Jakarta - Bangkok - Kabul
Pada bulan April dan Mei 1961 Presiden Sukarno berkunjung ke Thailand dan Afghanistan.
Kunjungan resmi Presiden Sukarno di Kerajaan Thailand, pada pertengahan bulan April 1961. Dari Jakarta Bung Karno tiba di Bandara Don Mueang, Bangkok, disambut langsung oleh Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit Kitiyakara bersama para pejabat sipil dan militer kerajaan, yang dilanjutkan dengan melawat ke Monumen Kemenangan (Anusawari Chai Samoraphum). Di sebuah lapangan, kemungkinan di luar kota Bangkok, Raja Bhumibol mengajak Presiden Sukarno menyaksikan pertunjukan seni budaya Thailand dari masyarakat tempatan.
Kunjungan resmi Presiden Sukarno di Kerajaan Afghanistan, pada akhir bulan Mei 1961. Di Bandara Internasional Kabul, Raja Zahir Shah dan P.M. Pangeran Mohammad Daoud Khan menyambut langsung kedatangan Presiden Sukarno dan Menteri Luar Negeri Subandrio serta rombongan pejabat Indonesia. Selama di ibu kota Kabul, Bung Karno melawat ke Istana Chihil Sutun, Istana Dilkusha, Mausoleum Kerajaan, melakukan audiensi dengan wali kota Kabul dan masyarakat setempat di Taman Shar-e-Naw, menyaksikan atraksi angkatan udara kerajaan di Lapangan Terbang Bagram, serta menghadiri resepsi di sebuah taman dan hotel ternama, berikut saling bertukar medali kehormatan dengan raja Afghanistan.
Jejak Soekarno di Afghanistan
Menurut Efrem Limsan Siregar dalam sebuah tulisannya di Pos-Kupang.Com, Selasa 30 Januari 2018 pesawat Pan American mendarat mulus di Bandara Kabul, 18 Mei 1961.
Di pinggir landasan, Raja Afghanistan Mohammad Zahir Shah dan pejabat lain berdiri menyaksikan pendaratan itu sambil menanti seseorang keluar dari pesawat itu.
Orang yang mereka nanti pun muncul. Sukarno turun dari pesawat dan disambut langsung oleh Raja Afghanistan Mohammad Zahir Shah.
Ia terlihat dengan penampilan khasnya, kacamata hitam, dan peci.
Sukarno kemudian memberikan salam hormat kepada orang-orang yang menyambut kedatangannya dalam sebuah upacara militer di bandara.
Ini adalah kunjungan pertama Presiden Soekarno ke Afghanistan.
Namun Sukarno bukanlah orang asing untuk masyarakat Afghanistan.
Masyarakat Afghanistan mengagumi Sukarno karena jasa-jasanya pada kemerdekaan Indonesia, seperti dikutip dari video Department of Press dan Information of The Royal Government of Afghanistan yang diunggah akun pranoto pranoto di YouTube, (27/3/2014).
Kemeriahan berlanjut di luar bandara
Lebih lanjut Efrem Linsan Siregar menulis bahwa sepanjang jalan kota Kabul, iring-iringan Soekarno disambut antusias masyarakat Afghanistan sambil mengibarkan bendera merah putih.
Dalam kunjungannya, Sukarno menekankan pentingnya kerjasama untuk membangun kekuatan antar negara Asia dan Afrika terutama dalam menghadapi situsai perang dingin.
Indonesia dan Afghanistan adalah negara muslim yang tak memihak blok manapun saat itu dan disebut sebagai sahabat dekat.
Sukarno menyempatkan waktu mengunjungi monumen pahlawan, meletakkan karangan bunga, dan bersama pejabat lainnya menyampaikan doanya.
Setelah itu Raja Mohammad Zahir Shah mengenalkan Sukarno dengan jajaran kabinet dan para diplomat di Afghanistan dan berlanjut pada sebuah jamuan makan.
Raja Mohammed Zahir Shah, dalam jamuan makan tersebut, menyampaikan harapannya untuk hubungan dan kerja sama antara Indonesia dan Afghanistan dapat berjalan baik (kupang.tribunnews.com).
Aryo Bhawono dalam artikelnya di detikNew, Selasa, 30 Jan 2018, menulis bahwa dalam sambutannya, Raja Zahir menyebut Sukarno bukan orang tamu asing bagi Afghanistan. Segenap rakyatnya mengenal sosok Sukarno sebagai bapak bangsa dan proklamator kemerdekaan Indonesia. Afghanistan merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Tapi negara itu baru resmi membuka kantor kedutaan di Jakarta pada 1954. Setahun kemudian, Afghanistan berperan aktif dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, 1955.
Dalam sambutannya Sukarno menyatakan, situasi politik global saat itu masih harus terus diperjuangan oleh negara-negara di Asia dan Afrika. Karena itu diantara mereka perlu bersatu dan saling bekerja sama secara erat guna menghadapi perang dingin antar dua negara Adidaya.
Usai upacara penyambutan, giliran Perdana Menteri Sardar Mohammad Daud Khan yang mendampingi Sukarno dan memperkenalkan kepada sejumlah anggota kabinet yang ikut hadir menyambut di Bandara Udara Kabul.
Tak cuma karangan bunga dari tiga bocah Afghanistan, puluhan ribu warga dan pelajar di Kota Kabul menyambut dan mengelu-elukan kedatangan Sukarno. Mereka melambaikan tangan dan mengibarkan bendera merah putih kecil dari pinggiran jalan sepanjang Bandara menuju Istana Darul Aman. Sukarno dan Raja Zahir yang menumpang sedan dengan kap terbuka tampak semringah dan membalas lambaian mereka.
Setelah beristirahat sejenak, Sukarno berziarah ke makam raja-raja Afghanistan. Dia meletakan karangan bunga dan berdoa di sana. Dari Taman Makam Pahlawan, Sukarno dan Raja Zahir melakukan pembicaraan empat mata membahas sejumlah isu strategis kedua negara maupun kawasan.
Menjelang sore, ditemani walikota Kabul, Presiden Sukarno bertemu puluhan ribu warga Afghanistan di alun-alun kota Kabul. Di situ, seorang gadis mengalungkan sehelai syal dan memberikan medali pandu kehormatan kepada Sukarno.
Pada malam harinya, Raja Zahir menggelar jamuan makan malam yang dihadiri para pejabat dan perwakilan diplomatik negara-negara sahabat. Dan keesokan harinya, Sukarno diajak sang Raja menyaksikan atraksi pesawat militer. Sukarno juga sempat diperkenalkan kepada empat pilot pesawat tempur yang telah menampilkan atraksinya.
Raja Zahir sepertinya benar-benar sangat menghormati Sukarno dan berupaya menyenangkan tamu kehormatannya itu. Dari bandara militer, dia menggelar jamuan ringan di sebuah taman. Iringan musik tradisional dan lantunan lagu-lagu rakyat Afghanistan berkumandang selama jamuan.
Di malam kedua, giliran Sukarno yang menjamu sang raja dan Perdana Menteri Sardar Mohammad Daud Khan di sebuah Hotel di Kabul. Sebelum itu, Sukarno dan Daud saling bertukar cindera mata. Lawatan Sukarno berakhir pada 20 Mei (news.detik.com)
Komentar
Posting Komentar