Inggit Garnasih Srikandi Indonesia


Beberapa hari yang lalu sudah kami sampaikan bahwa Asmara Hadi yang mengusulkan kepada Bung Karno agar lima dasar negara yang digagasnya diberi nama Panca Sila. Asmara Hadi dilahirkan dengan nama Ipih Abdul Hadi tahun 1914 di Bengkulu, namun ia sering menggunakan nama samaran Asmara Hadi atau inisial HR yang merupakan singkatan Hadi dan Ratna. Ratna Djuami, istrinya, adalah anak angkat Bung Karno dan Inggit Garnasih. Biografi Asmara Hadi dan Bung Karno sudah kami sampaikan. Sekarang kami sampaikan biografi Inggit Garnasih yang kami dapatkan dari tulisan Soebagijo I.N. yang bersumber dari tiga buku, yakni : (1) Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta; (2) Catatan Kecil Bersama Bung Karno karya Fatmawati, Penerbit PT Dela-Rohita, Jakarta; dan (3) Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adam, Penerbit Gunung Agung, Jakarta. Selain itu kami tambahkan beberapa informasi dari sumber primer maupun sekunder.

Biografi Inggit Garnasih 

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung pada 17 Februari tahun 1888. Karena semasa kecil cantik dan pandai membawa diri ia sering diberi uang ringgit sehingga dikenal sebagai Si Ringgit, atau Inggit. Inggit memiliki dua kakak yakni Natadisastra dan Mutarsih. Pendidikan Inggit adalah Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). 

Sebelum dengan Bung Karno, Inggit menikah dengan Nataatmaja, pegawai Kabupaten Bandung. Setelah bercerai ia menikah dengan Haji Sanusi, duda beranak dua yang juga mantan pacarnya.

Pertemuan dengan Sukarno 

Sebagai anggota Sarekat Islam, Haji Sanusi menerima seorang pria muda untuk mondok di rumahnya. Pria itu adalah Sukarno yang menjadi menantu Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam. Sukarno datang bersama istrinya Utari, meski hubungan mereka lebih merupakan hubungan kakak beradik daripada suami istri. 

Dalam perkembangannya Sukarno dan Inggit saling jatuh cinta. Utari kemudian dikembalikan kepada orang tuanya dalam keadaan masih sebagai gadis.

Sanusi yang mengetahui mengenai hubungan antara Sukarno dan Inggit, menyetujui mereka menikah, setelah menceraikan Inggit pada tahun 1923. Sejak itu Inggit menjadi pendamping Sukarno.

Selama di Bandung, Bung Karno dan Inggit pernah tinggal di Jalan Kebonjati / Jalan Pasirkaliki, Javaveemweg (dekat Viaduct), Jalan Jaksa, dan Jalan Ciateul. Bung Karno pernah berkata, "hanya ke Bandung lah aku kembali kepada cintaku yang sesungguhnya.”

Perjuangan Inggit 

Inggit ikut membantu membiayai studi Sukarno sampai Sukarno meraih gelar insinyur di THS pada tahun 1926. 

Ketika Bung Karno dimasukkan ke dalam penjara Sukamiskin, Inggit setia menjenguknya hingga hukumannya habis di tahun 1931. 

Inggit memelihara hubungan antara suaminya dengan para pejuang secara sembunyi-sembunyi. 

Rumah Inggit selalu diawasi polisi rahasia Hindia Belanda. Ketika itu ia berjualan rokok buatannya sendiri. Gulungan rokoknya menjadi sarana komunikasi antara Bung Karno dan para pejuang. Rokok yang diikat dengan benang merah hanya dijual kepada kurir para pejuang yang datang membeli rokok buatannya, karena rokok itu berisi pesan Bung Karno dari penjara.

Inggit Srikandi Indonesia 

Di depan peserta Kongres Indonesia Raya di Surabaya tahun 1932, Ir. Sukarno menegaskan bahwa Inggit Garnasih adalah Srikandi Indonesia.

Ende dan Bengkulu 

Ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Flores, pada tahun 1934 dan ke Bengkulu tahun 1938, Inggit mendampinginya. 

Ketika di Bengkulu datang seorang anak gadis untuk mondok di keluarga Sukarno. Gadis itu bernama Fatimah, berusia 15 tahun, dan menjadi teman sekolah dan sepermainan Ratna Djuami dan Kartika, dua anak angkat keluarga Sukarno. Dalam perkembangannya, Sukarno jatuh cinta kepada gadis itu, walaupun usia mereka terpaut 22 tahun.

Tidak Mau Dimadu 

Kepada Inggit, yang lebih tua 12 tahun daripada Sukarno, Sukarno mengutarakan keinginannya untuk mendapat keturunan. Inggit, yang sudah mengerti gelagat, dengan tegas mengemukakan pendiriannya bahwa ia tidak mau dimadu.

Tahun 1942 Bung Karno harus meninggalkan Sumatrak karena diminta Jepang memimpin gerakan di Pulau Jawa. Walaupun sudah berada di Jawa, Sukarno terus mengadakan hubungan dengan Fatimah. 

Setelah mengadakan pembicaraan dengan Bung Hatta, Ki Hadjar dan Kyai Mansyur (anggota Empat Serangkai), lahir kesepakatan bahwa Bung Karno akan menceraikan Inggit dan menikahi Fatimah. 

Pada bulan Juli 1943 Bung Karno menikah (secara wali) dengan Fatimah yang ketika itu masih berada di Bengkulu. Selanjutnya Fatimah diganti namanya dengan Fatmawati.

Kembali ke Bandung 

Dengan persetujuan Ratna Djuami dan Asmara Hadi, Inggit dibelikan rumah di Bandung dan bekal untuk hidup seterusnya.

Inggit seterusnya bermukim di Bandung dan menghabiskan masa tuanya dengan membuat jejamuan untuk menopang hidupnya. 

Sejak 1950, Inggit menerima tunjangan keuangan dari pemerintah sesuai kedudukannya sebagai seorang perintis kemerdekaan.

Inggit memperoleh Satyalancana Perintis Kemerdekaan yang diterimanya pada tanggal 17 Agustus 1961 sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasinya selama perang kemerdekaan.

Pesan Inggit kepada Kusno

Walaupun sudah bercerai, kalau Presiden Sukarno sedang berada di Bandung, kadang-kadang ia masih mengunjungi Inggit di rumahnya di Jalan Ciateul. Pada kunjungan tahun 1960-an, Inggit antara lain pernah berkata pada Presiden Sukarno: "Kusno, selama di antara rakyat Indonesia masih ada yang makan dari sisa-sisa restoran, berarti perjuangan belum selesai." Kata-kata Inggit itu dibenarkan Bung Karno.

Meski sudah dua kali diajukan ke Jakarta, Inggit Garnasih sampai saat ini belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. 

Rumah Inggit Garnasih yang terletak di Jalan Ciateul kini dikelola oleh Disbudpar Jawa Barat. Jalan Ciateul kini dinamakan Jalan Inggit Garnasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik