Postingan

Deklarasi Ganyang Malaysia

Dalam suratnya kepada Presiden Kennedy, Bung Karno berkata, "dipastikan akan ada penolakan keras, bahkan penolakan yang sifatnya fisik" di antara rakyat Indonesia terhadap federasi tersebut. Massa yang terdiri dari kurang lebih  5.000 orang demonstran melakukan serangan terhadap Kedubes Inggris di Jakarta pada tanggal 18 September 1963 dan membakarnya hingga rata dengan tanah, berikut 21 rumah stafnya.  Sebagai balasan, pada tanggal 19 September 1963, massa di Kuala Lumpur menyerang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di sana.  Hari berikutnya, tanggal 20 September 1963, Jakarta mengumumkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengambil alih semua perusahaan Inggris di Indonesia. Sehari kemudian pemerintah mengumumkan pemutusan segala hubungan dengan Malaysia.  Beberapa hari setelahnya, Bung Karno secara publik menegaskan kembali tekad Indonesia untuk menghancurkan Malaysia.  Ganyang Malaysia  Dalam pidatonya di hadapan rakyat di kota Yogyakarta pada tangga...

Malaysia Memutuskan Hubungan Diplomatik dengan Indonesia

Pada tanggal 17 September 1963, Malaysia memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia.  Pada hari yang sama Bung Karno menulis surat kepada Presiden Kennedy, menjelaskan sikap Indonesia atas masalah Malaysia. Presiden menyatakan bahwa pemerintahnya menolak menerima keberadaan Federasi Malaysia. Beliau mengutip pengakuan Sekretaris Jenderal PBB U Thant dalam laporannya mengenai kurang mencukupinya Tim PBB yang menyelenggarakan jajak-pendapat di Sabah dan Serawak, Kalimantan Utara. Kekurangan ini, " dengan jelas menunjukkan bahwa Tim PBB tersebut tidak mampu sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 1541 Artikel 9.  Selanjutnya Bung Karno berkata, "dipastikan akan ada penolakan keras, bahkan penolakan yang sifatnya fisik" di antara rakyat Indonesia terhadap federasi tersebut. (Papers of President Kennedy,17 September 1963. Papers of President Kennedy, National Security Files, Countries, Box 114A, Folder: Indonesia, General 9...

Pengumuman Sekjen PBB tentang Jajak-pendapat di Sabah dan Serawak

Setelah merampungkan proses jajak-pendapat, misi PBB menemukan bahwa mayoritas rakyat yang diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. (Howard Palfrey Jones, Indonesia The Possible Dream, New York: Harcourt Brace Javanovich, 1971 : 287). Sekjen PBB U Thant, merencanakan untuk mengumumkan hasil jajak-pendapat itu pada tanggal 14 September 1963. (Wardaya, 2008: 322). Sehari sebelum pengumuman, pada tanggal 14 September 1963, Presiden Kennedy mengatakan kepada Presiden Sukarno bahwa dia telah mengetahui hasil referendum yang mengisyaratkan dukungan rakyat bagi pembentukan Malaysia. Kennedy menegaskan kepada Bung Karno bahwa AS akan menerima hasil jajak-pendapat tersebut.  Pada tanggal 14 September 1963, Sekretaris Jenderal PBB U Thant mengumumkan hasil jajak-pendapat tersebut.  U Thant yakin bahwa :  "Sebagian besar rakyat Sabah dan Serawak (Kalimantan Utara) telah mempertimbangkan secara sungguh-sungguh ...

Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB

Pada tanggal 29 Agustus 1963, Tunku Abdul Rahman mengumumkan bahwa federasi Malaysia akan didirikan pada tanggal 16 September 1963.  Tunku Abdul Rahman menyatakan bahwa Federasi Malaysia akan tetap diresmikan pada tanggal itu terlepas dari apakah hasil jajak pendapat yang diselenggarakan PBB menunjukkan bahwa rakyat Sarawak dan Sabah ingin bergabung ke dalamnya atau tidak.  Pernyataan Tunku tersebut dilaporkan dalam New York Times dengan judul yang jelas-jelas membuat kecewa Indonesia: "Malaka Promises A Federation Regardless of Findings by UN" (Malaka Tetap Bersikukuh Mendirikan Federasi Terlepas dari Temuan Jajak Pendapat PBB." (New York Times, 30 Agustus 1963). Indonesia mencurigai adanya intrik-intrik Inggris dan tidak suka dengan fakta tersebut. (Wardaya 2008: 323).

Persaingan Kepentingan AS US dan RRT

A. Internasional  Pada awal tahun 1960-an keterlibatan Amerika di Vietnam Selatan meningkat pesat dan Cina tidak menyukai kemungkinan adanya satu negara lagi yang pro-Barat di selatan setelah Muangthai, Vietnam Selatan, Filipina dan Taiwan. Perpecahan Cina-Sovi kini sudah sangat sulit untuk dirujukkan kembali dan Uni Soviet nyata-nyata telah memanfaatkan perang di Irian Barat untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap pemerintah dan militer Indonesia daripada untuk mendukung PKI.  Ketika Uni Soviet menandatangani percobaan larangan senjata nuklir pada bulan Agustus 1963, Cina khawatir bahwa Soviet siap berkomplot dengan Amerika untuk mengendalikannya. Oleh karena itu Cina dan PKI mengharapkan suatu kebijakan anti-Malaysia yang radikal agar menggagalkan pembentukan Malaysia dan membuat Inggris tidak bisa bergerak dari sana, sambil merusak rencana stabilisasi ekonomi dan pengaruh Amerika di Jakarta. Akan tetapi mereka tidak menginginkan perkembangan pesat pihak militer Indonesia me...

Jajak-pendapat di Sabah dan Serawak

Misi Michelmore tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun jajak-pendapat baru terselenggara tanggal 26 Agustus 1963. Para anggota misi berbicara dengan pemimpin-pemimpin kelompok agama, etnis, buruh, para pejabat pemerintahan, para pemimpin politik, serta para kepala suku di Sabah dan Serawak, dan meminta pendapat mereka tentang federasi Malaysia yang akan dibentuk.  Sementara jajak-pendapat tersebut berlangsung, Menlu Indonesia Subandrio menegaskan kepada Howard P. John (Dubes AS) bahwa penolakan Indonesia terhadap Malaysia bukan pertama-tama diarahkan kepada Malaka tetapi kepada Inggris. Indonesia menentang segala bentuk kolonialisme dan imperialisme di mana pun berada.  Setelah merampungkan proses jajak-pendapat, misi PBB menemukan bahwa mayoritas rakyat yang diwawancarai memilih untuk menggabungkan kedua wilayah mereka dengan Malaka dan Singapura dalam Federasi Malaysia. (Howard Palfrey Jones, Indonesia The Possible Dream, New York: Harcourt Brace Javanovich, ...

Misi Michelmore

Sebagai tanggapan atas pertemuan tingkat tinggi Manila, Sekretaris Jenderal PBB U Thant bersedia memfasilitasi jajak-pendapat tersebut dan membentuk Misi Michelmore, seturut nama ketuanya yang berasal dari Amerika Serikat, untuk mencari tahu apakah rakyat kedua wilayah itu benar-benar mau bergabung ke dalam Federasi Malaysia.  Misi Michelmore tiba di Kalimantan pada tanggal 15 Agustus 1963, namun perbedaan pendapat yang terjadi antara para anggotanya dan perwakilan Maphilindo membuat tertundanya pelaksanaan jajak-pendapat hingga tanggal 26 Agustus (Jones, 287 dalam Wardaya 2008: 321-322). --- Telegram  dari Misi Inggris New York  CONFIDENTIAL 8 Aug 1963 (1) No. 786 (2) No. 708 Following TELEGRAM OF 8TH AUGUST FROM U.K. MISSION NEW YORK, ADDRESSED TO FOREIGN OFFICE No. 1205, repeated for information to Djakarta No. 38, Manila No.2h, Singapore No. 64, Kuala Lumpur No. 60, North Borneo No. 39, Sarawak No. 39 and by saving to Canberra and Wellington (and to Brunei at request ...