Gerakan Non-Blok


Untuk mengenang nama besar Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement) yang didirikan 65 tahun lalu perkenankan kami menggunggah sebuah utas dari portal resmi Kementrian Luar Negeri RI tentang Gerakan Non-Blok (GNB) yang menyatakan bahwa Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, tanggal 18-24 April 1955, merupakan proses awal lahirnya GNB. KAA dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan Kepala Pemerintah dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka, dan bertujuan untuk mendorong proses dekolonisasi dan memperkuat hubungan antara negara-negara yang baru merdeka. 

Selanjutnya utas tersebut memuat beberapa poin sebagai berikut :

1. Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, tanggal 18-24 April 1955, merupakan proses awal lahirnya GNB. KAA dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan Kepala Pemerintah dari benua Asia dan Afrika yang baru saja merdeka, dan bertujuan untuk mendorong proses dekolonisasi dan memperkuat hubungan antara negara-negara yang baru merdeka.

2. KAA menyepakati 'Dasasila Bandung' yang dimaksudkan sebagai prinsip-prinsip dasar bagi penyelenggaraan hubungan dan kerja sama antara bangsa-bangsa. Sejak penyelenggaraan KAA, proses pembentukan GNB semakin mendekati kenyataan. Dalam proses ini, tokoh-tokoh yang memegang peran kunci adalah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Ghana Kwame Nkrumah, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Indonesia Soekarno, dan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito. Kelima tokoh dunia ini kemudian dikenal sebagai para pendiri GNB.

3. GNB terbentuk melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) I di Beograd, Yugoslavia, pada 1 - 6 September 1961. KTT tersebut dihadiri oleh 25 negara yakni Afghanistan, Aljazair, Yaman, Myanmar, Kamboja, Sri Lanka, Kongo, Kuba, Cyprus, Mesir, Ethiopia, Ghana, Guinea, India, Indonesia, Irak, Lebanon, Mali, Maroko, Nepal, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, dan Yugoslavia. Negara-negara pendiri GNB ini sepakat untuk mendirikan suatu gerakan, bukan suatu organisasi, untuk menghindarkan diri dari implikasi birokratis dalam membangun kerja sama. Disepakati pula bahwa GNB diarahkan untuk membentuk posisi sendiri secara independen yang merefleksikan kepentingan negara-negara anggotanya.

4. GNB menempati posisi khusus dalam politik luar negeri Indonesia karena Indonesia sejak awal memiliki peran sentral dalam pembentukannya. Selain itu, prinsip dan tujuan GNB merupakan refleksi dari perjuangan dan tujuan nasional Indonesia sebagaimana tertuang dalam UUD 1945, khususnya semangat kemerdekaan dan anti-penjajahan. Dalam perkembangannya, GNB menjadi salah satu forum Indonesia untuk terus menyuarakan semangat multilateralisme dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional.

5. Pada awalnya GNB memang lebih banyak beraktivitas dalam isu politik, seperti dukungan bagi hak menentukan nasib sendiri, kemerdekaan nasional, kedaulatan, dan integritas nasional negara-negara anggota. Sejak pertengahan 1970-an, isu-isu ekonomi mulai menjadi perhatian negara-negara GNB.

6. Pasca runtuhnya komunisme, di awal tahun 90an, muncul perdebatan mengenai relevansi GNB. Namun demikian, negara-negara anggota berpendapat bahwa GNB tetap relevan untuk menghadapi tantangan-tantangan baru pasca Perang Dingin seperti pelucutan senjata, penciptaan perdamaian internasional, pembangunan ekonomi negara berkembang, pengentasan kemiskinan, serta pembentukan tata dunia yang lebih adil bagi negara berkembang.

7. Indonesia selalu mendorong penguatan peran GNB dalam perdamaian dan keamanan internasional, penanganan isu-isu dan ancaman keamanan global baru, serta pencapaian Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Indonesia juga selalu mendorong GNB untuk memberi perhatian pada isu Palestina, dan untuk membantu menggulirkan kembali proses perdamaian. Indonesia adalah salah satu anggota Komite Palestina GNB (kemlu.go.id, diunduh Sabtu 11 Juli 2026 pukul 08.00 WIB).

Tokoh Pendiri Gerakan Non-Blok adalah Soekarno: Presiden pertama Republik Indonesia; Josip Broz Tito: Presiden Yugoslavia; Jawaharlal Nehru: Perdana Menteri India; Gamal Abdel Nasser: Presiden Mesir; Kwame Nkrumah: Presiden Ghana.

Biografi Josip Broz Tito sudah kami sampaikan. Berikutnya akan kami sampaikan biografi Jawaharlal Nehru, Abdel Nasser dan Kwane Nkrumah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Liberalisme Politik

Pidato Muhammad Yamin

Partindo Di Bawah Sukarno