Bung Karno Bertemu Fidel Castro
Perjumpaan Che dengan Indonesia tak berhenti di situ saja. Setahun setelahnya, 13 Mei 1960, Sukarno melakukan balasan ke Kuba. Kali ini bukan hanya Che yang menyambut, tetapi juga pemimpin Kuba, Fidel Castro.
48 tahun kemudian, pada 2008, potret Sukarno, Fidel Castro, dan Che Guevara, di bandara Jose Marti, Havana, diperingati sebagai momen bersejarah. PT Pos Indonesia mencetak perangko khusus yang membingkai ketiga tokoh tersebut (Tirto.id, 25 Maret 2025).
Peci Bung Karno dan Topi Pet Fidel Castro
Sejarah mencatat, Fidel dan Sukarno adalah sahabat karib. Keduanya bertemu saat Sukarno berkunjung ke Kuba tahun 1960. Saat itu, Fidel dan Che Guevara menyambut kedatangan presiden Indonesia itu secara meriah.
“Anda tahu,tuan, inilah yang menyatukan Indonesia,” kata Sukarno sambil menunjukan Peci-nya
“ Yang mulia Presiden Sukarno, inilah yang membuat Batista merangkak- rangkak keluar istana dan digebuki pantat-nya oleh Amerika ,” sambung Fidel sambil menunjukan topi pet-nya yang bergambar bintang.
Lalu, mata Fidel Castro menunjuk pada tongkat yang dibawa Sukarno. “ Oh, kalau ini untuk apa tuan presiden ?”
Sukarno dengan gaya kocak mengelus-elus tongkatnya dan memberikan kepada Fidel Castro , “ kalau Anda pegang ini , akan keluar jin.”
Fidel dan semua yang ada diistana kepresidenan lantas tertawa terbahak-bahak. Fidel mengelus-elus tongkat komando Sukarno, tetapi tentu saja tidak keluar jin . Akhirnya, mereka bertukar aksesoris. Fidel memakai peci dan tongkat komando Sukarno, sementara Sukarno memakai topi pet milik Fidel. Itulah kisah tentang keakraban yang terjalin antara dua orang yang memiliki kemiripan idiologis.
Bagi Fidel, Sukarno adalah guru yang mengajarkan bahwa sebuah Negara harus di bangun secara mandiri dan setelah merdeka tidak boleh di setir oleh bangsa asing. Inilah pelajaran penting yang di ambil Fidel Castro dari Sukarno (Ali Imroni, Gesuri.id).
Syarat Terbesar Sebuah Revolusi
Satu hal yang tidak terlupakan dalam sejarah Kuba adalah ketika Sukarno menyerahkan sebuah keris tradisional, lambang kekuasaan dan kebanggan etnis, kepada Fidel.
"Tuan Sukarno, negara ini memiliki tekad sendiri untuk melakukan perubahan, kami merasa harus merdeka dari Amerika Serikat. Kami semakin berjaga-jaga untuk tidak membiarkan rudal Amerika menyerang kami," ujar Fidel setelah menerima keris itu.
Sukarno pun menjawabnya dengan sebuah kalimat yang dalam, yang membuka mata Kuba akan prinsip seorang kepala negara akan kedaulatan bangsanya.
"Yang Mulia Castro, sebuah negara harus merdeka terlebih dahulu. Itulah syarat terbesar sebuah Revolusi," kata Sukarno.
Percakapan dua kepala negara itu menandai jejak sejarah persahabatan yang abadi hingga kini. Kedua negara kemudian menjadi melakukan kerja sama yang solid, berdasarkan rasa saling menghormati dan kesepakatan tentang isu-isu dalam agenda internasional.
Kuba mengakui peran Indonesia sebagai cikal bakal Gerakan Non Blok dan mengapresiasi posisinya yang kokoh dan berani dalam menolak blokade ekonomi, komersial, dan finansial yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap negara Kuba. (rmol.id).
Surat Bung Karno kepada Fidel Castro
Awal Desember 1965, didorong oleh rasa khawatir itu, Fidel Castro menyambangi Kedubes RI di Havana. Saat itu, Dubes RI untuk Kuba dijabat oleh AM Hanafie, bekas aktivis Menteng 31. Saat itu Fidel menitipkan surat pribadinya kepada Bung Karno melalui Hanafie.
Bung Karno lalu membalas surat Fidel Castro itu di akhir Januari 1966. Di dalam suratnya Bung Karno menulis:
"P.J.M. Perdana Menteri Fidel Castro, Havana
Kawanku Fidel yang baik!
Lebih dulu saya mengucapkan terima kasih atas suratmu yang dibawa oleh Duta Besar Hanafi kepada saya.
Saya mengerti keprihatinan saudara mengenai pembunuhan-pembunuhan di Indonesia, terutama sekali jika dilihat dari jauh memang apa yang terjadi di Indonesia – yaitu apa yang saya namakan Gestok dan yang kemudian diikuti oleh pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kaum kontra revolusioner, adalah amat merugikan Revolusi Indonesia.
Tetapi saya dan pembantu-pembantu saya, berjuang keras untuk mengembalikan gengsi pemerintahan saya, dan gengsi Revolusi Indonesia. Perjuangan ini membutuhkan waktu dan kegigihan yang tinggi. Saya harap saudara mengerti apa yang saya maksudkan, dan dengan pengertian itu membantu perjuangan kami itu.
Duta besar Hanafi saya kirim ke Havana untuk memberikan penjelasan-penjelasan kepada saudara.
Sebenarnya Duta besar Hanafi masih saya butuhkan di Indonesia, tetapi saya berpendapat bahwa persahabatan yang rapat antara Kuba dan Indonesia adalah amat penting pula untuk bersama-sama menghadap musuh, yaitu Nekolim.
Sekian dahulu kawanku Fidel!
Salam hangat dari Rakyat Indonesia kepada Rakyat Kuba, dan kepadamu sendiri!
Kawanmu
ttd
Sukarno
Jakarta, 26 Januari 1966"
Begitu Bung Karno digulingkan, lalu muncullah diktator Soeharto, politik Indonesia berubah total. Indonesia tidak lagi menyuarakan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Tak hanya itu, sejak Soeharto berkuasa, praktek kolonialisme kembali direstorasi di Indonesia.
Sementara Kuba tetap kokoh di jalannya. Malahan, pada tanggal 3-12 Januari, Kuba menjadi tuan rumah Konferensi Trikontinental atau Konferensi Organisasi Setia-kawan Asia-Afrika dan Amerika Latin (AAA). Saat itu, Indonesia punya dua delegasi: delegasi yang dipimpin oleh Ibrahim Isa dan delegasi yang dipimpin oleh Brigjen Latif Hendraningrat. Delegasi Ibrahim Isa mewakili politik Sukarno, sedangkan delegasi Brigjend Latif sudah disetir oleh ‘penguasa militer’ di Jakarta. Sebagai bentuk dukungan terhadap Sukarno, Panitia Konferensi yang diketuai oleh Kuba menolak delegasi Brigjend Latif. Alhasil, delegasi Brigjend Latif kembali ke Jakarta dengan tangan hampa.
Namun demikian, rasa hormat rakyat Kuba terhadap Indonesia dan Soekarno tidak lekang. Tahun 2008 lalu, pemerintah Kuba menerbitkan prangko bergambar Bung Karno dan Fidel Castro (berdikarionline.com, 29 Desember 2013).
Komentar
Posting Komentar