Kunjungan Presiden Sukarno ke Turki
Muhammad Abdullah Azzam dalam "Kala Rakyat Turki Mengenal Indonesia dari Kunjungan Sukarno" pada Anadolu Agency menulis bahwa Presiden pertama Indonesia Sukarno pada Jumat 24 April 1959 mengunjungi Ankara, ibu kota Turki dengan rombongan besar.
Menurutnya, kemerdekaan Indonesia dari penjajahan ternyata bukan hanya berkesan bagi rakyat Indonesia, tapi juga bangsa Turki.
Omer Faruk Kose, warga Turki di provinsi Ankara, mengenal Indonesia yang telah merdeka dari kunjungan Presiden Sukarno ke Turki.
Dia punya kesan tersendiri terhadap bapak pendiri Republik Indonesia itu.
Pada 1959, dia menyaksikan kunjungan presiden pertama Indonesia itu ke Turki, di era pemerintahan Perdana Menteri Adnan Menderes.
Kose menjadi saksi mata bersama masyarakat Turki lainnya saat Sukarno tiba di Ankara, ibu kota Turki.
“Soekarno dari mobil terbuka memberikan salam kepada masyarakat yang menyambutnya di jalanan, saya memberikan tepuk tangan kepada mereka [Sukarno dan Menderes],” ungkap Kose kepada Anadolu Agency.
“Bagi saya, yang saat itu berusia 13 tahun, momen itu bagaikan perayaan hari raya. Saya memiliki kenangan seperti itu pada masa kecil saya,” ungkap Kose.
Usai mendapat kabar Sukarno akan datang ke Ankara, Kose tak ragu untuk menyambut kedatangannya di jalan dekat rumahnya yang menghubungkan pusat kota dengan Bandara Ankara.
“Kedatangan presiden Indonesia ke Turki saat itu menjadi kegembiraan tersendiri bagi kami. Pada saat itu saya tinggal di Ankara tak jauh dari bandara. Saat Soekarno tiba, kami ingin ikut menyambutnya,” sebut Kose.
Membangun Hubungan Baik dengan Dunia Islam
Kose menuturkan PM Turki Menderes pada masa itu berusaha membangun hubungan baik dengan dunia Islam.
“Turki ingin mengubah haluan politik luar negeri karena pada zaman Perdana Menteri Ismet Inonu, Turki seolah menjadi negara bagian AS. Menderes berusaha mengubah arah itu ke geografi Islam. Dia juga mengundang pemimpin-pemimpin Islam ke Turki,” terang Kose.
Dia menuturkan saat itu dirinya dan masyarakat Turki ingin menyambut presiden dari saudara-saudara Muslimnya.
Menunggu Tiga Jam
Masyarakat, lanjut Kose, juga menunggu kedatangan Sukarno kurang lebih tiga jam dan mereka ingin melihat Presiden Indonesia. Bendera Indonesia dan Turki juga dipasang di jalan-jalan.
“Saya juga ingat foto Menderes dan Sukarno dipajang bersebelahan," kata Kose yang mengaku sudah lima kali mengunjungi Indonesia ini.
Hubungan Sejak Abad ke-12
Menurut warga Istanbul Ali Cetin, hubungan Indonesia-Turki dimulai sejak abad ke-12 di mana ulama Turki datang ke Nusantara untuk menyebarkan ajaran Islam.
“Lalu pada era Sultan Salim, Ottoman mengirim pasukannya ke Aceh untuk membantu para Muslim melawan penjajah Portugis,” ujar Cetin.
Hubungan diplomasi Indonesia Turki dimulai pada tahun 1950 pada era PM Adnan Menderes, tukas Cetin.
Mengutip tesis Ismail Ayhan dari Universitas Dicle, Presiden Indonesia Sukarno tiba di Ankara pada Jumat tanggal 24 April 1959 dengan rombongan besar.
Sukarno selama di Ankara menerima utusan negara asing dan sebuah parade militer diadakan di hipodrom kota pada Sabtu 25 April untuk menyambutnya.
Warganegara Kehormatan
Usai upacara penyambutan itu, Pemerintah Kota Ankara menganugerahkan Kewarganegaraan Kehormatan kepada Presiden Indonesia itu.
Kemudian, Soekarno pergi meninggalkan Ankara ke Istanbul dengan menggunakan kereta api.
Setelah disambut dengan upacara militer di Istanbul, Soekarno mengunjungi Istana Topkapi, Museum Hagia Sophia, Masjid Sultan Ahmet, dan Masjid Suleymaniye.
Achmad Soekarno
Pada 27 April 1959, Sukarno dianugerahi gelar kehormatan Doktor Hukum di Fakultas Hukum Universitas Istanbul (as.com.tr, 8 Agustus 2020)
Dikutip dari situs Perpustakaan Bung Karno, ia menerima gelar tersebut dengan nama Achmad Soekarno.
Ziarah ke Makam Bapak Bangsa Turki Mustafa Kemal Atatürk, di Ankara.
Selçuk Çolakoğlu dalam bukunya yang berjudul Turkey and Indonesia: From Friendship to Partnership, menulis bahwa Sukarno dalam kunjungan tersebut menuturkan rasa hormatnya kepada Atatürk. Atatürk adalah Presiden pertama sekaligus pendiri Republik Turki sejak 1923.
“Presiden Sukarno mengunjungi Turki pada 1959 dan pada kunjungannya di Makam Mustafa Kemal Atatürk di Ankara, ia menyampaikan rasa hormat yang mendalam serta terima kasihnya kepada Atatürk, dengan mengatakan bahwa dirinya terinspirasi oleh Atatürk di masa mudanya,” tulis Selçuk Çolakoğlu.
Agenda Lawatan
Satu agenda lawatan ke Ankara adalah menyampaikan keinginan bersama untuk mengembangkan hubungan bilateral dalam sektor ekonomi dan kebudayaan.
Di saat yang sama, perjanjian perdagangan Indonesia-Turki pun ditandatangani. Kesepakatan itu berlaku efektif pada 1960.
Hubungan diplomatik kedua negara sudah terjalin jauh sebelum tur dunia Sukarno. Tepatnya pada 1950, di bawah kepemimpinan Adnan Menderes, PM pertama Turki yang dipilih secara demokratis.
J.D. Legge dalam bukunya Sukarno: A Political Biography, mengungkapkan bahwa tur dunia Sukarno melibatkan hingga 12 negara dan wilayah di dunia. Mulai dari Turki, Polandia, Hungaria, Rusia, Skandinavia, Brasil, Argentina, Meksiko, Amerika Serikat (hanya Los Angeles), Jepang, Kamboja, dan Vietnam Utara.
Dikutip dari British Pathe, tur tersebut berlangsung sekitar 1-2 bulan. Di bawah absennya sang Proklamator, pemerintahan Indonesia dipegang PM Ir Djuanda (Kumparan News, 29 Oktober 2021).
Komentar
Posting Komentar