Biografi Muhammad Yamin
Kemarin sudah kami sampaikan bahwa Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB) merupakan dokumen perencanaan pembangunan nasional karya Dewan Perancang Nasional (DEPERNAS), yang dipimpin oleh Muhammad Yamin. Terkait Depernas dan PPNSB sudah kami sampaikan.
Berikut ini biografi Muhammad Yamin :
Muhammad Yamin lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat, tanggal 23 Agustus 1903. Ayahnya bekerja sebagai mantri kopi, kedudukan yang cukup terhormat saat itu.
Setamat HIS, Yamin meneruskan pendidikannya di Normal School, lalu Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Sebelum selesai, ia pindah ke Sekolah Menengah Pertanian di kota yang sama. Karena merasa tidak cocok dengan pendidikan di sekolah ini, ia pindah lagi ke Yogyakarta dan masuk AMS (1925). Ia baru merasa kemantapan di sekolah ini karena dapat memperoleh pelajaran yang sesuai dengan keinginannya. Pelajaran yang digemarinya adalah sejarah, antropologi, dan bahasa-bahasa Timur seperti Bahasa Melayu, Jawa dan Sanskerta. Setelah itu ia melanjutkan ke Recht Hogeschool di Jakarta sampai menyandang gelar meester in de rechten (1932).
Masa Muda
Ketika masih berada di Sumatra Barat, Yamin bersama Moh. Hatta, Bahder Djohan, Amir Syarifuddin dkk mendirikan Jong Sumatranen Bond. Ia terpilih sebagai Ketua (1926-1928). Ia juga menjadi Sekretaris Panitia pada PPPI (Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia).
Pada Kongres Jong Sumatranen Bond di Jakarta (1923), ia mengucapkan pidato De Malaische Taal in her Verledend, Heden, en in de Toekomst (Bahasa Melayu pada Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan). Selanjutnya dalam Kongres Pemuda I di Jakarta (30 April-2 Mei 1926) ia mengemukakan pandangan tentang pentingnya Bangsa Indonesia memiliki bahasa persatuan. Dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928), Bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa persatuan.
Bergabung dalam Partindo
Pada tahun 1931 Yamin bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia) yang bersikap non-koperatif terhadap pemerintah kolonial. Dalam pidatonya pada Kongres II Partindo di Surabaya (23 April 1933), dengan lantang Yamin mengemukakan semboyan "Indonesia Merdeka Sekarang."
Sebagai konsekuensi dari sikap kerasnya terhadap pemerintah kolonial Belanda, ia tidak mau menjadi pangreh praja, tapi bekerja sebagai pengarang, penulis dan wartawan. Bidang pekerjaan yang banyak menghasilkan uang adalah sebagai pengacara di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Sikap Kooperatif
Setelah Partindo bubar di akhir tahun 1936, bersama rekan-rekannya seperti Wilopo, Amir Syarifuddin, Sumanang, Adnan Kapau Gani dan Adam Malik, ia membentuk partai baru, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Sebagai suatu taktik Partai ini mengambil sikap kooperatif terhadap pemerintah kolonial.
Yamin duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat) masa sidang 1939-1943. Dalam Volksraad, ia mbentuk Parpindo (Partai Persatuan Indonesia). Dalam Anggaran Dasarnya Parpindo menyokong perjuangan bangsa dalam bidang politik, ekonomi, dan masyarakat secara luas.
Ada yang menilai bahwa pembentukan Parpindo merupakan tindakan memecah-belah karena menimbulkan perpecahan dalam National Fractie yang dibentuk Thamrin di dalam Volksraad.
Yamin juga dianggap perusak aturan permainan oleh kalangan Gapi (Gabungan Politik Indonesia) lewat tindakannya memajukan sebuah petisi berisi tuntutan pembentukan suatu Parlemen.
Pada tanggal 10 Juli 1939 Yamin membentuk GNI (Golongan Nasional Indonesia) sebagai pendamping National Fractie. Tindakan ini mendapat tentangan keras kalangan National Fractie, sungguhpun terdapat persamaan wawasan dan pandangan antara Yamin dan para tokoh pergerakan nasional.
Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Yamin duduk sebagai anggota dewan penasihat Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan menjadi pegawai tinggi Sendenbu (Jawatan Penerangan dan Propaganda) dan menjadi Sanyoo (penasihat). ENI Jilid 17, Jakarta: PT Delta Pamungkas, 2004 :365-367).
Yamin juga menjadi anggota BPUPK dan duduk dalam Panitia Kecil (sembilan orang) yang menyusun Piagam Jakarta, yang merupakan penyempurnaan dari Panca Sila yang disampaikan Bung Karno.
Alam Kemerdekaan
Pada tahun 1946 Yamin bergabung dengan Persatuan Perjuangan. Organisasi ini menentang politik diplomasi Sjahrir dan menuntut pengakuan 100% Belanda atas kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa 3 Juli
Yamin dinyatakan terlibat dalam usaha merebut kekuasaan yang dikenal dengan nama Peristiwa 3 Juli 1946, dan dijatuhi hukuman penjara empat tahun.
Pada tanggal 17 Agustus 1948 Presiden Sukarno memberikan grasi kepada para tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa itu. Setahun kemudian, Yamin dipercaya menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam KMB (Konferensi Meja Bundar).
Masuk Dalam Kabinet
Yamin menjabat sebagai Menteri Kehakiman dalam Kabinet Sukiman-Suwirjo (27 April 1951-3 April 1952), Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (30 Juli 1953-12 Agustus 1955), dan kemudian Menteri Penerangan dalam Kabinet Kerja III (6 Maret 1962-13 November 1963). Yamin juga menjadi Ketua Depernas (Dewan Perancang Nasional) yang menyusun Rencana dan Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana.
Yamin juga menjadi anggota DPR-RI (1950) dan Badan Konstituante hasil Pemilihan Umum 1955, juga anggota DPR-GR dan MPRS setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Yamin juga dipercaya menjabat Penasihat Lembaga Pembinaan Hukum Nasional. Selain itu ia menjadi staf Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, anggota Panitia Pembina Jiwa Revolusi, dan Ketua Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Antara (1961-1962).
Sastrawan
Yamin adalah salah seorang penyair Angkatan Pujangga Baru. Sekitar tahun 1920 ia telah menulis sajak-sajak modern bersifat patriotis yang kemudian dikumpulkannya dalam buku Tanah Air (1922). Kumpulan sajaknya yang lain adalah Indonesia Tumpah Darahku (1928).
Perhatiannya terhadap sejarah tampak dari karya-karya dramanya, seperti Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1932) dan Ken Arok dan Ken Dedes (1934).
Ia juga menerjemahkan drama Rabindranath Tagire, Menantikan Surat dari Raja (1928) dan karya Shakespeare, Julius Caesar (1951).
Sejarah
Studi sejarahnya melahirkan karya seperti Gajah Mada (1945), Sejarah Penerangan Dipanegara (1945), Tan Malaka (1945), Revolusi Amerika (1951), Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951), dan Kebudayaan Asia Afrika (1955).
Penghargaan
Yamin dianugerahi Bintang Mahaputra dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden Nomor 088/Tk/Th. 1973. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, Desa Talawi, Sawahlunto.
Komentar
Posting Komentar