Kebijakan Eisenhower Terhadap Indonesia
Pada pertengahan 1958, pemerintahan Eisenhower terpaksa mengakui bahwa campur tangannya di Indonesia telah gagal. Tak lama setelah menghentikan dukungannya kepada para pemberontak daerah, Eisenhower dengan cepat mendukung pemerintah Indonesia khususnya Angkatan Darat meskipun hanya dalam hal taktik. Tujuan yang ingin dicapai dengan Strategi Perang Dingin tetap sama : pertama, mencegah kelompok komunis menguasai Indonesia; kedua, membangun sebuah Bangsa yang terbuka terhadap Free World yang menentang komunis dan tidak menyerahkan sumber dayanya pada Blok Sino-Soviet.
Lima Bidang Pokok
Menurut Baskara T. Wardaya dalam buku Indonesia Melawan Amerika, paling tidak ada lima Bidang Pokok yang mendominasi kebijakan pemerintahan Eisenhower:
(1) PKI yang makin populer dan berkembang;
(2) Presiden Sukarno yang semakin dekat dengan PKI dan Uni Soviet;
(3) Meningkatnya pengaruh Soviet melalui bantuan militer dan ekonominya;
(4) Angkatan Darat yang dipandang sebagai sekutu paling penting untuk menghantam komunis;
(5) Pertikaian Belanda-Indonesia yang tidak kunjung selesai atas masalah Irian Barat.
Bantuan Militer
Eisenhower menjadi khawatir karena PKI bertambah kuat karena itu Washington menjalankan politik ganda , yakni melakukan kerjasama dengan pemerintah sipil di Jakarta, tetapi sekaligus juga bekerjasama dengan kalangan militer, khususnya Angkatan Darat. Pada tanggal 20 Januari 1959 Dulles menyetujui peningkatan bantuan militer hampir 100%.
Eisenhower menolak memenuhi undangan
Banyak pejabat di AS merasa jengkel dengan langkah politik Bung Karno yang mereka pandang sebagai semaunya sendiri dan makin berkembang menjadi seorang pemimpin Asia yang sulit untuk diajak bekerjasama. Presiden Eisenhower yang semakin tidak menyukai dan tidak mempercayai Bung Karno, menolak undangan yang disampaikan kepadanya untuk berkunjung ke Indonesia.
Gamang
Sementara itu, meski tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan Bung Karno, para perumus politik luar negeri AS merasa khawatir bahwa Moskow memiliki hubungan yang lebih erat dengan Presiden RI tersebut.
Para pejabat di Washington gamang bahwa suatu kebijakan yang antagonistik terhadap Bung Karno hanya akan mendorong Indonesia makin dekat dengan Uni Soviet.
Anti-Commie (Anti-Komunis)
Perubahan kebijakan terjadi. Pemerintah Eisenhower makin mengandalkan informasi yang diberikan oleh Kedutaan Besarnya di Jakarta daripada laporan intelejen yang dibuat CIA dan gugus tugas antar departemen. Washington berharap dengan berakhirnya pemberontakan daerah, Angkatan Darat akan mampu berkonsentrasi di Jawa guna memperkokoh kekuatan anti-Commie (2008 : 201-205).
Komentar
Posting Komentar