Presiden Sukarno Berkunjung ke Maroko dan Mendapat Anugrah Bintang Mahkota
Perpustakaan Negara memiliki koleksi surat kabar langka koran Merdeka tanggal 19 Mei 1960 berjudul Kunjungan Sukarno ke Maroko. Keterangannya adalah "Kunjungan Kenegaraan Presiden Soekarno ke Negeri Maroko di bulan Mei 1960. Di sana Bung Karno memperoleh anugrah Bintang Tertinggi Maroko yaitu Ordre Tu Trone (Bintang Mahkota). Selain itu melakukan peresmian salah satu jalan raya di pusat kota Rabat (ibukota Maroko) yang diberi nama Shariah Ahmad Sukarno”. Lebih lanjut dikatakan, "Sukarno meresmikan jalan atas namanya di Maroko. Di sana juga ada jalan Jakarta dan bunderan Bandung."
Hendri F. Isnaeni dalam artikelnya pada Historia.ID, 22 Okt 2020, menulis bahwa Presiden Sukarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 14.40 tanggal 2 Mei 1960 dan disambut oleh Raja Maroko Mohammed V, Putra Mahkota Moulay Hassan, Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Abdullah Ibrahim, para menteri, pembesar sipil dan militer, serta korps diplomatik. Sementara itu pasukan berkuda dari suku Berber dikerahkan di dekat bandara. Mereka menembakkan bedil sebagai tanda gembira. Rakyat menyambut di sepanjang jalan dari bandara sampai kota Rabat.
Selanjutnya Isnaeni mengutip H. Imrad Idris yang menulis buku Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat. Ketika itu Imrad bergabung dalam misi khusus yang mempersiapkan kunjungan Presiden Sukarno ke Maroko. Imrad menulis , “Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuka dengan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat."
Lebih lanjut Imrad menulis bahwa sebelum memasuki kota Rabat, iringan mobil berhenti untuk upacara adat. Kepada Sukarno disajikan buah korma dan susu. Setelah memasuki kota Rabat, iringan diatur agar melewati bagian-bagian kota yang dihuni rakyat. Rakyat berjejal di tepi jalan mengelu-elukan Presiden Sukarno dan Raja Mohammed V.
Jalan Ahmed Sukarno dan Rondpoint de Bandung
Sesampainya di bagian baru kota Rabat, iringan mobil berhenti. Kali ini untuk mempersilakan Presiden Sukarno menggunting pita peresmian nama jalan atas namanya, yakni sharia Al-Rais Ahmed Sukarno. Jalan ini berdekatan dengan Kantor Pos Pusat.
Sebelum kedatangan rombongan Sukarno, sebuah jalan lain di tengah kota Rabat telah diganti namanya menjadi "zankat Jakarta." Di Casablanca, sebuah bunderan diberi nama "rondpoint de Bandung."
Presiden Sukarno kemudian menuju ke Istana Dar-es-Salaam untuk menginap. Besoknya, Presiden Sukarno disertai sebagian besar rombongan, dengan pesawat Constellation Royal Air Maroc berangkat ke kota Marrakech, 260 km di selatan Rabat. Presiden Sukarno didampingi Putra Mahkota Moulay Hassan. Penyambutan di Marrakesch sama dengan di Rabat, dimulai dengan upacara adat, kemudian keliling kota dan melihat gedung-gedung bersejarah.
Malamnya, Presiden Sukarno dan 16 anggota rombongan dijamu Raja Mohammed V dalam acara Banquet Royal di Istana Dar-es-Salaam. Dalam jamuan resmi ini Raja Mohammed V menyambut Presiden Sukarno sebagai seorang pahlawan revolusi kemerdekaan dunia Islam dan seorang pemimpin perjuangan Indonesia yang tangguh.
Dalam pidato balasan, Presiden Sukarno menegaskan pentingnya kedudukan negara-negara Asia dan Afrika dalam stabilitas perdamaian dunia. Dia berharap peristiwa-peristiwa yang mulai bergolak di Afrika mendapatkan perhatian dan penilaian yang tepat. Menurutnya, tanpa keadilan politik dan sosial terhadap negara-negara Afrika yang baru merdeka tidak akan dapat terlaksana pengertian yang baik antara negara-negara itu dengan dunia luar.
Presiden Sukarno Mendapat Anugrah Bintang Mahkota
Raja Mohammed V menganugerahkan Bintang Mahkota (Orde du Trone) kepada Presiden Sukarno. Sebaliknya, Presiden Sukarno menganugerahkan Bintang Sakti kepada Raja Mohammed V. Presiden Sukarno juga menyerahkan bantuan sebesar $10.000 dolar untuk korban gempa bumi di kota Agadir pada 25 Februari 1952 yang menewaskan lebih dari separuh penduduknya.
Meski ini merupakan kunjungan Sukarno ini yang pertama ke Maroko, namun rakyat Maroko terutama anak-anak muda telah mengenal Presiden Sukarno karena pidatonya di pembukaan Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955. Melalui Presiden Sukarno, Indonesia sudah dikenal luas di Maroko.
Pidato Presiden Sukarno telah memberi semangat dan harapan kepada perjuangan rakyat Maroko untuk merdeka. Seorang mahasiswa Maroko mengatakan kepada Imrad, “Bagi saya pidato Presiden Sukarno di Konferensi Asia Afrika menambah keyakinan saya untuk lebih gigih meneruskan perjuangan bangsa kami yang waktu itu sedang melalui taraf yang sulit sekali.”
Ada pula pemuda Maroko yang bercerita, “Saya bersama beberapa teman sedang ada di restoran ketika mendengar berita tentang pembukaan Konferensi Asia Afrika. Serentak kami berpekik: Vive Bandung! tanpa menyadari agen-agen polisi pemerintah masih merajalela. Segera seorang Prancis berpakaian preman mendatangi kami, tetapi kami semua sempat melarikan diri.”
Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara
Ternyata Indonesia pernah membentuk Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara sebagai wujud konkret mendukung kemerdekaan Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Panitia ini diketuai oleh Mohammad Natsir, Sekretaris Jenderal Hamid Algadri, Bendahara I.J. Kasimo, anggota A.M. Tambunan dan Arudji Kartawinata.
Panitia menyediakan kantor bagi utusan dari Maroko, Tunisia, dan Aljazair, di Jalan Cik Ditiro No. 56 Jakarta Pusat. Mereka antara lain Taieb Slim dan Tahar Amira dari Tunisia; Lakhdar Brahimi dan Muhammad Ben Yahya, Muhammad Yazid, dan Husen Ait Ahmad dari Aljazair; dan Allal al-Fassi dari Maroko.
“Allal al-Fassi adalah pemimpin besar partai Islam, Istiqlal, dan karismanya di masa itu setaraf karisma Bung Karno di masa lampau,” kata Hamid Algadri dalam Suka-Duka Masa Revolusi. “Mereka ini –sesudah negeri masing-masing merdeka– menduduki tempat-tempat penting dalam pemerintahan.”
Akhirnya, perjuangan mereka dan rakyat masing-masing negara berhasil merebut kemerdekaan dari Prancis. Maroko dan Tunisia merdeka pada 1956, sedangkan Aljazair merdeka pada 1962.
Sukarno kembali mengunjungi Maroko pada 11 September 1961 setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada 1–6 September 1961. Sukarno bersama Presiden Mali Modibo Keita mengunjungi beberapa negara (Austria, Maroko, Amerika Serikat, dan Jepang) untuk menyampaikan hasil KTT Non-Blok. Mereka disambut oleh Raja Hassan II, pengganti Raja Mohammed V yang meninggal pada 26 Februari 1961.
Bebas Visa
Tanti Widyastuti, Minister Consuler Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Rabat, mengatakan bahwa Raja Mohammed V memberikan hadiah kepada Presiden Sukarno berupa pembebasan visa bagi warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko.
“Sampai sekarang warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko dibebaskan dari visa selama tiga bulan. Ini merupakan bukti kedekatan hubungan antara Maroko dengan Indonesia yang telah terjalin sejak lama,” kata Tanti (kabar24.bisnis.com).
Kota Kembar
Hubungan diplomatik yang baik itu ditindaklanjuti dengan kerja sama perdagangan dengan ditandatanganinya kesepakatan kota kembar antara Sumatra Barat dengan Fes Boulmane pada 11 Oktober 2014 (Historia.ID)
Dari Maroko di benua Afrika, Presiden Sukarno melanjutkan perjalanannya ke Amerika Latin, yakni ke Brasilia, Argentina dan ke Meksiko.
Komentar
Posting Komentar