Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Khrushchev Berkunjung ke Indonesia

  Kebutuhan militer untuk melancarkan serangan guna merebut Papua mendorong pihak tentara dan pemerintah berpaling kepada Uni Soviet, yang sedang meningkatkan pengaruhnya di Indonesia supaya merugikan AS maupun Cina (Ricklefs, 2005 : 531). Pada tanggal 18 Februari 1960 Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev menerima undangan Bung Karno untuk berkunjung, dan menghabiskan waktu selama dua belas hari di Indonesia. Selama kunjungan ini Nikita Khrushchev menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama. Nikita Khrushchev juga menjanjikan pinjaman sebesar $ 250 juta untuk Indonesia. Dubes AS untuk Indonesia Jones menyebut bantuan Uni Soviet tersebut sebagai propaganda Khrushchev (Wardaya, 2008 : 204). Dalam kunjungannya ke Indonesia PM Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev Berkunjung ke berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Khrushchev juga berkunjung ke Bali. Menurut  Faishal Hilmy Maulida dalam tirto.id, 18 Mar 2018, Khrushchev beserta rombonga...

Kebijakan Eisenhower Terhadap Indonesia

Pada pertengahan 1958, pemerintahan Eisenhower terpaksa mengakui bahwa campur tangannya di Indonesia telah gagal. Tak lama setelah menghentikan dukungannya kepada para pemberontak daerah, Eisenhower dengan cepat mendukung pemerintah Indonesia khususnya Angkatan Darat meskipun hanya dalam hal taktik. Tujuan yang ingin dicapai dengan  Strategi Perang Dingin tetap sama : pertama, mencegah kelompok komunis menguasai Indonesia; kedua, membangun sebuah Bangsa yang terbuka terhadap Free World yang menentang komunis dan tidak menyerahkan sumber dayanya pada Blok Sino-Soviet. Lima Bidang Pokok  Menurut Baskara T. Wardaya dalam buku Indonesia Melawan Amerika, paling tidak ada lima Bidang Pokok yang mendominasi kebijakan pemerintahan Eisenhower:  (1) PKI yang makin populer dan berkembang; (2) Presiden Sukarno yang semakin dekat dengan PKI dan Uni Soviet; (3) Meningkatnya pengaruh Soviet melalui bantuan militer dan ekonominya; (4) Angkatan Darat yang dipandang sebagai sekutu paling p...

Pembentukan DPR -GR dan MPRS

Kunjungan Presiden Sukarno ke Hongaria Di awal tahun 1960 Presiden Sukarno berkunjung ke Hungaria, sayang kami tidak mendapat cukup informasi, hanya sebuah film berita Hongaria (MAGYAR FILMHÍRADÓ) memberitakan Presiden Sukarno berkunjung ke Republik Rakyat Hongaria dalam rangka kunjungan kenegaraan ke negara tersebut tanggal 14-18 April 1960. Dalam film itu nampak sambutan pemerintah dan rakyat Hungaria sangat luar biasa. Liga Demokrasi  Sementara itu menurut Ricklefs, PSI dan Masyumi melakukan perlawanan terakhir mereka terhadap Demokrasi Terpimpin pada tahun 1960 dengan membentuk Liga Demokrasi. DPR GR  Ketika Sukarno pulang dari perjalanannya dari Hungaria , Liga Demokrasi yang dibentuk PSI, Masyumi dan sekutunya atas dorongan Hatta dan beberapa tokoh militer, segera hancur. DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat - Gotong Royong) yang terdiri atas 283 kursi ditetapkan. PSI dan Masyumi tidak memperoleh satu pun kursi. Lebih dari separuh jumlah kursi (154) jatuh ke tangan golongan-g...

Kunjungan Pertama Presiden Sukarno ke Italia dan Vatikan

Willem Othman seorang wartawan Belanda menulis sebuah artikel berjudul Bung Karno Sahabatku (2001) pada laman DBNL - Digitale Bibliotheek voor de Nederlanse Letteren. Keseluruhan tulisan sungguh menarik dan karenanya akan kami muat secara utuh karena bukan saja bercerita tentang pertemuan Othman dengan Bung Karno tapi juga sikap pemerintah dan bangsa Belanda terhadap Bung Karno.  --- Roma (1956). Tanggal 10 Juni, pukul empat petang hari. Di Bandara Ciampino terhampar sebuah permadani merah. Presiden Italia Giovanni Gronchi, para anggota kabinet, dan korps diplomatik mengikuti gerakan pesawat DC7B yang menggelinding perlahan. Pesawat itu disewa Pemerintah Indonesia dari Pan American Airways. Hari itu cuaca cerah di musim panas. Seragam yang berwarna-warni dari barisan kehormatan caribinieri tampak menonjol di tengah jas kelepak para pejabat tinggi. Pintu pesawat terbuka. Didahului oleh juru potret istana Rochman dan juru film kepresidenan Silitonga, Presiden Soekarno keluar dari pes...

Bung Karno Berkunjung ke Itali dan Vatikan

Dalam lawatannya ke berbagai negara pada pertengahan 1959, Presiden Sukarno menyempatkan untuk bertemu dengan Paus Yohanes XXIII. Pada 14 Mei 1959, Sukarno tiba di Roma, Italia. Selain Duta Besar Indonesia untuk Italia dan Vatikan Abu Hanifah, Bung Karno disambut oleh seorang petinggi Vatikan Angelo Dellecqua, perwakilan Kepresidenan dan Kementerian Luar Negeri Italia. Turut pula Duta Besar Pakistan, Polandia, Turki, Filipina, Bulgaria, Yordania, serta kuasa-kuasa usaha dari India, Jepang, dan Libya. Ini menandakan betapa Indonesia menggalang persahabatan diplomatik lintas negara. Dari Roma, Presiden Sukarno meneruskan kunjungan ke Vatikan. Di Istana Vatikan, Paus Yohanes XXIII menerima Bung Karno dengan hangat. Dalam pidato sambutannya yang diucapkan dalam bahasa Prancis, Paus memuji peranan umat Katolik dalam membangun Indonesia. Peranan itu terutama dalam membangun dan memajukan sekolah-sekolah, rumahsakit, dan kegiatan sosial. Paus juga menyatakan kesediaan Takhta Suci Vatikan deng...

Presiden Sukarno Berkunjung ke Denmark

Pada awal Mei 1959 Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Denmark sebagai bagian dari tur Eropa. Kunjungan tersebut bertujuan memperkuat hubungan diplomatik dan mempelajari kebijakan sosial-ekonomi.  Selama di Denmark Presiden Sukarno menginap di Hotel Angleterre, Kopenhagen. Merakyat Pada 5 Mei 1959, Presiden Sukarno mengunjungi perumahan kolektif Carlsro dan menaiki sepeda, menunjukkan gayanya yang merakyat. Saat itu terjadi momen ikonik saat ia meminjam sepeda untuk berkeliling Carlsro dekat Kopenhagen guna berbaur dengan warga setempat. Memuji Koperasi  Presiden Sukarno mengagumi sistem koperasi dan jaminan sosial menyeluruh di Denmark sebagai contoh untuk Indonesia. ---  Denmark Selayang Pandang  Denmark adalah negara Skandinavia berdaulat di Eropa Utara, yang terdiri dari semenanjung Jutlandia dan lebih dari 400 pulau. Sebagai monarki konstitusional dengan populasi hampir 6 juta jiwa, ibu kotanya adalah Kopenhagen. Dikenal karena kualitas hidup yan...

Bung Karno Menghadiri Peringatan Hari Buruh di Polandia

J.D. Legge dalam bukunya Sukarno: A Political Biography, mengisahkan tur dunia Presiden Sukarno yang  melibatkan hingga 12 negara dan wilayah di dunia. Mulai dari Turki, Polandia, Hungaria, Rusia, Skandinavia, Brasil, Argentina, Meksiko, Amerika Serikat, Jepang, Kamboja, dan Vietnam Utara. Dikutip dari British Pathe, tur tersebut berlangsung sekitar 1-2 bulan. Di bawah absennya sang Proklamator, pemerintahan Indonesia dipegang PM Ir Djuanda (Kumparan News, 29 Oktober 2021). Setelah berkunjung ke Turki, Presiden Sukarno bertolak ke Polandia. Tidak banyak informasi mengenai kunjungan ini, kami mengumpulkan beberapa informasi dari mesin pencari, ANRI, Kanal Arsip, Instagram, YouTube, TikTok, dan media online meski hasilnya kurang memuaskan.  Inilah catatan yang berhasil kami kumpulan kan dan kami rangkum untuk pembaca. Hubungan Diplomatik Polandia dan Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik erat sejak tahun 1955 tapi Presiden Sukarno baru melakukan kunjungan kenegaraan ke Po...

Kunjungan Presiden Sukarno ke Turki

Muhammad Abdullah Azzam dalam  "Kala Rakyat Turki Mengenal Indonesia dari Kunjungan Sukarno" pada Anadolu Agency menulis  bahwa Presiden pertama Indonesia Sukarno pada Jumat 24 April 1959 mengunjungi Ankara, ibu kota Turki dengan rombongan besar. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia dari penjajahan ternyata bukan hanya berkesan bagi rakyat Indonesia, tapi juga bangsa Turki. Omer Faruk Kose, warga Turki di provinsi Ankara, mengenal Indonesia yang telah merdeka dari kunjungan Presiden Sukarno ke Turki. Dia punya kesan tersendiri terhadap bapak pendiri Republik Indonesia itu. Pada 1959, dia menyaksikan kunjungan presiden pertama Indonesia itu ke Turki, di era pemerintahan Perdana Menteri Adnan Menderes. Kose menjadi saksi mata bersama masyarakat Turki lainnya saat Sukarno tiba di Ankara, ibu kota Turki. “Soekarno dari mobil terbuka memberikan salam kepada masyarakat yang menyambutnya di jalanan, saya memberikan tepuk tangan kepada mereka [Sukarno dan Menderes],” ungkap Kose kepada ...

Bung Karno Mengakhiri Lawatannya di Amerika Latin dengan Berkunjung ke Meksiko

Berbagai penjuru Meksiko dilanda kerusuhan selepas kematian Nemesio Rubén Oseguera Cervantes alias El Mencho. Bos kartel narkotika itu tewas dalam serangan pasukan Meksiko ke markas kartel Jalisco New Generation yang dikendalikannya. Amerika Serikat mengklaim membantu penyerbuan itu (kompas.id). Seperti itulah Meksiko hari ini. Berbeda  saat Bung Karno berkunjung tahun 1959 setelah mengunjungi Brasil, Argentina dan Venezuela. Bung Karno Berkunjung ke Meksiko Dalam lawatannya ke negara-negara Amerika Latin, Meksiko menjadi negara terakhir yang dikunjungi Presiden Sukarno. Sebagai penghormatan, pemerintah Meksiko meresmikan sekolah Indonesia di Meksiko. Martin Sitompul dalam Historia.ID, 31 Okt 2024 menulis, "Di Bandara Ezeiza, Buenos Aires, Presiden Arturo Frondizi melepas keberangkatan Presiden Sukarno. Dari Argentina, Bung Karno meneruskan perjalanan ke Meksiko pada 26 Mei 1959. Setibanya di Mexico City, ibu kota Meksiko, Presiden Adolfo Lopez Mateos menyambut rombongan Bung Karn...

Presiden Sukarno Berkunjung ke Venezuela dan Terinspirasi Untuk Merancang Jembatan Selat Sunda

Pada pagi 27 Mei 1959 Presiden Sukarno tiba di Bandara Aeropuerto Internacional de Maiquetía (kini bernama Bandara Aeropuerto Internacional Simón Bolívar) di Caracas. Pagi itu bandara lebih sibuk dari biasanya. Ada banyak pejabat Venezuela dan satu batalion korps Infantería de Marina (Korps Marinir Venezuela) berjaga-jaga. Hari itu Venezuela kedatangan tamu negara dari jauh yakni Presiden Sukarno dari Indonesia yang tiba untuk singgah sesaat selepas kunjungannya dari Argentina. Presiden Sukarno menjadi presiden pertama dari negara Asia yang mampir ke kawasan itu, untuk membawa pesan persahabatan dari rakyat Indonesia sekaligus merintis hubungan diplomatik. Dalam lawatannya ke Amerika Selatan tahun 1959 itu Presiden Sukarno menggunakan pesawat carteran Boeing 707 milik maskapai Pan American (Pan Am) Airways. Dalam rombongan ada sejumlah menteri seperti Menteri Luar Negeri (Menlu) Dr. Soebandrio. Sebelumnya, Presiden Sukarno bertandang ke Buenos Aires, Argentina.  Dari Argentina, ...

Kunjungan Presiden Sukarno ke Argentina Saat di Buenos Aires Terjadi Demonstrasi Para Pegawai Bank

Dalam lawatannya ke negara-negara Amerika Latin di tahun 1959 Presiden Sukarno mengunjungi Brasil, Argentina dan Meksiko. Kunjungan ke Brasil telah kami sampaikan kepada para pembaca. Kali ini kami sampaikan perjalanan Presiden Sukarno ke Argentina berdasarkan informasi dari ANRI, Historia.ID dan Detik.com dan KBRI Buenos Aires. Di tengah udara dingin Buenos Aires, Presiden Sukarno tiba untuk kunjungan kenegaraan yang akan mengukir sejarah. Disambut Presiden Arturo Frondizi di tengah riuh demonstrasi buruh besar-besaran, Bung Karno berdiri tegar, membawa pesan persahabatan dari 88 juta rakyat Indonesia. Ia mengunjungi Monumen San Martín, berbicara di Casa Rosada, dan menyampaikan pidato yang membangkitkan semangat persatuan. Momen puncak terjadi ketika Argentina menganugerahkan Bintang Pahlawan Kemerdekaan San Martín — penghormatan tertinggi yang jarang diberikan kepada pemimpin asing. Kunjungan ini membuktikan bahwa diplomasi Bung Karno mampu menembus gejolak politik dan hati rakyat. ...

Presiden Sukarno Mendapat Inspirasi Memindahkan Ibukota Setelah Berkunjung ke Brasilia

Brasil menjadi negara pertama yang disambangi Presiden Sukarno dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Amerika Selatan. Waktu itu, ibukota Brasil masih Rio de Janeiro. Rombongan Presiden Sukarno tiba di sana pada 17 Mei 1959.  “Presiden Brazil Juscelino Kubitschek, wakil presidennya, dan seluruh Kabinet Brazilia menyambut kedatangan Presiden Sukarno beserta rombongan di lapangan terbang Rio de Janeiro pada hari Minggu untuk mengadakan kunjungan selama 5 hari di negeri itu,” lansir Harian Umum, 19 Mei 1959. Memenuhi Undangan Presiden Brasil  Itu adalah ketika Presiden Sukarno untuk pertama kalinya menjejakkan kakinya di Brasil pada pertengahan bulan Mei 1959, setelah Juscelino Kubitschek, presiden ke-21 Brasil, mengirimkan sepucuk undangan khusus agar ia berkunjung di negerinya. Undangan disambut gembira Sukarno, yang kemudian memasukkan Brasil dalam rangkaian kunjungan ke negara-negara Amerika Latin. Pesawat PaNam yang ditumpangi Presiden Sukarno mendarat mulus di Bandara Gal...

Presiden Sukarno Berkunjung ke Maroko dan Mendapat Anugrah Bintang Mahkota

Perpustakaan Negara memiliki koleksi surat kabar langka koran Merdeka tanggal 19 Mei 1960 berjudul Kunjungan Sukarno ke Maroko. Keterangannya adalah "Kunjungan Kenegaraan Presiden Soekarno ke Negeri Maroko di bulan Mei 1960. Di sana Bung Karno memperoleh anugrah Bintang Tertinggi Maroko yaitu Ordre Tu Trone (Bintang Mahkota). Selain itu melakukan peresmian salah satu jalan raya di pusat kota Rabat (ibukota Maroko) yang diberi nama Shariah Ahmad Sukarno”.  Lebih lanjut dikatakan,  "Sukarno meresmikan jalan atas namanya di Maroko. Di sana juga ada jalan Jakarta dan bunderan Bandung." Hendri F. Isnaeni dalam artikelnya pada Historia.ID, 22 Okt 2020, menulis bahwa Presiden Sukarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 14.40 tanggal 2 Mei 1960 dan disambut oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Abdullah Ibrahim, para menteri, pembesar sipil dan militer, serta korps diplomatik. Sementara itu pasukan berkuda dar...

Kunjungan Paman Ho

Kunjungan Paman Ho di Indonesia merupakan kunjungan pertama yang dilakukan Presiden Ho Chi Minh di negara-negara Asia Tenggara setelah kemenangan Dien Bien Phu pada tahun 1954.  Ketika itu  pada satu hari akhir bulan Februari 1959, pemimpin Vietnam dengan jenggot dan rambut yang sudah ubanan, turun dari pesawat dan melambaikan tangannya kepada rakyat Indonesia dengan senyuman yang hangat. Ketika menyambut Paman Ho di bandara Kemayoran, bandara internasional Indonesia yang pertama di Jakarta, Presiden Sukarno menyebut Presiden Ho Chi Minh dengan sebutan yang sangat akrab "Paman Ho", seperti halnya rakyat Vietnam yang menyebut beliau dengan penuh kasih sayang. Presiden Ho Chi Minh juga menyebut Presiden Sukarno dengan sebutan yang sangat dekat "Bung Karno", cara menyebut yang penuh rasa cinta dari rakyat Indonesia terhadap Presiden Soekarno. Dalam pidato sambutannya, Presiden Sukarno menyatakan rasa hormat dari bangsa Indonesia terhadap Presiden Ho Chi Minh:  “Seluruh...

Upaya Pembunuhan Kedua Terhadap Presiden Sukarno

Beberapa kali Sukarno mengalami percobaan pembunuhan. Seperti yang terjadi tanggal 30 November 1957, ketika mengunjungi Bazar di Gedung Perguruan Cikini, ketika empat buah granat tangan dilemparkan ke arahnya.  Tanggal 9 Maret 1960, sebuah peluru rocket ditembakkan oleh Maukar dari sebuah pesawat MiG-17 AURI ke beranda dalam Istana Merdeka , beberapa meter dari tempat ia biasa duduk. Ledakan roket itu menghancurkan sebagian beranda Istana, tapi beliau selamat (Purwoko dan Harsrinuksmo, 2004:319). Ricklefs mengaitkan peristiwa itu dengan kedekatan Presiden Sukarno dengan KSAU Komodor Udara Surjadi Surjadarma, bahwa tidak ada seorang kepala staf militer pun yang benar-benar dapat menjamin perilaku anak buahnya sendiri (2005 :528).  Pelaku usaha pembunuhan terhadap Presiden Sukarno itu adalah Maukar seorang pilot Angkatan Udara. Ketika itu ia  memberondong istana kepresidenan di Jakarta dan Bogor. Itu merupakan semacam usaha kudeta yang gagal. Upaya penembakan terhadap istan...

Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1960 Tentang GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara)

Pada tanggal 29 Januari 1960 Presiden Sukarno menetapkan Garis-garis Besar daripada Haluan Negara yang berlaku sejak 17 Agustus 1959. Pasal 1 keputusan tersebut menetapkan bahwa sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat terbentuk, maka Manifesto Politik pada tanggal 17 Agustus 1959 oleh Presiden/Panglima Angkatan Perang adalah Garis-garis Besar daripada Haluan Negara.  Dasar Pertimbangan  Pertimbangannya adalah bahwa Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 itu menjelaskan persoalan-persoalan pokok dan program umum daripada Revolusi Indonesia, yang bersifat menyeluruh dan oleh karenanya merupakan pedoman resmi bagi Rakyat Indonesia dalam perjuangan menyelesaikan Revolusi Indonesia yang multicomplex. Kronologi  Sebelumnya Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada sidang plenonya yang pertama tanggal 28 Agustus 1959 dengan suara bulat menyatakan bahwa Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 adalah Garis-garis Besar Haluan Negara dalam Rencana Pembangun...