Hardi dari Sekjen PNI sampai Waperdam


Kemarin sudah kami sampaikan profile dari Ketua PNI Hasil Kongres IX PNI, Ali Sastroamidjojo. Berikut ini profil dari Sekjen PNI, Hardi.

Hardi dilahirkan di Winong, Pati pada tanggal 23 Mei 1918. Semasa mudanya, ia pernah menjadi anggota organisasi pergerakan Indonesia Moeda di Semarang.

Hardi mengenyam pendidikan di RHS (Sekolah Tinggi Hukum) kemudian meneruskan ke Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1950).

Ia sempat belajar di Ruskin College, Universitas Oxford, Inggris, antara tahun 1950 dan 1951 dengan beasiswa pemerintah Indonesia.

Hardi memulai karirnya sebagai PNS pada Departemen Dalam Negeri RI (1946-2953), lalu menjadi anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (1948-1950). 

Pada masa Agresi Militer Kedua Belanda, bersama Selo Soemardjan, ia bertugas sebagai urusan keliling Sultan Hamengkubuwono IX ke seluruh wilayah Yogyakarta dalam menegakkan pemerintah Republik, tanpa digaji. Hardi pindah ke Jakarta setelah penyerahan kedaulatan.

Pemberontakan DI/TII PRRI/Permesta dan Pembebasan Irian Barat

Saat terjadi pemberontakan DI/TII di Aceh, ia ditunjuk menjadi ketua misi pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut. 

Ia juga mengemban tugas melakukan tugas untuk melakukan normalisasi pemerintahan setelah PRRI pecah di Sumatra Barat dan Permesta di Sulawesi (1959).

Dalam rangka memperjuangkan pengembalian Irian Barat ke pangkuan RI (1960), Hardi ditugaskan mengunjungi negara-negara Amerika Latin. Tahun 1967 ia ditugaskan ke PBB sebagai penasihat delegasi.

Anggota PNI 

Hardi menjadi anggota PNI sejak tahun 1946, menjadi anggota DPRD Jakarta (1950-1955), lalu anggota DPR (1955-1956). 

Dalam Kabinet Karya, yang dipimpin Perdana Menteri Djuanda, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri I. Setelah itu ia menjadi anggota DPR-GR/MPRS, anggota DPA-RI (1968-1975), dan akhirnya menjadi Duta Besar RI untuk Vietnam (1976-1980).

Kericuhan 

Ketika Badan Pekerja Kongres PNI di Lembang menyusun dan menerima Deklarasi Marhaenis sebagai pedoman perjuangan Front Marhaenis (1964), perpecahan timbul di antara para pemimpin Partai. 

Kericuhan ini menyebabkan sejumlah tokohnya membentuk Panitia Penegak Persatuan dan Kesatuan Front Marhaenis yang diketuai Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Usaha ini tidak berhasil meskipun Mr. Sartono selaku sesepuh PNI berhasil membujuk DPP PNI untuk mencabut pemecatan beberapa anggota PNI. 

Upaya lain dilakukan tiga kali pertemuan disaksikan Letnan Jenderal Soeharto selaku pengemban Supersemar. 

Kongres Luar Biasa

Hasil pertemuan adalah Kongres Luar Biasa yang diadakan di Bandung tahun 1966 yang memutuskan membentuk DPP PNI di bawah pimpinan Osa Maliki (Ketua), Hardi (Ketua I), dan Usep Ranawijaya (Sekretaris Jenderal). Keputusan lainnya adalah tidak membenarkan kepemimpinan Ali-Surachman. 

Penyerahan Kekuasaan 

Hardi selaku Ketua I DPP PNI dengan persetujuan Ketua Umum nya mengadakan dialog dengan Presiden Sukarno pada tahun 1967. Dialog ini menelurkan naskah penting yang disampaikan oleh Ketua Umum dan Ketua I kepada Jenderal Soeharto. Naskah itu merupakan kunci pembuka jalan bagi personal approach dan clearance approach antara Presiden Sukarno di satu pihak dan Pengemban TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 bersama Panglima ABRI di pihak lain. Pembicaraan ini kemudian diikuti dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Sukarno kepada Jenderal Soeharto pada tanggal 20 Februari 1967.

Penghargaan 

Hardi wafat 23 April 1998. Politikus ulung ini menerima Satya Lencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961) dan Bintang Maha Putra Utama (1973).

Mengajar 

Hardi juga menjabat dosen luar biasa Fakultas Hukum Universitas Dharma Agung, Medan (Soebagijo I.N., 2004 :335-336; Wikipedia).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Kasman Singodimedjo (1908-1982)

Liberalisme Politik