Bung Karno Dikawal Yakuza
Kunjungan Presiden Sukarno ke Jepang
Dalam unggahan sebelumnya pernah kami sampaikan bahwa seorang tokoh PRRI/Permesta , Ventje Sumual pada tahun 1958 pernah berkunjung ke Jepang pada saat ketika Presiden RI Sukarno pun sedang berkunjung ke Jepang. Seperti apa kunjungan Bung Karno ke Jepang itu, berikut ini kami kutipkan berita dari CNBC mengenai kunjungan tersebut dan repotnya pengawalan Presiden.
Yakuza Turun Gunung
Kejadian ini berlangsung pada 29 Januari hingga 11 Februari 1958. Saat itu, Presiden Sukarno melakukan lawatan ke Jepang setelah sebelumnya berkunjung ke sejumlah negara Timur Tengah dan Thailand.
Menurut koran Merdeka (30 Januari 1958), selama berada di Jepang Sukarno dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Jepang Nobusuke Kishi (1957-1960), Kaisar Hirohito (1926-1989), serta mengunjungi berbagai kota, termasuk Osaka, Kobe dan Hiroshima.
Di balik agenda kenegaraan itu, tim pengawal presiden diliputi rasa was-was. Sebab mereka mendapat kabar adanya ancaman serangan terhadap Presiden RI di Jepang oleh anggota gerakan Permesta atau Perjuangan Rakyat Semesta.
Kala itu, Indonesia memang tengah diguncang pemberontakan Permesta yang dipimpin Ventje Sumual. Gerakan tersebut menuntut otonomi daerah karena menilai pemerintah pusat terlalu berfokus pada Pulau Jawa.
Atas dasar ancaman tersebut, tim pengamanan Soekarno menyusun strategi khusus. Sejarawan Masashi Nishihara dalam Japanese and Sukarno's Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations, 1951-1966 (1996) mencatat, Kolonel Sambas Atmadinata, salah satu anggota tim pengawal, menghubungi teman lamanya semasa perang, Oguchi Masami.
Melalui Masami, Sambas mendapat saran untuk menggunakan pengawal pribadi. Jalur ini kemudian mempertemukannya dengan Yoshio Kodama, tokoh besar Yakuza alias kelompok gangster Jepang.
Kodama lalu menginstruksikan anak buahnya, Kusunoki Kodotai, untuk menggerakkan para Yakuza. Hasilnya, sebanyak 20 anggota Yakuza "turun gunung" membantu menjaga keselamatan proklamator selama berada di Jepang. Kelak, mereka disebut sebagai Polisi Ginza.
Situasi ancaman itu memang benar terjadi sekalipun tidak langsung menyerang presiden. Sebab, tokoh utama pemberontakan, Ventje Sumual, juga sedang berada di Jepang pada waktu yang sama. Namun, kepada Merdeka (5 Februari 1958), Sumual menyatakan keberadaannya di Jepang bertujuan mencari dukungan luar negeri, bukan mengancam Sukarno.
"Sumual mengatakan perlawatannya ke luar negeri sekarang ini mempunyai tujuan tunggal, yaitu mengkonsolidasi dan memperkuat kedudukan daerah yang menentang pemerintah pusat," ungkap Merdeka (5 Februari 1958).
Sementara itu, koran Merdeka (3 Februari 1958) melaporkan betapa ketatnya pengawalan terhadap Sukarno selama kunjungan. Saat bertemu Kaisar Hirohito, misalnya, rombongan dijaga ketat barisan kepolisian imbas besarnya ancaman. Namun, tidak diketahui apakah polisi itu sebenarnya Yakuza atau tidak.
"Satu barisan polisi Jepang berpakaian seragam dengan tugas berjaga-jaga, berhubung dengan desas-desus adanya komplotan yang mengancam jiwa presiden, mengawal iringan tiga mobil yang ditumpangi presiden," tulis Merdeka.
