Postingan

Hotel Indonesia di Jantung Kota Jakarta

“Mereka suka memperlihatkan Hotel Indonesiaku yang penuh gairah. Kami menghasilkan dua juta dolar Amerika setelah hotel itu berjalan selama setahun,” tutur Presiden Sukarno dalam otobiografi, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966). --- Hotel Indonesia mulai dibangun tahun 1959 untuk menghadapi Asian Games IV Tahun 1962 di Jakarta. --- Menurut Dian Dewi Purnamasari, setelah Konferensi Asia Afrika tahun 1955 diselenggarakan di Bandung, Presiden Soekarno banyak menerima tamu kenegaraan. Namun, seiring tamu internasional yang berdatangan, hingga tahun 1960 ibu kota negara belum memiliki hotel berskala internasional. Padahal, saat itu citra Indonesia sebagai negara baru di forum internasional tengah moncer. “Bung Karno saat itu lalu memanggil tokoh perhotelan dan pariwisata Indonesia Margono Djojohadikusumo. Mereka membahas rencana pembangunan hotel bertaraf Internasional di lokasi yang dekat dengan daerah elite Menteng dan kota satelit Kebayoran Baru,” tutur Arifin Pasaribu (79), pejabat...

Timnas Bermain di Olympiade Melbourne

Timnas Indonesia pernah tampil sekali di ajang pesta olahraga internasional Olimpiade 1956 di Melbourne. Saat itu Timnas Indonesia diisi oleh nama-nama seperti Rusli Ramang, Maulwi Saelan, Ramlan, Endang Witarsa, Thio Him Tjiang, dan lain-lain di bawah asuhan pelatih Antun Toni Pogacnik, yang semasa masih aktif bermain membela Yugoslavia dan Kroasia. Ia melatih Timnas Indonesia dari tahun 1954-1964. Sebelum tampil di Olimpiade 1956, Timnas Indonesia harus melewati fase kualifikasi terlebih dahulu melawan China Taipe. Namun China Taipe menolak untuk bertanding dengan menggunakan lambang FIFA. Karena itulah Timnas Indonesia menang walk out dan meraih tiket Olimpiade 1956. Saat itu sistem cabang olahraga sepak bola di Olimpiade belum menggunakan fase grup seperti sekarang, tetapi langsung fase gugur. Pada Olimpiade 1956 ini terdapat 16 tim yang tampil pada cabang olahraga sepak bola, yaitu Yugoslavia, Amerika Serikat, Australia, Jepang, India, Indonesia, Uni Soviet, Tim Persatuan Jerman (...

Gelora Bung Karno

Pembangunan kompleks Gelora Bung Karno memiliki kaitan erat dengan penyelenggaraan Asian Games. Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Asian Games IV Tahun 1962. Untuk itu pada tahun 1960 dibangunlah stadion beserta fasilitasnya yang memadai untuk peristiwa besar tersebut.  Istana Olahraga (Istora) selesai dibangun pada tanggal 20 Mei 1961. Seluruh kompleks selesai dibangun tepat satu bulan sebelum pembukaan Asian Games IV pada tanggal 24 Agustus 1962.  Kompleks ini mempunyai berbagai sarana dan prasarana : Stadion Utama, Istana Olahraga , Stadion Renang , dan Fasilitas lain. Stadion Utama  Stadion Utama Gelora Bung Karno merupakan salah satu stadion sepak bola terbesar di Asia, berkapasitas tempat duduk 110.000 orang. Di samping untuk olah raga, stadion ini sering dipakai untuk upacara besar, pertunjukan seni dan lain-lain. Istana Olahraga  Stadion Olahraga disingkat Istora, adalah gelanggang tertutup dengan daya tampung 10.000 tempat duduk. Is...

Masjid Istiqlal (Kemerdekaan)

Masjid Istiqlal merupakan mesjid terbesar di Indonesia yang terletak di Taman Wijayakusuma, Jakarta. Istiqlal berarti kemerdekaan. Nama itu diberikan oleh Presiden Sukarno karena Taman Wijayakusuma dikenal sebagai lambang pemerintahan Hindia Belanda. Untuk menghapus lambang pemerintahan Hindia Belanda, didirikanlah Masjid Istiqlal di tempat itu sebagai lambang kemerdekaan Republik Indonesia. Frederik Silaban  Rancang bangun masjid yang berkapasitas 100.000 orang ini disayembarakan pada tahun 1954 dan dimenangkan oleh arsitek Frederik Silaban. Menurut Silaban, seorang arsitek tidak terikat oleh agama dan kesukuannya dan harus dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dimiliki.Perencanaan masjid ini seratus persen asli, tidak meniru masjid manapun kecuali memenuhi persyaratan-persyaratan sayembara. Pembangunan  Pembangunan masjid ini dimulai tahun 1961. Pada tahun 1977 konstruksi beton bertulang dan bangunan gedung utamanya selesai. Sejak saat itu, meski sarana pelengkap...

Monumen Nasional

Ide pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang terletak di kota Jakarta ini berasal dari Presiden Sukarno, yang menetapkan bahwa bangunan harus mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, melambangkan api yang berkobar, sifat yang dinamis, dan memberikan kesan bergerak. Sayembara Dua kali diadakan sayembara, tak ada yang keluar sebagai juara pertama.  Sayembara pertama diikuti 55 peserta, hanya menghasilkan pemenang ketiga, yaitu arsitek F. Silaban.  Sayembara kedua yang diikuti 222 peserta, tak ada pemenang.  Presiden Sukarno kemudian menyerahkan soal ini kepada Ir. Soedarsono. Silaban dan Soedarsono kemudian mengajukan rancangan kepada Presiden Sukarno, yang kemudian disetujui. Panitia Panitia pembangunan dibentuk dua kali, pertama di tahun 1954, yang diganti tahun 1959, kemudian disempurnakan lagi dengan surat keputusan Presiden tahun 1961. Sebagai konsultan pembangunan ditunjuk Ir. Rooseno, ahli konstruksi beton bertulang di Indonesia. Pembangunan  Pembangunan Mona...

Bendungan Ir. H. Djuanda aka Bendungan Jatiluhur

Memasuki era Demokrasi Terpimpin,  Indonesia memulai pembangunan infrastruktur besar besaran. Salah satunya adalah Bendungan Jatiluhur yang sebenarnya bernama Bendungan Ir. H. Djuanda. Selayang-pandang Waduk Jatiluhur dibangun dengan membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai seluas 4.500 km persegi. Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Ir. Soekarno dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967. Pembangunan bendungan Waduk Jatiluhur menelan dana US$ 230 juta. Nama bendungan waduk dinamakan Ir. H. Juanda dikarenakan perjuangan beliau dalam pembiayaan pelaksanaan konstruksi Bendungan Jatiluhur. Ia yang merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957 – 1959) bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional. Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Waduk Jatiluhur menenggelamkan 14 Desa den...

Sultan Hamid II (Sultan Pontianak VI)

Cikal bakal Garuda Pancasila berawal ketika Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dengan anggota antara lain Sultan Hamid II, yang ketika itu menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas permintaan mereka, dibuat beberapa lambang. Biografi Muhammad Yamin sudah kami sampaikan. Berikut ini biografi Sultan Hamid II. Sayang nama beliau tidak kami temukan pada lema  Ensiklopedia Nasional Indonesia karena itu kami mencarinya dari sumber yang kami anggap kredibel. Berikut ini ada tulisan dari Boyke Sinurat yang dimuat pada RRI.co.id. Sultan Hamid II lahir pada 12 Juli 1913 di Pontianak, dari pasangan Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (Sultan Pontianak ke-VI) dan Ia berasal dari garis keturunan langsung Syarif Abdurrahman Alqadrie, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak pada tahun 1771. Sebagai bangsawan, Sultan Hamid II mendapatkan pendidikan elit sejak kecil. Setelah menamatkan pendidikan dasar di Pontianak, ia melanjutkan ke Europeesche Lagere S...