Menemukan Makam Imam Bukhari di Uzbekistan


Nama Presiden Sukarno bagi umat Islam di negara Rusia memiliki arti tersendiri, beliau sangat berjasa menumbuhkan kembali spirit Islam.

Jauh sebelum  Kennedy mengundang Sukarno, pemimpin Uni Soviet, Perdana Mentri Nikita Khrushchev, pada tahun 1956 sudah terlebih dahulu mengundang Putra Sang Fajar itu berkunjung ke Rusia. Kedatangan Presiden Sukarno disambut gegap gempita oleh ribuan rakyat Uni Soviet, ketika pesawat Kepresidenan Indonesia mendarat di kota Moskow. Sekitar 150 musisi memainkan lagu Indonesia Raya, membuat Presiden Sukarno terharu.

Rayuan Pulau Kelapa 

Pemerintah Uni Soviet juga menginstruksikan media elektronik (TV dan radio) menyiarkan program-program khusus tentang Indonesia. Selain itu surat kabar terbesar di Rusia memasang poster Sukarno disertai satu artikel panjang berisi tentang kepemimpinannya dalam melawan imperialisme dunia barat. Bahkan lagu-lagu Indonesia seperti Rayuan Pulau Kelapa dikumandangkan dalam bahasa Rusia, yang terus-menerus disiarkan melalui radio setiap saat.

Sukarno menyetujui untuk menghadiri undangan itu, presiden pertama Indonesia ini mengajukan satu syarat kepada Nikita Khrushchev, agar sang perdana menteri bisa menemukan makam Iman Bukhari, ahli hadis yang termasyhur di dunia Islam. Awalnya penguasa Uni Soviet ini menolak, kemudian mengirim utusannya ke Jakarta agar Presiden Soekarno mengubah syaratnya, tetapi putra sang fajar bersikukuh pada permintaanya harus dipenuhi oleh pemerintah Uni Soviet. Tidak ada pilihan lain bagi Nikita Khrushchev selain mewujudkan permintaan Sukarno tersebut.

Kruschev Menyerahkan Intel-intelnya Mencari Makam Imam Bukhari 

Akhirnya Nikita Khrushchev menyanggupinya dengan mengerahkan intel-intel terbaik Soviet ketika itu, dan berhasil menemukan makam sang imam di wilayah Samarkand, di antara semak-semak belukar. Sekarang letak makam tersebut masuk bagian Negara Uzbekistan. Setelah itu, Presiden Soekarno berkunjung ke makam Imam Bukhari dan berdoa di sana ketika lawatannya ke Moskow dan Saint Petersburg di tahun 1956(Gili Argenti, indonesiana.id, 6 Maret 2025).

Sukarno Sangat Legendaris di Uzbekistan 

Sebuah tulisan di portal MPR RI menyebutkan bahwa Presiden Pertama Repubik Indonesia, Sukarno begitu sangat legendaris bagi masyarakat Uzbekistan, sebuah negara di Asia Tengah pecahan Uni Soviet yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Kepopuleran nama Presiden Soekarno berkaitan dengan kisah ditemukannya makam Imam Bukhari, seorang perawi nabi yang sangat termasyur di kalangan umat Islam. Tidak banyak yang tahu, Sukarno lah orang yang meminta pemerintah komunis Soviet agar menemukan makam tersebut. Berkat jasa Sukarno, saat ini komplek makam Imam Bukhari yang terletak di desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari Samarkand telah menjadi salah satu wisata umat Islam seluruh dunia.

Kebesaran nama Soekarno tidak hanya dikenal di seluruh penjuru Indonesia, namun menggema di seluruh dunia. Dia dikenal sebagai sosok pemimpin berani, tegas, kharismatik dan tidak mudah diatur oleh bangsa manapun. Tidak hanya bagi bangsa Indonesia, kisah kepahlawan Bung Karno juga dirasakan bagi umat Islam di dunia. Salah satunya di Uzbekistan.

Kisah tersebut bukan hanya cerita fiksi. Saat rombongan delegasi MPR RI menginjakkan kaki pertama kali di Bandar Udara Internasional Tashkent, Ibukota Uzbekistan, nama Sukarno lah yang pertama kali disebut ketika delegasi memperkenalkan diri dari Indonesia. Salah satunya adalah Elyas, seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang langsung menyebut nama Sukarno ketika berjumpa dengan delegasi yang akan menyampaikan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI kepada masyarakat Indonesia yang ada di Uzbekistan. Sukarno kata Elyas sangat melekat bagi masyarakat Uzbekistan karena dipandang memiliki jasa besar dalam menemukan makam Imam Bukhari. Elyas dan pemuda Uzbekistan mengetahui nama dan jasa Sukarno dari orang tua dan membaca buku-buku yang diterbitkan di Uzbekistan.

Menurut Israil, muazim Masjid Imam Bukhari, menjelang kedatangan Bung Karno pada tahun 1956, kondisi makam tidak terawat dengan baik dan berada di semak belukar hingga akhirnya pemerintah Soviet membersihkan dan memugar makam tersebut untuk menyambut kedatangan Sukarno. Penghormatan Sukarno terhadap Imam Bukhari dilakukannya dengan cara melepas sepatu dan berjalan merangkak dari pintu depan menuju makam ketika turun dari mobil yang mengantarnya.

“Presiden Sukarno merangkak menuju makam lalu memanjatkan doa dan dilanjutkan sholat serta membaca Al-Quran” terang Israil.

Keterangan tersebut diperkuat oleh Muhammad Maksud, penjaga makam Imam Bukhari, bahwa atas jasa Presiden Sukarno, komplek makam Imam Bukhari kini dipugar hingga terlihat sangat megah seperti saat ini. Sehingga, komplek makam seluas 10 hektar ini menjadi wisata bagi umat Islam di dunia setelah makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Sementara itu, Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR RI yang juga ketua delegasi saat mengunjungi makam Imam Bukhori (Sabtu,14/9) mengatakan kunjungannya bersama delegasi adalah untuk melanjutkan silaturahmi yang pernah dilakukan oleh Presiden RI Pertama, Soekarno di tahun 1956 dan 1961 saat berkunjung ke Samarkand serta menyampaikan amanah Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri yang juga putri Presiden Soekarno yang berpesan agar bangsa Indonesia menghormati Imam Bukhari sebagai seorang perawi Nabi Muhammad SAW yang hadist-hadistnya menjadi rujukan umat Islam sedunia.

Basarah berharap hubungan baik antara Uzbekistan dengan Indonesia baik pemerintah Indonesia dengan pemerintah Uzbekistan maupun masyarakat Indonesia dengan masyarakat Uzbekistan yang khususnya mayoritas beragama Islam.

Delegasi MPR lain yang hadir dalam acara tersebut antara lain, Zainut Tauhid (PPP), Bachtiar Aly (Nasdem), Hamka Haq (PDI Perjuangan), M. Toha (PKB), Safrudin (PAN), Deding Ishak (Golkar) dan Adrianus Garu (DPD RI) (mpr.go.id).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liberalisme Politik

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno