Penjelasan Manipol dan Usdek oleh H. Roeslan Abdulgani
Untuk memasyarakatkan Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959 (Manipol) sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara, pemerintah melakukan sosialisasi Manipol kepada seluruh Rakyat melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI) pada setiap hari Rabu dan Minggu malam, mulai tanggal 5 Oktober sampai dengan 9 November 1960.
Rangkaian uraian yang diberi nama Penjelasan Manipol USDEK itu disampaikan oleh H. Roeslan Abdulgani Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung selaku Ketua Panitia Pembina Jiwa Revolusi yang kemudian diterbitkan oleh Departemen Penerangan RI melalui Penerbitan Khusus 147.
Rangkaian pidato Penjelasan Manipol USDEK oleh H. Roeslan Abdulgani tersebut menjadi salah satu bahan indoktrinasi dan dibukukan dalam Tubapi (Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi) yang menjadi materi dalam membimbing Tim-tim Indoktrinasi di Departemen-departemen dan di Daswati I dan II (Provinsi dan Kota/Kabupaten).
Roeslan Abdulgani menyampaikan Penjelasan Manipol USDEK dalam tiga bagian dan sepuluh uraian.
Bagian I mengenai Manipol serta latar belakangnya.
Bagian II mengenai isi Manipol.
Bagian III mengenai pelaksanaannya.
Pada Bagian I Roeslan menjelaskan mengenai pengertian Manipol, dan USDEK sebagai intisari Manipol.
Manipol adalah singkatan dari Manifesto Politik dan ini adalah keseluruhan is pidato Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1959. Seperti kita ketahui pidato tersebut diberi judul Penemuan Kembali Revolusi Kita (Rediscovery of Our Revolution). Istilah Manipol diberikan oleh Menteri Penerangan Maladi.
Menurut DPA Manipol merupakan penjelasan resmi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan juga merupakan Garis-garis Besar Haluan Negara sebagai arah pelaksanaan Dasar Negara yakni Panca Sila yang mengikat DPA, Depernas, Kabinet, alat kelengkapan Negara dan Presiden sendiri.
Sedangkan USDEK adalah singkatan dari UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia. USDEK merupakan intisari Manipol. Jadi Manipol dan USDEK adalah sama.
Setelah menjelaskan Revolusi-revolusi di Amerika, Perancis, Russia, Turki dan Tiongkok, Roeslan menjelaskan tahapan Revolusi Indonesia yakni periode physical revolution dan survival yang berpuncak di tahun 1955 dan memunculkan tuntutan Rakyat untuk mengadakan pembangunan.
Pembangunan adalah rekonstruksi di bidang material dan spiritual yang memerlukan suatu rencana dan pimpinan yang tegas. Inilah yang dinamakan fase sosial-ekonomis, di mana Indonesia sudah meninggalkan taraf perjuangan politik.
Fase sosial-ekonomis ini menghendaki pembangunan masyarakat adil dan makmur melalui periode persiapan (investment period) memasuki periode pembangunan yang memerlukan persiapan mental, modal dan kecakapan teknik.
Untuk menanggapi tuntutan Rakyat ini Presiden Sukarno sejak tahun 1957 menganjurkan perombakan total dalam pikiran maupun sistem politik yang melahirkan gagasan Demokrasi Terpimpin yang dipimpin oleh Panca Sila ke arah pembangunan masyarakat adil dan makmur atau masyarakat sosialis Indonesia.
Terkait Pancasila Roeslan mengatakan, "Dalam Manipol prinsip kemerdekaan dan kebebasan (ber) Agama benar-benar disesuaikan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa; bahwa di dalam Negara Panca Sila sebagai perumahan Bangsa, kita memuliakan Tuhan Yang Maha Esa, dengan memberi bimbingan yang positif kepada Bangsa dan Masyarakat dalam kehidupan keagamaan, dengan pula memegang teguh toleransi positif terhadap ajaran-ajaran yang lain, dan akhirnya dengan tidak memperkenankan propaganda anti-Agama dan anti-Tuhan."
Lebih lanjut dikatakannya, "Dengan ketegasan ini hendaknya kita seluruh kepulauan Nusantara jangan sampai terkena bisikan-bisikan seakan-akan Panca Sila adalah 'ladiniyah,' yaitu anti-Agama dan anti-Tuhan. Manipol mengandung sepenuhnya jiwa ke-Tuhanan Yang Maha Esa ini."
Pada Bagian II Roeslan menjelaskan mengenai kesatuan tafsir ; dinamika romantika dan logika Revolusi; sifat watak dan hakikat Revolusi; dasar tujuan dan kewajiban Revolusi; UUD 1946 sebagai landasan ideal dan struktural; hari depan Revolusi; tujuh kekuatan sosial Revolusi; dan musuh-musuh
Revolusi.
Revolusi Indonesia adalah Revolusi Nasional menentang Imperialisme dan kolonialisme. Bukan Revolusi borjuis seperti Revolusi Perancis dan bukan Revolusi Proletar seperti Revolusi Rusia. Revolusi Indonesia adalah Revolusi multi kompleks. Kita sekarang ini berada dalam era of nation building.
Dasar dan tujuan Revolusi Indonesia adalah sama dan sebangun dengan the social conscience of man (budi nurani manusia) yakni keadilan sosial, kemerdekaan individu, dan kemerdekaan Bangsa.
Tiga segi kerangka tujuan Revolusi Indonesia adalah :
(1) Di Bidang Politik : satu Negara Kesatuan dan Negara Kebangsaan Republik Indonesia yang demokratis dari Sabang sampai Merauke ;
(2) Di Bidang Sosial : suatu masyarakat yang adil dan makmur, yakni adil dan makmur badaniyah dan rohaniyah atau masyarakat sosialis Indonesia;
(3) Di Bidang Internasional: persahabatan dan perdamaian dunia, terutama sekali dengan Asia-Afrika, untuk membentuk dunia baru bersih dari imperialisme dan kolonialisme.
Menurut Roeslan, Revolusi di samping mengenal dinamika dan romantika juga mengenal logika. Logika Revolusi itu ialah :
Pertama, sekali Revolusi dicetuskan, ia harus diselesaikan;
Kedua, Pimpinan Revolusi seharusnya terus di tangan orang-orang atau golongan-golongan serta kekuatan-kekuatan yang revolusioner;
Ketiga, bahwa setiap Revolusi akan bergerak lancar, bila gerakan itu benar-benar didasari oleh teori-teori yang revolusioner.
Musuh-musuh Revolusi adalah golongan-golongan : blandis, reformis, konservatif, kontra-revolusioner, bunglon dan cecunguk. Mereka itu berwatak a-nasional.
Pada Bagian III Roeslan menjelaskan arti retooling, realisasi Manipol dan Panca Sila sebagai moral dan tuntunan pergaulan hidup.
Menurut Roeslan kata retooling berasal dari bahasa Inggris, artinya adalah mengganti alat yang lama untuk pekerjaaan yang sama sekali baru bagi alat-alat lama itu sendiri. Retooling merupakan syarat mutlak bagi kelancaran Revolusi Indonesia yang berdasarkan Panca Sila.
Panca Sila tidak hanya dasar Negara, ideologi dan cita-cita pemersatu semua golongan saja, tetapi Panca Sila adalah pula suatu moral, tuntunan pergaulan hidup antar manusia Indonesia tanpa memandang tingkatannya, keturunannya maupun milieu-sosialnya.
Adapun program umum Revolusi meliputi tujuh bidang yakni : politik, ekonomi, sosial, mental dan kebudayaan, keamanan, pembentukan badan-badan baru dan para pelaksana.
Pada akhirnya, "Walaupun Manipol adalah sangat penting karena telah menjawab persoalan-persoalan pokok Revolusi dan telah mengemukakan usaha-usaha pokok untuk menyelesaikan Revolusi Indonesia, tapi realisasinya sangat tergantung pada orang-orang yang diberi tugas untuk melaksanakannya."
Sumber : H. Roeslan Abdulgani, Penjelasan Manipol dan USDEK, 1961, Penerbitan Khusus 147 Departemen Penerangan dalam Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi, Jakarta: Percetakan Negara dan Departemen Penerangan.
Komentar
Posting Komentar