Dekon dari Sudut Ekonomi dan Praktik
Setelah penyampaian Deklarasi Ekonomi (Dekon) oleh Bung Karno di Jakarta pada tanggal 28 Maret 1963, kami mendapatkan dua buah tulisan terkait Dekon pada buku "Napak Tilas Bapak-bapak Pejuang Menuju Indonesia Merdeka" yang ditulis oleh Supeni. Supeni tidak menyebutkan sumbernya tapi kami menduga itu tulisan atau transliterasi dari pidato Djuanda atau Ruslan Abdulgani.
Tulisan pertama berjudul "Dekon dari Sudut Ekonomi dan Praktik" akan kami unggah sekarang. Tulisan berikutnya berjudul "Ekonomi Terpimpin" akan kami unggah kemudian. Adapun Dekon sudah kami sampaikan pada unggahan terdahulu.
Dekon dari Sudut Ekonomi dan Praktik
Mengabdi kepada Revolusi adalah mengabdi kepada amanat penderitaan rakyat sesuai apa yang telah dinyatakan oleh Presiden Sukarno, dalam Jalannya Revolusi Kita, antara lain sebagai berikut:
"Revolusi kita bisa gagal, kalau tidak sungguh-sungguh melaksanakan cita-cita proklamasi, tidak sungguh-sungguh melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat!"
Mengapa Dekon adalah penting dari sudut teori ekonomi revolusioner dan praktik?
Pertama, karena Dekon menerangkan secara lebih kongkrit strategi dasar (basic strategy) ekonomi Indonesia yang ditetapkan oleh Manifesto Politik dan pedoman-pedoman pelaksanaannya. Strategi ekonomi harus menjadi bagian mutlak daripada strategi umum Revolusi Indonesia yang bagi dalam dua tahap.
Kedua, dengan Dekon sebagai senjata baru di tangan rakyat makin terbuka kemungkinan-kemungkinan memberantas penyelewengan-penyelewengan di bidang teori dan praktik dalam menyelesaikan Revolusi.
Pengertian yang tepat dan kebulatan pendapat mengenai strategi dasar ekonomi adalah satu syarat untuk mengabdi kepada Revolusi dan Amanat Penderitaan Rakyat.
Sekalian kita sudah mendengar atau membaca secara lengkap Deklarasi Ekonomi Presiden Sukarno tertanggal 28 Maret 1963, adalah penting untuk mengutip beberapa bagian dari Dekon yang mengenai strategi dasar ekonomi, karena inilah yang akan memimpin kita dalam teori dan praktik.
Dikatakan :
"Menurut strategi dasar ekonomi Indonesia, maka dalam tahap pertama kita harus menciptakan susunan ekonomi yang bersifat nasional dan demokratis, yang bersih dari sisa-sisa imperialisme dan bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap pertama adalah persiapan untuk tahap kedua, yaitu tahap ekonomi Sosialis Indonesia, ekonomi tanpa penghisapan manusia oleh manusia, tanpa “exploitation de l’homme par l’homme”. Dalam masyarakat Sosialis Indonesia tiap-tiap orang dijamin akan pekerjaan, sandang-pangan, perumahan serta kehidupan kultural dan spiritual yang layak. Susunan ekonomi yang demikian inilah yang harus menjadi tujuan segenap kegiatan ekonomi kita, yang harus menjadi tujuan tiap-tiap putera Indonesia." (Deklarasi Ekonomi No. 3).
Pentingnya Dekon sebagai pegangan kaum Manipolis sangat terasa jika dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang kita hadapi sekarang di bidang ekonomi dan politik.
Kekaburan dalam politik ekonomi dan praktik yang makin jauh dari tujuan Revolusi dan Amanat Penderitaan Rakyat masih kita hadapi pada waktu sekarang.
Kita telah mencatat kemenangan besar dari rakyat dalam mensukseskan pelaksanaan Tri Komando Rakyat untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman kolonialisme dan memulihkan keamanan dengan menumpas pemberontak-pemberontak kontra-revolusi PRRI/Permesta serta gerombolan terror Kartosuwirjo dan sebangsanya. Tetapi di bidang ekonomi masih terus-menerus mengalami kemunduran. Kemunduran-kemunduran ini disebabkan bukan hanya karena kita selama ini harus mengutamakan tugas politik tersebut tetapi juga karena salah-urus (mismanagement) ekonomi yang serius.
Politik ekonomi yang tidak sesuai dengan tujuan Revolusi dan Amanat Penderitaan Rakyat membuka kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar bagi penyelewengan-penyelewengan. Akibatnya yang kongkrit adalah sekalipun sudah ada konsep ekonomi terpimpin berdasarkan Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya namun praktiknya masih menunjukkan penyimpangan-penyimpangan yang menyebabkan kemunduran ekonomi yang terus-menerus.
Dokumen resmi yang terbaru yaitu Ambeg Parama Arta Amanat Presiden kepada Sidang Umum ke-II MPRS tanggal 15 Mei 1963 di Bandung yang menggambarkan kenyataan ekonomi selama ini seperti berikut:
"... Sesungguhnja keadaan ekonomi moneter negara kita sudah kurang sehat dan sudah mulai meluncur ke kesuraman sejak dari mulai tahun 1951."
Dalam berbagai keterangan pemerintah yang dahulu-dahulu dan dalam bermacam-macam tinjauan ekonomi keuangan negara kita, telah tergambar dengan jelas merosotnya dan mundurnya keadaan ekonomi keuangan kita.
Seperti kita telah ketahui bersama maka kehidupan ekonomi ditentukan oleh proses produksi. Produksi dalam negeri ternyata tidak menunjukkan ke arah perkembangan yang dapat menjamin kemajuan ekonomi dan perbaikan taraf penghidupan rakyat.
Ikhtisar tahunan tentang pelaksanaan Ketetapan MPRS Nomor II Tahun 1960 yang disampaikan oleh Presiden/ Mandataris MPRS kepada Sidang Umum ke-II MPRS menyatakan tentang produksi seperti berikut:
"Pada umumnya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan dalam banyak bidang proyek-proyek pembangunan tidak mencapai target-target yang telah ditentukan. Hasil-hasil yang dicapai di bidang produksi adalah jauh daripada memuaskan."
Selanjutnya dikatakan, "kekurangan mental dan keahlian adalah kekurangan-kekurangan yang masih banyak pada Corps Managers, yang mengakibatkan apa yang sering dicanangkan yaitu: salah-urus dan salah-duduk yang turut mempengaruhi pula faktor-faktor extern."
Kesulitan ekonomi yang kita hadapi sekarang adalah problem nasional yang besar yang tidak mungkin ditanggulangi tanpa berpegangan pada politik ekonomi yang sesuai pada tujuan Revolusi dan tanpa menciptakan syarat-syarat pelaksanaan yang ditetapkan oleh Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya.
Kenyataan lain menunjukkan kekaburan dan pemutarbalikan teori ekonomi revolusioner yang menyebabkan berbagai macam penyelewengan-penyelewengan dalam praktik.
Pemandangan yang kekiri-kirian merusak strategi dasar ekonomi yang ditetapkan oleh Manipol. Dengan tidak memperhatikan sedikitpun tahap-tahap Revolusi maka dituntutnya agar warung-warung serta toko-toko dimiliki oleh pemerintah. Menurut mereka semua pedagang supaya menjadi pegawai negeri.
Mereka bungkam terhadap sisa-sisa kekuasaan modal imperialis asing di lapangan industri minyak bumi, perkebunan dan lainnya. Mereka tidak mengganggu gugat kekuasaan tuan tanah.
Akhirnya pandangan mereka bertemu dengan pendirian-pendirian ekstrim kanan yang makin jauh dari tujuan Revolusi.
Pandangan kanan menghendaki diperkuatnya investasi modal monopoli asing dengan investasi modal asing baru dalam bentuk-bentuknya yang klasik ataupun dalam bentuk-bentuk baru yang terkenal dengan nama neo-kolonialisme.
Mencarikan peranan memimpin daripada ekonomi sektor negara dalam statusnya maupun aktivitasnya. Mereka memutar otaknya siang dan malam bagaimana ada satu rumus Sosialisme Indonesia yang mentolerir hidupnya kaum kapitalis dalam masyarakat yang tidak ada exploitation de l'homme par l'homme.
Presiden Sukarno dalam amanat beliau kepada Sidang Pertama Depernas tanggal 28 Agustus 1959 mengkritik "golongan yang mengikuti arus evolusi" yaitu yang berpendirian "masyarakat sosialis ala Indonesia dengan sendirinya akan datang." Juga kritik golongan orang-orang berteori "fasensprong."
Dengan begitu masih selalu diperlukan pembentukan fikiran untuk memahami sifat ilmiah dan revolusionernya Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya.
Pemutarbalikan teori ekonomi Manipol kita jumpai akhir-akhir ini dalam melegalisir perbuatan-perbuatan kontra-revolusi di bawah bendera rasialisme.
Terror memecahkan kaca, membakar dan lempar batu dikatakan ekses revolusi antara si kaya dan si miskin, malahan sudah ada pula yang mendesas-desuskan bahwa revolusi sosial sudah mulai meletus.
Kini setelah alat-alat negara yang dibantu oleh rakyat meringkus dalang-dalang kontra-revolusi, makin jelaslah bahwa penggerak-penggeraknya adalah justru si kaya dan partai-partai terlarang yang disinyalir oleh Presiden Sukarno dalam kongres KOWANI yang baru lalu.
Selain itu kita mengenal juga pengertian-pengertian yang sesat mengenai sosialisme dengan dikemukakannya semboyan-semboyan sosialisasi alat-alat distribusi tidak lain daripada melarang dan memindahkan warung-warung atau perusahaan-perusahaan dari tangan warganegara Indonesia keturunan asing ke kapitalis-kapitalis yang dinamakannya warganegara asli. Padahal Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya menandaskan perlu melawan modal yang reaksioner dan yang kontra-revolusioner tidak pandang ia asli atau tidak asli. Haluan negara sama sekali tidak menjadikan asal keturunan warganegara sebagai ukuran untuk ditarik atau tidak.
