Khrushchev Berkunjung ke Indonesia

 

Kebutuhan militer untuk melancarkan serangan guna merebut Papua mendorong pihak tentara dan pemerintah berpaling kepada Uni Soviet, yang sedang meningkatkan pengaruhnya di Indonesia supaya merugikan AS maupun Cina (Ricklefs, 2005 : 531).

Pada tanggal 18 Februari 1960 Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev menerima undangan Bung Karno untuk berkunjung, dan menghabiskan waktu selama dua belas hari di Indonesia. Selama kunjungan ini Nikita Khrushchev menandatangani sebuah kesepakatan kerjasama. Nikita Khrushchev juga menjanjikan pinjaman sebesar $ 250 juta untuk Indonesia.

Dubes AS untuk Indonesia Jones menyebut bantuan Uni Soviet tersebut sebagai propaganda Khrushchev (Wardaya, 2008 : 204).

Dalam kunjungannya ke Indonesia PM Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev Berkunjung ke berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Khrushchev juga berkunjung ke Bali.

Menurut  Faishal Hilmy Maulida dalam tirto.id, 18 Mar 2018, Khrushchev beserta rombongan tiba di Indonesia pada 18 Februari 1960 di Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta. Kedatangan mereka disambut meriah Presiden Sukarno beserta jajaran kabinet. Malam harinya, pemerintah Indonesia mengadakan jamuan makan malam di Istana Merdeka.

Tokoh yang Konsisten Menentang Kolonialisme dan Imperialisme 

Dalam pidato sambutan acara jamuan makan malam,

Presiden Sukarno mengatakan bahwa kedatangan Khrushchev merupakan simbol persahabatan Indonesia dengan Uni Soviet. Khrushchev adalah simbol perdamaian dunia, seorang tokoh yang konsisten menentang kolonialisme dan imperialisme, sejalan dengan apa yang diperjuangkan Sukarno dan pemerintahannya. Presiden Sukarno juga menekankan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat yang berjuang untuk kemerdekaan, masyarakat adil dan makmur, dan perdamaian.

Tiga Kerangka Perjuangan 

Menurut Presiden Sukarno,  perjuangan rakyat Indonesia yang telah berjalan berpuluh-puluh tahun ini bisa dimasukkan dalam tiga kerangka.

Pertama, adalah perjuangan membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme dan mendirikan satu negara Republik Indonesia yang merdeka seratus persen. 

Kedua, membangun Republik Indonesia sebagai satu masyarakat adil dan makmur, tanpa penghisapan manusia kepada manusia. 

Ketiga, meletakkan Republik Indonesia dalam hubungan persahabatan dengan semua bangsa-bangsa di muka Bumi.

Pidato Khrushchev 

Menanggapi pidato sambutan Sukarno, Khrushchev mengapresiasi sambutan pemerintah dan rakyat Indonesia atas kedatangannya dengan pidato yang tak kalah meriah. Ia memperkuat apa yang disampaikan Sukarno bahwa Uni Soviet selalu menaruh simpati pada bangsa-bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan.

Sebelum menutup sambutannya, Khrushchev mencoba membandingkan kekayaan yang dimiliki negerinya dengan apa yang dimiliki Indonesia. Ia berucap bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya, tetapi menurut dia negerinya juga tidak kalah kaya.

“Segala sesuatu yang dipunyai oleh Indonesia juga dipunyai oleh Uni Soviet, barangkali dengan pengecualian buah-buahan yang lezat sekali di sini, dan satu perbandingan lagi, kami di Uni Soviet ada banyak salju, di Indonesia tidak ada sama sekali,” kata Khrushcev, yang disambut gelak tawa hadirin dalam jamuan makan itu.

Dicibir Gara-Gara Komunis

Sehari kemudian, rombongan dari Negeri Beruang Merah itu dibawa Sukarno mengunjungi proyek pembangunan kompleks Asian Games 1962 di Kebayoran Baru, Jakarta. Kunjungan itu juga sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuan pemerintah Uni Soviet berupa pinjaman berbunga rendah dan technical experts untuk membangun fasilitas Asian Games. Khrushchev diberi kehormatan untuk memancangkan pancang beton nomor seratus bagi landasan stadion utama. 

Pada kunjungan ke Surabaya, 22 Februari 1960, Khrushchev mendapat sambutan meriah dari rakyat ibu kota Jawa Timur itu. Diperkirakan satu juta manusia menyambut kedatangannya. Namun, kedatangan Khrushchev juga memunculkan cibiran dari sebagian orang.

“Saya tadi mendengar ucapan seseorang; olah apa, Bung Karno iki nggawa komunis nang kene? (Mengapa Bung Karno membawa orang Komunis kemari?). Saya bertanya, lantas mau apa? Apa orang komunis itu setan? Tidak saudara-saudara, sama-sama manusia dengan kita, apalagi Perdana Menteri Khrushchev pemimpin daripada satu negara yang bersahabat dengan kita, pemimpin negara daripada negara yang rakyatnya berjumlah 212 juta manusia,” kata Presiden Sukarno dalam sambutannya ketika rombongan Khrushchev tiba di Surabaya.

Melanjutkan tanggapannya atas omongan miring tersebut, Sukarno melempar guyonan.

“Coba lihat Perdana Menteri Khrushchev yang tadi berdiri di hadapan saudara-saudara orangnya tidak tinggi, malahan rada-rada lemu (agak gemuk), amat sederhana sekali. Jadi sebenarnya, maaf, seribu maaf, manusia sederhana yang duduk di belakang saya ini yang badannya pendek, maaf seribu maaf, agak gemuk, beliau mewakili rakyat Soviet ditambah dengan rakyat negara-negara sosialis lain, 

Berkunjung ke Bali 

Seusai menyelesaikan kunjungan di Surabaya, rombongan Khrushchev bergerak menuju Bali. Pada 25 Februari 1960, rombongan sampai di Denpasar. Sepanjang jalan, tak kalah dengan daerah lain, rakyat Bali menyambut kedatangan rombongan dari Uni Soviet itu dengan gegap gempita.

Setelah mengunjungi Bali, tamu rombongan kembali ke Jakarta dan menuntaskan lawatan kenegaraan Uni Soviet di Indonesia pada 1 Maret 1960. Khrushchev dan rombongan kembali bertolak ke negerinya melalui Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta.

Dalam sambutan penutup, Khrushchev mengatakan bahwa persahabatan Indonesia dan Uni Soviet akan semakin erat karena persamaan cita-cita dan tekad. Atas dasar itulah persaudaraan dua negara ini akan terus berdiri teguh.

“Dan oleh karena dasar-dasar yang objektif, maka saya yakin persahabatan Indonesia dan Uni Soviet akan berlangsung kekal,” ujar Khrushchev.

Pidato tersebut disambut baik oleh Sukarno. Presiden pertama RI itu menyatakan: 

“Antara Moskow dan Jakarta terpisah jarak kurang lebih 10 ribu kilometer, tetapi dengan teknik modern telah membuat jarak itu menjadi amat pendek. Lebih daripada itu, cita-cita yang sama ... Dengan adanya cita-cita yang sama, rasa simpati yang kuat, rasa cinta yang mendalam itu, maka kami rasakan jarak Moskow dan Jakarta menjadi dekat. Moga kita bertemu kembali, hiduplah persahabatan Uni Soviet-Indonesia.

Memoar Khrushchev 

Khrushchev menuliskan mengenai kunjungannya ke Indonesia itu dalam memoarnya, Khrushchev Remember: The Last Testament (Boston: Bantam Book, 1976).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Struktur Pemerintahan Sipil Pada Masa Pendudukan Jepang

Kasman Singodimedjo (1908-1982)