Sjahrir Wafat di Swiss
Pada bulan Januari 1962 terjadi usaha pembunuhan lagi kepada Presiden Sukarno ketika beliau berkunjung ke Sulawesi Selatan. Sukarno lalu mendesak supaya musuh-musuhnya dihukum.
Syafruddin, Natsir, Simbolon, Burhaduddin, serta banyak pemimpin senior lainnya dari Masyumi dan PSI dijebloskan ke dalam penjara.
Sjahrir juga ditahan. Pada tahun 1965, dia diizinkan pergi ke Swiss untuk mendapatkan perawatan medis
(Ricklefs, 2005:532).
Sjahrir ditangkap karena dianggap bergabung ke dalam gerakan subversif yang hendak menjatuhkan pemerintahan.
Sjahrir bersama sejumlah tokoh lainnya ditangkap dan ditahan di mess Corps Polisi Militer (CPM) di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta.
Tak berselang lama, Sjahrir kemudian dipindah ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo. Di sana lah Sjahrir sakit. Sejumlah tokoh termasuk Bung Hatta sudah mendesak agar pemerintah membebaskan Sjahrir. Namun desakan Bung Hatta dan tokoh lainnya tak digubris.
Sjahrir kemudian diizinkan menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto. Hingga akhirnya Bung Kecil dirujuk untuk dirawat di Swiss.
Sjahrir pun mengembuskan napas terakhirnya di Swiss pada 16 April 1966. Di hari wafatnya Sjahrir, Sukarno menerbitkan Keppres No. 76 Tahun 1966 untuk merehabilitasi nama Sjahrir dan menjadikan Bung Kecil sebagai pahlawan nasional.
Dalam pidatonya di pemakaman Sjahrir, Bung Hatta bahkan menggambarkan Sjahrir sebagai sosok yang penuh ironi. Bung Hatta mengatakan, Sjahrir yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, merasakan sulitnya zaman perjuangan, dan ikut serta membesarkan Indonesia, namun meninggal dunia dalam status tahanan dari Republik Indonesia (nasional.kompas.com, 19 April 2021).
Komentar
Posting Komentar