Postingan

Laksana Malaikat Yang Menyerbu Dari Langit, Jalannya Revolusi Kita - Pidato Bung Karno pada HUT RI ke 15 (Jarek) AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1960 DI JAKARTA

Saudara-saudara sekalian!  Tiap-tiap 17 Agustus saya berhadapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta. Tetapi melalui corong radio saya berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah-air dan di luar tanah-air. Berhadapan suara dengan seluruh Rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan Rakyat Indonesia di luar-pagar Indonesia, di perantauan. Dan saya harap, bukan berhadapan suara saja, melainkan juga berhadapan semangat, berhadapan batin. Dan oleh karenanya, mencapai persatuan semangat, persatuan batin.  Persatuan semangat, persatuan batin untuk apa? Persatuan semangat dan persatuan batin untuk mengabdi kepada tanah-air dan bangsa dan Negara. Persatuan semangat dan persatuan batin untuk menyelesaikan Revolusi.  Tahun yang lalu, saya menamakan hari ulang tahun Proklamasi satu hari yang unik. Satu hari yang istimewa, satu hari yang menonjol, satu hari yang luar-biasa. Sebabnya ialah: pada hari itu kita membuka halaman baru dalam sejarah Revolusi k...

Rostow

Pada unggahan sebelumnya kami sudah menyampaikan sikap John F. Kennedy terhadap Indonesia. Tentu saja Kennedy sebagai seorang Presiden AS memiliki para penasihat.  Ada dua kelompok penasihat utama Presiden Kennedy. Kelompok pertama bersikap anti-Indonesia dan anti Presiden Sukarno. Kelompok kedua lebih menganut cara pendekatan positif terhadap Indonesia maupun Presiden Sukarno. Kelompok penasihat kedua cenderung membela Indonesia. Menurut mereka dukungan terhadap Indonesia itu penting guna mencegah ketidakstabilan politik yang dapat dimanfaatkan baik oleh kelompok komunis lokal maupun komunis internasional. Dengan maksud agar Indonesia tidak menjadi sumber krisis internasional baru yang akan menguntungkan Blok Komunis, mereka mengusulkan supaya pemerintah Kennedy menjalankan kebijakan-kebijakan yang mendukung Indonesia, bahkan bila hal itu membuat Belanda gerah.  Rostow  Dalam  kelompok kedua  ini ada nama yang tidak asing bagi para pemerhati ekonomi dan  p...

Sikap John F. Kennedy Terhadap Indonesia

  Pada tahun 1957 anggota Kongres AS John F. Kennedy berkunjung ke Indonesia. Kunjungan tersebut membuatnya memahami keinginan masyarakat Indonesia. Dalam catatannya, Kennedy menulis bahwa Indonesia, "sedang berusaha menapaki jalan tengah yang netral" dalam ketegangan Timur-Barat Perang Dingin. Alasan utama Indonesia adalah "tidak banyak perbedaan antara AS dan Russia."  Kennedy memahami bahwa Rakyat Indonesia memiliki pengalaman yang sangat pahit dengan Amerika, sebab ketika Perang Dunia II berakhir para pejabat AS membiarkan Inggris dan Belanda kembali ke Indonesia. Amerika enggan mendukung keinginan Indonesia untuk merdeka dan membentuk pemerintahan sendiri. (John F. Kennedy, Personal Papers, Boston Office 1949-1956. Political Miscellany, 1945-55, Box 11, Folder : Asia Trip 1951, Kennedy Library). Kennedy tidak mengecam sikap neutral Indonesia. Ia menempatkan keinginan Indonesia dalam konteks sejarah yang lebih luas. Menjadi Presiden AS Pada tahun 1961 masa jabat...

Presiden Sukarno Berkunjung ke India

Ternyata pada tahun 1950 Bung Karno sudah berkunjung ke India. Kali ini disertai oleh ibu negara, Fatmawati.  Kunjungan Presiden Soekarno dan Ibu Negara Fatmawati  ke India dalam rangka memenuhi undangan Presiden Rajendra Prasad untuk menghadiri perayaan hari kemerdekaan India. Setelah itu Presiden Soekarno diundang oleh Perdana Menteri Pandit Jawaharlal Nehru ke rumahnya.  Sebuah foto Bung Karno dan Bu Fat menaiki sepeda  diunggah oleh steemit.com. Alkisah dalam perjalanan saat mengunjungi Taj Mahal di Agra, Uttar Pradesh, ban mobil yang dinaiki Presiden Soekarno kempes. Sambil menunggu ban mobilnya diganti Presiden Soekarno meminjam sepeda onthel dari warga setempat dan menaiknya dengan Ibu negara Fatmawati.

Bung Karno Naik Haji

Setelah berkunjung ke Mesir, Bung Karno melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Saudi Arabia dan sekaligus melaksanakan ibadah haji. Berikut ini beberapa catatan perjalanan tersebut. Presiden Soekarno pernah mendapatkan keberkahan luar biasa karena bisa menunaikan ibadah haji pada tahun 1955. Dia dan rombongan berangkat pada Juli 1955 dan harus menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat. Tak tanggung-tanggung, waktu tempuh ketika itu bisa mencapai 6 hari. Lamanya waktu tempuh itu karena pesawat harus transit di banyak negara, seperti Thailand, Singapura, India, Irak, Mesir, dan Uni Emirat Arab. “Di hari Jumat tahun 1955 aku menjalankan ibadah haji di Mekkah. Naik haji di hari yang suci ini membikin seseorang menjadi Haji Akbar, Haji Besar. Ini menandakan bahwa orang mempunyai jiwa keagamaan tujuh kali lebih dalam daripada manusia biasa rata-rata,” tulisnya. Keberkahan lain yang didapatkan Bung Karno dan rombongan pada ibadah haji kala itu adalah bisa melihat berbagai momen penting. ...