Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Masjid Istiqlal (Kemerdekaan)

Masjid Istiqlal merupakan mesjid terbesar di Indonesia yang terletak di Taman Wijayakusuma, Jakarta. Istiqlal berarti kemerdekaan. Nama itu diberikan oleh Presiden Sukarno karena Taman Wijayakusuma dikenal sebagai lambang pemerintahan Hindia Belanda. Untuk menghapus lambang pemerintahan Hindia Belanda, didirikanlah Masjid Istiqlal di tempat itu sebagai lambang kemerdekaan Republik Indonesia. Frederik Silaban  Rancang bangun masjid yang berkapasitas 100.000 orang ini disayembarakan pada tahun 1954 dan dimenangkan oleh arsitek Frederik Silaban. Menurut Silaban, seorang arsitek tidak terikat oleh agama dan kesukuannya dan harus dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang dimiliki.Perencanaan masjid ini seratus persen asli, tidak meniru masjid manapun kecuali memenuhi persyaratan-persyaratan sayembara. Pembangunan  Pembangunan masjid ini dimulai tahun 1961. Pada tahun 1977 konstruksi beton bertulang dan bangunan gedung utamanya selesai. Sejak saat itu, meski sarana pelengkap...

Monumen Nasional

Ide pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang terletak di kota Jakarta ini berasal dari Presiden Sukarno, yang menetapkan bahwa bangunan harus mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, melambangkan api yang berkobar, sifat yang dinamis, dan memberikan kesan bergerak. Sayembara Dua kali diadakan sayembara, tak ada yang keluar sebagai juara pertama.  Sayembara pertama diikuti 55 peserta, hanya menghasilkan pemenang ketiga, yaitu arsitek F. Silaban.  Sayembara kedua yang diikuti 222 peserta, tak ada pemenang.  Presiden Sukarno kemudian menyerahkan soal ini kepada Ir. Soedarsono. Silaban dan Soedarsono kemudian mengajukan rancangan kepada Presiden Sukarno, yang kemudian disetujui. Panitia Panitia pembangunan dibentuk dua kali, pertama di tahun 1954, yang diganti tahun 1959, kemudian disempurnakan lagi dengan surat keputusan Presiden tahun 1961. Sebagai konsultan pembangunan ditunjuk Ir. Rooseno, ahli konstruksi beton bertulang di Indonesia. Pembangunan  Pembangunan Mona...

Bendungan Ir. H. Djuanda aka Bendungan Jatiluhur

Memasuki era Demokrasi Terpimpin,  Indonesia memulai pembangunan infrastruktur besar besaran. Salah satunya adalah Bendungan Jatiluhur yang sebenarnya bernama Bendungan Ir. H. Djuanda. Selayang-pandang Waduk Jatiluhur dibangun dengan membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai seluas 4.500 km persegi. Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Ir. Soekarno dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967. Pembangunan bendungan Waduk Jatiluhur menelan dana US$ 230 juta. Nama bendungan waduk dinamakan Ir. H. Juanda dikarenakan perjuangan beliau dalam pembiayaan pelaksanaan konstruksi Bendungan Jatiluhur. Ia yang merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan memimpin kabinet Karya (1957 – 1959) bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional. Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Waduk Jatiluhur menenggelamkan 14 Desa den...

Sultan Hamid II (Sultan Pontianak VI)

Cikal bakal Garuda Pancasila berawal ketika Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dengan anggota antara lain Sultan Hamid II, yang ketika itu menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas permintaan mereka, dibuat beberapa lambang. Biografi Muhammad Yamin sudah kami sampaikan. Berikut ini biografi Sultan Hamid II. Sayang nama beliau tidak kami temukan pada lema  Ensiklopedia Nasional Indonesia karena itu kami mencarinya dari sumber yang kami anggap kredibel. Berikut ini ada tulisan dari Boyke Sinurat yang dimuat pada RRI.co.id. Sultan Hamid II lahir pada 12 Juli 1913 di Pontianak, dari pasangan Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (Sultan Pontianak ke-VI) dan Ia berasal dari garis keturunan langsung Syarif Abdurrahman Alqadrie, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak pada tahun 1771. Sebagai bangsawan, Sultan Hamid II mendapatkan pendidikan elit sejak kecil. Setelah menamatkan pendidikan dasar di Pontianak, ia melanjutkan ke Europeesche Lagere S...