Meski situasi keamanan sudah terkendali berkat hadirnya pasukan tambahan dari Yakuza dan Sukarno pun sempat mengunjungi sejumlah kota, pihak istana akhirnya memutuskan untuk mempercepat lawatan presiden. Koran Merdeka (7 Februari 1958) mencatat, keputusan itu diambil setelah Sukarno menerima dua pesan mendadak dari Jakarta.
Antara lain gentingnya kondisi dalam negeri yang dinilai membutuhkan penanganan langsung dari presiden dan kabar Ibu Negara Fatmawati yang diperkirakan akan segera melahirkan. Atas dasar itu, kunjungan Soekarno di Jepang yang semula dijadwalkan berlangsung 18 hari akhirnya dipangkas menjadi hanya 13 hari (www.cnbcindonesia.com, 20 September 2025).
Kodama dan CIA
Menurut Masashi Nishihara , Yoshio Kodama, tokoh sayap kanan dan organisasi bawah tanah yakuza.
Kodama menyerahkan tugas pengawalan Presiden itu kepada salah satu pengikutnya yang menonjol, Kobayashi Kusuo. Kobayashi adalah direktur utama Dai Nihon Kyogyo, perusahaan konstruksi Jepang –diduga kedok dari organisasi bawah tanah “Polisi Ginza” yang berkuasa di distrik Ginza, Tokyo. Kobayashi juga penasihat kelompok patriotik kekaisaran, Kusunoki Kodotai.
“Kobayashi setuju untuk merekrut duapuluh anggota kelompok ini untuk menjaga Sukarno,” tulis Nishihara. “Kubo Masao kemudian diminta bertindak sebagai penghubung antara para gangster, polisi, dan presiden. Dia dipilih mungkin karena dia bisa berbicara bahasa Inggris dan bos Kobayashi, Kodama, adalah dewan direksi perusahaan milik Kubo, Tonichi Trading Company.”
Dengan pengamanan dan hiburan yang diberikannya, Tonichi Trading Company mendapat banyak proyek pembangunan di Indonesia yang didanai dari pampasan perang.
Di balik semua itu, Kodama bukan hanya menggandeng sayap kanan dan yakuza tapi juga dinas intelijen Amerika Serikat (CIA). Kodama adalah bekas penjahat perang yang kemudian menjadi agen CIA. Dia juga salah seorang pendiri Liga Antikomunis Rakyat Asia.
Menurut Robert Whiting dalam Tokyo Underworld, Kodama menyalurkan dana CIA secara rahasia kepada orang-orang Partai Liberal Demokrat (LDP) dan kelompok-kelompok antikomunis. Dana tersebut berasal dari perusahaan pembuat pesawat terbang Amerika Serikat, Lockheed Aircraft Corporation.
Selama puluhan tahun Lockheed mengalirkan uang lebih dari US$12,6 juta dolar ke Jepang; sebagian besar digunakan untuk menyuap tokoh-tokoh politik terkuat di Jepang. Tujuannya untuk memuluskan penjualan pesawat Lockheed senilai US$1 miliar ke perusahaan All Nippon Airlines dan Badan Pertahanan Jepang.
Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Jepang, Kodama mendapat tugas menyediakan hiburan dan memberikan penilaian tentang potensi Sukarno sebagai pemimpin nasionalis populer beralih menjadi komunis. “Kodama juga merupakan salah satu pemrakarsa pernikahan Presiden Sukarno dengan Naoko Nemoto atau dikenal dengan nama Dewi Sukarno,” tulis Whiting.
Menurut Peter Dale Scott dalam American War Machine, penggulingan Presiden Sukarno pada 1965 dicapai sebagian oleh bantuan rahasia melalui dana Lockheed Corporation dan sebagian lagi oleh intervensi Ryoichi Sasakawa, seorang agen CIA berpengaruh, bersama temannya Yoshio Kodama, serta yakuza di Jepang. Pada Mei 1965, lima bulan sebelum kudeta anti-Sukarno pada September 1965, dana Lockheed dialirkan melalui dua perantara yang mendukung Jenderal Soeharto (historia.id, 12 Februari 2014).
Komentar
Posting Komentar