Asmara Hadi dan Partindo (Baru)
Pamflet berjudul Appeal Juli 1960 terkenal dengan sebutan Buku Merah, karena sampulnya warna merah dan karena para pemimpin konservatif ingin melecehkan bahwa buku tersebut diilhami oleh komunisme. Isinya melanjutkan gerakan pembaharuan Sarmidi dan Partindo (Partai Indonesia) yang terhenti, tetapi dengan sebuah perbedaan, dalam arti pembentukan Partindo merupakan akhir dari satu tahap gerakan pembaharuan partai. Misalnya, kritik para pemimpin Partindo terhadap PNI dan para pemimpinnya tidak jauh dari kritik GMNI dan Pemuda Demokrat. Namun, dengan membentuk partai baru dan kegagalan untuk menarik dukungan yang cukup besar, para pemimpin Partindo membawa pembaharuan PNI menuju jalan buntu (Rocamora, 1961).
Partindo
Beberapa sumber mengatakan bahwa Partindo (baru) didirikan tahun 1965. Tetapi berdasarkan tulisan J. Elisio Rocamora tersebut, Partindo sudah ada sejak bahkan tahun 1960. Ada yang mengatakan Partindo berdiri tahun 1958 dengan Asmara Hadi sebagai Wakil Ketua II nya.
Tentang Asmara Hadi dan Partindo, Rocamora menulis bahwa Asmara Hadi saat itu adalah anggota Komite Khusus DPP PNI, yang ditugaskan merancang rumusan baru ideologi partai. Karena itu, tepatlah bila ia mendesak pimpinan partai untuk kembali menilai kembali kedudukan partai dari segi ideologi partai. Kalau mau menjadi partai pelopor, katanya, “PNI harus melebur ideologi partai ke dalam organisasi partai, membuat peraturan yang lebih keras bagi anggota-anggota baru untuk mencegah masuknya orang-orang yang hanya memanfaatkan partai demi tujuan pribadi.”
Tapi, kritik Asmara Hadi dan kawan-kawannya sesama nasionalisme-radikal itu tidak diindahkan pimpinan PNI. Maka, kelompok ini kemudian mendirikan Partindo. Pendirian Partindo itu diumumkan pada 5 Agustus 1958. Sebagai Ketua Partindo ditunjuk Winarno Danuatmodjo, aktivis PNI yang pernah menjabat Residen Surabaya dan Gubernur Sumatera Selatan. Asmara Hadi menduduki posisi Wakil Ketua II.
Dalam pengumuman pendiriannya disebutkan bahwa partai ini merupakan kelanjutan Partindo sebelum perang dan berdasarkan “Marhaenisme yang sebenarnya”, yaitu yang didasarkan pada “Marxisme yang diterapkan untuk kondisi Indonesia”. Manifesto politik Partindo menelusuri perkembangan perjuangan Marhaenis dari masa sebelum perang, melalui revolusi dan “masa liberal”. Garis besar haluan manifesto mengikuti apa yang sebelumnya diambil para pemimpin pembaruan PNI, seperti Asmara Hadi dan (almarhum) Sarmidi Mangunsarkoro. Dikatakan bahwa meningkatnya “dominasi unsur-unsur borjuis dan liberal” dalam perjuangan telah menyebabkan pengkhianatan terhadap cita-cita revolusioner Marhaenis. Tugas Partindo adalah mengembalikan Marhaenis kepada tujuan-tujuan semula. (Rocamora, 1991: 273-274)
Asmara Hadi
Beberapa hari yang lalu sudah kami sampaikan bahwa Asmara Hadi yang mengusulkan kepada Bung Karno agar lima dasar negara yang digagasnya diberi nama Panca Sila. Berikut ini biografi Asmara Hadi.
Asmara Hadi dilahirkan dengan nama Abdul Hadi tahun 1914 di Bengkulu, namun ia sering menggunakan nama samaran Asmara Hadi atau inisial HR yang merupakan singkatan Hadi dan Ratna. Ratna Djuami, istrinya, adalah anak angkat Bung Karno dan Inggit Garnasih. Dari mertuanya, Bung Karno inilah ia belajar politik dan berpidato. *)
Karirnya sebagai wartawan antara lain pada surat kabar Bintang Timur (1935), Efficiency (Jakarta, 1939), Pemandangan/Pembangunan (Jakarta, 1940), dan Asia Raya (pada zaman Jepang).
Asmara Hadi mengasuh rubrik Surat-surat Cinta Politik, (Politieke Minnebrieven) di Majalah politik Fikiran Rakyat, yang dipimpin Bung Karno, di Bandung. Dalam rubriknya, ia memadukan unsur politik dalam gaya bahasa sastra dan berbentuk surat. Asmara Hadi selalu mengawali tulisannya dengan: "Omi, adikku!" Omi, panggilan akrab untuk Ratna Djuami.
Sastrawan Pujangga Baru
Asmara Hadi aktif menulis untuk Majalah Poedjagga Baroe yang dipimpin Sutan Takdir Alisjahbana. Ia juga menulis pengalaman pribadinya ketika di penjara dalam buku Di Belakang Kawat Berdoeri. Menurut Amir Hamzah, sajak-sajaknya mirip penuturan mimpi. Gaya penulisan prosanya mengasyikkan, karena memiliki kekuatan tertentu dalam melukiskan keindahan alam.
Politik
Ia dikenal sebagai politisi nasionalis, sosialis, sekaligus taat beragama Islam. Untuk menyalurkan aspirasi politiknya, ia bergabung dengan Partindo. Ia diberi kepercayaan mengadakan kursus kader bagi anggota yang lebih muda.
Begitu Partindo dibubarkan, Asmara Hadi masuk Gerindo. Ia bersama Pandu Kartawiguna, Adam Malik, Abdul Hakim, A.M. Sipahutar dan beberapa orang lainnya ditangkap dan hendak dibuang ke Australia melalui Cilacap, tetapi gagal karena Belanda menyerah kepada Jepang.
Setelah peristiwa Gestok, ia ditangkap. Partindo dibubarkan. Ia mengakhiri jabatannya sebagai Ketua dan juga karirnya di bidang politik.
Asmara Hadi adalah kakak kandung Anak Marhaen Hanafi, yang menjadi Duta Besar RI untuk Kuba.
Asmara Hadi meninggal tahun 1976 karena serangan jantung. (Adhi Bobo, Soebagijo I.N., 2004 : 290).
*) Sekitar tahun 1998 saya bersama beberapa kawan seperti Bung Tri, Bung Ferdi, Bung Ibrahim dan Bung Henda sempat bertemu Ibu Ratna Djuami di Bandung. Ketika itu ada pula Ibu Kartika anak angkat Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasih dan kawan kawan mereka dari Bengkulu. Ada pula Ibu Sidik Danubrata, besan Ibu Hartini.
Komentar
Posting Komentar