Kekalutan fikiran yang kuat dan praktik yang menyedihkan itu masih kita hadapi. Tetapi sekarang dengan Deklarasi Ekonomi makin jelas bagi rakyat politik ekonomi mana yang harus dijadikan pegangan dan praktik mana yang harus diberantas.
Haluan negara telah menetapkan teori ekonomi yang revolusioner berdasarkan Manipol. Deklarasi Ekonomi telah mempertegas teori ekonomi yang mengabdi kepada Revolusi berdasarkan Manipol, yaitu bagaimana mempraktikkan semboyan mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
Dekon tidak saja menetapkan teori ekonomi tetapi syarat-syarat pelaksanaannya di bidang ekonomi dan politik untuk menanggulangi persoalan ekonomi sekarang.
Bersandar pada kekayaan alarm yang berlimpah-limpah dan potensi rakyat, integrasi antara pemerintah dan rakyat, kegotongroyongan nasional, hubungan program jangka panjang dan jangka pendek, ekonomi atau produksi sebagai basis politik moneter dan akhirnya belajar dari pengalaman-pengalaman negara-negara yang menempuh jalan-jalan revolusioner dalam menyusun masyarakat sosialis, ini semua adalah prinsip-prinsip yang terdaftar dalam Dekon.
Jadi Dekon dari sudut ekonomi dan teori praktik cukup sebagai pegangan yang revolusioner untuk membongkar yang lapuk dan menyusun yang baru di bidang ekonomi.
Tetapi konsepsi ekonomi yang bagaimana pun lengkapnya dan baiknya adalah tetap konsepsi. Sukses dan tidaknya dalam praktik tergantung pada cara pelaksanaan dan kesungguhan orang untuk melaksanakan konsepsi itu.
Usia Dekon masih muda, baru berumur empat bulan, tetapi rakyat dengan cepat menyambutnya dengan antusias. Bersamaan dengan itu kaum kontra revolusi dengan cepat pula menyambutnya karena isi Dekon yang tegas sebagai konsep ekonomi dan konsep politik dalam mendorong maju dalam kekuatan-kekuatan revolusi.
Melaksanakan Dekon harus berani mengadakan perombakan-perombakan yang fundamental untuk mengubah ekonomi yang kolonial menjadi ekonomi yang nasional dan demokratis. Ini berarti harus berani memberantas kontra-revolusi yang menghalang-halangi, penyelesaian tahap pertama Revolusi Indonesia.
Pada hakekatnya teori ekonomi yang mengabdi kepada Revolusi mempersoalkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Harus mempersoalkan produksi dan hubungan manusia satu sama lain dalam proses produksi. Teori ekonomi yang demikian pada dasarnya harus mengubah hubungan produksi yang bersifat kolonial menjadi hubungan produksi yang sesuai dengan perkembangan tenaga-tenaga produkttif dalam ekonomi nasional dan demokratis. Hubungan produksi kolonial oleh kapitalis monopoli asing dan hubungan produksi secara feod cc XDal harus ditumbangkan sehingga tercipta cara produksi yang tidak menghambat penyusunan ekonomi yang nasional dan demokratis. Tanpa mengubah hubungan produksi yang lama maka daya kreasi dan daya kerja rakyat tertekan dan tidak dapat berkembang secara maksimum.
Teori ekonomi atau politik ekonomi yang tidak mendorong penciptaan hubungan produksi baru yang nasional dan demokratis adalah tidak revolusioner dan bertentangan dengan Dekon. Apalagi kalau penganut teori ekonomi seperti itu siang malam hanya berfikir bagaimana bisa menemukan teori baru bukan Rusia, bukan RRT, bukan totaliter dan macam-macam rumus yang lazim digunakan oleh lektur anti-komunis dan anti-Nasakom di dalam dan di luar negeri. Malahan kalau sudah terlalu sulit memalsu sosialisme dan terpaksa harus menggunakan istilah kapitalisme dipilihlah istilah kapitalisme kerakyatan model Amerika Serikat.
Pada waktu sekarang yang masih banyak memikirkan soal-soal ini adalah teoritikus-teorikus ekonomi kepala batu, yang berat meninggalkankan sistem kapitalisme dan feodalisme dan takut pad revolusi yang mau merombak sendi-sendi ekonomi yang menjadi tempat berpijak kaum imperialis asing dan pembantu-pembantunya yang terkenal dengan nama populer, kaum komprador serta kaum kapitalis birokrat dan tuan tanah.
Bagaimana semestinya menghadapi orang-orang dalam teori dan praktik berada dalam kamar gelap menimbukkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jawabnya pada waktu sekarang adalah sederhana : buka, baca, pelajari dan miliki Deklarasi Ekonomi sebagai Senjata Baru.(Supeni, 2001: 508-514
Komentar
Posting Komentar