Monumen Nasional
Ide pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang terletak di kota Jakarta ini berasal dari Presiden Sukarno, yang menetapkan bahwa bangunan harus mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, melambangkan api yang berkobar, sifat yang dinamis, dan memberikan kesan bergerak.
Sayembara
Dua kali diadakan sayembara, tak ada yang keluar sebagai juara pertama.
Sayembara pertama diikuti 55 peserta, hanya menghasilkan pemenang ketiga, yaitu arsitek F. Silaban.
Sayembara kedua yang diikuti 222 peserta, tak ada pemenang.
Presiden Sukarno kemudian menyerahkan soal ini kepada Ir. Soedarsono. Silaban dan Soedarsono kemudian mengajukan rancangan kepada Presiden Sukarno, yang kemudian disetujui.
Panitia
Panitia pembangunan dibentuk dua kali, pertama di tahun 1954, yang diganti tahun 1959, kemudian disempurnakan lagi dengan surat keputusan Presiden tahun 1961. Sebagai konsultan pembangunan ditunjuk Ir. Rooseno, ahli konstruksi beton bertulang di Indonesia.
Pembangunan
Pembangunan Monas tak berjalan mulus. Tahap pertama terhenti tahun 1965 akibat meletusnya Gestok (Gerakan Satu Oktober).
Pembangunan tahap kedua dimulai tahun 1966, berlangsung sampai 1968.
Tahap ketiga berlangsung tahun 1969-1976, dan pembangunan terakhir dilakukan tahun 1979 (Budiyono Kambali, 2004 :366-367).
Struktur
Bagian pertama Monas merupakan podium setinggi 5 meter, bertangga 26, yang melambangkan jumlah provinsi di Indonesia saat itu.
Di podium ini terdapat cawan tugu setinggi 17 meter yang luasnya 45x45 meter. Angka ini melambangkan tanggal dan tahun kemerdekaan Indonesia.
Di dalam cawan tugu ini terdapat Ruang Kemerdekaan. Tinggi ruangannya 8 meter, sebagai lambang bulan Agustus, bulan kemerdekaan.
Di dalam Ruang Kemerdekaan terdapat empat atribut kemerdekaan.
Di bagian barat terdapat lemari gapura terbuat dari perunggu seberat 4 ton dilapisi emas murni 22 kilogram. Pintu ini membuka dan menutup setiap satu jam. Di dalamnya terdapat peti kaca antipeluru untuk menyimpan salinan naskah proklamasi kemerdekaan serta rekaman ulang suara Presiden Sukarno yang dibuat tahun 1953. Bendera Sang Saka Merah Putih yang dilibatkan saat proklamasi kemerdekaan disimpan dalam peti kaca itu sampai tahun 1964 kemudian dipindahkan ke Istana Merdeka.
Pada bagian selatan terdapat lambang negara, Garuda Pancasila, terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton yang dilapisi emas murni 22 kilogram.
Pada bagian timur terdapat duplikat Sang Saka Merah Putih berukuran 2x3 meter.
Di sebelah utara terdapat peta kepulauan Indonesia yang terbuat dari perunggu dilapisi emas 22 kg. Berat perunggu tidak diketahui.
Menuju Puncak
Dari cawan tugu terdapat lift untuk mencapai pelataran
puncak, yang tingginya 115 meter dari permukaan tanah.
Di pelataran puncak ini terdapat nyala obor kemerdekaan setinggi 14 meter dengan garis tengah 6 meter, terbuat dari 77 lempengan perunggu seberat 14,5 ton dan dilapisi emas murni seberat 32 kilogram.
Museum Sejarah
Dari cawan tugu, ada tangga ke bawah menuju ruang museum sejarah yang terletak 3 meter di bawah permukaan tanah. Luas ruangannya 80x80 meter. Pada keempat dindingnya terdapat 48 diorama sejarah perjuangan bangsa Indonesia, hasil karya seniman Akademi Senior Rupa Yogyakarta pimpinan Eddie Soemarsono.
Komentar
Posting Komentar