Bandung Magma Politik Indonesia
Setelah mengunggah kisah Ibu Inggit Garnasih dan Bung Karno, rasanya tidaklah lengkap jika tidak mengungkap sejarah Bandung. Banyak tokoh hidup dan berkiprah di sini dan banyak peristiwa terjadi di sini baik yang berskala lokal, nasional maupun internasional.
Peristiwa bersejarah di Bandung :
Peristiwa Bandung Lautan Api, Peristiwa Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Konferensi Asia Afrika, Kongres Syarikat Islam, Sidang Konstituante (Lembaga Pembuat UUD), Sidang MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) dan lain lain.
Para Tokoh yang pernah berkiprah di Bandung:
1. Douwes Dekker;
2. Dr. Cipto Mangunkusumo
3. Abdul Muis
4. Sukarno
5. Sjahrir
6. Iskaq Tjokrohadisuryo
7. Otto Iskandar Dinata
8. Dewi Sartika
9. Maskoen Soemadireja
10. Gatot Mangkupraja
11. Moh. Toha
12. Moh. Ramdhan
13. H. Hasan
14. W. R. Soepratman
15. H. O. S. Tjokroaminoto
16. Kartosuwirjo
17. Sosrokartono
18. Tan Malaka
19. Tirto Adi Surjo
20. M. Natsir
21. Sri Sultan Hamengkubuwono IX
22. P. Paribatra
23. B.J. Habibie
24. Siswono Yudohusodo
25. Rahman Toleng
26. Solihin GP
27. Yogie SM
28. Nasution
29. Ibrahim Adji
30. H.R. Dharsono
31. Sanusi Hardjadinata
32. Osa Maliki
33. Usep Ranawijaya
34. Semaun
35. Mochtar Kusumatmadja
36. Marco Kartodikromo dan lain lain.
Sejarah Bandung
Tanggal 20 April 1641 tercatat sebagai hari lahir Kabupaten Bandung. Catatan itu muncul lewat Piagam Sultan Agung, raja besar Mataram yang saat itu tengah menata ulang wilayah Priangan. Pemicunya adalah pemberontakan Dipati Ukur. Tokoh ini tadinya orang kepercayaan Mataram, diberi tugas memimpin pasukan ke Batavia untuk menggempur VOC. Namun, Dipati Ukur berbalik arah, lalu melawan Mataram. Sultan Agung yang terkenal dengan disiplin keras tak mau tinggal diam. Pemberontakan Dipati Ukur berhasil dipadamkan, meski menyisakan ketidakpercayaan raja terhadap sistem pemerintahan lama di Priangan.
Untuk mencegah hal serupa terulang, Sultan Agung mengambil keputusan drastis. Ia memecah wilayah Priangan menjadi tiga kabupaten baru: Kabupaten Bandung, Kabupaten Parakanmuncang, dan Kabupaten Sukapura. Inilah cara raja Mataram mengendalikan Priangan, sekaligus memastikan tidak ada satu pemimpin lokal yang bisa terlalu berkuasa.
Piagam Sultan Agung tanggal 9 Muharram tahun Alif atau 20 April 1641 bukan sekadar simbol. Dari piagam itu, lahirlah bupati pertama Kabupaten Bandung: Ki Astamanggala, umbul Cihaurbeuti yang kemudian digelari Tumenggung Wiraangunangun. Ia memimpin selama empat dekade, dari 1641 hingga 1681.
Sebagai bupati baru, Tumenggung Wiraangunangun mesti menentukan pusat pemerintahan. Pilihannya jatuh pada Karapyak, wilayah yang kini lebih dikenal sebagai Dayeuhkolot, dekat Sungai Citarum. Karapyak kemudian dikenal sebagai Bumi Tatar Ukur Gede. Dari sana, kendali pemerintahan dijalankan. Luas wilayah Kabupaten Bandung meliputi Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung, Kuripan, Sagaraherang, hingga Tanahmedang.
Seiring waktu, kekuasaan Mataram di Priangan mulai melemah. Pada akhir 1677, Kabupaten Bandung resmi terlepas dari cengkeraman Mataram. Saat itulah giliran Belanda masuk, lewat bendera VOC, untuk menguasai wilayah ini. Bandung pun tak bisa lepas dari arus kolonialisme.
Selama di bawah pengaruh VOC, kursi bupati silih berganti diisi oleh tokoh-tokoh yang masih berhubungan darah dengan pendahulunya.
Sejak awal didirikan hingga sekarang, sudah ada sejumlah orang yang menjabat sebagai Bupati Kabupaten Bandung. Berikut beberapa di antaranya:
Tumenggung Wiraangunangun (Ki Astamanggala) (1632-1681)
Tumenggung Ardikusumah (1681-1704)
Tumenggung Anggadireja I (1704-1747)
Tumenggung Anggadireja II (1747-1763)
R. Anggadireja III (R. Wiranatakusumah I) (1769-1794)
R.A Wiranatakusumah II (1794-1829)
R. Wiranatakusumah III (1829-1846)
R. Wiranatakusumah IV (1846-1874)
R.A Kusumahdilaga (1874-1893)
R.A.A Martanegara (1893-1918)
R.H.A.A Wiranatakusumah V (1920-1931)
R.T Hasan Sumadipraja (1931-1935)
R.H.A.A Wiranatakusumah V (1935-1945)
R.T.E Suriaputra (1945-1947)
R.T.M. Wiranatakusumah VI alias Aom Male (1948-1956),
R. Apandi Wiriadipura (1956-1957).
Letkol. R. Memet Ardiwilaga (1960-1967).
Kolonel Masturi
Kolonel R. H. Lily Sumantri
Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985)
Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990
Kolonel H.U. Djatipermana
Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P.
Dadang Naser (2008-2019)
Dadang Supriatna (2019-
Dari Karapyak ke Tepi Sungai Cikapundung
Perubahan besar datang pada masa R.A. Wiranatakusumah II (1794–1829). Ia dikenal sebagai bupati yang mengambil keputusan paling menentukan dalam sejarah Kabupaten Bandung: memindahkan ibu kota dari Karapyak ke tepi Sungai Cikapundung.
Terdapat dua alasan utama di balik keputusan ini. Pertama, Karapyak dianggap sudah tidak layak lagi sebagai pusat pemerintahan. Lokasinya rawan banjir, jalurnya pun makin sulit dijangkau. Kedua, pemindahan ini sejalan dengan proyek ambisius Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang sedang membangun Jalan Raya Pos atau Grote Postweg. Jalan sepanjang Anyer–Panarukan itu menjadi jalur vital militer dan perdagangan.
Alun-alun Bandung
Kemudian pusat Kabupaten Bandung dipindahkan ke sekitar alun-alun yang kini menjadi jantung Kota Bandung. Dari sinilah perkembangan Bandung sebagai kota bermula, dengan alun-alun sebagai pusat pemerintahan sekaligus titik temu ekonomi (Fitra Nursyahbani, Jejak Sejarah Kabupaten Bandung, Lahir 1641 karena Pemberontakan Dipati Ukur, AyoBandung.id, Senin 29 Sep 2025; Seputar Bandung, kumparannews).
Berdirinya Kota Bandung
Pada masa pemerintahan R.A.A. Martanegara (1893-1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya).
Daftar Nama Wali Kota Bandung dan Masa Jabatan
Lebih lanjut, berikut adalah daftar nama Wali Kota Bandung dan masa jabatannya sejak pendudukan Hindia Belanda hingga saat ini.
Wali Kota Bandung di Masa pendudukan Hindia Belanda
1. E.A. Maurenbrecher (1906-1907)
2. R.E. Krijboom (1907-1908)
3. J.A. van Der En (1909-1910)
4. J.J. Verwijk (1910-1912)
5. C.C.B. van Vlenier (1912-1913)
6. B. van Bijveld (1913-1920)
7. Bertus Coops (1920-1921)
8. Steven Anne Reitsma (1921- 1928)
9. Bertus Coops (1928-1934)
10. J.E.A. van Volsogen Kuhrt (1934-1936)
11. J.M. Wesselink (1936-1942)
Wali Kota Bandung dan Masa Penjajahan Jepang dan Masa Kemerdekaan Indonesia
1. R.A. Atmadinata (1941-1945)
2. R. Syamsoerizal (1945-1947)
3. Ir. Oekar Bratakoesoemah (1947-1949)
4. R. Enoch (1949-1957)
5. R. Priatna Kusumah (1957-1966)
6. R. Didi Djukardi (1966-1968)
7. R. Hidayat Sukarmadidjaja (1968-1971)
8. R. Otje Djoendjoenan Setiakusumah (1971-1976)
9. H.Utju Djoenaedi (1976-1978)
10. R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983)
11. H. Ateng Wahyudi (1983-1988 dan 1988-1993)
12. H. Wahyu Hamidjaja (1993-1998)
13. H. Aa Tarmana (1998- 2003)
14. H. Dada Rosada (2003 - 2008 dan 2008-2013)
15. Ridwan Kamil (2013-2018)
16. H. Oded Muhammad Danial (2018- 2021)
17. H. Yana Mulyana (Pelaksana Tugas: 2021 – 2022, dan 2022- sekarang) (bandung.go.id, kompas.com)
Baleendah
Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung, yaitu daerah Baleendah. Peletakan batu pertamanya pada tanggal 20 April 1974, yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-333. Rencana pemindahan ibu kota tersebut berlanjut hingga jabatan bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985).
Pindah ke Soreang
Atas pertimbangan secara fisik geografis, daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibu kota kabupaten, maka ketika jabatan bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990), ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke lokasi baru yaitu Kecamatan Soreang. Di tepi Jalan Raya Soreang, tepatnya di Desa Pamekaran inilah dibangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 hektare, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan. Pembangunan perkantoran yang belum rampung seluruhnya dilanjutkan oleh bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana, sehingga pembangunan tersebut memerlukan waktu sejak tahun 1990 hingga 1992.
Tanggal 5 Desember 2000, Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P. terpilih oleh DPRD Kabupaten Bandung menjadi Bupati Bandung dengan didampingi oleh Drs. H. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati. Sejak itu, Soreang betul-betul difungsikan menjadi pusat pemerintahan.
Kota Cimahi
Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Kota Administratif Cimahi berubah status menjadi kota otonom. Walikota pertamanya adalah H. Itoch Tahiya.
Kabupaten Bandung Barat
Pada masa pemerintahan Obar Sobarna yang kedua, berdasarkan dinamika masyarakat dan didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian dari 5 perguruan tinggi, secara yuridis terbentuklah Kabupaten Bandung Barat bersamaan dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Bandung Barat terletak di Kecamatan Ngamprah). Bupati Bandung Barat masa jabatan 2008-2013 adalah Abubakar (desa-kabupatenbandung.blogspot.com)
Danau Purba
Kawasan Kota Bandung dan sekitarnya dulu merupakan danau atau sering disebut sebagai Danau Bandung Purba. Istilah lainnya adalah Cekungan Bandung. Danaunya sendiri kini sebagian besar surut, berganti menjadi tanah pertanian dan permukiman.
Namun, bukti keberadaan danau purba itu tersebar di berbagai tempat. Baik dalam bentuk artefak ,(perangkat buatan manusia), ekofak (objek alami), maupun toponym yang berasosiasi dengan kawasan air.
Diperkirakan, Danau Bandung Purba terbentuk sekitar 105 ribu tahun lalu, akibat erupsi Gunung Api Sunda. Sementara danau purbanya mulai hilang sekitar 16 ribu tahun lalu, seiring perubahan bentang alam. Kawasan sekitar Danau Bandung Purba yang menyediakan banyak makanan dan air pun menjadi habitat fauna dan manusia prasejarah.
Fosil Gajah di Waduk Saguling
Belum lama ini ditemukan fosil di Pulau Sirtwo, di Waduk Saguling, Baranangsiang, Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Fosil-fosil itu berupa kaki gajah (Elephas maximus), bagian tubuh kelompok Bovidae (sapi, kerbau, dan banteng), dan kelompok rusa (Cervidae).
Fosil yang awalnya ditemukan oleh masyarakat pada 16 Oktober 2021 itu, ditindaklanjuti tim dari Teknik Geologi ITB bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Museum Geologi Bandung. Mereka melakukan survei pada 17 titik di Pulau Sirtwo dan menemukan antara lain kaki depan gajah purba yang terbuka dengan tingkat kerusakan cukup parah.
Temuan fosil di waduk Saguling itu juga dilaporkan peneliti dari Museum Geologi Bandung yang melakukan pendataan lokasi temuan dan usia endapan. Mereka menuliskannya pada Indonesian Journal of Earth Sciences, 2022, berjudul “The Surficial Basin Sediment Investigation and Its Concerned Vertebrate Fossils in Sirtwo Island, Western Part of Saguling Dam, West Java, Indonesia.”
Pada Oktober 2021 itu, penyusutan muka air Bendungan Saguling membuat sedimen waduk yang membendung Sungai Citarum tersingkap. Johan Budi Winarto dan kolega, dalam laporannya menjelaskan Pulau Sirtwo dan sekitarnya merupakan kawasan sedimen. Lokasi sedimen di waduk Saguling tersebar di beberapa tempat.
“Kami percaya bahwa tidak semua Cekungan Bandung tertutupi danau purba, namun masih ada bagian yang kering pada masa lalu,” tulisnya.
Penelitian sebelumnya telah mengungkapkan kondisi fauna di Cekungan Bandung yang terbagi menjadi dua kelompok. Yaitu kelompok fauna Kedungbrutus dan Wajak yang berusia lebih muda. Fauna Kedungbrutus berusia 0,8 juta tahun lalu, sementara fauna lebih muda berusia antara 29 ribu hingga 42,360 ribu tahun lalu.
Kelompok fauna Kedungbrutus terdiri Sus sp., Duboisia santeng, Rusa sp., Bovid sp., Stegodon atau Elephas, Manis palaeojavanica, dan Panthera tigris. Sementara pada kelompok fauna yang lebih muda diisi oleh Cyprinis carpio, Python reticulatus, Elephas maximus, Rhinoceros sondaicus, Bovid sp., Deer sp., Hippopotamus, Geoemydidae, dan Crocodillus.
Menurut para peneliti, biostratigasi fauna Cekungan Bandung kini terbagi menjadi dua, yaitu fauna vertebrata tua dan muda. Namun, batasan usia dan lithologinya belum jelas. Dalam kesimpulannya, para peneliti menyatakan Pulau Sirtwo dan sekitarnya merupakan zona fosil vertebrata fauna muda dalam kisaran tahun 10 hingga 135 ka (kilo annum). (mongabay.co.id)
Peninggalan Arkeologis
Jejak peninggalan manusia di masa lalu dapat dijumpai di berbagai tempat seperti di Pakar Dago dan di Cipatat. Di Cipatat KBB ada situs purbakala Gua Pawon.
Jejak Kerajaan Kendan bisa dilihat di Nagreg. Beberapa situs candi ada di Rancaekek (Candi Bojongmenje) dan di Solokan Jeruk (Candi Bojong Emas).
Kerajaan Kendan
Kerajaan Kendan adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berdiri di Tatar Sunda. Kerajaan ini didirikan oleh Resiguru Manikmaya pada 536 Masehi.
Pusat Kerajaan Kendan berada di wilayah Desa Nagreg Kendan dan Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Bandung.
Sejak pertama kali didirikan, Kerajaan Kendan berada di bawah lindungan Kerajaan Tarumanegara.
Masa kekuasaan kerajaan ini berakhir saat raja terakhirnya, Wretikandayun, memilih untuk mendirikan kerajaan baru yang berpusat di Galuh.
Kerajaan Kendan tidak terlepas dari kisah pendirinya, Resiguru Manikmaya. Resiguru Manikmaya adalah seorang pemuka agama Hindu keturunan India yang sebelum menetap di Kendan sempat mengunjungi beberapa negara. Setelah menikah dengan Tirtakancana, putri Raja Suryawarman dari Tarumanegara, ia diberi hadiah berupa daerah Kendan lengkap dengan tentara dan rakyatnya.
Setelah Resiguru Manikmaya dinobatkan sebagai raja, Suryawarman menitahkan kepada seluruh rakyat dan kerajaan bawahannya untuk menerima keberadaan Kerajaan Kendan. Selain itu, barang siapa yang berani menolak Resiguru Manikmaya akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya dibubarkan.
Raja-rajaKerajaan Kendan :
Raja Manikmaya (536-568 M)
Raja Putra Suraliman (568-597 M)
Raja Kandiawan (597-612 M)
Raja Wretikandayun (612-702 M)
Saat Wretikandayun dinobatkan menjadi raja Kendan pada 612 M untuk menggantikan ayahnya, ia justru memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah Galuh. Pemindahan ibu kota ini juga menandai perubahan nama Kerajaan Kendan menjadi Kerajaan Galuh. Di saat yang sama, Kerajaan Tarumanegara yang kala itu diperintah oleh Tarusbawa, sedang bergejolak.
Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Wretikandayun untuk melepaskan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Hal ini menjadikan Wretikandayun sebagai raja terakhir Kendan sekaligus pendiri Kerajaan Galuh (Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar , Tim Redaksi, Kompas.com, 17 Juni 2021, berdasarkan tulisan Nina Herlina Lubis, Sejarah Tatar Sunda Jilid I, Bandung: Satya Historica, 2003).
Komentar
Posting Komentar