Kepemimpinan PNI Hasil Kongres IX di Solo Tahun 1960


Upaya yang dilakukan oleh para pemimpin Ormas untuk mengubah sikap Partai terhadap Demokrasi Terpimpin mencapai puncaknya pada Kongres IX PNI yang diselenggarakan di Solo pada bulan Juli 1960. 

Ormas-ormas PNI tersebut yakni :

(1) Pemuda Demokrat Indonesia (PDI) yang kemudian menjadi Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM);

(2) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI);

(3) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI);

(4) Ikatan Sarjana Republik Indonesia (ISRI);

(5) Wanita Demokrat Indonesia (WDI) yang kemudian menjadi Wanita Marhaenis (WM);

(6) Kesatuan Buruh Rakyat Indonesia (KBKI) yang kemudian diubah menjadi Kesatuan Buruh Marhaen (KBM);

(7)) Persatuan Tani Nasional Indonesia (PETANI).

Kaum Nasionalis Radikal lama kelompok Sidik bergabung untuk mencegah terpilihnya kembali Suwirjo dan memilih Ali Sastroamidjojo sebagai Ketua yang baru. 

Namun demikian kelompok yang lebih radikal ini tidak mampu meraih kemenangan total. 

Terpilihnya Hardi sebagai Sekretaris Jenderal dan Suwirjo sebagai Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Pusat PNI memberi kesempatan bagi kelompok konservatif dalam pimpinan pusat. 

Garis pertentangan di dalam tubuh Partai terus berlangsung dilanjutkan oleh pertentangan antara kelompok yang didominasi oleh para pemimpin Ormas dengan kelompok yang dipimpin Hardi yang mendapatkan dukungan dari pimpinan daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Ketua baru Ali Sastroamidjojo seorang politisi yang sempurna yang dikarunai akal sehat untuk mempertahankan diri, sering mengecewakan pendukungnya dari sayap kiri, justru karena sikapnya yang netral. 

Hardi yang merasa dihina dan diperlakukan secara tidak menyenangkan dalam insiden pamflet Buku Merah mengajukan tuntutan agar penandatangan pamflet mengubah pernyataannya dan meminta maaf. Tuntutan tersebut gagal.

Setelah kegagalan tersebut, Hardi beserta para pendukungnya yang melihat semakin pentingnya peranan Ormas di dalam langkah-langkah politik Partai, melancarkan suatu kampanye untuk memegang kontrol terhadap Ormas. 

Pada Kongres GMNI bulan April 1962, mereka berusaha menyusupkan seorang sekutunya sebagai Ketua. Akan tetapi kali ini pun ia gagal lagi.

Pada Kongres III KBKI bulan Juli 1962, kekuatan pro Hardi mendesak Datuk pada posisi minor dalam kepemimpinan organisasi. 

Dikeluarkannya Datuk dan Ahem Erningpraja dari Partai merupakan suatu kemenangan penting bagi kelompok Hardi. 

Perpecahan ini juga berpengaruh terhadap pimpinan Pemuda Demokrat dan GMNI yang dihubungkan dengan Datuk dalam insiden Buku Merah (J. Elisio Rocamora, PNI 1963-1965 Menyingkap Kehidupan Sebuah Partai Politik di Indonesia, Yogyakarta: CV Kaliwangi dan LSPS, 1970 : 18-21).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik