Diplomasi di Forum Internasional


Pada akhir tahun 1961 Bung Karno melancarkan serangkaian kampanye diplomasi di forum forum internasional yang diikuti dengan strategi perjuangan. Dalam pidatonya di Konferensi negara-negara Non-Blok di Beograd pada bulan September 1961, Bung Karno meminta dukungan dari mereka yang hadir bagi klaim Indonesia atas Irian Barat.

Bung Karno mengibaratkan perselisihan atas Irian Barat itu sebagai "duri yang menancap dalam daging kami." Kegagalan untuk menyelesaikan persoalan tersebut akan mengancam kemerdekaan Indonesia dan perdamaian Asia maupun dunia. 

Nefos vs Oldefos

Dalam pidatonya Bung Karno membagi dunia menjadi dua yakni kubu yang mewakili kekuatan mapan dan lama sebagai Oldefos (Old Established Forces) dan kubu yang merupakan kekuatan yang baru muncul sebagai Nefos (Newly Emerging Forces), dan Indonesia siap memimpin Nefos (Wardaya, 2008:247-248).

Memory of the World 

Pidato Presiden Sukarno tersebut ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO. Sayang kami belum menemukan naskahnya. 

Menurut ANRI Pertemuan Puncak Gerakan Non-Blok (NAM) pertama berlangsung di Belgrade, Yugoslavia, dan diinisiasi oleh Ghana, India, Indonesia, Republik Arab Bersatu, dan Yugoslavia. Pertemuan bersejarah ini melambangkan sikap proaktif negara-negara Dunia Ketiga dalam mengurangi ketegangan global. Mereka menyerukan akhir dari kolonialisme, imperialisme, dan rasisme, serta advokasi untuk hidup bersama secara damai dan perdamaian global. Selama 60 tahun keberadaannya, Gerakan Non-Blok telah berkembang hingga mencakup 120 negara anggota, 17 negara pengamat, dan 10 organisasi internasional. Luar biasanya, GNB mewakili sekitar 4,3 miliar penduduk, yang setara dengan 57% dari populasi dunia, dan mencakup luas 54,53 juta kilometer persegi permukaan Bumi. Arsip dari Pertemuan Puncak Pertama Gerakan Non-Blok adalah kumpulan berharga yang mencakup 76 rekaman teks, 242 foto, 1 rekaman audio, dan 15 film (Arsip Nasional Republik Indonesia, 2022).

Upaya diplomasi Bung Karno di Beograd tidak mendatangkan hasil. Konferensi tersebut menolak mendukung posisi Indonesia dalam masalah Irian Barat. 

Ketika pada tanggal 12 September Presiden Sukarno dan Presiden Modibo Keita dari Mali bertemu Presiden 

Kennedy di Washington, tidak ada catatan pembicaraan mengenai masalah ini (Papers of President Kennedy, National Security Files, Countries, Box 113. Folder : Sukarno-Keita Visit, 9/12/61).

Masalah Irian Barat dihapuskan dari pernyataan akhir Konferensi Beograd (Non-Aligned Nations Conference et Belgrade, September 1-6, 1961).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liberalisme Politik

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno