Nasakom


Pada tahun 2002 K H. Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan panggilan Gus Dur menulis sebuah tulisan mengenai Nasakom dengan judul Islam Nasakom dan Kita. Gus Dur menulis sebagai berikut :

"Beberapa tahun sebelum kewafatannya, mendiang Presiden Soekarno melontarkan gagasan tentang Nasionalisme-Agama-Komunisme (Nasakom). Gagasan itu, dalam waktu singkat cepat menjalar, karena didukung oleh kekuasaan beliau, namun tidak sedikit yang menentangnya. Landasan dari pemikiran beliau adalah kekhawatiran akan upaya mengadu domba antara golongan Nasionalis, Agama dan Komunisme. Golongan agama, di mata beliau hanya diwakili oleh dua kelompok, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan kaum Komunis diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), dan terkadang Partai Murba juga digunakan beliau untuk menjadi penyeimbang dalam menghadapi  golongan komunis tersebut. Karena kesulitan dalam menyatukan sikap dan langkah internal golongan Nasionalis, karena keterpecahan sangat mendalam di tubuh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), maka mendiang Presiden Soekarno dalam tahun-tahun terakhir hidupnya memberikan tempat sangat besar pada PARTINDO (Partai Indonesia), yang sering dicemooh orang di belakang punggung beliau sebagai PARSOE (Partai Soekarno).

Gagasan mempersatukan ketiga hal itu dalam sebuah pemerintahan dengan ciri Nasakom, muncul karena kekhawatiran beliau akan perpecahan bangsa Indonesia jika ketiga golongan di atas dibiarkan saling bertentangan. Ini mulai terjadi, ketika PKI mendukung serangkaian kegiatan budaya, yang jelas-jelas melecehkan agama dan peranannya dalam kehidupan. Hal ini terjadi, karena memang golongan Islam yang didominasi oleh Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) secara resmi menentang negara  Pancasila dan menolak Undang-Undang Dasar (UUD) 45 yang memuat Pancasila, serta menyerukan sebuah negara Islam. Akibat penolakan oleh 42% suara, dewan konstituante gagal menyepakati Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai negara non agama, karena hanya didukung oleh 58% suara, sedangkan persyaratan resminya haruslah lebih dari 2/3 suara konstituante atau minimal 67% suara.

Dengan demikian, terjadilah krisis konstitusional yang hanya dapat dipecahkan oleh Dekrit Presiden tertanggal 5 Juli 1959, yang menyatakan pemberlakuan UUD 1945 “dengan jiwa Piagam Jakarta”. Ditambah dengan pemberontakan daerah seperti PRRI-Permesta dan berbagai upaya percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, pantaslah kalau beliau merasakan kekhawatiran  akan tercerai-berainya bangsa Indonesia dalam beberapa republik. Maka, untuk menghadapi ancaman itulah Bung Karno melancarkan gagasan Nasakom. Satu-satunya pihak yang menentang gagasan ini –namun, tidak melawannya secara resmi, adalah pihak militer (dulu bernama) Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), belakangan menjadi ABRI dan sekarang TNI-POLRI" (gusdur.net).

Gotong-Royong

Kapan munculnya istilah Nasakom seperti yang dikatakan Gus Dur bisa ditelusuri pada  pidato Presiden Sukarno tanggal 17 Agustus 1960 yang bertajuk  Laksana Malaikat Menyerbu dari Langit Jalannya Revolusi Kita (Jarek). Presiden Sukarno berkata : 

"Padahal dilapangan perjoangan bangsa kita harus menggemblĂ©ng dan menggempurkan persatuan daripada segala kekuatan-kekuatan revolusioner, menggemblĂ©ng dan menggempurkan de samenbundeling van alle revolutionnaire krachten in de natie. 

Gotong Royong bukan sekadar satu sifat kepribadian Indonesia! Gotong Royong bukan sekadar corak daripada Indonesian Identity! Gotong Royong adalah juga satu keharusan dalam perjoangan melawan imperialisme dan kapitalisme, baik dizaman dulu maupun dizaman sekarang. Tanpa mempraktekkan samenbundeling van alle revolutionnaire krachten untuk digempurkan kepada imperialisme dan kapitalisme itu, janganlah ada harapan perjoangan bisa menang! 

Dan kita toh ingin menang? Dan kita toh harus menang? Karena itu maka saya selalu menganjurkan Gotong Royong juga dilapangan politik. Karena itu Manifesto Politik- USDEK bersemangat ke Gotong Royongan-bulat dilapangan politik. Karena itu di Solo beberapa pekan yang lalu saya tegaskan perlunya persatuan dan ke Gotong Royongan antara golongan Islam, Nasional, dan Komunis. Ini adalah konsekwensi-politik yang terpenting bagi semua pendukung Manifesto Politik dan USDEK, satu konsekwensi-politik yang tidak plintat-plintut atau plungkar-plungker bagi semua orang yang setia kepada Revolusi Agustus 1945.

Jika tidak, maka semua omongan tentang Gotong Royong, Manifesto Politik, USDEK, Front Nasional, setia kepada Revolusi, dan lain sebagainya, hanyalah omong-kosong belaka, lipservice belaka. Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunyakata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Orang revolusioner yang tidak bersatu kata dan perbuatan, orang revolusioner yang demikian itu adalah orang revolusioner gadungan!

Di Indonesia ini memang telah ada tiga golongan-besar revolutionnaire krachten, yaitu Islam, Nasional, dan Komunis. Senang atau tidak senang, ini tidak bisa dibantah lagi! Dewa-dewa dari Kayanganpun tidak bisa membantah kenyataan ini! Jikalau benarbenar kita hendak melaksanakan Manifesto Politik-USDEK, jikalau benar-benar kita setia kepada Revolusi, jikalau benar-benar kita setia kepada jiwa Gotong Royong, jikalau benar-benar kita tidak kekanak-kanakan tetapi sedar benar-benar bahwa Gotong Royong, Persatuan, Samenbundeling adalah keharusan dalam perjoangan anti imperialisme dan kapitalisme, maka kita harus mewujudkan persatuan antara golongan Islam, golongan Nasional, dan golongan Komunis itu. Maka kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nationalisto-phobi, atau Komunisto-phobi! 

Janganlah mengira bahwa saya ini orang yang sekarang ini memberi angin kepada sesuatu fihak saja. Tidak! Saya akan bersyukur kepada Tuhan kalau saya mendapat predikat revolusioner. Revolusioner dimasa dulu, dan revolusioner dimasa sekarang. Justru oleh karena saya revolusioner, maka saya ingin bangsaku menang. Dan justru oleh karena saya ingin bangsaku menang, maka dulu dan sekarangpun saya membanting tulang mempersatukan semua tenaga revolusioner, Islamkah dia, Nasionalkah dia, Komuniskah dia! 

Bukalah tulisan-tulisan saya dari zaman penjajahan. Bacalah tulisan saya panjang-lebar dalam majalah Suluh lndonesia Muda tahun 1926, tahun gawat-gawatnya perjoangan menentang Belanda. Didalam tulisan itupun saya telah menganjurkan, dan membuktikan dapatnya, persatuan antara Islam, Nasionalisme, dan Marxisme. Saya membuka topi kepada Saudara Kiyai Haji Muslich, tokoh alim-ulama Islam yang terkemuka, yang menyatakan beberapa pekan yang lalu persetujuannya kepada persatuan Islam-Nasional-Komunis itu, oleh karena persatuan itu memang perlu, memang mungkin, memang dapat."

Tulisan Bung Karno tahun 1926 berjudul Islam Nasionalisme dan Marxisme bisa ditemukan pada buku Di Bawah Bendera Revolusi. Insya Allah akan kami unggah pada kesempatan lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik