Kartosuwirjo Ditangkap dalam Operasi Pagar Betis


Berakhirnya PRRI/Permesta telah memberi peluang kepada pihak tentara untuk memusatkan perhatian pada tujuan barunya di Papua dan musuh lamanya di Jawa Barat.

Pada akhir tahun 1961 dilancarkanlah suatu serangan baru terhadap Darul Islam.Kartosuwirjo terluka pada bulan April 1962, yang menggoyahkan keyakinan para pengikutnya bahwa dirinya kenal. Pada bulan Juni 1962, dia ditangkap dan diadili dengan tuduhan telah melakukan pemberontakan dan berusaha melakukan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Kartosuwirjo dihukum mati pada bulan September 1962. (Ricklefs, 2005:533).

Untuk pertama kalinya sejak Revolusi, keamanan di wilayah pedalaman Jawa Barat berhasil dipulihkan kembali. Pihak militer dan Nasution semakin menguasai keadaan.


Awal Mula Pemberontakan 

Terjadinya pemberontakan DI/TII didorong oleh rasa tidak puas Kartosuwirjo terhadap situasi setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Pasalnya, kemerdekaan RI diselimuti oleh bayang-bayang Belanda yang masih ingin berkuasa di Indonesia. 

Awal 1948, Kartosuwirjo bertemu dengan Panglima Laskar Sabilillah dan Raden Oni Syahroni.  Mereka menentang adanya Perjanjian Renville, yang dianggap tidak dapat melindungi rakyat Jawa Barat. Sejak saat itu, Kartosuwiryo mulai melakukan pemberontakan, salah satunya dengan mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). 

Untuk menanggulangi pemberontakan tersebut, pemerintah mengeluarkan peraturan No. 59 Tahun 1948 yang berisi tentang penumpasan DI/TII. Salah satu caranya adalah dengan menurunkan pasukan Kodam Siliwangi dan menerapkan taktik Pagar Betis. Pelaksanaan Untuk menumpas gerakan DI/TII Jawa Barat, AH Nasution menerapkan Operasi Pagar Betis.

Strategi ini dilaksanakan dengan langkah pengepungan. Dalam Operasi Pagar Betis, pasukan TNI mengepung basis-basis pemberontak DI/TII Jawa Barat. 


Operasi Pagar Betis 

Operasi Pagar Betis mulai  dilakukan pada 7 Agustus 1949. Pagar Betis merupakan singkatan dari Pasukan Garnisun Berantas Tentara Islam. Dalam operasi ini, ratusan ribu tenaga rakyat dikerahkan untuk mengepung tempat persembunyian DI/TII. 

Pemerintah tidak hanya mengerahkan TNI, tetapi juga mengirimkan ribuan tenaga rakyat dalam operasi penumpasan DI/TII. Masyarakat ikut berperan aktif membantu TNI dengan membuat pos-pos pertahanan di sekitar lereng gunung. 

Setelah perjuangan yang cukup panjang, akhirnya pada 4 Juni 1962, Kartosuwirjo ditangkap di Gunung Geber. Tokoh yang menangkap Kartosuwirjo adalah Letda Suhanda, pemimpin Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi. (Verelladevanka Adryamarthanino , Widya Lestari Ningsih, Kompas.com, 23 Februari 2022).


Kesedihan Bung Karno 

Dikutip dari Intisari-Online.com, salah satu keputusan berat yang harus diambil Sukarno adalah menandatangani vonis mati Imam dan Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Sang proklamator itu berkali-kali menyingkirkan berkas eksekusi mati Kartosoewirjo dari meja kerjanya. Hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan, Bung Karno dan Kartosoewirjo sudah sejak lama bersahabat.

Keduanya sama-sama berguru pada orang yang sama yakni HOS Tjokroaminoto. Saat itu keduanya tinggal di sebuah rumah kontrakan milik tokoh Sarekat Islam itu.

“Pada 1918 ia adalah seorang sahabatku yang baik. Kami bekerja bahu membahu bersama Pak Tjokro demi kejayaan Tanah Air. Pada tahun 20-an di Bandung kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama. Tetapi ketika aku bergerak dengan landasan kebangsaan, dia berjuang semata-mata menurut azas agama Islam,” kata Soekarno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams.


Masa Lalu Sukarno - Kartosuwirjo 

Salah seorang kawan Sukarno di rumah Tjokroaminoto yang tidak pernah bosan memberikan kritik atas pidato-pidatonya adalah Kartosoewirjo.

Namun, tidak jarang kritik yang dilontarkan Kartosoewirjo lebih kepada ejekan.

“Hei Karno, buat apa berpidato di depan kaca? Seperti orang gila saja,” kata Kartosuwirjo suatu kali, saat melihat Sukarno tengah belajar berpidato. Mendengar celetukan itu, Sukarno diam saja dan terus melanjutkan pidatonya. Setelah selesai, dia baru membalas ejekan Kartosoewirjo. Kalimat pertamanya adalah penjelasan kenapa dia belajar berpidato sebagai persiapan untuk menjadi orang besar. Pada kalimat kedua, Sukarno baru membalas ejekan kawannya itu. “Tidak seperti kamu, sudah kurus, kecil, pendek, keriting, mana bisa jadi orang besar!” ketus Soekarno dibarengi oleh tawa keduanya.

Peristiwa itu terus berulang di rumah Tjokroaminoto, hingga keduanya tumbuh dewasa. (K. Tatik Wardayanti, Yoyok Prima Maulana, Intisari.online,  Jumat, 17 Agustus 2018 ).


.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Mahabharata