Kedatangan Kapal Induk Belanda Karel Doorman di Irian Barat


Dalam pidato Laksana Malaikat Menyerbu dari Langit Jalannya Revolusi Kita (Jarek) 17 Agustus 1960 Bung Karno berbicara mengenai program politik untuk membebaskan Irian Barat dari kolonialisme Belanda dan kedatangan Kapal Induk Karel Doorman.

"Ya!, pengalaman-pengalaman Kabinet-kabinet yang lalu sudah jelas. Ya!, kolonialis Belanda makin bersikap kepala batu! Ya!, Belanda malahan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat. Tetapi juga ya!, kita sekarang sudah benar-benar menemukembali perjoangan kita dan menemu-kembali Revolusi! Karena itu, ya!, benar sekali anjuran Dewan Pertimbangan Agung supaya kita melaksanakan politik pembebasan Irian Barat secara Revolusioner, menurut bahasa tersendiri Revolusi Nasional Indonesia! Belanda makin berkepalabatu.

Belanda malahan mengirimkan Karel Doorman-nya. Satu negara rentenier kecil yang sebenarnya sudah jatuh seperti Nederland itu, yang masih bernafsu kolonialisme, sekarang mencoba mengirimkan deurwaardernya, yang bemama Karel Doorman!

Sekarang dengarkan Saudara-saudara! Dalam keadaan yang demikian itu, tidak ada gunanya lagi hubungan diplomatik dengan negeri Belanda. Tadi pagi telah saya perintahkan Departemen Luar Negeri memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri Belanda."

Seperti apa Kapal Induk Karel Doorman itu ? 

Dikutip dari Indo Militer, "Sebagai kapal induk, HNLMS Karel Doorman jelas membawa jet tempur, dan memang ada 12 unit Hawker Sea Hawk, varian naval dari Hawker Hunter. Jet tempur dengan sayap lipat ini jelas bukan tandingan dalam duel udara dengan MiG-21F-13 TNI AU.

Dirunut dari sejarahnya, meski kekuatan militer Belanda tersohor di dunia, namun untuk urusan kapal induk, Negara Kincir Angin ini juga membeli produk bekas pakai. Persisinya AL Belanda mengakuisisi HNLMS Karel Doorman pada 1948, sebelumnya kapal induk induk ringan ini bernama HMS Venerable milik AL Kerajaan Inggris. Bila diperdalam lagi, HMS Venerable termasuk dalam Colossus-class aircraft carrier.

Tak terima barang bekas begitu saja, HNLMS Karel Doorman pada 1955-1958 dilakukan perluasan flight deck, agar mampu menampung puluhan pesawat. Dalam upgrade ini Belanda juga memasang elevator baru, perangkat pelontar pesawat, pemasangan fasilitas pendukung penerbangan yang lebih modern, dan peragkat navigasi elekttronik. Sementara dalam aspek hanud, sayangnya pada masa itu belum hadir kanon CIWS (Close In Weapon System) model Goalkeeper, alhasil perisai hanud diserahkan pada 12 unit Bofors L/70 40 mm.

Tapi jangan anggap pergerakan kapal induk lemah, pasalnya SOP kapal induk selalu menyertakan body guard, seperti HNLMS Karel Doorman yang saat ke Papua dikawal dua destroyer dan satu kapal tanker."

Terpantau Intelejen Indonesia 

Karena dianggap punya potensi ancaman besar, Pergerakan HNLMS Karel Doorman dari Belanda menuju Papua telah terpantau pihak intelijen Indonesia. Agar pelayaran berlangsung aman dan bebas tekanan politik dari Mesir yang merupakan sekutu Indonesia. Maka HNLMS Karel Doorman dan kapal pengiringnya berlayar tak melewati Terusan Suez, melainkan harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Belanda Pamer

Dari dokumen intelijen Belanda yang diungkap pada 3 Januari 2012, disebut bahwa niatan Belanda mengirim HNLMS Karel Doorman ke perairan Papua pada 1960 tak lebih ‘hanya’ ingin pamer kekuatan. Namun dituturkan dalam dokumen bahwa respon Indonesia jauh dari perkiraan, justru Indonesia melakukan mobilisasi dan perangkat tempur besar-besaran dari Uni Soviet.

Dahsyatnya Alutsista TNI

Dengan status kapal induk, meski terlihat ‘mentereng’ HNLMS Karel Doorman adalah lawan yang tak sebanding dengan perkuatan alutsista TNI saat itu, mulai dari kedatangan kapal penjelajah KRI Irian, kapal selam Whiskey Class, pembom jarak jauh Tu-16KS Badger dengan rudal AS-1 Kennel, kombinasi kesemuanya jelas sangat rentan bagi HNLMS Karel Doorman. Lewat proses perundingan dan atas saran dari Amerika Serikat, faktor di atas menjadi poin penting bagi Belanda untuk lebih baik hengkang dari Papua.

Berpindah Kepemilikan 

Seiring reorganisasi AL Belanda, HNLMS Karel Doorman kemudian tak lagi digunakan. Dengan latar perubahan strategi militer Belanda dan yang pasti biaya operasional kapal induk yang dianggap terlalu tinggi, pada 1969 HNLMS Karel Doorman berpindah kepemilikan ke Agentina, dan berubah nama menjadi ARA Veinticinco de Mayo (V-2).

Perang Malvinas

Super Etendard di ARA Veinticinco de Mayo (V-2).

Di tangan Argentina, kapal induk ini bertambah garang, jet tempur yang lepas landas diantaranya A-4Q Skyhawk dan Super Entedard, jet tempur yang kondang membawa rudal anti kapal AM-39 Exocet. Ironisnya, salah satu misi besar Veinticinco de Mayo adalah melawan negara yang dahulu membuatnya, Inggris, dalam Perang Malvinas (1982).

Setelah diluncurkan dari galangan Cammell Laird pada 30 Desember 1943, akhirnya Argentina resmi memensiunkan kapal induk ini pada 1997. Sebagian dari sisa spare part Veinticinco de Mayo dijual untuk mendukung kapal induk Brasil, NAeL Minas Gerais. Dan struktur kapal induk legendaris ini akhirnya di-scrap pada tahun 2000 (Gilang Perdana, indomiliter.com).

Belum Siap 

Versi yang lain mengatakan Bung Karno dan Nasution merasa belum siap.

Ketika ekspedisi Karel Doorman ke Papua mengangkut pesawat-pesawat jet pemburu Hawker Hunter untuk ditempatkan di Pangkalan Udara Biak dengan  serdadu-serdadu wajib militer Belanda yang akan dibentuk menjadi “Batalion Papua” turut dibawa, Presiden Sukarno meradang sekaligus cemas. Menurutnya, Karel Doorman dapat menyulut perang dan mengancam kedaulatan Indonesia. Kekhawatiran Sukarno bukan tanpa alasan. Angkatan Perang Indonesia dipastikan belum siap jika sewaktu-waktu Karel Doorman berniat melancarkan agresi ke Indonesia.

Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Menteri Keamanan Nasional dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dalam memornya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, mengungkapkan, “kita belum mampu untuk itu (berperang) dan juga pangkalan-pangkalan serta kekuatan-kekuatan laut kita adalah rawan jika Karel Doorman datang dengan kapal-kapal pembantunya”.

Desas-desus tentang Karel Doorman membuat publik Indonesia kian tegang. Berbagai cara ditempuh untuk menutup gerak Karel Doorman mendekati kawasan Nusantara. Sukarno  menginstruksikan agar pertahanan Indonesia di perbatasan Maluku diperkuat. Cuti militer di Maluku dan Irian Barat dicabut. Seluruh rakyat dalam keadaan waspada.

Bung Karno Menemui Gammal Abdel Nasser

Untuk mengantisipasi laju Karel Doorman, Sukarno menemui pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser. Sukarno dan Nasser sepakat pengiriman kapal induk Belanda ke Papua bertentangan dengan prinsip Konferensi Asia Afrika dan pernyataan bersama kedua pemimpin itu  mengutuk Belanda mengirimkan Karel Doorman.

Protes ke Jepang 

Pada 31 Mei 1960,  Karel Doorman bertolak dari pelabuhan Rotterdam menuju Papua diiringi dua kapal pemburu Groningen dan Limburg serta satu kapal tanker minyak Mijhdrecht. Demi menghindari masalah dengan pemerintah Mesir, Karel Doorman tidak melewati Terusan Suez yang merupakan rute terdekat. Akibatnya, jalur yang lebih jauh harus ditempuh yaitu melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Ketika Karel Doorman direncakan merapat di pelabuhan Yokohama, Jepang, untuk mengisi pasokan minyak dan air, Duta Besar Bambang Sugeng langsung bereaksi. Indonesia memprotes Jepang tentang mampirnya Karel Doorman.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Zentaro Kosaka, Sugeng mengancam akan kembali ke Indonesia dan mengisyaratkan pemutusan hubungan ekonomi Indonesia dengan Jepang. “Kosaka mengubah keputusannya, dengan alasan bahwa dia tidak ingin menjual suatu persahabatan dengan negara Asia, hanya demi sebuah kapal induk,” tulis Masashi Nishihara dalam Sukarno Ratnasari Dewi & Pampasan Perang: Hubungan Indonesia-Jepang, 1951-1966.

Kendati negara sahabat Indonesia mempersulit pelayarannya, Karel Doorman tak dapat dicegah menginjak Papua. Belanda juga punya sekutu. Untuk kebutuhan logistik dan bahan bakar, Karel Doorman memperolehnya dari Australia.

Berlabuh di Papua 

Karel Dorman berlabuh di Papua pada 1 Agustus 1960.  Hollandia (Jayapura), Biak, dan Manokwari adalah kota-kota yang disinggahi Karel Doorman. Selama tiga minggu mengadakan pawai bendera, Karel Doorman dimanfaatkan sebatas pada kegiatan-kegiatan sosial, pelayaran kecil, dan demo-demo pesawat terbang untuk menarik simpati rakyat lokal.

 “Kehadiran Karel Doorman mengangkat moral orang-orang Belanda di Papua. Unjuk kekuatan itu juga memperbesar kepercayaan orang-orang Papua terhadap Belanda,” tulis sejarawan Belanda, Pieter Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri.

Safari Karel Doorman di Papua, selain memakan biaya ekonomi yang tinggi, berdampak politis yang cukup besar. Di Indonesia, Belanda dicap sebagai musuh revolusi. Sukarno meresmikannya dengan pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda. Dia tak ingin kalah gertak (historia.id)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Liberalisme Politik

Struktur Pemerintahan Sipil Pada Masa Pendudukan Jepang