Postingan

Kunjungan Presiden Sukarno ke Mesir

Dalam unggahan terdahulu kami sampaikan bahwa pada tahun 1959, pidato Bung Karno  yang diberi judul Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution) dan dibukukan menjadi Manifesto Politik Republik Indonesia diterjemahkan oleh Al Dar al Arabiyah li al Ulum, Kairo,Mesir. Kali ini kami sampaikan unggahan mengenai kunjungan Presiden Sukarno ke Mesir tahun 1955 yang dimuat oleh Antara.news, 14 September 2013 dengan judul Pesona Bung Karno di negeri Ratu Cleopatra. Antara.news menyebutkan bahwa kunjungan pertama Bung Karno ke Mesir berlangsung hanya tiga bulan setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung yang dihadiri Nasser, dan kunjungan terakhir ke Kairo pada Juni 1965, atau hanya tiga bulan menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Setiap lawatan Bung Karno ke Negeri Lembah Nil itu disambut meriah sejak setibanya di Bandara Kairo hingga kepulangannya. Surat kabar Mesir Al Ahram pada 20 Juli 1955 menggambarkan kunjungan pertama Presiden Soekarno itu disambut gegap...

Terjemahan Manifesto Politik Republik Indonesia ke dalam Bahasa Arab

Beberapa hari yang lalu Pidato Bung Karno di istana negara Jakarta tanggal 17 Agustus 1959 dalam rangka memperingati 14 tahun proklamasi Kemerdekaan RI yang diberi judul Penemuan Kembali Revolusi Kita (The Rediscovery of Our Revolution) sudah saya unggah secara utuh ke dalam bebeberapa kali unggahan. Ternyata pidato yang kemudian dibukukan menjadi Manifesto Politik itu diterjemahkan oleh Al Dar al Arabiyah li al Ulum, Kairo,Mesir. Hal itu disampaikan oleh A. Ginanjar Sya'ban dosen Pascasarjana STAINU Jakarta dalam sebuah tulisannya di media NU Online, Selasa 1 November 2016, berjudul Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno.   Berikut ini kami kutipkan artikel tersebut secara lengkap. Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno Oleh A. Ginanjar Sya’ban Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman....

Khrushchev Berkunjung ke Indonesia

  Kebutuhan militer untuk melancarkan serangan guna merebut Papua mendorong pihak tentara dan pemerintah berpaling kepada Uni Soviet, yang sedang meningkatkan pengaruhnya di Indonesia supaya merugikan AS maupun Cina (Ricklefs, 2005 : 531). Pada tanggal 18 Februari 1960 Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev menerima undangan Bung Karno untuk berkunjung, dan menghabiskan waktu selama dua belas hari di Indonesia. Selama kunjungan ini Nikita Khrushchev menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama. Nikita Khrushchev juga menjanjikan pinjaman sebesar $ 250 juta untuk Indonesia. Dubes AS untuk Indonesia Jones menyebut bantuan Uni Soviet tersebut sebagai propaganda Khrushchev (Wardaya, 2008 : 204). Dalam kunjungannya ke Indonesia PM Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev Berkunjung ke berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Khrushchev juga berkunjung ke Bali. Menurut  Faishal Hilmy Maulida dalam tirto.id, 18 Mar 2018, Khrushchev beserta rombonga...

Kebijakan Eisenhower Terhadap Indonesia

Pada pertengahan 1958, pemerintahan Eisenhower terpaksa mengakui bahwa campur tangannya di Indonesia telah gagal. Tak lama setelah menghentikan dukungannya kepada para pemberontak daerah, Eisenhower dengan cepat mendukung pemerintah Indonesia khususnya Angkatan Darat meskipun hanya dalam hal taktik. Tujuan yang ingin dicapai dengan  Strategi Perang Dingin tetap sama : pertama, mencegah kelompok komunis menguasai Indonesia; kedua, membangun sebuah Bangsa yang terbuka terhadap Free World yang menentang komunis dan tidak menyerahkan sumber dayanya pada Blok Sino-Soviet. Lima Bidang Pokok  Menurut Baskara T. Wardaya dalam buku Indonesia Melawan Amerika, paling tidak ada lima Bidang Pokok yang mendominasi kebijakan pemerintahan Eisenhower:  (1) PKI yang makin populer dan berkembang; (2) Presiden Sukarno yang semakin dekat dengan PKI dan Uni Soviet; (3) Meningkatnya pengaruh Soviet melalui bantuan militer dan ekonominya; (4) Angkatan Darat yang dipandang sebagai sekutu paling p...

Pembentukan DPR -GR dan MPRS

Kunjungan Presiden Sukarno ke Hongaria Di awal tahun 1960 Presiden Sukarno berkunjung ke Hungaria, sayang kami tidak mendapat cukup informasi, hanya sebuah film berita Hongaria (MAGYAR FILMHÍRADÓ) memberitakan Presiden Sukarno berkunjung ke Republik Rakyat Hongaria dalam rangka kunjungan kenegaraan ke negara tersebut tanggal 14-18 April 1960. Dalam film itu nampak sambutan pemerintah dan rakyat Hungaria sangat luar biasa. Liga Demokrasi  Sementara itu menurut Ricklefs, PSI dan Masyumi melakukan perlawanan terakhir mereka terhadap Demokrasi Terpimpin pada tahun 1960 dengan membentuk Liga Demokrasi. DPR GR  Ketika Sukarno pulang dari perjalanannya dari Hungaria , Liga Demokrasi yang dibentuk PSI, Masyumi dan sekutunya atas dorongan Hatta dan beberapa tokoh militer, segera hancur. DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat - Gotong Royong) yang terdiri atas 283 kursi ditetapkan. PSI dan Masyumi tidak memperoleh satu pun kursi. Lebih dari separuh jumlah kursi (154) jatuh ke tangan golongan-g...

Kunjungan Pertama Presiden Sukarno ke Italia dan Vatikan

Willem Othman seorang wartawan Belanda menulis sebuah artikel berjudul Bung Karno Sahabatku (2001) pada laman DBNL - Digitale Bibliotheek voor de Nederlanse Letteren. Keseluruhan tulisan sungguh menarik dan karenanya akan kami muat secara utuh karena bukan saja bercerita tentang pertemuan Othman dengan Bung Karno tapi juga sikap pemerintah dan bangsa Belanda terhadap Bung Karno.  --- Roma (1956). Tanggal 10 Juni, pukul empat petang hari. Di Bandara Ciampino terhampar sebuah permadani merah. Presiden Italia Giovanni Gronchi, para anggota kabinet, dan korps diplomatik mengikuti gerakan pesawat DC7B yang menggelinding perlahan. Pesawat itu disewa Pemerintah Indonesia dari Pan American Airways. Hari itu cuaca cerah di musim panas. Seragam yang berwarna-warni dari barisan kehormatan caribinieri tampak menonjol di tengah jas kelepak para pejabat tinggi. Pintu pesawat terbuka. Didahului oleh juru potret istana Rochman dan juru film kepresidenan Silitonga, Presiden Soekarno keluar dari pes...

Bung Karno Berkunjung ke Itali dan Vatikan

Dalam lawatannya ke berbagai negara pada pertengahan 1959, Presiden Sukarno menyempatkan untuk bertemu dengan Paus Yohanes XXIII. Pada 14 Mei 1959, Sukarno tiba di Roma, Italia. Selain Duta Besar Indonesia untuk Italia dan Vatikan Abu Hanifah, Bung Karno disambut oleh seorang petinggi Vatikan Angelo Dellecqua, perwakilan Kepresidenan dan Kementerian Luar Negeri Italia. Turut pula Duta Besar Pakistan, Polandia, Turki, Filipina, Bulgaria, Yordania, serta kuasa-kuasa usaha dari India, Jepang, dan Libya. Ini menandakan betapa Indonesia menggalang persahabatan diplomatik lintas negara. Dari Roma, Presiden Sukarno meneruskan kunjungan ke Vatikan. Di Istana Vatikan, Paus Yohanes XXIII menerima Bung Karno dengan hangat. Dalam pidato sambutannya yang diucapkan dalam bahasa Prancis, Paus memuji peranan umat Katolik dalam membangun Indonesia. Peranan itu terutama dalam membangun dan memajukan sekolah-sekolah, rumahsakit, dan kegiatan sosial. Paus juga menyatakan kesediaan Takhta Suci Vatikan deng...