Postingan

Irian Barat dalam Pandangan Ny. Sundari

Irian Barat dan Jalan yang Harus Ditempuhnya  Oleh : NJ. Sundari Persetujuan Indonesia-Belanda mengenai penyerahan kembali kekuasaan atas Irian Barat kepada Republik Indonesia telah ditandatangani. Berbeda dengan persetujuan KMB-Hatta, yang pada hakekatnya merestorasi kembali kekuasaan kaum kolonialis Belanda yang telah digulingkan oleh Revolusi Agustus 1945, persetujuan sekarang ini menamatkan riwayat kekuasaan kolonialisme Belanda atas Irian Barat, benteng terakhir kekuasaan kolonialisme Belanda di bumi Indonesia. Irian Barat telah kembali kepada pemiliknya yang sah turun-temurun, yaitu Rakyat Indonesia. Apakah dicapainya persetujuan ini karena kebaikan hati kaum kolonialis Belanda atau karena bantuan Amerika Serikat dalam bentuk usul Bunker seperti anggapan sementara orang? Sama sekali tidak, sebab seperti sering dikatakan oleh Presiden Sukarno kolonialisme adalah tetap kolonialisme, imperialisme adalah tetap imperialisme. Jadi, faktor apakah yang menentukan berhasilnya dicapain...

Maphilindo dalam Catatan Cliff Alexander

Foreign Relations of the United States, 1961–1963, Volume XXIII: Southeast Asia 335. Memorandum From Clifford L. Alexander of the National Security Council Staff to the President’s Special Assistant for National Security Affairs (Bundy) Washington, September 25, 1963. The oil negotiations were successfully concluded as of today.1 This is one of the very few bright signs that have come out of Djakarta in the past week. It might be appropriate for us to examine how it would be possible to create some further softening of feelings in the region. The Manila meeting of Indonesia, Philippines and Malaya established, among other things, the spirit of Maphilindo.2 Talk of reestablishment of this spirit has subsided with the positive findings of the Secretary General’s survey team and the virtual rejection of same by both the Indonesians and the Filipinos. The approaches taken by the Philippines and Indonesia toward the new Malaysia have been different, despite the fact that they have reached t...

Deklarasi Ekonomi (Dekon)

Pada tanggal 28 Maret 1963, Presiden Sukarno menyampaikan Deklarasi Ekonomi (Dekon) di Istana Negara. Dekon kemudian ditetapkan menjadi Pedoman Pelaksanaan Garis-garis Dasar Pembangunan Bidang Ekonomi. Tujuan Dekon adalah untuk menanggulangi secara menyeluruh masalah-masalah perekonomian nasional yang makin memburuk pada waktu itu. Dalam tiga bulan tahun 1962, indeks biaya hidup naik 70% bila dibandingkan dengan indeks biaya hidup pada tahun 1960. Dekon dimaksudkan untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru dan menghapus hampir seluruh peraturan dalam bidang ekonomi. Sasaran akhir Dekon adalah terwujudnya Sosialisme Indonesia dan Dekon sendiri adalah Manipol Indonesia di bidang ekonomi.  Dekon memuat rencana pembangunan ekonomi yang kebijakan jangka panjang (8 tahun) dan kebijakan jangka pendek (2 tahun). Sandang Pangan Prioritas pembangunan jangka pendek yaitu pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan. Usaha-usaha ke arah ini berpangkal pada : (1) Penyelesaian soal sandang pangan sa...

Maphilindo (Malaya-Philippine-Indonesia)

Menurut Ricklefs, keinginan AS untuk memulihkan hubungan dengan Jakarta sama besarnya dengan perasaan tanggung jawabnya kepada Inggris dan Malaysia. Presiden Sukarno dan banyak pemimpin Indonesia lainnya menginginkan bantuan AS dan menentang Malaysia pada waktu yang bersamaan. Selama beberapa bulan ditempuh upaya-upaya untuk merujukkan kepentingan- kepentingan tersebut. Presiden Diosdado Macapagal dari Filipina semakin mempersulit masalah dengan mengajukan klaim atas Sabah atas dasar kaitannya dengan Kesultanan Sulu.  Pada bulan Mei-Agustus 1963 diselenggarakanlah pertemuan-pertemuan tingkat menteri Indonesia - Malaysia - Filipina dan konferensi-konferensi tingkat puncak antara Presiden Sukarno, Macapagal dan Tunku Abdul Rahman dari Malaya.  Untuk sementara, yang dibicarakan adalah sebuah konfederasi yang longgar antara ketiga negara tersebut yang dinamakan Maphilindo. Pada bulan Agustus Malaya sepakat untuk mengadakan penyelidikan terhadap pendapat umum di Sarawak dan Sabah s...

