September 1963, Sekretaris Jenderal PBB U Thant mengumumkan hasil jajak-pendapat tersebut.  U Thant yakin bahwa :  "Sebagian besar rakyat Sabah dan Serawak (Kalimantan Utara) telah mempertimbangkan secara sungguh-sungguh ...

Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB

Pada tanggal 29 Agustus 1963, Tunku Abdul Rahman mengumumkan bahwa federasi Malaysia akan didirikan pada tanggal 16 September 1963.  Tunku Abdul Rahman menyatakan bahwa Federasi Malaysia akan tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak pendapat yang diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Sarawak dan Sabah ingin bergabung ke dalamnya atau tidak.  Pernyataan Tunku tersebut dilaporkan dalam New York Times dengan judul yang jelas-jelas membuat kecewa Indonesia: "Malaka Promises A Federation Regardless of Findings by UN" (Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB." (New York Times, 30 Agustus 1963). Indonesia mencurigai adanya intrik-intrik Inggris dan tidak suka dengan fakta tersebut. (Wardaya 2008: 323).

Persaingan Kepentingan AS US dan RRT

A. Internasional  Pada awal tahun 1960-an keterlibatan Amerika di Vietnam Selatan meningkat pesat dan Cina tidak menyukai kemungkinan adanya satu negara lagi yang pro-Barat di selatan setelah Muangthai, Vietnam Selatan, Filipina dan Taiwan. Perpecahan Cina-Sovi kini sudah sangat sulit untuk dirujukkan kembali dan Uni Soviet nyata-nyata telah memanfaatkan perang di Irian Barat untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap pemerintah dan militer Indonesia daripada untuk mendukung PKI.  Ketika Uni Soviet menandatangani percobaan larangan senjata nuklir pada bulan Agustus 1963, Cina khawatir bahwa Soviet siap berkomplot dengan Amerika untuk mengendalikannya. Oleh karena itu Cina dan PKI mengharapkan suatu kebijakan anti-Malaysia yang radikal agar menggagalkan pembentukan Malaysia dan membuat Inggris tidak bisa bergerak dari sana, sambil merusak rencana stabilisasi ekonomi dan pengaruh Amerika di Jakarta. Akan tetapi mereka tidak menginginkan perkembangan pesat pihak militer Indonesia me...