Dua Bulan di Palembang

 

Dalam berbagai catatan sejarah, Bung Karno sempat singgah di kota Palembang dalam perjalanannya dari Padang menuju Jakarta. Setidaknya Bung Karno dan keluarga tinggal di Palembang selama dua bulan. Ada tiga  versi mengenai tempat tinggal Bung Karno selama di Palembang, yakni di kediaman dr AK Gani di kediaman H. Anang, dan di kediaman H. Azharie.

Versi Pertama 

Pada waktu Jepang masuk, Sukarno bersama istrinya Inggit Ganarsih, termasuk anak angkat serta pelayannya dari Pulau Ende, pergi ke Padang (Sumatera Barat).  Di Padang, Belanda tidak bisa mengawasi dan melayani Soekarno, akhirnya Belanda hanya bisa mengurus keperluan mereka sendiri karena Jepang mulai menyerang.

“Dokter AK Gani mempunyai inisiatip menjemput Soekarno dan keluarganya di daerah perbatasan dengan Jambi. Setelah di jemput pada waktu sekitar bulan Februari di bawa ke Palembang. Di Palembang Bung Karno menginap di rumah dr AK Gani, selama paling tidak menurut catatan mungkin 2 bulan.  Setelah itu dr AK Gani mengusahakan kapal untuk Soekarno untuk berangkat ke Jakarta, kemudian bung Karno sekeluarga dibawa dengan kapal ke Pasar Ikan maka sampailah di Jakarta. Itu bulan Juni. Jadi antara Februari, Maret, April, Mei, Juni, ada kemungkinan minimal waktu itu dua bulan bung Karno ada di Palembang,” kata pengamat sejarah kota Palembang Rd Moh Ikhsan. 

Dua bulan tersebut menurut dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) bukan waktu yang sebentar , sementara dalam waktu dua bulan itu menurutnya atau pada masa-masa kritis itu dr Ak Gani menyediakan tempat tinggal bagi Bung Karno.

“ Jadi luar biasa ini, dimana Soekarno dan keluarga di Palembang tinggal di rumah limas Sdr AK Gani yang terletak saat ini dekat Sumatera Shoping Center (Pasar Raya Bandung) di Jalan TP Rustam Effendi...Dimasa-masa kritis itu Bung Karno di tampung di rumah dr AK Gani selama dua bulan , bukan di losmen atau di hotel. Artinya Palembang punya peran dalam pendirian negara kita ini,” katanya.

Untuk itu dia mengusulkan rumah limas dr AK Gani yang kini berada di Jalan Merdeka samping kantor Legiun Veteran yang terlantar diperhatikan (beritapagi.co.id,  17 Juni 2026).

Versi Kedua 

Selama di Palembang, Sukarno kerap berkunjung ke rumah-rumah para pejuang dan mengadakan perkumpulan kecil.

Menurut Idris, ada lima saudagar kaya Melayu yang mendapat izin konsesi dagang oleh pemerintah Kolonial, salah satunya adalah H Anang, pemilik Rumah Singgah Sukarno. Merekalah yang memberikan dukungan ekonomi dan finansial kepada Sukarno supaya bisa bertahan.

Dari dukungan para saudagar itulah, Bung Karno bisa berkumpul dan bertemu dengan para pejuang dari Kota Palembang untuk mengobarkan semangat kemerdekaan, sebelum akhirnya dia pulang ke Batavia bersama Inggit Garnasih.

Sukarno pun pulang ke Batavia naik kapal kayu sederhana berukuran 8x3 meter mengarungi Laut Jawa yang dinakhodai oleh tentara pribumi.

Terlepas dari versi cerita yang ada, Idris menekankan bahwa kunjungan Sukarno pada masa kolonial mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pejuang di Kota Pempek.

Singgahnya Soekarno di Kota Palembang menghidupkan api perjuangan bagi para pejuang kemerdekaan yang tengah bertarung melawan pendudukan Jepang.

Hal ini diperkuat dengan cerita bahwa Soekarno sering mengunjungi dan mengadakan rapat kecil-kecilan bersama para pejuang untuk menyatukan pikiran dan menyusun strategi.

Kehadiran sosok Bung Karno di Kota Palembang juga berdampak positif pada peningkatan kekuatan pribumi. Menurut Idris, Soekarno menjadi salah satu alasan bersatunya para saudagar kaya Melayu agar menghibahkan dana untuk perjuangan.

Sukarno berhasil mengambil hati saudagar Melayu dan mengumpulkan pundi-pundi uang yang dipergunakan untuk melengkapi persenjataan serta logistik tentara pribumi.

Hal ini tak lepas dari kedekatan Sukarno dengan sejumlah tokoh Muhammadiyah dan tokoh pejuang kala itu, salah satunya adalah Adnan Kapau Gani (AK Gani)—tokoh dari organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond yang dikenal menentang keras pendudukan Jepang di Indonesia.

“Kita tidak bisa berpaling bahwa persinggahan Sukarno di Kota Palembang sangat penting terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia,” tutup Idris.

Memang tidak banyak cerita yang terdokumentasi pada masa itu tentang apa dan bagaimana Sukarno melakukan gerakannya sebagai tokoh ternama di Kota Palembang. Namun yang pasti, di manapun dia singgah, di sanalah para pemuda bersatu meneriakkan satu kata perjuangan, “Merdeka!”  (ketika.com).

Versi Ketiga 

Pelarian bung Karno ini dibantu oleh seorang tokoh Palembang yang bernama HM Azharie. HM Azharie adalah seorang saudagar kopi yang kerap bepergian ke daerah hulu Musi untuk mengumpulkan kopi, salah satunya adalah Kepahiang, Bengkulu. Di sinilah HM Azharie akhirnya berkenalan dengan Sukarno dan kemudian berteman akrab.

 HM Azharie adalah sosok yang bertanggung jawab dalam usaha penting mengeluarkan Soekarno dari Bengkulu dan mengantarnya ke Jakarta. Upaya penyelundupan Sukarno itu dilakukan HM Azharie pada tahun 1942. Dia membawa Soekarno ke Palembang, konon Soekarno disembunyikan dari Belanda di dalam kapal pembawa kopi dari Ulu Musi.

Tiba di Palembang, Sukarno menginap di rumah HM Azharie di daerah kampung 2 Ulu. 

Cucu HM Azharie Nur Ellis yang tinggal di rumah itu kelak akan mengingat sebuah ranjang besi berpegas yang tersimpan di kamar kakeknya. "Kata orang tua kami itu dulu ranjang disini dipakai tidur oleh Presiden Pertama Sukarno," katanya kepada SINDOnews. 

Dari penuturan warga kampung 2 Ulu lainnya, setiap malam Sukarno selalu beristirahat di rumah HM Azharie yang berada sekitar 50 meter dari Sungai Musi, sementara setiap siang hari Sang Proklamator berada di rumah lainnya yang berada tepat di tepi Sungai Musi sambil menunggu aba-aba berangkat dari HM Azharie. 

Setelah beberapa lama akhirnya waktu yang dinanti tiba. Sukarno kemudian mendapat mendapatkan kesempatan untuk berangkat Dia langsung menaiki perahu kecil di 2 Ulu menuju pelabuhan besar di 3 Ilir yang berada di seberang 2 Ulu. Dari sana, Sukarno lalu menumpang kapal Phinisi yang membawanya ke Jakarta. 

Kebaikan hati HM Azharie ini rupanya membekas pada diri Sukarno. Setelah Indonesia merdeka, Sukarno mengundang HM Azharie dan Maryam sang istri ke Jakarta.

---

Pada dekade 2000-an, giliran putri Sukarno yaitu Megawati yang berkunjung ke rumah HM Azharie dan disambut oleh anak-anak dan cucu-cucu mendiang.

 Bagi wisatawan yang ingin melakukan napak tilas keberadaan Sukarno di Palembang bisa berkunjung ke kampung 2 Ulu ini dengan dua cara. Pertama melalui jalur air dengan menumpang perahu dari Benteng Kuto Besak. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 10 menit. 

Kedua, melalui jalur darat melalui jalan menuju ke Stasiun Kereta Api Kertapati namun harus berbalik arah saat bertemu Jembatan Ogan, lalu masuk ke jalan pertama di sisi kiri jalan. Jalur yang ini memakan waktu sekitar 30 menit (daerah.sindonews.com, Senin, 30 Maret 2020 )

Sejarah Kota Palembang

Menurut laman Pemerintah Kota Palembang, Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1343 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. 

Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan.

Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.

Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia (palembang.co.id)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik