Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno di Sulawesi Selatan
Dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Ricklefs mengemukakan fakta bahwa perasaan radikal di dalam negeri semakin meningkat dan atmosfir persekongkolan semakin panas dengan adanya usaha pembunuhan lagi kepada Presiden Sukarno pada bulan Januari 1962 ketika beliau berkunjung ke Sulawesi Selatan. Sukarno lalu mendesak supaya musuh-musuhnya dihukum. Pada bulan Januari, Syafruddin, Natsir, Simbolon, Burhaduddin, serta banyak pemimpin senior lainnya dari Masyumi dan PSI dijebloskan ke dalam penjara . (2005:532).
Tanggal 7 Januari 1962 menjadi satu dari sekian banyak saat-saat menegangkan bagi Presiden Pertama Republik Indonesia, Sukarno. Kala itu Bung Karno tengah menuju Gedung Olahraga Mattoangin, Makassar, Sulawesi Selatan untuk menyampaikan pidatonya, ketika sekelompok orang mencoba membunuh Bung Karno saat melawat ke Makasar.
Sebuah granat meledak di antara iring-iringan mobil rombongan Presiden Sukarno di Jalan Cendrawasih, Makassar, Sulawesi Selatan. ( Yopi Makdori, Liputan6.com, 07 Januari 2021).
Seperti dikutip dari Tirto.id, rombongan Bung Karno, berangkat dari Kompleks Kegubernuran Sulawesi Selatan dengan didampingi Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel M Jusuf. Ketika rombongan melintas di Jalan Cendrawasih, granat dilempar ke rombongan Sukarno dan meledak.
Sukarno sempat menanyakan bunyi ledakan itu kepada M Yusuf, namun perwira itu dengan santainya menjawab bahwa suara kemungkinan berasal dari ban pecah. Soekarno baru menyadari kejadian sebenarnya setelah ia sampai di GOR Mattoangin.
Ia pun marah besar. Saat itu Sukarno menduga bahwa dalang percobaan pembunuhan terhadap dirinya adalah kelompok yang didanai oleh Belanda. Kecurigaan Bung Karno patut dimaklumi, pasalnya saat itu Indonesia tengah berkonfrontasi dengan Belanda soal Irian Barat.
Dalang dan pelaku pelemparan diidentifikasi sebagai Ida Bagus Surya Tenaja dan Serma Marcus Latuperissa.
Upaya pembunuhan ini bermotif politik separatism dan diduga kuat digerakkan oleh jaringan yang berafiliasi dengan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, serta kelompok yang ingin mendirikan republik baru yang terpisah dari RI. Pengadilan tentara kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada para pelaku utama aksi teror tersebut. (Historia).
Ada juga yang berpendapat peristiwa ini berkaitan dengan gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. Investigasi sejarah mengindikasikan adanya peran intelijen Belanda di balik skenario makar tersebut.
Komentar
Posting Komentar