Masjid St. Petersburg Dibuka Kembali dan Dikenal Sebagai Masjid Sukarno
Saint Petersburg, adalah ibukota Rusia ketika masih berbentuk kekaisaran. Kota itu ketika era Uni Soviet bernama Leningrad (Lenin Gorad), nama yang dinisbatkan kepada bapak pendiri Uni Soviet, Vladimir Ilyisch Lenin. Saint Peterburg disebut sebut sebagai kota terindah di Eropa, dengan gedung-gedung berarsitektur menawan dan lanskap kota yang megah. Salah satu bangunan indah di antara deretan arsitektur kota tersebut adalah bangunan masjidnya.
Keindahan Saint Petersburg atau Leningrad inilah yang kemudian menarik minat Bung Karno atau Ir. Sukarno, Proklamator yang juga presiden pertama Republik Indonesia untuk berkunjung ke sana dalam kunjungan resminya ke Uni Soviet bersama putri kecilnya Megawati Soekarno Putri. Kunjungan Bung Karno yang hanya dua hari di Leningrad inilah yang kemudian mengubah sejarah masjid Saint Petersburg yang terlantar dijadikan gudang itu. Sebuah perubahan indah yang menjadi kenangan abadi bagi kaum Muslim di Saint Petersburg.
Majalah Historia menceritakan momen itu secara rinci. Dikisahkan bahwa mata Presiden Megawati Sukarnoputri berkaca-kaca. Kisah tentang jasa mendiang Presiden Sukarno yang dibacakan Imam Besar Masjid Agung St. Petersburg, Zhapar N. Panchaev, membuatnya terharu, sewaktu berkunjung pada April 2003. Hampir 50 tahun lalu, Megawati –kala itu belum berusia sepuluh tahun– ikut rombongan ayahnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet, Agustus-September 1956.
Usai mengunjungi beberapa pabrik di Leningrad, rombongan Sukarno melanjutkan tur kotanya. Sewaktu melintasi Trinity Bridge, mata Sukarno terpaku pada bangunan biru berkubah di kejauhan. “Dalam taksiran Soekarno, bangunan itu jika sebuah masjid, mampu menampung lebih dari 3000 muslim bersembahyang berjamaah,” tulis Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia.
Sukarno membatalkan beberapa acara yang sudah dijadwalkan demi mengunjungi bangunan indah itu. “Pada hari itu pula para tamu dari Indonesia mengunjungi masjid lokal,” tulis buku Perjalanan Bung Karno!
Sukarno mendapati kondisi bangunan yang dulunya masjid itu kumuh dan tak terawat. Pemerintah Uni Soviet menjadikannya gudang peralatan medis sejak Perang Dunia II pecah; sumber lain menyebut alih fungsi terjadi tak lama setelah Revolusi Oktober 1917.
Masjid Agung Leningrad (kini Masjid Agung St. Petersburg) yang jadi gudang itu didirikan komunitas muslim St. Petersburg setelah mendapat izin dari Tsar Nicholas II pada 1910 dan diresmikan tiga tahun kemudian. “Arsiteknya, Nikolai Vasilyevich, memadukan dengan cermat ornamen ketimuran dan mosaik biru turquoise pada kubah, gerbang masjid, menara serta mihrab imamnya. Tidak heran jika masjid ini lebih terkenal dengan nama Masjid Biru,” tulis Tomi Lebang.
Sebelumnya, muslim di St. Petersburg belum memiliki masjid. “Mereka pun menyewa apartemen untuk digunakan beribadah hingga pembangunan Masjid Agung St. Petersburg pada 1913,” tulis Michael Khodarkovsky dalam Bitter Choices: Loyalty and Betrayal in the Russian Conquest of the North Caucasus.
Sukarno sedih melihat masjid termegah Eropa di luar Turki itu dijadikan gudang. Dia mengutarakan kesedihannya kepada Khruschev saat keduanya kembali bertemu di Moscow beberapa hari kemudian. “Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya,” ujar Panchaev, sebagaimana dikutip Lebang.
Sekira sepuluh hari usai kunjungannya, utusan Kremlin datang ke masjid itu dan mengatakan bahwa Masjid Agung St. Petersburg boleh difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Meski Sukarno tak pernah membicarakan masjid itu kembali setelah pertemuannya dengan Khruschev, muslim St. Petersburg tak pernah melupakan jasanya dalam memfungsikan kembali masjid agung itu.
Menurut diplomat di KBRI Moscow, M. Aji Surya dalam “Ngabuburit ke Masjid Sukarno di Rusia,” dimuat di travel.kompas.com, muslim St. Petersburg hingga kini tak pernah melupakan jasa Sukarno. Banyak Muslim setempat menyebut Masjid Agung St. Petersburg dengan Masjid Sukarno.
“Tanpa Sukarno mungkin masjid indah yang didirikan tahun 1910 ini sudah hancur sebagaimana masjid dan gereja lainnya,” ujar imam masjid, Mufti Ja’far Nasibullah, sebagaimana dikutip Surya. (M.F. Mukhti, 12 Maret 2016).
Kharisma Presiden Soekarno.
Dalam sebuah tulisannya di NU Online, Agus Sunyoto mengatakan bahwa pada tahun 1956 itu Presiden Republik Indonesia, Bung Karno bersama putri kecilnya, Megawati Soekarno Putri, mengunjungi kota Saint Petersburg yang kala itu masih bernama Leningrad.
Kekecewaan berat menerpa sang pemimpin besar revolusi Indonesia itu ketika mengetahui kondisi masjid tersebut yang diperlakukan tidak selayaknya sebagai masjid, tetapi sebagai gudang. Kekecewaan itulah yang kemudian disampaikan Presiden Sukarno kepada Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev pada jamuan kenegaraan di Kremlin. Presiden Sukarno tidak sekedar mengharapkan Kruschev memfungsikan kembali Masjid Saint Petersburg melainkan mengharapkan pula agar masjid itu boleh digunakan oleh umat Islam Saint Petersburg untuk beribadah.
Permintaan Presiden Sukarno itu seperti mustahil dikabulkan oleh presiden Uni Soviet yang tegas menerapkan Marxisme dalam bernegara.
Anehnya, sepuluh hari setelah kepulangan Presiden Sukarno ke Indonesia, secara mengejutkan keluar perintah resmi dari Kremlin untuk memfungsikan kembali Masjid Saint Petersburg, bahkan mengembalikan masjid itu kepada kaum Muslim tanpa syarat apa pun. Kado dari Presiden Sukarno itu sangat mengejutkan umat Islam Saint Petersburg, dan sejarah inilah yang kemudian menjadi sebuah kenangan manis yang abadi bagi Muslim Saint Petersburg hingga saat ini. Kharisma Bung Karno memang luar biasa, berhasil mengubah kebijakan pemerintah otoriter yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ideologisnya.
Masjid St. Petersburg
Masjid Saint Petersburg berlokasi di pusat kota Saint Petersburg, di lokasi simbolis, berseberangan dengan Benteng Peter dan Paul di pusat kota Saint Petersburg, Rusia.
Masjid Saint Petersburg pertama kali dibangun tahun 1913 di pusat kota Saint Petersburg. Kala itu masih menjadi ibukota kekaisaran Rusia. Masjid Saint Petersburg merupakan masjid terbesar di Eropa kala itu. Dibangun atas izin dari Tsar Rusia, Nicholas II. Pendirian masjid ini dinisbatan untuk memperingati 25 tahun berkuasanya Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara.
Rencana pembangunan masjid Saint Petersburg sendiri sudah digagas oleh komunitas Muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880. Namun izin pendirian masjid baru keluar di tahun 1906.
Lokasi masjid yang berada tepat di seberang benteng Peter dan Paul sempat ditentang oleh banyak pihak. Namun penentangan itu berhenti dengan sendirinya ketika Tsar Nicholas II memberikan izin bagi pembelian lahan dan pendirian masjid di lokasi tersebut, tanggal 3 Juli 1907.
Pengumpulan dana untuk pembangunan masjid itu memakan waktu selama sepuluh tahun hingga terkumpul dana sebesar 750 ribu rubbels dari beberapa sponsor kaya. Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masid. Sementara pembelian lokasi, berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdul Ahad Amir Buharskiy, Emir dari Bokara.
Untuk rancangan arsitektur masjid diadakan kontes oleh komite pembangunan masjid. Ternyata kontes arsitektur masjid itu dimenangkan oleh arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Tiga-tiganya adalah arsitek non Muslim.
Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilaksanakan 3 Februari 1910. Hadir tokoh-tokoh mewakili pemerintah, agamawan dan elit masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, Mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov.
Ide dasar bangunan masjid ini terinspirasi dari arsitektur Masjid Tamerlan's di kawasan Asia Tengah. Kubah besarnya itu di ilhami dari bangunan maosolium Gur Emir di Samarkand yang dibangun pada abad ke 15. Temboknya dihias dengan granit abu-abu tua menjadikan bangunan masjid ini tampak lebih alami dan monumental di antara bangunan sekelilingnya, Fasad depan masid dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an.
Arsitektur tradisional Islam sangat jelas pada eksterior dan interior masjid Saint Petersburg ini. Kolom-kolom yang menyanggah lengkungan-lengkunan di bawah kubah ditutup dengan pualam hijau. Di pusat ruang utama tergantung lampu gantung raksasa juga dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an. Sedangkan ruang mihrab dihias dengan keramik-keramik berwarna biru. Tembok dalam masjid penuh dengan ornamen-ornamen indah.
Masjid indah ini dilengkapi dengan dua menara setinggi 49 meter lengkap dengan kubah setinggi 39 meter. Dengan kapasitas mencapai 5000 orang jamaah. Restorasi besar besaran di tahun 1980 membuat masjid ini mampu mempertahankan rekornya sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Pemisahan antara jemaah pria dan wanita bukan dengan pemberian partisi di ruang yang sama, tapi dengan pemisahan tempat. Lantai dasar masjid diperuntukkan bagi jamaah pria sementara lantai satu masjid diperuntukkan khusus untuk jamaah wanita.
Kubah masjid ini dibuat dengan rancang bangun sarang lebah madu. Konstruksi sarang lebah madu dengan mudah terlihat pada ornamen bagian dalam kubah dengan rangkaian bentuk hexagonal berukir dalam baluran dominasi warna biru menghias bagian dalam kubah. Kubah berwarna biru nan indah itu terlihat dengan sempurna dari jembatan Trinity. Karena itu, masjid yang didominasi warna biru itu disebut penduduk dengan sebutan Masjid Biru.
Masjid Saint Petersburg mulai digunakan pertama kali pada tahun 1913, menandai peringatan 300 tahun berkuasanya keluarga Romanov di Rusia meskipun kala itu pembangunan masjid belum selesai seratus persen. Keseluruhan proses pembangunan baru selesai tujuh tahun kemudian dan rencananya akan dibuka untuk umum secara reguler dalam menyelenggarakan kegiatan peribadatan pada tahun 1920.
Runtuhnya kekuasan Tsar Rusia oleh Rezim Komunis Uni Soviet pada tahun 1917, kemudian menjadikan Masjid Saint Petersburg terbengkalai dan diubah fungsinya menjadi gudang penyimpanan perlengkapan medis dari tahun 1940 hingga tahun 1956.
Aktivitas Masjid Saint Petersburg
Di hari Jum’at sebelum Jum’at dilaksanakan, dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Khutbah disampaikan dalam dua bahasa, bahasa Tatar dan Bahasa Rusia. Tak hanya menyelenggarakan kegiatan peribadatan, Masjid Saint Petersburg juga menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan Islam terkemuka di Saint Petersburg.
Imam Masjid dan Mufti Saint Petersburg Cafer Nasibullahoglu mengatakan bahwa ketika masjid Saint Petersburg dibangun sudah ada 8000 orang muslim yang di kota itu dan sudah menjadi salah satu komunitas terbesar di Saint Petersburg kala itu.
Bandingkan dengan saat ini, Muslim di kota Saint Petersburg sudah mencapai 700.000 jiwa dan masjid-masjid di kota ini sudah tak mampu lagi menampung jamaah yang membludak, dan sudah menjadi pemandangan umum bila jamaah Jum’at di kota ini dan di kota kota lain di Rusia senantisa meluber hingga ke jalan raya (Agus Sunyoto, nu.or.id, 1 Juli 2012).
Komentar
Posting Komentar