Berziarah ke Makam Salahuddin Al Ayubi
Pada tahun 1957 Bung Karno diundang ke Damaskus, ibukota Suriah. Ketika itu, Presiden Suriah dijabat Syukri al-Quwatli. Dalam kunjungan itu, Bung Karno sempat berziarah ke makam pahlawan besar Islam, Salahuddin Al Ayyubi.
Dari kunjungan itu, Bung Karno mendapat fakta yang mungkin hingga kini masih jarang diketahui orang, khususnya kaum muslimin. Sebab, Salahuddin Al Ayyubi tidak hanya pahlawan besar yang berhasil membuka Palestina.
Lebih dari itu, Salahuddin juga yang mengajak seluruh kaum muslimin untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun. Tujuannya, adalah untuk selalu menjaga semangat Islam.
Peristiwa itu diungkapkan Bung Karno saat perayaan Maulid Nabi di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 6 Agustus 1963.
Dalam pidatonya, Bung Karno menceritakan pengalamannya di tahun 1957 ketika datang ke Damaskus. Pada waktu itu presidennya Presiden Suriah adalah Syukri al-Quwatli.
Pada sore hari, Presiden Quatli mengajak untuk ke makam Salahuddin Al-Ayyubi.
“Sore-sore saya dibawa oleh Presiden Quatli ke makam Salahuddin Al-Ayyubi, dan disitu saya bacakan Al-Fatihah 3 kali agar supaya, pertama, aku sendiri mendapat ampunan dari Allah SWT. Supaya Allah SWT memberi tempat yang sebaik-baiknya kepada Salahuddin,” beber Bung Karno.
Ketika itu, sambung Bung Karno, Presiden Quatli menanyakan kepada dirinya, apakah ia mengetahui apa jasa lain dari Salahuddin yang mungkin belum diketahuinya.
Lalu, Quatli menjawab, Salahuddin inilah orang yang selalu mengobarkan api semangat Islam. Caranya, dengan tabligh.
“Tetapi juga dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun mengadakan perayaan Maulid Nabi,” papar Bung Karno lagi.
Dengan demikian, kata Bung Karno, ada spirit keteladanan Salahuddin Al Ayyubi bahwa tiap-tiap tahun umat Islam memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, umat islam terpacu untuk meniru segala perbuatan Nabi Muhammad SAW. (Siswandi, riau24.com, 15 januari 2021).
Ulama Suriah Berkunjung ke Indonesia
Sebelum Bung Karno ke Suriah, sebelumnya seorang ulama Suriah berkunjung ke Indonesia. Nama ulama Suriah tersebut adalah Syekh Ali Thantawi. Hal itu wajar mengingat Suriah adalah negara kedua yang mengakui Indonesia, setelah Mesir.
Muhajirin dalam langit7.id, Jum'at, 24 September 2021, menulis sebuah artikel berjudul Ketika Ulama Suriah Jatuh Hati pada Indonesia, Sebut Negeri Ini Surga Dunia. Menurutnya, pada era 1953-1954 M, seorang ulama dan sastrawan kenamaan asal Suriah, Syekh Ali Ath-Thanthawi pernah datang ke Indonesia. ia berjalan-jalan mulai dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Gresik, dan beberapa tempat lainnya.
Perjalanan itu membuat beliau terinspirasi menulis buku berjudul Indonesia. Dalam buku tersebut, beliau mengibaratkan Indonesia sebagai surga. Ia menyebut surga di dunia bukan di Suriah ataupun Lebanon. Tapi ada di Indonesia.
Mengutip laman sanadmedia.com, “Dua hari (selama aku hidup 50 tahun), tak kutemukan hari yang paling indah dan membahagiakan serta membekas dalam jiwaku seperti ketika aku menjelajahi Jawa, dari barat hingga timur dengan kereta. Dari Jakarta menuju Surabaya. Aku tidak menyangka akan melihat di sepanjang jalan dan mendengar bahwa di dunia ada jalan seindah itu!,” kata Syekh Thanthawi.
Bahkan dalam buku beliau Yaum fi al-Jannah atau Sehari di Surga, beliau menggambarkan Indonesia dalam sebuah syair. Berikut syairnya:
"Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman"
Selamat ulang tahun, Indonesia!
Oh, alangkah memuncaknya rindu seorang pecinta kepadamu, Indonesia!
Meski aku jauh, ruhku dekat denganmu.
Saat berkunjung ke Tanah Air, ia menceritakan banyak hal. Ia menerangkan keindahan pulau Jawa yang dipenuhi banyak pohon kelapa, bambu serta rindang hijau pepohonan dan alunan lembut angin sepoi di persawahan.
Beliau juga menceritakan makanan-makanan khas Indonesia. di sebuah hotel, ia melihat orang-orang mengambil makanan dan sambal. Ia mengikuti dan mencicipi sambal tersebut, dan berkata, “Sambal itu neraka yang panas!” Ucap beliau mubalaghah. Selama sehari beliau tidak makan apapun karena rasa pedas yang lengket di bibir.
Tak satupun daerah yang beliau kunjungi tanpa pelajaran unik. Saat berkunjung ke Jogja, yang menjelaskan iklim keilmuan di daerah itu, ia menyebut Jogja adalah kota ilmu. Ia menyinggung Madrasah Muallimin, Pesantren Krapyak, dan hal-hal unik lainnya.
Syekh Ali juga menjelaskan tentang cara Islam masuk ke Indonesia, tentang penjajah, tentang organisasi-organisasi seperti NU, Muhammadiyah, PERTI, dan tentang Ibnu Bathuthah yang pernah ke Sumatera dan mencicipi kelapa.
Dia juga menulis potongan sejarah yang menyebut sejak zaman Dinasti Abbasiyah, Islam sudah masuk ke Indonesia. Itu bisa dibuktikan dengan kuburan Waliyullah Abdullah bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Abdul Aziz bin Abu Ja'far Mansur, khalifah Abbasiyah kedua, di Sumatera. Abdullah datang dari India menuju Sumatera.
Syekh Ali juga menyebut beberapa pesantren. Di Sumatera ia menyebut Sumatera Thawalib. Di Jawa ia menyinggung Pesantren Tebuireng dan Pesantren Tremas Pacitan. Ia juga tak lupa mendeskripsikan perempuan-perempuan Indonesia.
Syekh Ali menyebut perempuan Indonesia merupakan wanita paling manis, meskipun tidak termasuk paling cantik. Mereka seperti manis-manisan yang ada di perayaan acara maulid di Mesir, yang terbuat dari gula.
Dari situ ia sangat menghormati perempuan-perempuan tangguh yang ikut berjuang melawan penjajah. Ia meneteskan air mata saat mendapat cerita tentang wanita Indonesia yang meledakkan bom di dekat tank penjajah hingga syahid. Ia juga sangat mengagumi sosok Kartini.
Selain itu, ia memuji Presiden Soekarno sebagai raja para proklamator. Ia juga menyanjung para pahlawan seperti Jenderal Soedirman, Bung Tomo, hingga para ulama yang menulis banyak kitab sebagai panduan untuk masyarakat muslim di Indonesia ( langit7.id, 24 September 2021).
Komentar
Posting Komentar