Presiden Sukarno Berkunjung ke Venezuela dan Terinspirasi Untuk Merancang Jembatan Selat Sunda


Pada pagi 27 Mei 1959 Presiden Sukarno tiba di Bandara Aeropuerto Internacional de Maiquetía (kini bernama Bandara Aeropuerto Internacional Simón Bolívar) di Caracas. Pagi itu bandara lebih sibuk dari biasanya. Ada banyak pejabat Venezuela dan satu batalion korps Infantería de Marina (Korps Marinir Venezuela) berjaga-jaga.

Hari itu Venezuela kedatangan tamu negara dari jauh yakni Presiden Sukarno dari Indonesia yang tiba untuk singgah sesaat selepas kunjungannya dari Argentina.

Presiden Sukarno menjadi presiden pertama dari negara Asia yang mampir ke kawasan itu, untuk membawa pesan persahabatan dari rakyat Indonesia sekaligus merintis hubungan diplomatik.

Dalam lawatannya ke Amerika Selatan tahun 1959 itu Presiden Sukarno menggunakan pesawat carteran Boeing 707 milik maskapai Pan American (Pan Am) Airways. Dalam rombongan ada sejumlah menteri seperti Menteri Luar Negeri (Menlu) Dr. Soebandrio.

Sebelumnya, Presiden Sukarno bertandang ke Buenos Aires, Argentina. 

Dari Argentina, agenda resmi Sukarno dijadwalkan ke Meksiko. Namun sebelum ke Meksiko, Sukarno memilih singgah selama sehari di Caracas, Venezuela.

Disambut Presiden Romulo Bentancourt 

Di Bandara Maiquetía, Presiden Sukarno dan delegasi disambut langsung oleh Presiden Venezuela Rómulo Betancourt. Kedatangannya disambut pula barisan pengawalan dan kehormatan dari 250 personel Marinir Venezuela pimpinan Mayor Felipe Testamarck.

"Di Maiquetía ia (Presiden Betancourt) didampingi Menteri Luar Negeri Ignacio Luis Arcaya. Betancourt dan Sukarno turut menginspeksi satu batalyon barisan kehormatan Marinir. Lalu dilanjutkan tur sepanjang jalur pantai dengan mobil sebelum mengadakan pertemuan tertutup,” ungkap Eladio Rodulfo González dalam Rómulo Betancourt: Más de Medio Siglo de Historia.

Dari Bandara Maiquetía, Presiden Betancourt mendampingi Presiden Sukarno menuju pusat kota melewati jalur-jalur pantai. Sesampainya di istana negara Palacio de Miraflores, Presiden Sukarno menerima sambutan penghormatan lagi dengan tembakan meriam sebanyak 21 kali.

“Setelah makan siang dengan Presiden Rumulo Betancourt di Istana Miraflores, kepada pers Sukarno menyatakan harapannya supaya antara Indonesia dan Venzuela selekasnya ada perhubungan diplomatik,” tulis harian Merdeka, 29 Mei 1989.

Jembatan Terbesar di Dunia 

Selain menyatakan ajakannya dalam menjalin hubungan diplomatik, Presiden Sukarno terkesan dengan pencapaian Venezuela yang saat dikunjunginya tengah membangun jembatan terbesar di dunia pada masanya. Jembatan yang dimaksud adalah Jembatan General Rafael Urdaneta.

Jembatan sepanjang 8,7 kilometer di atas Danau Maracaibo itu menghubungkan kota Maracaibo dengan kota-kota lain di Venezuela.

Selepas itu, Presiden Betancourt kembali mengantarkan Presiden Sukarno ke bandara. Bersama delegasi, Presiden Sukarno pun bertolak ke Meksiko.

Pencanangan Jembatan Selat Sunda 

Jembatan itu menginspirasi Sukarno untuk mencanangkan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera melalui Selat Sunda.

Ide jembatan di atas Selat Sunda sejatinya sempat digagas tokoh Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Sedyatmo pada 1960. Presiden Sukarno yang tertarik lantas meminta ITB untuk uji desain pada awal 1965.

“Kalau Venezuela, negeri kecil bisa juga mengadakan jembatan yang sekarang ini terbesar, sampai sekarang, di dunia. Lho kenapa kita tidak! Untuk keperluan ekonomi kita, untuk kemegahan bangsa kita. Satu jembatan yang lebih besar daripada Venezuela itu antara Jawa dan Sumatera,” seru Sukarno dalam pidatonya dikutip buku Bung Karno dan Islam: Kumpulan Pidato tentang Islam, 1953-1966.

Terlepas dari persoalan jembatan, Indonesia-Venezuela akhirnya membuka hubungan diplomatik secara resmi pada 10 Oktober 1959 atau lima bulan pasca-kunjungan Presiden Sukarno. namun KBRI baru dibuka di Caracas pada 1977 dan Kedutaan Venezuela dibuka di Jakarta pada 1981 (Randy Wirayuda, Historia.ID, 9 Januari 2026)

Mengenal Venezuela 

Republik Bolivar Venezuela yang lebih dikenal dengan nama Venezuela, merupakan sebuah negara yang terletak di sebelah ujung utara Amerika Selatan. Sebelumnya, Venezuela sempat berganti nama menjadi Estado de Venezuela, República de Venezuela, Estados Unidos Venezuela, lalu kembali lagi memakai nama Republica de Venezuela.

Bentuk negara ini yaitu Republik Federal yang didominasi oleh partai. Partai yang mendominasi negara ini yaitu Partai Persatuan Sosialis Venezuela. Negara ini dipimpin oleh seorang Presiden yang dipilih oleh rakyat untuk menjabat selama 6 tahun dan untuk wakil presiden dipilih langsung oleh Presiden.

Hubungan Bilateral Indonesia dengan Venezuela

Hubungan bilateral merupakan suatu hubungan yang merujuk pada kerjasama antar dua negara. Hubungan bilateral antara Venezuela dengan Indonesia mencakup berbagai bidang seperti bidang ekonomi, politik, budaya, riset, dan pendidikan.

Ada berbagai macam agenda bilateral yang diselenggarakan maupun diikuti oleh Indonesia. Untuk menjalankan dan memperkuat hubungan bilateral tersebut, Indonesia memiliki gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Venezuela yang terletak di Caracas. Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Venezuela telah berlangsung lebih dari 60 tahun.

Saat ini, dalam rangka menembus pasar non tradisional serta mendorong peningkatan ekspor produk manufaktur Indonesia ke Venezuela, KBRI Venezuela menyelenggarakan pertemuan bisnis yang berfokus pada suku cadang otomotif. Dalam pertemuan ini, KBRI juga menghadirkan Astra Otoparts Indonesia.

Tak cukup sampai disitu saja, Indonesia dan Venezuela kini tengah memperkuat kerjasama pada bidang energi. Pemerintah sadar bahwa energi mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan ekonomi. Oleh sebab itu, kedua negara sepakat untuk berbagi peluang bisnis dari bidang energi yang difokuskan pada bidang minyak dan gas.

KBRI Venezuela juga aktif menyelenggarakan festival atau pameran yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Seperti pameran pariwisata dan kebudayaan Indonesia, turnamen bowling, dan bazaar yang menyediakan ragam kuliner khas Indonesia.

Perlu diketahui bahwa meskipun Venezuela sedang menghadapi krisis, hubungan bilateral antara Indonesia dengan Venezuela masih tetap berjalan dengan baik. Inflasi yang terjadi merupakan masalah internal yang membutuhkan kerjasama dan solusi domestik.

KBRI Venezuela 

Untuk bisa mendapatkan layanan KBRI Venezuela, Anda bisa datang langsung ke KBRI Venezuela yang berlokasi di Caracas, Republik Bolivaria Venezuela. Alamat lengkapnya berada di Avenida El Paseo, con Calle Maracaibo, Quinta “Indonesia”, Prados Del Este, CARACAS, Venezuela. Jam layanan KBRI Venezuela yaitu pada hari kerja, Senin hingga Jumat jam 9 pagi hingga 3 sore waktu setempat (Traveloka.com)

Solidaritas untuk Venezuela

Menurut BBC News, Venezuela yang kini sedang dilanda krisis ternyata memiliki kedekatan emosional secara historis dengan Indonesia. Faktor itu yang kemudian mendorong para aktivis membuat gerakan solidaritas untuk Venezuela.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Venezuela mulai terjalin sejak 1959 pada masa pemerintahan Sukarno. Sejak itu, kerjasama dalam sektor perdagangan dan pariwisata terus terjalin.

Pada tahun 1960-an, Sukarno begitu populer di Venezuela, dan negara-negara Amerika Latin umumnya, atas usahanya menginisiasi Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika. Dia dikenal sebagai tokoh sosialis dan anti imperialisme.

Foto-foto Sukarno banyak ditemukan di sekolah-sekolah di Venezuela, kata Surya Anta, inisiator Solidaritas untuk Venezuela.

"Bagi mereka [Sukarno] dipandang disejajarkan dengan Simon Bolivar yang membebaskan Venezuela dari penjajahan, sebagai tokoh anti-kolonialisme mereka memandangnya," ujar Surya kepada BBC News Indonesia, Jumat (08/02).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

B.M. Diah

PSII di Zaman Jepang