Pasar Ikan Tempo Doeloe
KAPAL motor itu berukuran kecil saja. Panjangnya delapan meter, sedangkan lebarnya sekira satu setengah meter. Di dalam kapal itulah Sukarno dan Inggit, istrinya, beserta lima orang lainnya berangkat dari Palembang menuju Jakarta pada Juli 1942. Mereka terombang-ambing di laut selama empat hari, empat malam (historia.id).
Ada dua versi perjalanan Bung Karno dari Palembang ke pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta.
Versi Pertama
Setelah beberapa lama akhirnya waktu yang dinanti tiba. Sukarno kemudian mendapatkan kesempatan untuk berangkat Dia langsung menaiki perahu kecil di 2 Ulu menuju pelabuhan besar di 3 Ilir yang berada di seberang 2 Ulu. Dari sana, Sukarno lalu menumpang kapal Phinisi yang membawanya ke Jakarta. (daerah.sindonews.com).
Versi Kedua
“Dokter AK Gani mempunyai inisiatip menjemput Soekarno dan keluarganya di daerah perbatasan dengan Jambi. Setelah di jemput pada waktu sekitar bulan Februari di bawa ke Palembang. Di Palembang Bung Karno menginap di rumah dr AK Gani, selama paling tidak menurut catatan mungkin 2 bulan. Setelah itu dr AK Gani mengusahakan kapal untuk Soekarno untuk berangkat ke Jakarta, kemudian bung Karno sekeluarga dibawa dengan kapal ke Pasar Ikan maka sampailah di Jakarta. Itu bulan Juni. Jadi antara Februari, Maret, April, Mei, Juni, ada kemungkinan minimal waktu itu dua bulan bung Karno ada di Palembang,” kata pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan. (beritapagi.co.id)
Pasar Ikan
Menurut Alwi Shahab, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta tengah berupaya mendapatkan pintu gerbang kastil Batavia, yang saat ini menjadi koleksi Museum Geraldtom, Australia Barat. Pintu gerbang ini dibuat di Negeri Belanda dan dikapalkan pada 1628 dengan tujuan Batavia.
Tapi, kapal ‘Batavia’ dalam pelayarannya dari Belanda malah nyasar ke Australia dan akhirnya tenggelam setelah menubruk pulau karang pada 1629.
Pada 1963, bangkai kapal ini ditemukan. Ternyata bahan-bahan bangunan untuk pintu gerbang pesanan Jenderal Coen, pendiri Batavia, masih utuh.
Bahkan, pengelola museum Australia Barat setelah mengkonstruksi menjadikannya sebagai pintu gerbang seperti dicita-citakan Coen. Kalau upaya memindahkan pintu gerbang yang asli ke Jakarta tidak berhasil, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman berniat membuat replikanya untuk ditempatkan di Museum Bahari, Pasar Ikan, Jakarta Utara. (Republika 31/10/2001).
Sebelumnya, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI telah mengadakan penelitian arkeologi untuk membuktikan sisa-sisa dan fondasi di sekitar Kastil Batavia. Penelitian selama 10 hari menemukan sisa-sisa bata lama bagian dari kastil sesuai ukuran dan bentuk aslinya.
Juga ditemukan pecahan-pecahan keramik Cina dan Eropa dari berbagai periode. Selain itu, kata Husnison Nizar, arkeolog dari Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI, ditemukan pinggiran Kali Besar di kedua sisinya.
Hasilnya menunjukkan, tiga abad lalu, Kali Opak di depan Kafe Galangan Kapal Batavia di Jalan Tongkol (dekat Museum Bahari), dua kali lebih lebar dari sekarang. Lokasi Kastil Batavia ketika itu dikelilingi parit-parit yang kini merupakan sungai-sungai.
Di sisi timur berupa Kali Besar. Sisi utara dan barat adalah Kali Opak.
Sedangkan sisi selatan kali, di sekitar kastil, sudah diuruk. Letaknya diperkirakan sejajar dengan rel kereta api Jakarta Kota. Keberadaan kastil dikelingi sungai atau parit untuk pertahanan.
Jalan Tongkol di Pasar Ikan, sejak dulu merupakan jalan yang menghubungkan bagian utara dan selatan kastil Batavia. Di keempat sudutnya terdapat empat bastion yang menonjol keluar. Masing-masing dinamai: Diamond (Intan), Robijn, Parel dan Safier.
Di bastion-bastion ini ditempatkan gardu penjaga dengan meriam-meriamnya. Nama bastion yang masih tersisa adalah Kota Inten.
Letaknya di depan Hotel Omni Batavia yang kini jadi terminal angkutan Jakarta Kota. Tembok-tembok di atas bastion-bastion disebut courtine atau gordijn.
Di tengah-tengah gordijn selatan dibuat pintu laandpoort (pintu gerbang darat) dan di sebelah utara waterpoort (pintu gerbang laut). Di sebelah kastil kemudian dibuat grachten atau parit atau sungai buatan sesuai dengan suasana kota Belanda, terutama Amsterdam.
Dengan makin pesatnya pembangunan kota Batavia, kastil seluas 600 X 800 meter itu hanya menjadi bagian kecil dari Kota. Karena dikelilingi benteng, Batavia dikenal sebagai ‘kota berbenteng’.
Nama ‘kota’ yang melekat hingga sekarang untuk daerah ini, menurut arkeolog Husnison Nizar diambilkan dari sebutan ‘kota berbenteng’. Waktu itu, kawasan perdagangan Glodok yang berada di luar benteng merupakan daerah pedalaman.
Tidak heran, kalau orang Belanda tidak berani mendatanginya karena banyak perampok dan binatang buas. Kawasan ini baru dibangun perumahan dan perkantoran pada abad ke-18.
Ketika menduduki Jayakarta, Coen sebenarnya ingin agar kota yang direbutnya itu dinamakan Nieuw Hoorn. Nama ini sama dengan nama sebuah kota di provinsi Noord Holland, tempat kelahirannya.
Tapi, saat ia masih berada di Maluku, kota ini telanjur diberi nama Batavia. Nama ini diberikan secara serampangan oleh seorang prajurit VOC yang mabuk saat pesta ‘gila-gilaan’ pada 12 Maret 1619.
Batavia berasal dari kata Batavieren, yakni bangsa Eropa yang jadi nenek moyang orang Belanda. Sedangkan nama Betawi ada yang menyebutkan sebagai kesalahan penyebutan nama Batavia.
Tapi versi lain menyebutkan, pada waktu tentara Mataram menyerang Batavia, tentara Belanda kehabisan peluru. Maka diisilah meriam-meriam dengan kotoran mereka.
Lalu ditembakkan kearah tentara Mataram. Tersebarlah bau yang tidak enak. Tentara Mataram berteriak-teriak, “Mambo tai – mambo tai (bau kotoran).” (Sejarah Pembangunan Pasar Ikan Sejak Zaman Belanda, republika.co.id, Senin , 18 Apr 2016)
Komentar
Posting Komentar