Rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56
Di dermaga pelabuhan Pasar Ikan yang bacin, 9 Juli 1942 lewat tengah hari, suatu peristiwa bersejarah terjadi. Bung Karno kembali dari pengasingan.
Akhirnya ia kembali pulang. Pemerintah penjajahan yang membuangnya telah kalah. Jepang masuk, dan membawa Bung Karno kembali dari pengasingan. Di dermaga Pasar Ikan, di hari yang panas itu, ia pun bersua lagi dengan tokoh-tokoh pergerakan, antara lain Hatta. Suatu babakan baru perjuangan kemerdekaan dimulai.
Tapi apakah yang layak dikenang dari peristiwa siang itu? Bung Karno melihat Anwar Tjokroaminoto, bekas iparnya, putra tokoh pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto. Mereka berpelukan. Berciuman. Air mata Anwar terbit ,(data.tempo.com)
Eduard Lukman dalam Bung Karno, dari Oranje Boulevard ke Pegangsaan Timur 56, menceritakan bahwa setelah Bung Karno dan Inggit Garnasih mendarat di Pasar Ikan (Pelabuhan Sunda Kelapa), berdasarkan referensi dari beberapa buku memastikan bahwa Soekarno dan keluarganya tidak langsung tinggal menetap di Jalan Pegangsaan Timur 56, tetapi mulanya pernah di sebuah rumah cukup besar bertingkat dua di jalan raya daerah elite Menteng, Oranje Boulevard.
Bung Karno sendiri tidak jelas menyebut alamat rumah tinggalnya yang pertama di Jakarta. Beliau hanya mengatakan bahwa ”Jepang telah menyediakan sebuah rumah bertingkat dua dan manis potongannya, terletak di sebuah jalan raya Jakarta.”
Namun, setelah beberapa waktu, Bung Karno dan Bu Inggit merasa kurang senang tinggal di rumah bertingkat dua di Oranje Boulevard (kemudian dipastikan posisinya di Jalan Diponegoro Nomor 11) itu. Bagi mereka, rumah itu terasa tidak cukup luas untuk menerima tamu Bung Karno yang semakin banyak.
Ketidaksenangan tinggal di rumah bertingkat itu diakui sendiri oleh Bung Karno. Bu Inggit juga merasa selain rumah kurang besar, ”suamiku tidak senang naik turun tangga di rumah bertingkat itu.” Mereka ingin tinggal di rumah yang lebih besar dan nyaman dengan halaman luas.
Penuturan Chairul Basri
Selanjutnya Eduard Lukman mengatakan bahwa ada tulisan seorang pelaku sejarah yang mengetahui asal mula Bung Karno tinggal di Jalan Pegangsaan Timur 56. Dalam artikelnya berjudul ”Merah Putih, Ibu Fatmawati, dan Gedung Proklamasi” (Kompas, 16 Agustus 2001), Chairul Basri menceritakan pengalamannya ikut mencarikan rumah untuk Bung Karno.
Chairul Basri yang pensiun sebagai mayor jenderal TNI AD, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (1966-1979), kemudian menuliskan kisah itu dengan lebih rinci dalam bukunya, Apa yang Saya Ingat (2003).
Ceritanya berawal ketika Chairul Basri diminta seorang pejabat Jepang, Shimizu Hithoshi, dari badan propaganda, untuk mencarikan rumah bagi keluarga Bung Karno. Bersama seorang teman, Adel Sofyan, keduanya bersepeda berkeliling daerah Menteng.
Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56
Mereka akhirnya menemukan sebuah rumah yang luas pekarangannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Keduanya merasa rumah ini cocok bagi Bung Karno. Chairul teringat pesan Bung Karno: ”Saya ingin mendiami rumah yang luas pekarangannya agar saya dapat menerima rakyat banyak.”
Rupanya rumah itu milik seorang Belanda yang sudah diinternir Jepang. Istrinya masih menghuni rumah tersebut. Wanita Belanda itu diminta mengosongkan rumah tersebut dan dipindahkan ke Jalan Lembang, juga di daerah Menteng. Bung Karno setuju pindah ke Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.
Memang Chairul Basri tidak menjelaskan apakah rumah di Pegangsaan Timur itu rumah pertama Bung Karno di Jakarta setelah kembali dari Sumatera ataukah rumah berikutnya setelah sempat menghuni rumah di Oranje Boulevard. *)
Ketika menempati rumah yang kemudian menjadi tempat diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia, Bu Inggit Garnasih sempat tinggal di rumah tersebut. Bu Inggit merasa lebih nyaman di Pegangsaan Timur 56, yang selain luas halamannya juga memiliki banyak kamar dan ada paviliunnya.
Bercerai dengan Inggit Garnasih
Setelah bercerai dengan Bu Inggit, Bung Karno menikah dengan Fatmawati. Dalam pernikahan yang berlangsung di Bengkulu itu, Juni 1943, Bung Karno diwakili Sardjono, seorang kawan Bung Karno di Bengkulu.
Bu Fat lalu pindah berkumpul dengan suaminya di Jakarta dan tinggal di Pegangsaan Timur 56. Di rumah itulah kemudian diselenggarakan pesta pernikahan mereka, 22 Agustus 1943. Di rumah itu pulalah Bung Karno dikaruniai putra pertama, Guntur Soekarnoputra, 3 November 1944. Di sana juga Bu Fat menjahit Bendera Pusaka kita.
Sayang, bangunan asli rumah itu atas perintah Presiden Sukarno sendiri dibongkar awal 1962 (Eduard Lukman, kompas.com, 17 Agustus 2021).
*) Oranje Boulevard sekarang menjadi Jalan Diponegoro . Ada yang mengatakan setelah mendarat di Pasar Ikan Bung Karno menginap di rumah Bung Hatta di Oranje Boulevard. Info yang lain mengatakan Bung Karno menginap di Hotel Des Indes.
Komentar
Posting Komentar