Che Guevara dan Borobudur


Ada  foto Che Guevara dengan latar belakang Candi Borobudur di sebuah akun Instagram. Kami mencari info lebih jauh dan mendapat artikel di Tirto.id mengenai kunjungan Che ke Indonesia tahun 1959. Artikel yang ditulis Abi Mu'ammar Dzikri

berjudul "Ketika Che Guevara Melawat ke Indonesia." Berikut ini kisahnya saat Che berkunjung ke Indonesia tahun 1959.

Melancong ke Indonesia: Misi Awal Sang Delegasi Kuba

Sebagai sebuah rezim yang baru saja melakukan revolusi, Fidel Castro merasa, Kuba perlu mengampanyekan diplomasi politik. Galangan dan dukungan internasional segera disusun. Delegasi disiapkan menuju negara-negara dengan haluan politik dan ideologi yang selaras.

Ini adalah misi yang cocok diberikan kepada Ernesto Guevara. Selain kecakapan komunikasi, Che memang terkenal hobi melancong ke berbagai penjuru dunia.

Pada medio 1959, Che memimpin delegasi Kuba dan terbang menuju ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Afrika, selama dua bulan.

Bulan Juli hingga Agustus, Che berada di Indonesia. Selama rentang waktu itu, ia melakukan rentetan kunjungan, bertemu tokoh-tokoh politik, serta tertangkap momen mengunjungi berbagai tempat penuh kesan.

Indonesia menjadi salah satu tujuan Kuba lantaran beberapa tahun sebelumnya, pemerintahannya mampu menarik perhatian dunia. Tahun 1955, Sukarno berhasil menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung dengan moto: menolak segala bentuk imperialisme dan kapitalisme global.

Mengenakan seragam militer lengkap dengan baret hijaunya, Che disambut langsung oleh Sukarno ketika tiba di Indonesia. Istana Merdeka menjadi saksi hangatnya pertemuan dua negarawan besar. Diskusi-diskusi perjuangan kemerdekaan bersahutan saling berpadu padan.

Marhaenisme 

Historial.id mengungkap, Sukarno turut memaparkan konsep Marhaenisme saat keduanya saling mengobral ramu.

Kepada Che, Sukarno menyatakan, “Ia [perubahan sejarah] harus menjebol, memporak-porandakan. Dan, dari situasi porak-poranda itu kita membangun yang baru, masyarakat yang terhormat dan memanusiakan manusia.”

Dari pertemuan itu, terjalin hubungan bilateral antara Kuba dan Indonesia. Kerja samanya difokuskan pada proyek kesehatan dan olahraga.

Delegasi Kuba itu tak memiliki banyak waktu di Indonesia. Rangkaian jadwal kunjungan ia jalani hampir tanpa jeda. Sebab, tak berselang lama dari Jakarta, ia bertolak ke Yogyakarta.

Menuju Yogyakarta 

Tanggal 31 Juli, ia sudah berada di Gedung Agung Yogyakarta. Berjalan beriringan bersama Sultan Hamengkubuwono IX, ia berkeliling kota, melihat-lihat kompleks kesultanan.

Lagi-lagi, pertemuan dengan Che tak pernah luput akan bahasan perjuangan rakyat. Baginya, perjuangan dan revolusi memerlukan medium laksana pemupuk.

Che dikenal dengan kampanyenya lewat cerutu, yang tak pernah lekang mengebas mulut. Seolah telah melekat cirikan persona khasnya.

Belum lama ia menyambangi Sultan di kompleks keraton, Che kembali bertamu ke pelabuhan selanjutnya. Pabrik cerutu tertua di Asia Tenggara, N.V. Negresco jadi sasaran kedua.

Cerutu Ernesto 

N.V. Negresco telah beroperasi sejak 1918, tetapi kemudian berganti nama menjadi Taru Martani pada 1972 oleh Hamengkubuwono IX. Taru artinya ‘daun’, sedangkan martani ialah ‘menghidupi’. Harapannya, pabrik ini menjadi perusahaan tembakau yang dapat memberi penghidupan kepada manusia.

Kenangan Che menyambangi Taru Martani dapat terlihat jelas pada foto-foto yang dipigura di salah satu ruang kafe, yang berada satu kompleks dengan pabrik. Foto lebih besar terpampang di lorong gedung, mengabadi bersama harum tembakau.

Kunjungan itu disambut dengan riang gembira. Taru Martani mengeluarkan edisi eksklusif cerutu bertajuk “ERNESTO”. Che membawa pulang oleh-oleh cerutu yang dibuat khusus untuknya.

Kini, “ERNESTO” telah diperjualbelikan dengan bebas. Satu bungkus berisi tiga batang berukuran sedang, dengan desain simbol singa kuning bermahkota, berlatar warna merah bulat.

Sensasinya cukup nikmat dan dalam. Rasa creamy dari fermentasi tembakau pilihan menghasilkan aroma halus dengan tarikan yang berani, bak merepresentasikan semangat revolusi Che.

Melancong ke Borobudur 

Belum berhenti dari Yogyakarta, Che langsung tancap gas menuju pendaratan terakhir. Tak lengkap apabila lawatannya tak disertai liburan, pikirnya.

Saat melancong, Che kerap membawa kamera kesayangannya, Nikon S2 (buatan Soviet). Kamera itu adalah peranti yang selalu menemaninya sejak 1950-an bekerja sebagai fotografer di surat kabar Meksiko, Agencia Latina.

Di sore hari yang hangat, Che bersama delegasi Kuba lainnya memutari kompleks Candi Borobudur, Magelang. Ia kedapatan memotret sana-sini dengan Nikon S2 di kedua tangannya.

Kunjungan Balasan

Perjumpaan Che dengan Indonesia tak berhenti di situ saja. Setahun setelahnya, 13 Mei 1960, Sukarno melakukan balasan ke Kuba. Kali ini bukan hanya Che yang menyambut, tetapi juga pemimpin Kuba, Fidel Castro.

48 tahun kemudian, pada 2008, potret Sukarno, Fidel Castro, dan Che Guevara, di bandara Jose Marti, Havana, diperingati sebagai momen bersejarah. PT Pos Indonesia mencetak perangko khusus yang membingkai ketiga tokoh tersebut.

Tujuh tahun setelah kunjungannya ke Indonesia, Che kembali mengobarkan panji revolusinya. Bersama para gerilyawan lain, ia berusaha membebaskan Bolivia dari pengaruh Kapitalisme Amerika Serikat.

Nahas, ia tertangkap oleh CIA dan dieksekusi mati di Teluk Babi, La Higuera. Che Guevara meninggal di usia yang relatif muda, 39 tahun (Abi Mu'ammar Dzikri, tirto.id, 17 Mar 2025).

Biografi Che 

Ernesto Guevara de la Serna lahir di Rosario, Argentina, sebagai anak sulung dari lima Bersaudara. Orang tuanya keturunan Irlandia-Spanyol berhaluan kiri, dan tergolong kelas menengah. Guevara menyandang gelar sarjana kedokteran dari Universitas Buenos Aires pada tahun 1953. Setelah lulus ia mengunjungi berbagai wilayah di Amerika Latin yang berpenduduk begitu miskin. Pada waktu inilah keyakinannya akan perlunya revolusi menghilangkan kemiskinan semakin kuat.

Pada tahun 1953 Che bergabung dengan gerilyawan Guatemala yang hendak menyalakan revolusi. Maksud ini kandas karena ada campur tangan CIA pada tahun 1954. Che melarikan diri ke Mexico, dan di negara ini ia bertemu Fidel Castro yang sedang mencoba menggulingkan pemerintahan diktator Fulgencio Batista di Kuba. Kudeta kali ini pun gagal. 

Setelah Fidel Castro berhasil menggulingkan pemerintahan Kuba, Che membantu Castro. Ia dipercaya Castro menjabat Presiden Bank Nasional Kuba, Menteri Perindustrian, juga sebagai penasihat tidak resmi Castro dalam berbagai masalah luar negeri

Di dunia internasional Che tampil sebagai tokoh yang gigih menentang segala bentuk penjajahan Barat atas berbagai negara berkembang. 

Che mengungkapkan pandangannya tentang Sosialisme dalam El Socialismo y El Hombre en Cuba (1965); juga taktik perang gerilya dalam La Guerra de Guerrillas (1960). 

Dalam tahun 1965, pada puncak ketenarannya, Che menghilang. Beberapa saat lamanya baru diketahui bahwa ia membantu perjuangan gerilyawan Kongo; juga membantu para gerilyawan Bolivia. Che tertangkap dan ditembak mati oleh pasukan pemerintah Bolivia pada tahun 1967 (Danan Priyatmoko, ENI Jilid 6, Jakarta: PT Delta Pamungkas, 2004 : 249).

"Hasta la victoria siempre!" Sampai kemenangan abadi menanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik