Presiden Sukarno Mendapat Inspirasi Memindahkan Ibukota Setelah Berkunjung ke Brasilia


Brasil menjadi negara pertama yang disambangi Presiden Sukarno dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Amerika Selatan. Waktu itu, ibukota Brasil masih Rio de Janeiro. Rombongan Presiden Sukarno tiba di sana pada 17 Mei 1959. 

“Presiden Brazil Juscelino Kubitschek, wakil presidennya, dan seluruh Kabinet Brazilia menyambut kedatangan Presiden Sukarno beserta rombongan di lapangan terbang Rio de Janeiro pada hari Minggu untuk mengadakan kunjungan selama 5 hari di negeri itu,” lansir Harian Umum, 19 Mei 1959.

Memenuhi Undangan Presiden Brasil 

Itu adalah ketika Presiden Sukarno untuk pertama kalinya menjejakkan kakinya di Brasil pada pertengahan bulan Mei 1959, setelah Juscelino Kubitschek, presiden ke-21 Brasil, mengirimkan sepucuk undangan khusus agar ia berkunjung di negerinya. Undangan disambut gembira Sukarno, yang kemudian memasukkan Brasil dalam rangkaian kunjungan ke negara-negara Amerika Latin.

Pesawat PaNam yang ditumpangi Presiden Sukarno mendarat mulus di Bandara Galeao, siang hari tanggal 17 Mei 1959. Senyumnya mengembang saat melihat Presiden Juscelino Kubitschek menyambutnya langsung. Keduanya berjabat tangan dan berpelukan, seperti sepasang teman lama yang lama tak berjumpa. Sukarno berada di Brasil dari tanggal 17-21 Mei 1959.

Presiden Sukarno punya beberapa agenda penting di Brasil. Salah satunya untuk mempengaruhi elite politik di Brasil agar masuk dalam barisan pemimpin-pemimpin dunia yang menentang imperialisme dan kolonialisme. Sukarno juga ingin memperkenalkan kebijakan negara-negara Non Blok yang tidak memihak salah satu blok yang terlibat seteru dalam Perang Dingin.

Lawatan Sukarno di Brasil adalah manuver cantiknya untuk merangkul Brasil—yang secara ideologi masuk dalam pengaruh negara-negara Barat, khususnya AS. Hubungan Sukarno dengan para pemimpin AS, khususnya Presiden D. Eisenhower dan Menlu Dulles, memanas saat dia berkunjung ke Brasil itu. Namun, Sukarno dengan cerdik merangkul pemimpin Brasil yang notabene pro-AS.

Brasil kala itu adalah mitra penting AS dan tergabung dalam The Inter-American Treaty of Reciprocal Assistance atau Rio Pact—sebuah pakta pertahanan yang didirikan tahun 1947, beranggotakan negara-negara Amerika Latin, dan dibentuk untuk menghadapi bahaya komunisme di kawasan tersebut.

Di Brasil Presiden Sukarno berusaha membangun citra sebagai sosok yang mewakili bangsa dan ideologi yang ramah. Dia mengunjungi makam pahlawan, taman nasional, dan menanam sebuah pohon yang disaksikan sejumlah pejabat Kota Rio de Janeiro. Sukarno juga menemui anak-anak sekolah yang turut menyambut kedatangannya.

Brasil Sedang Kebanjiran 

Keadaan di Brasil kurang begitu baik bertepatan dengan kedatangan Bung Karno. Bukan karena adanya gejolak politik, melainkan terjadinya bencana alam. Banjir besar melanda beberapa daerah di Brasil, juga Uruguay dan Bolivia. Banjir tahun 1959 ini merupakan yang paling besar sejak 25 tahun terakhir. Meski kebanjiran, pemerintah Brasil dan masyarakat Rio tetap antusias menyambut Bung Karno. Selain sebagai tamu penting, sambutan hangat diterima Bung Karno lebih-lebih sebagai pemimpin negara Asia pertama yang ke sana. 

“Ketibaan Presiden Sukarno mengalihkan perhatian rakyat kepada seorang Kepala Negara Asia yang pertama melawat ke Amerika Latin (Selatan). Bendera Merah Putih berkibar di seluruh kota dan sambutan dentuman meriam dilangsung juga, tapi kelebihan sekali dentum, tegasnya dibunyikan 22 kali,” tulis Mingguan Istimewa, 31 Mei 1959.

Menanam Pohon 

Dalam pidato pertamanya kepada publik di Rio de Janeiro, Bung Karno menyampaikan pesan persabahabatan mewakili 88 juta rakyat Indonesia. Bibit persahabatan itu dinyatakan Bung Karno secara simbolis lewat buah tangan berupa tunas pohon yang dibawanya dari Jawa. Pohon itu kemudian ditanam Bung Karno saat mengunjungi Taman Nasional Rio de Janeiro pada 19 Mei 1959.

“Mudah-mudahan akar-akar pohon tersebut dapat menanamkan persahabatan Indonesia dalam tanah Brazilia, kata Bung Karno,” kata Bung Karno dalam Harian Umum, 21 Mei 1959 yang mengutip laporan kontributor Reuter di Rio de Janeiro.

Rombongan Presiden Sukarno bersama pejabat pemerintah Brazil kemudian mengikuti jamuan pesta kebun di Hutan Tijuca di luar kota Rio. Sorenya, Bung Karno mengadakan kunjungan resmi ke Mahkamah Agung dilanjut dengan menghadiri undangan Kongres Brasil. Untuk menutup agenda hari itu, Bung Karno menghadiri jamuan makan di gedung Kementerian Luar Negeri.

Pidato di Kongres 

Di sidang Kongres, Bung Karno berpidato memperkenalkan negara Indonesia. Bung Karno mengurainya mulai dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia hingga kebijakan politik dalam dan luar negeri pasca-kemerdekaan. Semua itu disampaikannya dalam bahasa Inggris yang fasih. Dia menjelaskan apa itu Pancasila, Demokrasi Terpimpin, dan politik luar negeri Bebas-Aktif. Orasi Bung Karno memukau para anggota senator yang hadir di gedung kongres. 

“Kunjungan Presiden Sukarno mempunyai suatu keistimewaan yang menyentuh hati sanubari rakyat Brasilia, karena baru pertama kali inilah terjadi seorang kepala negara dari Asia yang jauh letaknya datang mengunjungi rakyat Brasilia,” ujar Senator Novaes Filno dalam Harian Umum, 22 Mei 1959.

The Rennaisance of Today

Presiden Sukarno menyampaikan pidato berjudul The Renaissance of Today. Ratusan anggota Parlemen datang untuk mendengarkan pidato tersebut. 

Sekitar satu jam pidato Sukarno menghipnotis Parlemen Brasil. Tak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduknya saat Sang Putra Fajar berorasi. Sukarno berbicara banyak tentang nilai-nilai humanisme yang menyatukan seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, Sukarno menyebut Brasil dan Indonesia terikat oleh sebuah kesamaan: Kemanusiaan. Indonesia dan Brasil, menurutnya, sama-sama negeri masa depan; land of the day-after-tomorrow.

Bridges of Understanding 

Sukarno juga menyambangi Universitas Rio de Jeneiro, dan di kampus terbesar di Brasil ini dia menerima penghargaan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang ilmu hukum, tanggal 20 Mei 1959. Saat menerima penghargaan, Sukarno menyampaikan sebuah pidato berjudul Bridges of Understanding yang memukau para sivitas akademika kampus tersebut.

Atensi Rakyat Brazil

Kunjungan Bung Karno menarik atensi rakyat Brasil, khususnya yang ada di Rio de Janeiro. Menurut Istimewa, mereka mempelajari riwayat kehidupan presiden Indonesia itu. Sebagian orang bahkan menelusurinya melalui media terbitan Amerika yang dijual di Rio de Janeiro. Beberapa suratkabar atau majalah Amerika seperti Time, Newsweek, dan LIFE dalam beberapa edisinya memuat potret Bung Karno sebagai sampul depannya. 

Pers Amerika memang lumayan rajin membidik pemberitaan tentang Bung Karno memasuki paruh kedua 1950. Publikasi tentang Bung Karno makin gencar setelah Indonesia sukses menghelat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Setelahnya, Bung Karno mengadakan safari politik ke mancanegara, termasuk dua adikuasa, Amerika dan Uni Soviet. Kepada publik di Brasil, Bung Karno turut menyampaikan posisi Indonesia di kancah global terkait Perang Dingin yang sedang terjadi.   

“Dasar dari politik luar negeri Indonesia ialah untuk tetap menjauhkan diri dari kedua blok dunia yakni blok Timur dan blok Barat dan keinginan untuk hidup dalam perdamaian dan persaudaraan dengan semua bangsa,” demikian ujar Bung Karno dalam konferensi pers di Rio de Janeiro dikutip Harian Umum, 20 Mei 1959.

Mendapat Gelar Doktor Kehormatan

Bung Karno tentu tidak pulang dengan tangan kosong. Hubungan persahabatan dengan Brazil kian paten dengan pemberian gelar doktor kehormatan dari Universitas Brasilia kepada Bung Karno. Sementara itu, dari Presiden Kubitschek, Bung Karno menerima bintang jasa “The Grand Collar of the Order Southern Cross” (Colar Besar Ordo Nasional Salib Selatan). Ini adalah penghargaan tertinggi pemerintah Brazil terhadap pihak yang berjasa kepada bangsa Brasil.

Meski demikian, lawatan Bung Karno ke Negeri Samba cukup memuaskan bagi hubungan diplomatik kedua negara. Pada 21 Mei 1959, Bung Karno bertolak dari Rio de Janeiro menuju Buenos Aires. Tak lupa, Bung Karno mengundang Presiden Juscelino Kubitschek de Oliviera ke Indonesia untuk kunjungan balasan. Setelah Brazil, Argentina menjadi negara kedua yang dikunjungi Bung Karno dalam rangkaian misi diplomatiknya ke Amerika Latin (Martin Sitompul, Historia.ID, 14 Juni 2024; Tofik Pram, Wijdan, Samudrafakta.com, 9 Juni 2023)

Brasilia Menginspirasi Sukarno untuk Memindahkan Ibu Kota Negara

Presiden Kubitschek pun mengajak Sukarno mengunjungi Kota Brasilia yang kala itu sedang dibangun. Brasilia berjarak sekitar 934 kilometer, atau 580 mil, dari Rio de Janeiro. Ajakan ini langsung disambut Sukarno, mengingat ia juga ingin belajar sekaligus menyaksikan langsung proses pembangunan dan pemindahan sebuah ibukota.

Gagasan pemindahan ibukota sebenarnya telah lama dibahas oleh Pemerintah Brasil. Bahkan, gagasan ini dimasukkan dalam konstitusi negara sejak tahun 1891, 1934, dan 1946. Namun, ide itu baru bisa direalisasikan saat Kubitschek memegang tampuk kekuasaan. Rencana eksekusi ini dinyatakan Juscelino Kubitschek dalam kampanye politiknya saat mencalonkan diri sebagai presiden. Dan ia mewujudkan janjinya saat terpilih.

Rencana ini awalnya menimbulkan kontroversi, bahkan ditentang banyak pihak. Tak sedikit politisi dan warga Rio de Janeiro yang menolak. Mereka menganggap pemindahan ibukota tidak rasional dan membebani negara. Mereka juga menganggap Rio de Janeiro masih layak jadi ibukota. Pro-kontra berlangsung hingga bertahun-tahun, melibatkan para pakar, dan diliput oleh media nasional pun internasional.

Pembangunan Brasilia melibatkan pakar dan arsitek terkenal dunia. Di antaranya adalah Lucio Costa (perencana kota), Oscar Niemeyer (arsitek utama), dan Roberto Burle Marx (landscape designer). Pembangunan dimulai bulan Februari 1957. Kurang lebih 200 mesin berat dan 30 ribu tenaga kerja dilibatkan untuk memulai proyek besar tersebut. Pengerjaan berlangsung siang dan malam tanpa henti, membangun ratusan bangunan, bermil-mil jalan raya, jembatan, dan gedung-gedung pemerintah serta layanan publik.

Hari berganti, bulan berlari, tahun bersalin. Dua tahun sejak dimulainya pembangunan, kota baru yang cantik itu, Brasilia, seolah muncul dari bawah tanah. Ia berhasil dibangun.

Sebagai seorang arsitek, Sukarno menikmati kunjungannya di Brasilia. Ia juga menikmati obrolannya dengan Kubitschek terkait program dan pengalamannya membangun ibukota baru itu. Proyek tersebut adalah pekerjaan yang tidak mudah sama sekali. Pemindahan ibukota negara, tentu, membutuhkan perencanaan yang teliti, biaya tinggi, dan langkah-langkah komprehensif, bahkan revolusioner.

Kota Brasilia akhirnya tumbuh pesat dan menjadi kota yang punya peran strategis: Menghubungkan seluruh wilayah Brasil serta mendorong pembangunan di berbagai wilayah yang sebelumnya tak berpenghuni. Pembangunan Brasilia juga berdampak pada pembangunan sejumlah jalan yang menghubungkannya dengan kota-kota lain. Jutaan tenaga kerja terserap dan terlibat langsung dalam prosesnya.

Kota Rio de Janeiro, ‘mantan’ ibukota itu, dibangun pada tahun 1565 oleh Pemerintah Kolonial Portugis. Kota di wilayah pesisir ini kemudian menjadi pusat kota Pemerintahan Kolonial Portugis sejak tahun 1763.

Sebagai kota peninggalan pemerintah kolonial, Rio de Janeiro membawa berbagai masalah, utamanya soal tata letak kota. Kota ini semrawut karena dibangun tidak berdasarkan perencanaan jangka panjang. Dia dibikin tanpa mempertimbangkan perubahan demografi.

Kemacetan terjadi di mana-mana. Inefisiensi berlangsung dan menimbulkan ongkos sosial tinggi. Angka penganguran dan kriminalitas cukup tinggi. Buruknya sanitasi dan pengairan Rio de Janeiro jadi penyebab berjangkitnya berbagai penyakit, seperti malaria, yellow fever, dan berbagai penyakit menular lainnya. Penyebaran penyakit umumnya berlangsung di musim panas, yang menimbulkan banyak korban dan kerugian negara.

Pembangunan Kota Brasilia tak berjalan mulus. Kubitschek menghadapi banyak rintangan, salah satunya membengkaknya pengeluaran negara sehingga Brasil harus mengajukan pinjaman dari negara lain. Inflasi juga sempat terjadi. Kondisi ini menyebabkan oposisi menuduhnya salah mengatur ekonomi pemerintahan.

Motto atau semboyan “50 Tahun dalam 5 Tahun” dipelintir oleh kaum oposisi menjadi “50 Tahun Inflasi dalam 5 tahun”. Oposisi juga menuduhnya korupsi atau menggelembungkan dana pembangunan. Namun, seluruh tantangan tersebut dapat dibereskan Juscelino Kubitschek. Ia melunasi semua janji politiknya dan meninggalkan kursi kekuasaan dengan damai pada tahun 1961.

Brasilia awalnya hanyalah hutan belantara dan savana datar tak berpenghuni. Lokasinya di dataran tinggi bagian tengah Brasil. Pembangunan Brasilia berlangsung dari tahun 1957 hingga 1960, atau kurang lebih 41 bulan. Tepat tanggal 21 April 1960, Kota Brasilia rampung dan secara resmi dinyatakan sebagai Ibukota Brasil oleh Presiden Kubitschek.

Kedubes Indonesia di Brasil

Presiden Sukarno dan Presiden Juscelino Kubitschek, dalam pertemuan mereka, membicarakan upaya peningkatan kerja sama kedua negara. Indonesia dan Brasil menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1953. Namun, hubungan keduanya belum terjalin terlalu kuat. Indonesia dan Brasil sama-sama belum punya kantor perwakilan. Saat di Brasilia, Kubisak menyinggung Sukarno mengenai masalah itu. “Tuan Sukarno, kapan pemerintah Indonesia membangun kantor perwakilannya di negeri kami?” tanya Kubitschek. “Segera, Tuan presiden,” jawab Sukarno.

Awal percakapan itu berlanjut pada kisah penentuan lokasi kantor perwakilan Indonesia di Brasilia, yang kemudian menjadi cerita turun-temurun yang cukup unik hingga kini. Sukarno dan Juscelino Kubitschek terbang dengan helikopter untuk melihat Kota Brasilia dari ketinggian. “Tuan Presiden, silahkan Anda memilih lokasi tempat kedutaan Indonesia,” kata Juscelino Kubitschek. “Baiklah,” kata Sukarno, sambil menimang-nimang tongkat komandonya. “Saya akan menjatuhkan tongkat saya ini ke daratan, dan di titik jatuhnya tongkat ini akan berdiri kantor perwakilan Indonesia,” kata Sukarno.

Tongkat itu akhirnya jatuh di wilayah Nações Quadra 805 Lote 20. Dan di atas tanah seluas 2,5 hektare tersebut berdiri Kedutaan Indonesia. Sukarno dan Kubitschek hadir dalam peletakan batu pertama pembangunannya.

Cerita penentuan lokasi Kedutaan Indonesia ini lestari jadi cerita dari mulut ke mulut, meski tidak ada catatan resminya. Sebagian mempercayainya, ada juga yang menganggapnya mitos. 

Gagasan untuk Pindah Ibukota 

Presiden Sukarno mengagumi Brasilia sebagaimana ia kagum pada kota-kota besar dunia lainnya, seperti New York, Roma, Beograd, Moskow, dan Tokyo. Ia kagum karena Brasilia adalah kota baru, dibangun di atas lahan tak berpenghuni, tapi kemudian ‘disulap’ jadi sebuah kota moderen dengan model yang cantik. Pengerjaannya pun berlangsung cukup singkat, hanya 41 bulan.

Presiden Sukarno dalam pidato peringatan Ulang Tahun ke-435 Kota Jakarta, tanggal 22 Juni 1962, menceritakan kekagumannya terhadap Brasilia. Menurutnya, Indonesia dapat mencontoh Brasil tentang bagaimana perlunya memiliki visi jauh ke depan dalam pembangunan ibukota.

“Saya tadi berkata Brasilia, ibukota daripada Negara Brasil. Di tengah-tengah padang hutan. Negara Brasil adalah satu negara yang luas, rakyatnya lebih daripada enam puluh juta manusia. Tadinya kotanya adalah Rio de Janeiro, tetapi dianggap perlu memindahkan kota itu. Maka, meskipun di tengah-tengah Negeri Brasil itu hanyalah tanah kosong dan pepohonan saja, di situ didirikan satu kota yang megah, namanya Brasilia, dilukis, diproyek oleh arsitek termashur: Lee Mayer Paris,” kata Sukarno.

Kota Brasilia mendatangkan inspirasi sekaligus tantangan bagi Presiden Sukarno. Sebagai seorang arsitek, Sukarno punya gagasan perlunya memindahkan ibukota dari Jakarta ke tempat lain yang lebih tepat dan representatif, sebagaimana Brasil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Sukarno ingin memutus memori kolonial yang identik dengan Jakarta—atau Batavia di masa penjajahan Belanda.

Palangkaraya 

Beberapa sumber menyebut Presiden Sukarno punya gagasan memindahkan ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Namun, gagasan ini tidak dapat diwujudkan mengingat Indonesia saat itu tengah dibelit masalah ekonomi, pada tahun 1959. Indonesia juga masih memprioritaskan perjuangan merebut kembali Irian Barat dari Belanda yang membutuhkan dana dan atensi yang besar (Wijdan, dari “Dunia dalam Genggaman Bung Karno 2” dalam Samudrafakta.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

B.M. Diah

PSII di Zaman Jepang