Sosialisme bukan Benda yang Jatuh dari Langit

Dalam pidatonya di Alun-alun Bandung, 20 Mei 1963, Presiden Sukarno berbicara tentang revolusi dan sosialisme.  Menurut  Tri Joko Her Riadi, setelah ditetapkan sebagai presiden seumur hidup oleh Sidang Paripurna MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) di Gedung Merdeka, Presiden Sukarno berpidato dalam rapat raksasa di Alun-alun Bandung pada 20 Mei 1963. Di depan rakyat yang berdesak-desakan menyambutnya, Bung Karno bercerita tentang jalan panjang revolusi untuk menghadirkan apa yang ia sebut sebagai “alam sosialisme”. Naskah pidato Presiden Sukarno itu, lengkap dengan ucapan-ucapan Sunda yang bertebaran, dijuduli Sosialisme bukan Benda yang Jatuh dari Langit. Dokumen setebal 18 halaman yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia dalam edisi Penerbitan Chusus bernomor seri 268 tersebut dicetak oleh Percetakan Negara di Jakarta. “Revolusi Indonesia itu sudah bertahun-tahun berjalan, tetapi masih akan berjalan bertahun-tahun lagi Sebabnya ialah oleh ka...

MPRS Menetapkan Bung Karno sebagai Presiden Seumur Hidup

Pada tanggal 15 Mei 1963 Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) menggelar sidang umum II di Bandung. Dalam sidang itu, dihasilkan Ketetapan MPRS Nomor III/MPRS/1963 yang mengangkat Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Sukarno menjadi Presiden Republik Indonesia seumur hidup. Dalam foto yang diambil saat rapat umum di Alun-alun Bandung, terlihat Presiden Sukarno mengangkat Piagam Ketetapan MPRS yang berisikan penetapannya sebagai Presiden Seumur Hidup. Bung Karno menyampaikan pidato berjudul “Sosialisme Bukan Benda yang Jatuh dari Langit." (M. Ryzki Wiryawan, KomunitasAleut! , 11 Juni 2016). Cerita A.M. Hanafi Anak Marhaen Hanafie, atau sering dipanggil AM Hanafie, bercerita dalam bukunya yang terbit di tahun 1998: AM Hanafi Menggugat; Kudeta Jend. Suharto Dari Gestapu Ke Supersemar. Di dalam buku itu, terselip kisah munculnya usulan “Presiden seumur hidup”. Menurut cerita Hanafie, usulan menjadikan Sukarno sebagai Presiden seumur hidup berasal dari angkatan 45. Motor utamany...

Pembentukan Resimen Tjakra Birawa

Kepada semua anggauta "Tjakra Birawa"! Tahukan kamu untuk apa 'Tjakra Birawa‎ diadakan? Setialah kepada tugasmu! Aku melimpahkan kepertjajaan penuh kepadamu! Presiden/Panglima Tertinggimu Soekarno Djakarta, 5 Oktober 1962 --- Untuk kesekian kalinya  Presiden Sukarno  menjadi target upaya pembunuhan. Percobaan pembunuhan Sang Proklamator terjadi saat shalat Idul Adha pada 14 Mei 1962. Sebagai dampak langsung dari ancaman keamanan yang semakin nyata terhadap kepala negara, Jenderal A.H. Nasution mengusulkan pembentukan pasukan pengaman khusus.  Pada tanggal 6 Juni 1962, dibentuklah Resimen Tjakrabirawa yang mengintegrasikan prajurit terbaik dari empat angkatan (AD, AL, AU, dan Kepolisian) untuk menjamin keselamatan pribadi Presiden RI. Pasukan inilah yang menjadi cikal bakal Paspampres di era modern. Sejarah Dibentuknya Pasukan Cakrabirawa Sejarah Cakrabirawa bermula sejak Presiden Sukarno mengalami beberapa peristiwa percobaan pembunuhan. Sejumlah aksi percobaan pembunuhan...