Kongres Pemuda Tahun 1960 di Bandung

 

Sewaktu pada bulan Februari 1960 membuka Kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Kota Bandung, Presiden Sukarno menegaskan bahwa pidato beliau 17 Agustus 1959 yang panjang lebar itu sebenarnya kita berisi lima pokok. 

"Kalau pemuda-pemuda seluruh Indonesia memang benar-benar melaksanakan Manipol, maka lebih dahulu sadari dan yakin : UUD Revolusi Kita yakni UUD '45; dan kalau kita sudah berdiri teguh-teguh di atas UUD '45 ini maka konsekuensinya ialah Sosialisme Indonesia, dus kita harus pro Sosialisme Indonesia; konsekuensi kelanjutannya ialah Demokrasi Terpimpin;  konsekuensi seterusnya ialah Ekonomi Terpimpin, dus kita harus pro Ekonomi Terpimpin; dan kesemuanya ini adalah Kepribadian Indonesia."

Presiden tidak menggunakan kata USDEK, tetapi kata USDEK ini kemudian dipakai oleh Rapat Pamong Praja di Jawa Barat atas usulan Ketua DPRD Jawa Barat  Kosasih yang menganjurkan untuk menghafalkan lima intisari dari Manipol tersebut dalam rangkaian kata USDEK.

Jadi Manipol dan USDEK adalah sama, begitu penuturan Cak Roeslan Abdulgani dalam Uraian II Penjelasan Manipol dan USDEK di depan corong RRI Pusat Jakarta (Departemen Penerangan RI, Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi, Jakarta: PT Percetakan Negara, 1961).

Jalannya Kongres 

 Kongres  yang  berlangsung sejak 15 hingga 21 Februari 1960 ini dihadiri oleh peserta dari 21 daerah swatantra dan 55 organisasi pemuda,  pelajar dan mahasiswa. Total 1365 peserta hadir.

Kongres ini bersamaan dengan Pekan Olahraga Kesenian Indonesia  yang diikuti 2973 peserta. Beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan seperti sepak bola, voli putra, ping pong dan bulutangkis (Pikiran Rakjat, 15 dan 16 Februari 1960).   

Tetapi tampaknya perhatian mahasiswa lebih pada hal yang kedua.  Hanya sebagian mahasiswa dan umumnya bergabung dengan organisasi ekstra mahasiswa yang tertarik pada dunia politik.   

Pemberitaan Kongres Pemuda sendiri tenggelam oleh kedatangan orang nomor satu Uni Soviet Nikita Kurchov ke Indonesia dan di antaranya singgah ke Kota Bandung pada 19 Februari 1960.  Namun pada akhir kongres secara aklamasi dibentuk Front Pemuda dan Dewan Pemuda (Pikiran Rakjat, 22 Februari 1960). 

Prof Dr. Moestopo dalam ceramahnya di Gedung Unpad pada 21 Mei 1960 meminta mahasiswa Unpad tidak meniru gaya hidup mahasiswa di Amerika Serikat dan Eropa. Gaya hidup para mahasiswa dianggap tidak cocok dengan budaya Indonesia karena hidup bebas (Pikiran Rakjat, 23 Mei 1960, dalam Irvan Stafari, Kompasiana, 14 Desember 2017).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik