Nehru
Tokoh Pendiri Gerakan Non-Blok adalah Soekarno: Presiden pertama Republik Indonesia; Josip Broz Tito: Presiden Yugoslavia; Jawaharlal Nehru: Perdana Menteri India; Gamal Abdel Nasser: Presiden Mesir; Kwame Nkrumah: Presiden Ghana.
Biografi Josip Broz Tito sudah kami sampaikan. Berikutnya akan kami sampaikan biografi Jawaharlal Nehru, Abdel Nasser dan Kwane Nkrumah.
Inilah Jawaharlal Nehru:
Nehru lahir di Allahabad India tahun 1889. Ia anak sulung dari empat bersaudara. Keluarganya berasal dari kasta Brahmana asal Kashmir yang pindah ke India. Hingga usia 16 tahun Nehru memperoleh pelajaran privat dari sejumlah guru Inggris. Ia kemudian bersekolah di Harrow, lalu ke Trinity College di Cambridge Inggris, tempat ia mengkhususkan diri dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Dari Trinity ia melanjutkan ke Inner Temple London dan lulus sebagai barrister (ahli hukum).
Bertemu Gandhi
Nehru kembali ke India tahun 1916 dan bekerja sebagai pengacara. Pada tahun itu ia bertemu Mahatma Gandhi dalam pertemuan tahunan Partai Kongres Nasional India di Lucknow. Nehru dan ayahnya adalah pengagum Gandhi.
Menjadi Sekjen Partai
Nehru bergiat di Partai Kongres sejak 1919. Pada tahun 1921 ia dipenjara pemerintah Inggris. Pada tahun 1923 hingga 1923 ia menjadi sekjen partai, dan sejak itulah peranannya sebagai pemimpin politik mulai menonjol.
Perjalanannya ke Eropa dan Uni Soviet pada tahun 1926-1927 menjadi penentu pemikiran politik dan ekonominya. Ia mengagumi Marxisme dan sosialisme namun tidak pernah melihat keduanya sebagai aliran pembebas sepenuhnya. Ia menerapkan beberapa saja yang sesuai dengan kondisi India.
Menjadi Presiden Partai
Pada tahun 1929 ia ditunjuk Gandhi menjadi presiden partai. Seluruh rakyat India melihat Nehru sebagai anak emas Gandhi. Ketika itu terjadi huru-hara di jalan-jalan menentang beberapa kebijakan antara Inggris dan India (Pakta Gandhi-Irving, 1931), Gandhi dan Nehru yang dituduh sebagai dalangnya dan dipenjarakan oleh Inggris.
India Berpisah dengan Pakistan
Pada tahun 1935 lahirlah India Act yang memberlakukan sistem ekonomi di seluruh provinsi di India. Kemudian diperlakukan juga sistem pemilihan umum. Partai Kongres berjaya di hampir semua provinsi, kecuali di beberapa Provinsi yang dikuasai Liga Muslim yang dipimpin oleh Mohammad Ali Jinnah. Jinnah meminta adanya pemerintahan koalisi Liga Kongres - Muslim di beberapa provinsi. Partai menolaknya. Nehru sendiri menilai keputusan partainya itu tidak bijaksana.
Mulailah terjadi konflik antara Partai Kongres dan Liga Islam. Konflik ini menjadi konflik antara Hindu dan Islam. Konflik ini menjadi awal pemisahan Pakistan dari India pada tanggal 15 Agustus 1947.
Tokoh Non-Blok
Di dunia internasional Nehru mewakili negaranya dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955. Selain itu Nehru merupakan salah satu tokoh Non-Blok yang mendapat kecaman dari pemimpin Non-Blok lainnya karena dialah satu-satunya pendukung Uni Soviet dalam invasi ke Hungaria pada tahun 1956.
Sosialisme Demokratis
Nehru menjadikan Sosialisme Demokratis sebagai pedoman politiknya. Empat hal yang menjadi prinsipnya selama 17 tahun menjadi Perdana Menteri adalah demokrasi, sosialisme, persatuan dan sekulerisme (Danan Priyatmoko, 2004: 72-74).
Ia pelopor sistem pemerintahan parlementer di negaranya dan terkenal dengan politik jalan tengahnya (netral) dalam masalah internasional. Seorang putrinya, Indira Priyadarshini menjadi Perdana Menteri India.
Keluarga Berpendidikan Tinggi
Keluarga Nehru terkenal sebagai keluarga berpendidikan tinggi. Adik perempuannya, Vijaya Lakshmi Pandit, adalah wanita pertama yang duduk sebagai Ketua Majelis Umum PBB.
Nehru Berkunjung ke Indonesia
Menurut Majalah Historia pada unggahan di akun facebooknya tanggal 7 Juni 1950, Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru berkunjung ke Indonesia memenuhi undangan Presiden Sukarno. Dalam kunjungan selama sepuluh hari, Nehru menjalani agenda di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan terakhir di Bali.
Pada awal Indonesia merdeka, Indonesia dan India saling membantu. Pada 1946, pemerintah Indonesia mengirimkan 500 ribu ton beras kepada India yang tengah dilanda kelaparan. Bantuan ini sering disebut diplomasi beras. Sementara itu, Nehru memberikan dukungan kepada kedaulatan Indonesia melalui forum PBB dan menghelat Asian Relations Conference pada 1947.
Nehru berkunjung ke Indonesia disertai putrinya, Indira Gandhi dengan dua putranya, Rajiv dan Sanjay Gandhi. Indira kemudian menjadi Perdana Menteri India (1980-1984), tetapi berakhir tragis, mati dibunuh pada 1984. Anaknya, Rajiv Gandhi yang menjabat Perdana Menteri India (1984-1989) juga mati dibunuh pada 1991 (Majalah Historia, 7 Juni 2025).
Komentar
Posting Komentar