Garuda Pancasila Lambang Negara Indonesia

Beberapa hari yang lalu kami sudah mengunggah biografi Muhammad Yamin dan kiprahnya. Ternyata selain sebagai Ketua Depernas (Dewan Perancang Nasional) Yamin juga Ketua Panitia Lencana Negara. Cikal bakal Garuda Pancasila berawal ketika Muhammad Yamin menjadi Ketua Panitia Lencana Negara dengan anggota antara lain Sultan Hamid II, yang ketika itu menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas permintaan mereka, dibuat beberapa lambang. Beberapa Rancangan  Pada rancangan pertama nampak gambar banteng, mata hari dan pohon kelapa dalam sebuah lingkaran bertuliskan Republik Indonesia Serikat. Pada rancangan kedua nampak figur burung garuda berdiri di atas sebuah bantalan bunga teratai (padma), di dalam lingkaran bertuliskan Republik Indonesia Serikat. Kepala garuda berambut ikal. Tangan garuda memegang perisai yang terbagi menjadi empat bidang. Bidang pertama bergambar banteng, bidang kedua bergambar pohon beringin, bidang ketiga bergambar batang padi dan b...

Jasa Indonesia untuk Sudan

Victor Maulana menulis pada sindionews.com bahwa Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Abdurahman Alrahim al-Sidig menceritakan bagaimana andil Presiden pertama Indonesia, Sukarno dalam membantu kemerdekaan Sudan. Sidiq mengatakan, semuanya berawal dari Konferensi Asia-Afrika (KAA).  Sidig menuturkan, pada saat KAA pertama, Sudan sejatinya belum diakui oleh banyak negara sebagai negara yang merdeka. Namun, Presiden Sukarno kala itu sudah mengakui Sudan sebagai negara merdeka dan bersikukuh Sudan harus dilibatkan dalam KAA.  "Presiden Sukarno mengibarkan bendera Sudan pertama dalam sejarah, yakni sebuah kain putin dengan tulisan Sudan berwarna merah di bagian tengahnya," ucap Sidig kala melakukan jumpa wartawan di kantor Kedutaan Besar Sudan di Jakarta pada Kamis (19/1).  "Bendera tersebut masih ada di museum Asia-Afrika di Bandung." "Satu tahun setelah pengibaran itu, dengan semangat Deklarasi Bandung Presiden Sudan pertama Ismail al-Azhany mendeklarasikan kemerdek...

Jasa Indonesia untuk Tunisia

Zuhairi Mishrawi Dubes RI untuk Tunisia menulis bahwa pada 29 April 1960, jalan-jalan yang dilalui Presiden Soekarno, dari Bandara ’Awinah hingga jantung kota Tunis, dipadati ratusan ribu warga yang menyambut tamu agung dari jauh. Pemandangan yang menunjukkan Tunisia sedang merayakan kebahagiaan, kemenangan, dan kebangkitan.  Zuhairi Mishrawi juga mengutip  harian Al-Shabah, koran terbesar Tunisia, yang menulis  kedatangan Presiden Sukarno ke Tunisia pada 29 April 1960 dengan  judul yang sangat memikat, ”Tunis al-Dzakirah li al-Jamil li al-Wafiyyah li al-Shadaqah Takhrun li Istiqbal al-Rais Ahmad Sukarno wa Tahtaf bi Hayat al-Za’im al-Asiyawi al-’Adhim wi Ukhuwwat al-Sya’bayn al-Syaqiqayn al-Munadlilayn” (Tunis merayakan kebaikan dan persahabatan, warga turun ke jalan menyambut Presiden Ahmad Sukarno sembari mengelu-elukan pemimpin agung Asia dan persaudaraan kedua bangsa pejuang). (Zuhairi Mishrawi, Menghidupkan Sukarno, kompas.id, 17 Juli 2022) Jasa Bung Karno...

Jalan Sukarno di Rabat Maroko

Admin Khalifah Tour menulis sebuah artikel berjudul Sang Proklamator Indonesia di Tanah Maroko. Tulisannya dimulai dengan pertanyaan, "Siapa yang tidak mengenal Soekarno?". Dilanjutkan dengan jawaban, " Seorang bapak proklamator dan menjadi presiden pertama Indonesia dari tahun 1945 hingga 1967. Keberanian, keteguhan hati, dan niat yang tulus demi Indonesia merdeka, tergambar jelas dalam tiap-tiap orasi yang ia lakukan. Menggerakkan seluruh rakyat Indonesia dalam satu keyakinan dan satu tujuan yang sama, yakni Indonesia merdeka. Namanya begitu masyhur di telinga seluruh rakyat Indonesia, bahkan di dunia." Selanjutnya Admin menyebut salah satu negara yaitu Maroko. Pemerintah Maroko menetapkan satu ruas jalan dengan nama Rue Soukarno (زنقة سوكارنو) atau jalan Sukarno di kota Rabat, Ibu Kota Maroko. Letaknya tepat berada di samping kantor pos terbesar di Maroko yang berada di pusat kota Rabat, Maroko. Kantor posnya sendiri berada di pusat kota, tidak jauh dari stasiun ...

Masjid St. Petersburg Dibuka Kembali dan Dikenal Sebagai Masjid Sukarno

Saint Petersburg, adalah ibukota Rusia ketika masih berbentuk kekaisaran. Kota itu ketika era Uni Soviet bernama Leningrad (Lenin Gorad), nama yang dinisbatkan kepada bapak pendiri Uni Soviet, Vladimir Ilyisch  Lenin. Saint Peterburg disebut sebut sebagai kota terindah di Eropa, dengan gedung-gedung berarsitektur menawan dan lanskap kota yang megah. Salah satu bangunan indah di antara deretan arsitektur kota tersebut adalah bangunan masjidnya. Keindahan Saint Petersburg atau Leningrad inilah yang kemudian menarik minat Bung Karno atau Ir.  Sukarno, Proklamator yang juga presiden pertama Republik Indonesia untuk berkunjung ke sana dalam kunjungan resminya ke Uni Soviet bersama putri kecilnya Megawati Soekarno Putri. Kunjungan Bung Karno yang hanya dua hari di Leningrad inilah yang kemudian mengubah sejarah masjid Saint Petersburg yang terlantar dijadikan gudang itu. Sebuah perubahan indah yang menjadi kenangan abadi  bagi kaum Muslim di Saint Petersburg.  Majalah Hist...

Menemukan Makam Imam Bukhari di Uzbekistan

Nama Presiden Sukarno bagi umat Islam di negara Rusia memiliki arti tersendiri, beliau sangat berjasa menumbuhkan kembali spirit Islam. Jauh sebelum  Kennedy mengundang Sukarno, pemimpin Uni Soviet, Perdana Mentri Nikita Khrushchev, pada tahun 1956 sudah terlebih dahulu mengundang Putra Sang Fajar itu berkunjung ke Rusia. Kedatangan Presiden Sukarno disambut gegap gempita oleh ribuan rakyat Uni Soviet, ketika pesawat Kepresidenan Indonesia mendarat di kota Moskow. Sekitar 150 musisi memainkan lagu Indonesia Raya, membuat Presiden Sukarno terharu. Rayuan Pulau Kelapa  Pemerintah Uni Soviet juga menginstruksikan media elektronik (TV dan radio) menyiarkan program-program khusus tentang Indonesia. Selain itu surat kabar terbesar di Rusia memasang poster Sukarno disertai satu artikel panjang berisi tentang kepemimpinannya dalam melawan imperialisme dunia barat. Bahkan lagu-lagu Indonesia seperti Rayuan Pulau Kelapa dikumandangkan dalam bahasa Rusia, yang terus-menerus disiarkan mel...

Kunjungan Bung Karno ke Baghdad

Pemerintah Irak mengaku masih menyimpan kenang-kenangan sejarah tokoh Proklamator Kemerdekaan RI, Ir. Sukarno yang pernah berkunjung ke Baghdad, Irak pada 1961. Dalam kunjungan itu, Bung Karno disambut hangat oleh Perdana Menteri Irak saat itu Mayor Jenderal Abdel Karim Qassim. Sejarah mencatat kunjungan Bung Karno ke Baghdad saat itu untuk memperkuat hubungan diplomatik, menegaskan posisi Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina, serta mengukuhkan solidaritas pemimpin dunia ketiga yang mandiri. Dokumentasi sejarah Bung Karno dan hubungan baik Indonesia dan Irak tersebut masih tersimpan rapi di Baghdad, yaitu berupa rekaman video lawas 1960-an. “Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut,” kata Al-Khalidy. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Irak secara resmi didirikan pada tahun 1950. Irak merupakan salah satu negara yang cepat mengakui kemerdekaan Indonesia, dengan pengakuan de jure pada tahun 1947, dan KBRI Baghdad kemudian dibuka pada 27 Maret 1950 unt...

