Bantuan Militer Uni Soviet dan Amerika Serikat


Kebutuhan militer untuk melancarkan serangan guna merebut Papua mendorong pihak tentara dan pemerintah berpaling kepada Uni Soviet yang sedang berusaha meningkatkan pengaruhnya di Indonesia dalam menghadapi AS dan RRT. 

Pada bulan Januari 1960, Kruschev berkunjung ke Jakarta dan memberikan kredit sebesar US $ 250 juta kepada Indonesia. 

Pada bulan Januari 1961, Nasution pergi ke Moskow dan memperoleh pinjaman sebesar US $ 450 juta untuk membeli persenjataan dari Uni Soviet. 

Kini, untuk pertama kalinya sejak Revolusi, angkatan bersenjata mulai bertambah besar, yang mencapai jumlah sekitar 300.000 prajurit pada tahun 1961 dan 330.000 prajurit pada akhir tahun 1962. Semakin banyak peralatan militer Indonesia berasal dari Uni Soviet, termasuk pesawat-pesawat tempur modern dan pesawat-pesawat pengebom jarak jauh untuk angkatan udara serta kapal-kapal baru untuk angkatan laut.

Ketika John F. Kennedy memangku jabatan Presiden Amerika Serikat pada bulan Januari 1961, dia mulai menandingi pengaruh Uni Soviet di Indonesia dengan mengupayakan tercapainya suatu penyelesaian atas masalah Papua melalui perundingan (Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Jakarta: Serambi, 2005 :531).

Perbandingan Bantuan Uni Soviet dan AS

Hingga 1 Oktober 1958 saja Uni Soviet telah memberikan bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar US $ 200 juta dan bantuan militer sebanyak US $ 100 juta. Selain itu, Uni Soviet juga membantu Jakarta dengan 400 orang ahli ekonomi dan teknisi militer.

Hingga akhir masa pemerintahan Eisenhower yang kedua, jumlah keseluruhan bantuan Uni Soviet untuk Indonesia mencapai sekitar US $ 1 miliar , sementara bantuan AS hanya US $ 372 juta. (Baskara T. Wardaya, Indonesia Melawan Amerika Konflik Perang Dingin 1953-1963, Yogyakarta: Galang Press, 2008 : 204).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik