Bung Karno Mengakhiri Lawatannya di Amerika Latin dengan Berkunjung ke Meksiko


Berbagai penjuru Meksiko dilanda kerusuhan selepas kematian Nemesio Rubén Oseguera Cervantes alias El Mencho. Bos kartel narkotika itu tewas dalam serangan pasukan Meksiko ke markas kartel Jalisco New Generation yang dikendalikannya. Amerika Serikat mengklaim membantu penyerbuan itu (kompas.id). Seperti itulah Meksiko hari ini. Berbeda  saat Bung Karno berkunjung tahun 1959 setelah mengunjungi Brasil, Argentina dan Venezuela.

Bung Karno Berkunjung ke Meksiko

Dalam lawatannya ke negara-negara Amerika Latin, Meksiko menjadi negara terakhir yang dikunjungi Presiden Sukarno. Sebagai penghormatan, pemerintah Meksiko meresmikan sekolah Indonesia di Meksiko.

Martin Sitompul dalam Historia.ID, 31 Okt 2024 menulis, "Di Bandara Ezeiza, Buenos Aires, Presiden Arturo Frondizi melepas keberangkatan Presiden Sukarno. Dari Argentina, Bung Karno meneruskan perjalanan ke Meksiko pada 26 Mei 1959. Setibanya di Mexico City, ibu kota Meksiko, Presiden Adolfo Lopez Mateos menyambut rombongan Bung Karno di lapangan terbang. Dia gembira atas kunjungan perdana Bung Karno ke Meksiko."

Martin mengutip Harian Umum yang terbit 29 Mei 1959, "Presiden Sukarno dalam sambutannya menyatakan, bahwa kedatangannya di Meksiko membawa salam dari rakyat Indonesia kepada rakyat Meksiko guna mempererat persahabatan kedua bangsa. Selesai upacara penyambutan di lapangan terbang Mexico City, kedua kepala negara kemudian menuju ke Hotel Belgrado."

Kedekatan Soekarno dengan Meksiko

Firda Aulia Rachmasari menulis dalam goodnewsfromindonesia.id bahwa nama Bung Karno sudah dikenal luas di penjuru dunia sebagai salah satu inisiator Gerakan Non-Blok (GNB) dan Konferensi Asia Afrika. Ia getol mendorong negara-negara di dunia, termasuk Amerika Tengah dan Selatan untuk keluar dari polarisasi dua blok besar dunia dan bergabung dengan non-blok. 

Melansir dari indonesia.go.id, Sukarno menganggap perlunya ruang bebas di tengah konstelasi Blok Barat dan Blok Timur. Menurutnya, dengan adanya ruang netral atau non-blok itu, tatanan dunia akan lebih berkeadilan dan mendorong perdamaian.

Demi mewujudkan misi besarnya itu, Soekarno bertandang ke berbagai negara, termasuk salah satunya Meksiko. Bahkan, Soekarno sampai mengunjungi negara ini tiga kali selama masa kepemimpinannya.

Presiden pertama RI ini juga dekat dengan Presiden Meksiko, Lopez Mateos. Di kunjungan pertamanya pada 26 Mei 1959, Soekarno disambut gembira oleh Lopez.

Lopez juga pernah memberikan kehormatan besar bagi Soekarno untuk bisa memberikan pidatonya di hadapan Parlemen Meksiko. Pidato Soekarno yang menyebut bahwa Indonesia dan Meksiko pemiliki persamaan sebagai negara bekas jajahan Barat itu menuai decak kagum dari anggota parlemen.

Dalam lawatannya itu, Soekarno juga sempat meresmikan salah satu sekolah yang diberi nama La Escuela Republica de Indonesia (Sekolah Republik Indonesia) di daerah Tacuba, Meksiko. Hal ini semakin membuktikan kedekatan Sukarno dengan negara asal taco itu.

Indonesia dan Meksiko sendiri memulai hubungan diplomatiknya pada 6 April 1953. Akan tetapi, saat itu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Meksiko baru benar-benar dibuka di bulan Juli 1956. Kini, KBRI Meksiko juga merangkap untuk negara sahabat lainnya, yaitu Republik Guatemala, Republik El Salvador, dan Belize.

Meksiko juga menganggap Sukarno sebagai tokoh yang ikonik karena berhasil mengeluarkan Indonesia dari jerat kolonialisme. Tak hanya itu, Meksiko memandang Bung Karno sebagai pemimpin yang gigih memperjuangkan perdamaian dunia.

Ada Jejak Soekarno di Jantung Kota Meksiko

Berdiri gagah di jantung Kota Mexico, patung Soekarno menjadi simbol kedekatan bilateral Indonesia dan negara di Amerika Latin itu. Patung ini didesain khas seperti patung-patung Sukarno yang lumrah dijumpai di beberapa kota di Indonesia—lengkap dengan peci hitam dan jas ‘revolusioner’ kebanggaannya.

Patung ini terletak di Taman Sukarno, Venustiano Carranza, Meksiko, dan memiliki tinggi sekitar 3 meter. Menariknya, lokasi tamannya masuk dalam area program pemerintah Meksiko yang bernama corridor de la nacionares atau koridor bangsa-bangsa.

Meksiko sendiri sudah memiliki berbagai patung tokoh-tokoh terkemuka seluruh dunia, seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, Simon Bolivar, Winston Churcill, Josep Broz Tito, Ho Chi Minh, sampai Abraham Lincoln.

Bukti Persahabatan Indonesia Meksiko

Patung Soekarno itu menjadi bukti keharmonisan hubungan Indonesia dan Meksiko. Patung tersebut juga menjadi simbol penguat dan pengingat jejak sejarah kedua negara yang semakin erat berkat Sukarno.

Menukil dari Arsip Kemenko PMK, dikatakan bahwa pemerintah Kota Meksiko menawarkan pembangunan Sang Proklamator sebanyak dua kali, yakni tahun 1998 dan 2016. Di tahun 2016 itulah rencana pembangunannya digodok.

Patung tersebut akhirnya diresmikan pada 26 September 2019. Peresmiannya dihadiri oleh 150 undangan, termasuk Puan Maharani, cucu Sukarno.

Sosok Sukarno yang berdiri gagah di tengah kota itu dibuat oleh Edyza Ponzanelli, asal Meksiko. Menariknya, di bagian belakang patung, ada lima pilar tinggi. Konon, pilar-pilar itu melambangkan Pancasila (Firda Aulia Rachmasari, goodnewsfromindonesia.id, 10 September 2025).

Kunjungan Balasan Presiden Meksiko

Menurut ANRI, hubungan diplomasi Indonesia dan Meksiko diresmikan pada 6 April 1953.  Dilanjutkan dengan kunjungan Presiden Sukarno ke Meksiko pada tahun 1958 (sebenarnya 1959, penulis), dan kunjungan balasan Presiden Meksiko Adolfo López Mateos ke Indonesia pada tahun 1962.

SDN Meksiko

Salah satu bukti persahabatan kedua Negara, yaitu dengan penamaan salah satu SD di Jakarta menjadi SDN Meksiko dimana budaya kedua negara dipelajari hingga memperingati  Hari Kemerdekaan/Nasional kedua negara. 

Begitupula di Meksiko, dimana tiga sekolah dinamai Indonesia, yaitu 'Escuela de la Republica de Indonesia' di daerah Tacuba, dan 'Escuela de la Republica de Indonesia' di daerah Itzapalapa, serta 'Colegio Indonesia' di daerah Coacalco, Estado de Mexico. (ANRI)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

B.M. Diah

PSII di Zaman Jepang