Jasa Indonesia untuk Tunisia


Zuhairi Mishrawi Dubes RI untuk Tunisia menulis bahwa pada 29 April 1960, jalan-jalan yang dilalui Presiden Soekarno, dari Bandara ’Awinah hingga jantung kota Tunis, dipadati ratusan ribu warga yang menyambut tamu agung dari jauh. Pemandangan yang menunjukkan Tunisia sedang merayakan kebahagiaan, kemenangan, dan kebangkitan. 

Zuhairi Mishrawi juga mengutip  harian Al-Shabah, koran terbesar Tunisia, yang menulis  kedatangan Presiden Sukarno ke Tunisia pada 29 April 1960 dengan  judul yang sangat memikat, ”Tunis al-Dzakirah li al-Jamil li al-Wafiyyah li al-Shadaqah Takhrun li Istiqbal al-Rais Ahmad Sukarno wa Tahtaf bi Hayat al-Za’im al-Asiyawi al-’Adhim wi Ukhuwwat al-Sya’bayn al-Syaqiqayn al-Munadlilayn” (Tunis merayakan kebaikan dan persahabatan, warga turun ke jalan menyambut Presiden Ahmad Sukarno sembari mengelu-elukan pemimpin agung Asia dan persaudaraan kedua bangsa pejuang). (Zuhairi Mishrawi, Menghidupkan Sukarno, kompas.id, 17 Juli 2022)

Jasa Bung Karno 

Pada kesempatan lain Dubes RI untuk Tunisia itu juga bercerita bahwa banyak orang Tunisia mengingat jasa-jasa perjuangan Bung Karno untuk kemerdekaan bangsanya. Menurut Zuhairi, Sukarno termasuk sosok yang berani mendukung secara terbuka kemerdekaan negara Tunisia di hadapan bangsa-bangsa barat. Salah satunya dengan membuka kantor untuk persiapan kemerdekaan Tunisia.

"Pada 1952, Bung Karno membuka kantor Persiapan Kemerdekaan Tunisia di Menteng. Yang menarik dari kantor ini adalah seluruh persiapan kemerdekaan, termasuk menggalang dukungan internasional," ungkapnya.

Selain itu, kata Zuhairi , Bung Karno merupakan salah satu presiden yang mengibarkan bendera negara Tunisia di Jakarta. Sementara, di negara lain belum berani mengakui kemerdekaan bangsa Tunisia.

"Bung Karno mengirimkan uang untuk pejuang-pejuang kemerdekaan di sana," ujarnya.

Alumnus Universitas Al Azhar Mesir itu menjelaskan, kegigihan Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan Tunisia terpatri juga dalam Konferensi Asia Afrika. Saat itu, negara Tunisia masih sebagai negara terjajah. Akan tetapi, sudah diikutsertakan dalam konferensi tersebut.

"Tunisia merdeka pada tahun 1956. Sebelum tahun itu, Bung Karno sudah menyediakan kursi untuk Tunisia agar ikut serta dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955," kata Zuhairi.

Menurutnya perjuangan kemerdekaan Tunisia tidak terlepas dari persahabatan yang dibangun antara Habib Bourgaiba dengan Sukarno. Habib Bourgaiba merupakan tokoh proklamator Tunisia yang meminta dukungan Sukarno untuk kemerdekaan negaranya.

Kiprah Bung Karno dalam memperjuangkan kemerdekaan Tunisia sampai membekas di mata rakyat di sana. Mereka sangat mencintai dan menghormati sosok Bung Karno. Bahkan Presiden pertama Indonesia ini sampai diberi gelar Pahlawan Tunisia.

"Itu diberikan saat Bung Karno menghadiri undangan dari Presiden Habib Bourgaiba tahun 1960. Dan itu disebut-sebut dalam sejarah, kunjungan Bung Karno paling bersejarah. Karena waktu itu, Bung Karno disambut oleh 100 ribu orang Tunisi." (liputan6.com, 3 Juli 2003).

Hadiah buat Bung Karno 

Sementara itu Aria Bima mengatakan bahwa Bung Karno pernah mengunjungi Tunisia pada 30 April 1960 dan berpidato di hadapan majlis nasional Tunisia. Saat kunjungannya tersebut, ribuan rakyat Tunisia tumpah ruah di jalanan kota suci muslim Kairouan menyambut sang Presiden.

Presiden Tunisia kala itu, Habib Bourguiba menghadiahkan Bung Karno jubah tradisional Arab-Afrika dan koin kuno Tunisia sebagai bentuk penghormatan kepada Bung Karno dan Indonesia (ariabima.id, 12 Juli 2021).

Jalan Bung Karno 

SETELAH Mesir dan Maroko, kini Tunisia turut mengabadikan nama bapak bangsa sang penggali Pancasila, Ir. Sukarno, menjadi nama jalan di kawasan elite ibukotanya. Peresmiannya dihelat Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia Zuhairi Misrawi tepat di hari lahir Bung Karno, Kamis, 6 Juni 2024 (Randy Wirayudha, historia.id,  13 Juni 2024).

Al Mujahidun

Menurut Dubes Zuhairi,  Bung Karno pernah mendapatkan penghargaan ”al-Mujahidun” dari Bourguiba dan disambut gegap gempita oleh ratusan ribu warga Tunisia saat ia berkunjung ke Tunis pada tahun 1960 (Dani Agus, beritamurianews.com, 7 Juni 2024).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno

Liberalisme Politik