Amanat Presiden Sukarno pada Sidang Pleno Depernas (Dewan Perancang Nasional)
Dalam sidang pleno pertama Depernas Tanggal 28 Agustus 1959, Presiden Sukarno menyampaikan amanatnya tentang Pembangunan Semesta Berencana. Ada yang disampaikan secara lisan dan ada yang disampaikan secara tertulis. Berikut ini akan saya sampaikan garis besar amanat lisannya, sedangkan amanat yang tertulis akan saya sampaikan kemudian, yakni amanat yang telah ditelaah dan disistematisasikan oleh DPA (Dewan Pertimbangan Agung) pada Bulan Juli 1961.
Jembatan Emas
Dalam amanat tertulisnya Presiden menyampaikan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas menuju cita-cita bangsa Indonesia yang pokok, yaitu masyarakat adil dan makmur.
Presiden juga memberi petunjuk agar supaya Depernas membuat pola masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Pola itu diharapkan lekas tersusun dan disampaikan kepada MPR sehingga pola tersebut menjadi pola nasional menjadi milik bangsa Indonesia, milik nasional, menjadi national property, national bezit, tidak boleh seseorang mengubahnya.
Tanggungjawab Pemimpin
Menurut Presiden, para pemimpin memikul tanggungjawab yang besar untuk merealisasikan apa yang dicita-citakan Bangsa Indonesia berpuluh-puluh tahun. Presiden mengingatkan akan perjuangannya selama 40 tahun dalam pergerakan nasional. Puluhan ribu masuk dalam penjara dengan tersenyum. Ada pula yang dibuang ke tempat pengasingan. Ada yang satu tahun ada yang puluhan tahun.
Selamat Tinggal Bung Karno
Presiden bercerita ia menerima surat-surat berisi ucapan selamat tinggal dari orang-orang yang akan digantung oleh Pemerintah Belanda. "Selamat tinggal Bung Karno, saya akan menaiki tiang pergantungan dengan rela dan ikhlas oleh karena saya berkorban untuk mencapai cita-cita kita, satu masyarakat yang adil dan makmur." Karena itu Presiden mengatakan bahwa masyarakat adil dan makmur atau masyarakat sosialis a la Indonesia adalah amanat penderitaan dari pada segenap rakyat Indonesia. Amanat itu terpikul di pundak para pemimpin dan harus direalisasikan. Untuk itu kita akan menghadapi banyak kesulitan.
Teori Evolusi dan Teori Fasen-sprong
Anggota Depernas hendaknya tidak masuk golongan yang ber-evolusi teori tapi juga jangan masuk ke dalam orang-orang yang berteori fasen-sprong. Teori evolusi menyatakan masyarakat agraris dengan sendiri nya masuk ke tingkat fase industri kecil kemudian otomatis ke dalam tingkatan industri kapitalisme. Padahal tidak demikian. Untuk naik dari satu tingkat lainnya harus menyerahkan dynamische krachten di dalam masyarakat. Sebaliknya teori fasen-sprong atau teori pelompatan fase mengatakan bahwa dari masyarakat agraris kita bisa melompat ke masyarakat sosialis. Teori itupun tidak benar. Tidak ada masyarakat yang melompati fase, semua harus dilalui fase demi fase.
Guncangan
Perpindahan dari satu fase ke fase selanjutnya selalu menimbulkan schokken atau guncangan-guncangan di dalam masyarakat.
Meninggalkan Liberalisme
Suatu bangsa yang hendak merealisasikan cita-cita bangsa, masyarakat adil dan makmur itu harus meninggalkan alam pikiran dan alam tindakan-tindakan daripada liberalisme. Baik liberalisme politik maupun liberalisme ekonomi. Liberalisme selalu menimbulkan konflik di segala bidang : politik, ekonomi, sosial, yang berujung pada exploitation de l'homme par l'homme, baik itu eksploitasi ekonomi, politik maupun moral. Juga konflik si kaya dan si miskin, si terpelajar dan si bukan terpelajar, produsen dan produsen. Konflik itu anak kandung dari imperialisme. Di Barat konflik itu memuncak dalam alam industri kapitalisme hingga terjadi Revolusi Sosial.
Tugas Kita
Ekonomi kolonial harus kita ubah menjadi ekonomi nasional yang bersih dari imperialisme, bersih dari penghisapan dan dari eksploitasi oleh asing. Ekonomi Nasional harus menjadi ekonomi yang sesuai dengan apa yang ditulis dalam UUD 1945 Pasal 33 yaitu kata gampangnya, masyarakat adil dan makmur. Dan itu tidak mudah.
Indonesia di Zaman Penjajahan
Menurut Presiden, pertama, Indonesia menjadi pasar penjualan dari produk-produk negeri penjajah atau negara-negara luar.
Kedua, Indonesia menjadi tempat pengambilan barang-barang bahan-bahan pokok bagi industri kapitalisme di negeri penjajah atau negara-negara luar.
Ketiga, Indonesia menjadi tempat investasi daripada modal-modal penjajah dan modal-modal asing lainnya.
Een Natie van Koelies
Karena ketiga posisi Indonesia di zaman penjajahan itu, Bangsa Indonesia menjadi Bangsa yang hidup dua setengah sen sehari. Mengutip pandangan orang Belanda, Presiden menyatakan bahwa bangsa kita karena dieksploitasi telah menjadi "Een natie van koelies en enn koeli onder de naties," "A nation of coolies and a coolie amongst the nation."
Abad ke-20
Abad ke-20 telah menempatkan kita ke dalam revolusi simultan. "A summing up of a many revolutions in one generation." Revolusi kita adalah satu "telescoped revolution," "een getelescoped revolutie."
Politik Terencana
Untuk merealisasikan masyarakat adil dan makmur tidak boleh tidak harus mengadakan planning, mengadakan pimpinan dan mengadakan pengerahan tenaga. Tanpa planning, tanpa pimpinan, tanpa pengerahan tenaga, tak mungkin masyarakat yang dicita-citakan oleh Rakyat Indonesia itu bisa tercapai dan terealisasi.
Agar supaya tiap-tiap revolusi kita, politik-ekonomi-sosial-mental-kulturil-isi manusia berjalan dengan sebaik-baiknya, maka kita harus mengadakan pimpinan dan planning. Tanpa pimpinan dan planning maka revolusi kita yang multi kompleks ini menjadi kompleksitas kekacauan.
Kita harus mengadakan "planned policy," politik yang terencana. Inilah pokok dari Demokrasi Terpimpin. Kita harus mengadakan planned political activity, planned economic activity, planned social activity, planned cultural activity, planned mental activity. Semuanya planned. Semuanya terencana.
Tugas Depernas
Tugas Depernas bukan hanya mengurus planning dari satu bidang saja. Depernas melakukan "overall planning," planning semesta, planning yang meliputi semua bidang.
Seluruh Rakyat melihat dan menunggu hasil Depernas. Seluruh Rakyat mengharap Depernas bekerja dengan cepat dan tidak bertele-tele.
Ibarat arsitek, Depernas harus membuat blueprint. Jika blueprint ini sudah di terima opdrachtgever, maka blueprint harus diselenggarakan. Blueprint dijalankan harus dengan pimpinan.
Menuju Paradiso
Presiden Sukarno selanjutnya menyerahkan kepada Depernas di bawah pimpinan Mr. Muhammad Yamin sebagai Ketua, untuk membuat blueprint pembangunan Indonesia. Jika blueprint tersebut sudah diterima MPR, bisa dilaksanakan oleh seluruh Rakyat Indonesia yang jumlahnya 88 juta. Presiden berharap blueprint tersebut membawa kita kepada Paradiso sebagaimana yang tertulis di dalam kitab Divina Commedia-nya Dante Alighieri.
Komentar
Posting Komentar