Kunjungan Bung Karno ke Baghdad


Pemerintah Irak mengaku masih menyimpan kenang-kenangan sejarah tokoh Proklamator Kemerdekaan RI, Ir. Sukarno yang pernah berkunjung ke Baghdad, Irak pada 1961.

Dalam kunjungan itu, Bung Karno disambut hangat oleh Perdana Menteri Irak saat itu Mayor Jenderal Abdel Karim Qassim.

Sejarah mencatat kunjungan Bung Karno ke Baghdad saat itu untuk memperkuat hubungan diplomatik, menegaskan posisi Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina, serta mengukuhkan solidaritas pemimpin dunia ketiga yang mandiri.

Dokumentasi sejarah Bung Karno dan hubungan baik Indonesia dan Irak tersebut masih tersimpan rapi di Baghdad, yaitu berupa rekaman video lawas 1960-an.

“Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut,” kata Al-Khalidy.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Irak secara resmi didirikan pada tahun 1950.

Irak merupakan salah satu negara yang cepat mengakui kemerdekaan Indonesia, dengan pengakuan de jure pada tahun 1947, dan KBRI Baghdad kemudian dibuka pada 27 Maret 1950 untuk memperkuat kerja sama bilateral.

“Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat, kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak serangan terhadap Irak tahun 2003,” ujar Al-Khalidy.

Hal itu ditegaskan KUAI Kedubes Irak untuk Indonesia Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, saat bertemu dengan Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (27/4/2026). (liranews.com, 27 April 2026).

Bung Karno Menebar Benih Ikan di Sungai Tigris

Dalam sebuah tulisannya Dubes RI untuk Irak Bambang Antarikso menuturkan kisahnya tentang kunjungan Bung Karno dan ikan yang dinamakan Ikan Sukarno : 

"Tahun ini sudah keempat kalinya saya menjalani puasa Ramadan di Baghdad.

Kalau dibandingkan dengan suasana di Indonesia, suasana puasa dan Idul Fitri di Baghdad memang tidak semeriah di Indonesia.

Hal itu karena 60 persen penduduk Irak merupakan Islam Syiah, sehingga memiliki tradisi yang berbeda dengan Indonesia. Namun bukan berarti nuansa puasa tidak terasa.

Kala bulan puasa tiba, salah satu makanan khas Irak yang saya nantikan adalah masgouf atau sejenis ikan bakar.

Ada cerita menarik tentang ikan ini. Seorang warga Irak yang sudah berusia separuh baya menyebut ikan tersebut ikan Sukarno, karena konon Presiden Sukarno yang membawa bibit ikan mas dan menebarkannya di sungai Tigris saat berkunjung ke Irak pada tahun 1960." (Bambang Antarikso, cnnindonesia.com, 25 Mei 2009).

Berziarah ke Makam Imam Husain

Zuhairi Misrawi mengungkapkan bahwa Presiden pertama Republik Indonesia Bung Karno pernah berkunjung ke Karbala, Irak pada tahun 1960. 

Pria yang akrab disapa Gus Mis itu mengungkapkan hal itu pada sebuah artikel di media nasional yang merupakan catatan perjalanannya ke Karbala guna menghadiri peringatan Arba’in. 

Perayaan Arba’in merupakan prosesi perjalanan kaki dari kota Najaf menuju Karbala, tempat peristirahatan terakhir Imam Husain guna memperingati disatukannya kembali kepala cucu Nabi Muhammad SAW tersebut dengan jasadnya.

Imam Husain dibantai oleh pasukan Bani Umayyah di Karbala ribuan tahun lalu, karena menolak tunduk pada kekuasaan Bani Umayyah yang zalim.

“Bung Karno pada 1960 pernah berkunjung ke Karbala. Ia menjadikan Imam Husein sebagai sosok inspiratif, karena perjuangannya telah menginspirasi para pemimpin dunia, termasuk Mahatma Gandhi dalam melawan imperialisme dan memperjuangkan kemanusiaan,” ujar Gus Mis dalam artikelnya tersebut. 

Gus Mis pun mengungkapkan bahwa Bung Karno menegaskan kekagumannya pada figur Imam Husain dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. 

"Imam Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman,” demikian tulis Gus Mis, mengutip pernyataan Bung Karno.

Gus Mis pun menegaskan peringatan Arba'in tahun ini yang bertemakan Hubbu Husein Yajma'una, merupakan momentum untuk mempersatukan umat manusia dalam persaudaraan. 

“Seluruh umat dan kelompok harus memupuk persatuan dan persaudaraan, termasuk persaudaraan Sunni dan Syiah sebagai komunitas terbesar di dunia. Saatnya berangkulan tangan, memahami perbedaan, dan mencari persamaan dan titik temu,” ujar Gus Mis (Hiski Darmayana , gesuri.id, 19 Oktober 2019).

Berziarah ke Makam Syekh Abdul Qadir Jaelani

VOI menulis bahwa pada 3 April 1960, Presiden Sukarno berziarah ke makam ulama sufi yang kesohor, Syekh Abdul Qadir Jaelani. Kunjungan itu dilangsungkan Sukarno dalam lawatan politiknya ke Irak. 

Di sela-sela kunjungan kenegaraannya, Bung Karno menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam ulama sufi kesohor Syekh Abdul Qadir Jaelani pada 3 April 1960. Sukarno kagum kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani. Pemikiran ulama sufi tersebut banyak mempengaruhi pandangannya dalam mengenal Islam (voi.id, 2 April 2022).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liberalisme Politik

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno