Para Pemberontak di Berbagai Tempat Menyerahkan Diri kepada Pemerintah
Perundingan-perundingan pihak tentara dengan kaum pemberontak PRRI /Permesta yang berlangsung sejak akhir tahun 1958 pada akhirnya membuahkan hasil. Pada saat itu, pihak pemberontak sedang kehabisan amunisi dan perbekalan lainnya. Pada buka Februari -April 1961, beberapa gerombolan Permesta menyerah di Sulawesi Utara. Kemudian Syafruddin memerintahkan supaya pasukan-pasukannya menyerah, dan antara bulan Juni dan Oktober 1961, banyak gerombolan menuruti perintah tersebut. Simbolon, Zulkifli Lubis, Sumual, Syafruddin, Natsir, dan para pemimpin lainnya dikembalikan ke Jakarta.
Sumitro Djojohadikusumo sedang berada di luar negeri dan menetap di sana hingga tahun 1967.
Banyak kaum pemberontak Aceh, anggota Darul Islam di Jawa Barat, dan pengikut Kahar Muzakar juga meletakkan senjata. Akan tetapi, Kahar sendiri tetap berada di bukit-bukit Sulawesi Selatan, yang semakin terjepit oleh pasukan-pasukannya pemerintah, sampai saat ia tewas pada bulan Februari 1965.
Pada 14 April 1961 Kolonel Alex Kawilarang beserta 27.000 pasukannya dari kubu Permesta menyerahkan diri.
Pada 29 Mei 1961 Letnan Kolonel Ahmad Husein bersama tokoh-tokoh penting PRRI menyusul menyerah kepada pemerintah pusat.
Pada bulan Oktober 1961, sekitar 100.000 orang pemberontak telah menyerah.
Pihak militer hanya mengenakan tahanan rumah atau tahanan kota yang longgar terhadap Syafruddin dan para pemimpin lainnya dan tidak mengajukan tuntutan terhadap mereka (Ricklefs, 2005 : 531-532; kompas.com, dll).
Komentar
Posting Komentar