Kunjungan Paman Ho


Kunjungan Paman Ho di Indonesia merupakan kunjungan pertama yang dilakukan Presiden Ho Chi Minh di negara-negara Asia Tenggara setelah kemenangan Dien Bien Phu pada tahun 1954. 

Ketika itu  pada satu hari akhir bulan Februari 1959, pemimpin Vietnam dengan jenggot dan rambut yang sudah ubanan, turun dari pesawat dan melambaikan tangannya kepada rakyat Indonesia dengan senyuman yang hangat.

Ketika menyambut Paman Ho di bandara Kemayoran, bandara internasional Indonesia yang pertama di Jakarta, Presiden Sukarno menyebut Presiden Ho Chi Minh dengan sebutan yang sangat akrab "Paman Ho", seperti halnya rakyat Vietnam yang menyebut beliau dengan penuh kasih sayang. Presiden Ho Chi Minh juga menyebut Presiden Sukarno dengan sebutan yang sangat dekat "Bung Karno", cara menyebut yang penuh rasa cinta dari rakyat Indonesia terhadap Presiden Soekarno.

Dalam pidato sambutannya, Presiden Sukarno menyatakan rasa hormat dari bangsa Indonesia terhadap Presiden Ho Chi Minh: 

“Seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, 85 juta orang dengan baik mengenal Anda sebagai pejuang kemerdekaan, sebagai seorang pejuang melawan kolonialisme dan imperialisme, sebagai seorang pekerja keras untuk keadilan sosial. Rakyat Indonesia sangat menggagumi Anda. Dan sungguh kami senang atas kehadiran Anda hari ini di sini" (Buku "Kunjungan Presiden Ho Chi Minh di Indonesia", 1959).

Berkunjung ke Beberapa Provinsi 

Dalam kunjungan selama 10 hari di Indonesia, Paman Ho  mengunjungi banyak provinsi seperti Jakarta,  Jawa Barat (Bandung), Sumatra Utara (Medan), Bali dan Jawa Timur (Surabaya), kampung halaman Presiden Sukarno. Beliau kemana saja, rakyat  berteriak: "Hidup Paman Ho, Vietnam - Indonesia".

Dalam kunjungannya, Paman Ho berpidato di depan DPR. Di sini, Paman Ho telah menunjukkan kesamaan antara kedua negara dalam perjuangan menentang kaum kolonialis dan merebut kembali kemerdekaan Tanah Air. Sebagaimana kita ketahui, Presiden Sukarno mendeklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, dan hanya setengah bulan kemudian, pada tanggal 2 September 1945, Presiden Ho Chi Minh juga secara resmi membacakan deklarasi kemerdekaan, melahirkan Republik Demokrasi Vietnam.

Anak Angkat 

Dari kunjungan ini, Presiden Ho Chi Minh telah membuat ikatan saudara dengan Presiden Sukarno, dan menerima putrinya,  Megawati, sebagai anak angkat (m.vovword.vn).

Ketika mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta pada tanggal 27 Februari tahun 1959, Presiden Ho Chi Minh mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa dengan datang ke Indonesia, "kami tidak anggap diri kami sebagai pengunjung, tapi sebagai saudara yang datang ke rumah saudara/saudarinya sendiri" (rmol.id).

Kunjungan Balasan

Tiga bulan kemudian, Presiden Sukarno  melakukan kunjungan ke Vietnam, mulai dari tanggal 24 sampai 26 Juni tahun 1959. Setiba di bandara, beliau  berteriak "selamat datang kakak sulung-ku" dan melapangkan tangan memeluk Paman Ho.

Presiden Ho Chi Minh senang bertemu kembali dengan saudaranya.  Jutaan orang Vietnam dari daerah perkotaan sampai ke pedesaan, dari unit tentara, anak-anak  sekolah, buruh pabrik dan badan-badan, semuanya dengan senang hati menyambut sahabat besar bangsa Vietnam.

Dalam rapat umum untuk menyambut Presiden Indonesia, di depan lebih dari 20 juta penduduk Kota Hanoi, Paman Ho membuat beberapa kalimat puisi Kieu (satu jenis puisi rakyat Vietnam):

  "Jauh di mata, dekat di hati/Teman yang sesungguhnya, saudara yang sesungguhnya"

dan berbagi pandangan:

“Bersatu, bersatu, dan bersatu/ Kesulitan apa pun juga bisa kita atasi semuanya/Musuh mana pun juga bisa kita kalahkan semuanya/Kemenangan besar mana pun bisa kita peroleh semuanya"

Bintang Perlawanan 

Dalam kunjungan ini, Paman Ho mengatas-namai rakyat Vietnam menyampaikan Bintang Perlawanan Kelas Satu kepada Presiden Soekarno pada tanggal 27 Juni 1959. Merasa terharu atas perasaan Presiden Ho Chi Minh dan rakyat Vietnam, Presiden Soekarno mengatakan: 

“Saya telah banyak mendengar tentang semangat heroik dari rakyat Vietnam, dan sekarang saya telah dengan mata kepala sendiri melihat semangat itu. Satu negara seperti itu, rakyat seperti itu, dengan semangat dan pemimpin seperti itu, pasti akan menang. Kedua negara memiliki keyakinan yang kuat, dan dengan demikian kita berdiri teguh. Kita adalah sahabat-sahabat, kawan-kawan sekesatuan”. 

Sebelum pulang, Presiden Soekarno mengangkat tinggi tangannya dan berbicara dengan keras: "Hidup Vietnam!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Struktur Pemerintahan Sipil Pada Masa Pendudukan Jepang

Kasman Singodimedjo (1908-1982)