Seputar Ende
Barangkali banyak yang belum tahu bahwa Bung Karno pernah diasingkan ke Ende, sebuah kota di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Bung Karno ditemani ibu Inggit Garnasih, Ratna Djuami anak angkatnya dan mertua Bung Karno, Ibu Amsi (ibu dari Inggit Garnasih). Mertua Bung Karno wafat dan dimakamkan di Ende. Ibu Inggit mendapat gelar kehormatan Ibu Agung.
Pada tahun 2009 saya menyempatkan terbang dari bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar Bali dan mendarat di bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Usai check in, saya berkunjung ke rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira. Saya memperhatikan rumah itu dengan seksama hingga bagian belakang, dan berbincang tentang Bung Karno dengan para pedagang yang tinggal di kamar-kamar sewaan. Dari sana saya berjalan kaki ke sebuah taman, yang disebut Taman Bung Karno. Di sini biasanya Bung Karno duduk merenung di bawah pohon sukun sambil memandang laut lepas dan pulau Ende di kejauhan. Di situlah Bung Karno dipercaya memperoleh inspirasi tentang Panca Sila. Saya pun duduk di situ memandang anak-anak yang bermain di alun-alun.
Dari Taman Bung Karno saya berjalan kaki ke dermaga pelabuhan Ende. Dulu kapal yang membawa Bung Karno berlabuh di situ setelah berlayar dari Tanjung Perak , Surabaya, tahun 1934.
Keesokan harinya saya berkunjung Danau Kelimutu, ini tiga danau dengan warna yang berbeda yang terletak di sebuah gunung. Menurut sebuah sumber Bung Karno pernah berkunjung ke sini untuk menenangkan diri dan mencari inspirasi.
Kota Ende
Luas wilayah Kabupaten Ende 2.046,60 Km2; Batas Wilayah Utara berbatasan dengan Laut Flores, Timur berbatasan dengan Kab. Sikka, Barat berbatasan dengan Kabupaten Ngada, dan arah Selatan berbatasan dengan Laut Sawu; Jumlah penduduk 273.555 orang (NTT dalam angka Tahun 2007); Wilayah Administrasi terdiri dari 16 kecamatan, dan 211 desa; Prasarana Transportasi terdapat Bandara H. Hasan Aroeboesman, untuk transportasi laut terdapat Dermaga/Pelabuhan Laut LPPI Ende dan Pelabuhan Ende.Pemerintah Kabupaten Ende beribukota di Kota Ende, dipimpin oleh Bupati Don Bosco M. Wangge. Mempunyai 1 buah PDAM dan 1 buah RSUD Ende (ntt.bpk.go.id)
Sejarah Ende
Kota Ende telah menjadi bagian penting perjalanan hidup sang proklamator karena menjadi tempat pembuangan / pengasingan beliau oleh Belanda mulai dari 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938.
Selama masa pengasingan inilah, sang proklamator merenungkan butir-butir nilai Pancasila yang kemudian disampaikan konsep tersebut pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 01 Juni 1945. Proses merenung itu terjadi di bawah pohon Sukun yang sekarang menjadi Taman Renungan Bung Karno. Tahun 1951, sang proklamator kembali berkunjung ke Ende sebagai Presiden RI pertama dan mengusulkan rumah pengasingan yang ditempati tersebut menjadi museum dan pada kunjungan keduanya tahun 1954, beliau meresmikan Museum Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Ende. (Kota Ende telah menjadi bagian penting perjalanan hidup sang proklamator karena menjadi tempat pembuangan / pengasingan beliau oleh Belanda mulai dari 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938.
Selama masa pengasingan inilah, sang proklamator merenungkan butir-butir nilai Pancasila yang kemudian disampaikan konsep tersebut pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 01 Juni 1945. Proses merenung itu terjadi di bawah pohon Sukun yang sekarang menjadi Taman Renungan Bung Karno. Tahun 1951, sang proklamator kembali berkunjung ke Ende sebagai Presiden RI pertama dan mengusulkan rumah pengasingan yang ditempati tersebut menjadi museum dan pada kunjungan keduanya tahun 1954, beliau meresmikan Museum Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Ende. ( nttprov.go.id)
Ende pada Masa Kerajaan
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Raja Haji Hasan Aroeboesman menjabat sebagai Raja menggantikan ayahnya Haji Puah Meno Aroeboesman, penobatan Raja Haji Hasan Aroeboesman diikuti oleh 44 Mosalaki dan tetap dinobatkan oleh Belanda.
Keadaan sosial Kerajaan Ende yakni rakyat hidup rukun dan selalu bergotong royong, relasi sosial di masyarakat Ende didasarkan pada kearifan lokal yang berkembang secara turun temurun. Keadaan ekonomi kerajaan Ende tidak hanya mengandalkan perdagangan antar pulau namun ada juga yang bekerja sebagai tukang atau kuli di pasar atau pelabuhan dan bekerja sebagai pegawai di kantor-kantor pemerintahan. Keadaan politik kerajaan Ende pada masa pemerintahan Haji Hasan Aroeboesman beliau di bantu oleh Mosalaki atau kepala suku, Abdurahman Busman sebagai sekertaris Raja dan Putri Habiba sebagai penasihat Raja. Keadaan budaya, budaya yang masih dijalankan secara turun temurun adalah Tarian Gawi dan Minu Ae Petu (minum air panas) dua budaya ini masih terus dijalankan oleh masyarakat di Kabupaten Ende (garuda.kemendiktisaintek.go.id).
Komentar
Posting Komentar