Nasser
Biografi tokoh pendiri Gerakan Non-Blok seperti Josip Broz Tito: Presiden Yugoslavia; Jawaharlal Nehru: Perdana Menteri India sudah kami sampaikan. Adapun biografi Bung Karno sudah kami unggah beberapa tahun yang lalu. Yang belum kami sampaikan adalah biografi Gamal Abdel Nasser: Presiden Mesir; dan Kwame Nkrumah: Presiden Ghana.
Inilah biografi Gamal Abdel Nasser (1918-1970)
Jamal Abdel 'Abd An-Nasser (Bhs. Arab) lahir di Alexandria tahun 1918. Pendidikan pertamanya di Desa Al-Khatatibah. Ia lalu tinggal di Kairo bersama pamannya. Di sekolah Nasser kerap bertikai dengan guru-gurunya, terutama yang berkebangsaan Inggris. Selama di SMA ia kerap terjun dalam berbagai demonstrasi di jalan-jalan menentang Inggris.
Selama beberapa bulan setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia masuk sekolah tinggi hukum. Ia kemudian mengikuti pendidikan militer di Royal Military Academy, dan lulus sebagai Letnan Dua.
Revolusi Perwira Bebas
Ketika berdinas militer di Sudan, Nasser bertemu dengan Anwar Sadat. Mereka adalah sebagian dari perwira yang berkomplot untuk melakukan revolusi Perwira Bebas, untuk menumbangkan kekuasaan Inggris dan keluarga kerajaan Mesir. Bersama puluhan perwira militer lainnya, ia berhasil menumbangkan keluarga kerajaan Mesir melalui kudeta hampir tak berdarah. Nasser berhasil menggagalkan keinginan Sadat untuk menghukum mati Raja Farouk dan keluarga serta pejabat istana lainnya. Ia kemudian memimpin Dewan Komando Revolusioner dalam menjalankan pemerintahan.
Pada tahun 1948 ia termasuk perwira yang terkepung pasukan tentara Israel selama berminggu-minggu.
Pada tahun 1954, Nasser mendepak Mayor Jenderal Mohammad Naguib, kepala pemerintahan boneka dan Nasser menjadi Perdana Menteri. Ia lolos dari percobaan pembunuhan.
Pada tahun 1956 Nasser memberlakukan sistem perundangan yang mensahkan Mesir sebagai negara Arab Sosialis dengan satu partai tunggal dan Islamenj sebagai agama resmi. Ia pun terpilih sebagai presiden.
Kalah Perang
Pada tahun 1967 Nasser meminta PBB untuk memindahkan pasukan penjaga perdamaiannya dari Jalur Gaza dan Sham ash-Syaikh. Akibatnya perang dengan Israel pecah. Karena kalah dalam perang itu, Nasser berniat mengundurkan diri namun ditolak oleh sebagian besar rakyatnya.
Bantuan Uni Soviet
Pada tahun 1968 Uni Soviet membantu Mesir untuk membangun Bendungan Tinggi Azwan. Uni Soviet juga memasok perlengkapan militer ke Mesir, antara lain dengan memasang rudal perlukaan ke udara di sepanjang Terusan Suez yang sudah dinasionalisasi tahun 1956.
Pada tahun 1970, Nasser menerima usaha Amerika Serikat untuk mendamaikan Mesir dan Israel (ENI Jilid 11, 2004 :35-37).
Nasser, Bung Karno dan Al Azhar
Esti Setyowati, dalam artikelnya di langit7.id, 10 October 2023 bertajuk Ulama Mesir Ungkap Peran Soekarno hingga Universitas Al Azhar Batal Ditutup, bercerita bahwa Mufti Besar Mesir DR Ali Jumah Muhammad Abdul Wahab mengungkapkan peran besar Presiden Soekarno di kelangsungan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, sehingga batal ditutup.
Diceritakan Syekh Ali Jum'ah dalam wawancaranya dengan TV Kairo, bahwa Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser sempat terpikir untuk menutup universitas tertua di dunia itu. Namun, keinginan tersebut ditentang sang sahabat, Soekarno.
Kala itu, kata Syekh Ali Jum'ah, keduanya bertemu di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1959. Di sana, Gamal Abdul Nasir mengungkapkan keinginannya tersebut.
"Apa yang mau kamu lakukan Gamal?" tanya Bung Karno saat itu.
"Hari ini aku akan menandatangani keputusan untuk menutup Azhar," jawab Naseer, seperti diceritakan Syekh Ali Jum'ah, dikutip dari kanal Sanad Media, Selasa (10/10/2023).
Soekarno pun mempertanyakan alasan Naseer tersebut, "kenapa, untuk apa kamu menutup Azhar?"
"Kamu juga mau menutup Nile dan menutup Piramida?" tanya Soekarno lagi.
Kemudian, Presiden RI pertama itu tegas mengatakan, jika bukan karena Al Azhar, seluruh dunia tidak akan pernah bisa mengenal Mesir.
"Kami tidak akan pernah bisa mengenal kalian sama sekali kalau bukan karena Azhar! Dan hubungan kami dengan kalian, adanya hubungan perdagangan dan budaya yang telah dikerjasamakan. Dan tidaklah semua kemaslahatan dan problematika yang terjadi tentang kalian selama ini, kami tidak dapat mengetahuinya kalau bukan karena Azhar!" tegas Soekarno pada Abdul Nasir.
Keinginan Naseer untuk menutup Universitas Al Azhar disebut Soekarno sebagai keputusan yang berbahaya sekaligus keliru.
"Kamu mestinya mempertahankan Al Azhar. Kamu dukung dan kuatkan Al Azhar," kata Presiden Soekarno.
Naseer kemudian memanggil sejumlah pejabat Mesir saat itu, Sulaiman Husein dan Said Aryan untuk mengkonsep undang-undang mengenai penguatan fungsi Al Azhar agar lebih dikenal oleh dunia internasional.
Dari sinilah kemudian lahir UU No. 103 Tahun 1961, di mana klausa pertama UU tersebut adalah Al Azhar sebagai rujukan Islam dunia, bukan hanya di Mesir.
Setelah itu Naseer membentuk Majelis Tinggi Urusan Keislaman dan majalah Mimbar Islam serta mendirikan Radio Al-Qur'an Al Karim.
"Naseer juga menerbitkan undang-undang pengembangan Al Azhar dan dia melakukan banyak hal lain. Kenapa? Karena dia menyadari setelah diperingatkan oleh sahabatnya, Ahmad Soekarno, bahwa sesungguhnya Al Azhar kekuatan yang dimiliki Mesir di dunia internasional," pungkas Syekh Ali Jum'ah (langit7.id).
---
Sekitar akhir tahun 2005 saya menyempatkan diri pergi ke Kairo dan berkunjung ke KBRI serta Universitas Al Azhar. Gedung KBRI adalah pemberian Nasser kepada Bung Karno.
Komentar
Posting Komentar