Berziarah ke Makam Salahuddin Al Ayubi

Pada tahun 1957 Bung Karno diundang ke Damaskus, ibukota Suriah. Ketika itu, Presiden Suriah dijabat Syukri al-Quwatli. Dalam kunjungan itu, Bung Karno sempat berziarah ke makam pahlawan besar Islam, Salahuddin Al Ayyubi.  Dari kunjungan itu, Bung Karno mendapat fakta yang mungkin hingga kini masih jarang diketahui orang, khususnya kaum muslimin. Sebab, Salahuddin Al Ayyubi tidak hanya pahlawan besar yang berhasil membuka Palestina.  Lebih dari itu, Salahuddin juga yang mengajak seluruh kaum muslimin untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun. Tujuannya, adalah untuk selalu menjaga semangat Islam.  Peristiwa itu diungkapkan Bung Karno saat perayaan Maulid Nabi di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 6 Agustus 1963.  Dalam pidatonya, Bung Karno menceritakan pengalamannya di tahun 1957 ketika datang ke Damaskus. Pada waktu itu presidennya Presiden Suriah adalah Syukri al-Quwatli. Pada sore hari, Presiden Quatli mengajak untuk ke makam Salahuddin Al-Ayyubi....

Nkrumah

Kwame Nkrumah merupakan Presiden pertama Republik Ghana (1960) yang terletak di pantai Afrika Barat yang sebelumnya bernama Pantai Gading. Nama aslinya Francis Nwia Kofi. Nkrumah lahir di Nkroful, Ghana tahun 1909. Pada tahun 1931ia lulus dari Achimota College, lalu mengajar.  Belajar di AS Pada tahun 1935 ia meneruskan pendidikannya ke Amerika Serikat. Empat tahun kemudian ia lulus dari Universitas Lincoln, lalu mengikuti program pascasarjana di Universitas Pennsylvania. Dalam masa itu ia menjadi dosen ilmu politik pada Universitas Lincoln, sekaligus Presiden Organisasi Pelajar Afrika di Amerika Serikat dan Kanada.  Pergi ke Inggris  Pad tahun 1945 ia pergi ke Inggris untuk mengorganisasikan Kongres Pan Afrika. Dua tahun kemudian ia diundang United Gold Coast Convention kembali ke Ghana untuk duduk sebagai Sekretaris Jenderal. Pada tahun 1949 Nkrumah  memutuskan mendirikan Convention People's Party (CCP) yang memperjuangkan "berpemerintahan sendiri sekarang juga." P...

Nasser

Biografi tokoh pendiri Gerakan Non-Blok seperti Josip Broz Tito: Presiden Yugoslavia; Jawaharlal Nehru: Perdana Menteri India sudah kami sampaikan. Adapun biografi Bung Karno sudah kami unggah beberapa tahun yang lalu. Yang belum kami sampaikan adalah biografi Gamal Abdel Nasser: Presiden Mesir; dan Kwame Nkrumah: Presiden Ghana. Inilah biografi Gamal Abdel Nasser (1918-1970) Jamal Abdel 'Abd An-Nasser (Bhs. Arab) lahir di Alexandria tahun 1918. Pendidikan pertamanya di Desa Al-Khatatibah. Ia lalu tinggal di Kairo bersama pamannya. Di sekolah Nasser kerap bertikai dengan guru-gurunya, terutama yang berkebangsaan Inggris. Selama di SMA ia kerap terjun dalam berbagai demonstrasi di jalan-jalan menentang Inggris.  Selama beberapa bulan setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia masuk sekolah tinggi hukum. Ia kemudian mengikuti pendidikan militer di Royal Military Academy, dan lulus sebagai Letnan Dua. Revolusi Perwira Bebas  Ketika berdinas militer di Sudan, Nasser bertem...

Nehru

Tokoh Pendiri Gerakan Non-Blok adalah Soekarno: Presiden pertama Republik Indonesia; Josip Broz Tito: Presiden Yugoslavia; Jawaharlal Nehru: Perdana Menteri India; Gamal Abdel Nasser: Presiden Mesir; Kwame Nkrumah: Presiden Ghana. Biografi Josip Broz Tito sudah kami sampaikan. Berikutnya akan kami sampaikan biografi Jawaharlal Nehru, Abdel Nasser dan Kwane Nkrumah.  Inilah Jawaharlal Nehru: Nehru lahir di Allahabad India tahun 1889. Ia anak sulung dari empat bersaudara. Keluarganya berasal dari kasta Brahmana asal Kashmir yang pindah ke India. Hingga usia 16 tahun Nehru memperoleh pelajaran privat dari sejumlah guru Inggris. Ia kemudian bersekolah di Harrow, lalu ke Trinity College di Cambridge Inggris, tempat ia mengkhususkan diri dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Dari Trinity ia melanjutkan ke Inner Temple London dan lulus sebagai barrister (ahli hukum). Bertemu Gandhi  Nehru kembali ke India tahun 1916 dan bekerja sebagai pengacara. Pada tahun itu ia bertemu Mahatma Gandh...

Badan Penggerak Koperasi

Perkembangan Koperasi di Indonesia  Usaha koperasi pertama di Indonesia dirintis pada tahun 1891 oleh R. Ariawiriaatmaja, seorang patih dari Purwokerto. Ia mendirikan sebuah usaha simpan pinjam yang disebut Bank Penolong dan Penyimpanan dengan tujuan untuk memberikan kredit kepada pegawai pemerintah agar mereka terlepas dari lintah darat.  Dalam UUD 1945 Pasal 33, Koperasi dinyatakan sebagai bentuk usaha yang sesuai bagi perekonomian Indonesia. Hari Koperasi Indonesia  Gerakan koperasi makin berkembang pada zaman setelah kemerdekaan. Kongres Koperasi I diadakan pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya. Salah satu keputusan penting Kongres tersebut adalah ditetapkannya tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi Indonesia. Bung Hatta Bapak Koperasi Indonesia  Pada Kongres II yang diadakan di Bandung pada tahun 1950, dibentuk badan pimpinan koperasi untuk seluruh Indonesia yang dinamakan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Keputusan penting lainnya adalah dibentuknya panitia...

Gerakan Non-Blok

Untuk mengenang nama besar Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) yang didirikan 65 tahun lalu perkenankan kami menggunggah sebuah utas dari portal resmi Kementrian Luar Negeri RI tentang Gerakan Non-Blok (GNB) yang menyatakan bahwa Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, tanggal 18-24 April 1955, merupakan proses awal lahirnya GNB. KAA dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan Kepala Pemerintah dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka, dan bertujuan untuk mendorong proses dekolonisasi dan memperkuat hubungan antara negara-negara yang baru merdeka.  Selanjutnya utas tersebut memuat beberapa poin sebagai berikut : 1. Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, tanggal 18-24 April 1955, merupakan proses awal lahirnya GNB. KAA dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan Kepala Pemerintah dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka, dan bertujuan untuk mendorong proses dekolonisasi dan memperkuat hubungan antara negara-negara yang baru merdeka. 2. KAA menyepakati 'Dasasila Bandung' y...

Apakah Titoisme Itu ?

Titoisme adalah suatu aliran atau paham politik yang pada dasarnya bertumpu pada ajaran Komunisme-Marxisme murni, tetapi kemudian bergeser menjadi ajaran Komunisme Yugoslavia. Paham ini dikembangkan dan dipopulerkan oleh Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, pada tahun 1950-an.  Sesudah Perang Dunia II, Tito memangku jabatan pimpinan Partai Komunis Yugoslavia dan sekaligus sebagai Perdana Menteri. Sejak tahun 1954 hingga 1970-an Tito menduduki jabatan Presiden. Tito juga salah seorang pendiri Gerakan Non-Blok bersama Bung Karno, Nasser dan Gandhi. Selain itu, ia juga berhasil menjalankan politik luar negeri yang tidak terlalu bergantung pada Uni Soviet. Untuk mengetahui paham Titoisme ini, perlu pula melihat paham Marxisme-Komunisme, Leninisme, Revisionisme, dan Maoisme sebagai dasar pemikiran dan sekaligus pembandingnya. Dasar Pemikiran Titoisme  Titoisme adalah paham di bidang ekonomi dan politik yang senantiasa mengikuti doktrin Marxisme tentang gabungan yang diharapkan dar...