Bertemu Presiden Kennedy
Bung Karno mulai melancarkan berbagai kampanye di dalam dan luar negeri untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia atas Irian Barat. Bung Karno berpikir bahwa dengan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia, AS akan mendukung klaim Indonesia atas wilayah tersebut.
Sementara Bung Karno masih mencari jalan untuk membuat Washington mau menekan Belanda, Presiden Kennedy menyetujui saran para penasihatnya dan mengundang Bung Karno untuk bertemu dengannya di Amerika Serikat. Dengan antusias Bung Karno menyambut undangan tersebut. Ia berharap bahwa kunjungan itu akan dapat memperkokoh persahabatan Indonesia dengan AS, dan yang lebih penting akan memberinya kesempatan untuk mencari dukungan dari Kennedy bagi klaim atas Irian Barat.
Bung Karno benar-benar bertemu Presiden Kennedy di Washington pada tanggal 24 April 1961 dan beliau berbicara banyak tentang masalah Irian Barat (Baskara T Wardaya, Indonesia Melawan Amerika, 2008:245).
Irian Barat
Kennedy menanyakan keabsahan dan arti penting klaim Indonesia atas wilayah tersebut. Bung Karno membela posisi Indonesia dengan jawaban-jawaban yang amat cerdik. Memorandum pembicaraan yang ditulis oleh Departemen Luar Negeri AS menunjukkan percakapan antara keduanya yang sangat hidup.
+ Mengapa Anda menginginkan Irian Barat?
- Wilayah itu adalah bagian dari negara kami. Irian Barat harus segera dilepaskan.
+ Tetapi orang Papua itu dari ras yang berbeda.
- Apakah rakyat Amerika semuanya ras kulit putih ?
+ Mengapa Anda sangat menginginkan wilayah ini ?
- Karena wilayah itu adalah bagian dari bangsa kami.
Komunisme
Kennedy juga mengangkat topik komunisme di Asia Tenggara dan di Indonesia. Presiden AS itu ingin memastikan apakah tuduhan bahwa Bung Karno makin condong ke kelompok komunis itu benar adanya. Bung Karno mengingatkan Kennedy bahwa PKI adalah partai terbesar keempat di Indonesia seraya menambahkan bahwa 90% anggotanya adalah orang-orang nasionalis revolusioner dan hanya 10% yang benar-benar komunis. Kennedy lalu mengatakan bahwa AS ingin supaya Indonesia yang sudah merdeka itu tidak dikuasai oleh kekuatan komunis.
Menteri Luar Negeri dr. Subandrio yang juga hadir dalam pembicaraan itu, membalas pertanyaan Kennedy tersebut dengan mengatakan bahwa Indonesia tidak ingin diatur atau didikte oleh Beijing maupun Moskow. Akan tetapi Indonesia juga tidak ingin diatur oleh Washington.
Kedua pemimpin tersebut tidak mencapai kesepakatan mengenai masalah Irian Barat. Meskipun demikian Kennedy terbuka dengan pandangan Indonesia dan bahwa dia memiliki kepentingan pribadi untuk memastikan perselisihan tersebut akan berakhir dengan penyelesaian yang baik.
Kennedy juga setuju mengirimkan sebuah tim pengamat ekonomi guna membantu pemerintah Indonesia menjalankan program pembangunan ekonomi delapan tahunannya.
Washington berkepentingan untuk menunjukkan hubungan yang baik dengan Indonesia agar sengketa Irian Barat tidak memanas menjadi perang lokal. Terjadinya suatu perang lokal akan dapat membahayakan kepentingan AS di kawasan Asia-Pasifik.
Mendapat Hadiah Helikopter
Dalam Detik News diungkapkan, pada 24 April 1961, rombongan Bung Karno tiba di Washington, DC, AS. Presiden Sukarno mengisahkan hangatnya sambutan Kennedy itu kepada Cindy Adams, yang kemudian ditulis dalam buku 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia'.
"Dia (Kennedy) mendekatiku dengan langsung dan ramah sekali," kenangnya.
Dalam perjalanan menuju ruangan untuk makan siang, Kennedy menunjukkan kepada Sukarno sebuah helikopter kepresidenan yang baru di halaman Gedung Putih.
Setelah santap siang, Kennedy mengajak Sukarno keliling Washington dengan helikopter tersebut. "Aku sangat merasakan kebahagiaan, bahwa Presiden Amerika Serikat dan Presiden Indonesia terbang berkeliling bersama-sama," kata Sukarno mengungkapkan kebahagiaannya.
Kennedy menangkap raut kegembiraan sang sohib. Saat terbang di langit Washington, Kennedy menawarkan apakah Bung Karno ingin memiliki helikopter jenis Sikorsky S-61 itu. Mungkin karena gengsi, Bung Karno tak memberikan jawaban tegas.
Namun, tak sampai setahun setelah lawatannya itu, Sukarno menerima helikopter kepresidenan Sikorsky S-61 dari Kennedy. Dalam surat-menyuratnya kepada Kennedy, Bung Karno mengucapkan terima kasih atas hadiah tersebut.
"(Helikopter) itu telah terbukti sangat membantu saya terutama dalam perjalanan menginspeksi daerah-daerah," tulis Sukarno dalam suratnya di bulan Februari 1962 seperti dikutip dari buku 'Kennedy & Sukarno'.
Surat-surat Bung Karno dengan Kennedy itu tersimpan dalam perpustakaan kepresidenan JFK Library. Adapun helikopter kepresidenan jenis Sikorsky S-61 sejak Orde Baru tak lagi digunakan. Capung besi dari Kennedy itu saat ini tersimpan di Museum Transportasi Angkut di Batu, Jawa Timur (news.detik.com, 5 Desember 2017).
Komentar
Posting Komentar