Formula Bunker


Tak lama setelah  dibuka , perundingan Middleburg mengalami jalan buntu. Indonesia menuntut pengalihan wilayah Irian Barat kepada Indonesia menjadi syarat mendasar untuk pembicaraan lebih jauh. Belanda menuntut kesepakatan yang memuaskan dalam penentuan nasib sendiri rakyat Papua. Akhirnya kedua belah pihak meninggalkan Middleburg. Pembicaraan kemudian ditangguhkan.  (FRUS, 1861-1963, Vol. XXIII, 549-555).

Menanggapi penangguhan tersebut, para pejabat di Washington merumuskan sebuah usulan dan berharap Belanda dan Indonesia dapat menerimanya sebagai landasan bagi dimulainya kembali pembicaraan di antara keduanya.

Setelah serangkaian diskusi di Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih, pada 29 Maret 1962 Kementrian Luar Negeri AS mengajukan sebuah usulan kompromis kepada Den Haag dan Jakarta.


Rumusan

Usulan yang dikenal sebagai Formula Bunker itu mengharapkan :

(1) Suatu transfer Irian Barat kepada Dewan Keamanan PBB, yang setahun kemudian akan diikuti oleh ;

(2) Transfer wilayah tersebut kepada Indonesia yang;

(3) Kemudian akan  memberi kesempatan kepada rakyat Papua untuk memilih apakah hendak merdeka atau menjadi bagian dari Indonesia.

Formula tersebut merupakan suatu langkah diplomasi yang cerdik. Secara langsung ia menjawab dua hambatan utama Perundingan dengan suatu solusi langgeng. Indonesia akan dipenuhi tuntutan dasarnya, yakni soal peralihan kekuasaan, dan pada saat yang sama keinginan Belanda supaya rakyat Papua diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri juga terakomodasi.


Bung Karno Menerima Formula Bunker 

Pada tanggal 9 April 1962 Bung Karno menyatakan bahwa pemerintahnya secara prinsip menerima Formula Bunker - yang juga dikenal sebagai Rencana Bunker.  (Wardaya, 2008 :258-259). 

Formula Bunker diambil dari nama Ellsworth Bunker, diplomat AS.

Secara esensial formula itu lebih condong pada posisi Indonesia. Pertama, ia menyiratkan kendali administratif yang pasti oleh Indonesia. Kedua, formula itu mengusulkan adanya penentuan pendapat rakyat Papua, tetapi hanya setelah wilayah tersebut berada di bawah pemerintahan Indonesia. Tidak mengherankan Indonesia menyambut gembira Formula Bunker.


Belanda Kecewa

Sebaliknya, Belanda menanggapi formula tersebut dengan amarah. Menteri Luar Negeri Belanda Luns menyatakan bahwa pemerintahnya terkejut dan sangat kecewa. Kepada Duta Besar AS John Rice, Luns mengatakan bahwa pemerintah Belanda sangat terluka. Belanda menolak untuk membuka kembali pembicaraan Middleburg.

Robert Komer menuduh Belanda bermain api ketika menolak kembali perundingan. Komer di Gedung Putih dijuluki Wakil pribadi Sukarno karena pendiriannya yang sangat pro Indonesia. Ia menyarankan supaya AS menekan Belanda. 

Presiden Kennedy menelegram Menteri Luar Negeri Rusk supaya menekan Luns agar mau membuka kembali perundingan dengan Indonesia. 

Pada 25 Mei 1962, Formula Bunker dipublikasikan sebagai Nota PBB No. 2600. Keesokan harinya Luns menerima Formula Bunker sebagai landasan untuk membuka kembali perundingan dengan Indonesia. 

Menanggapi hal tersebut, Bung Karno berkata kepada Duta Besar Jones, "fajar telah menyingsing, tetapi matahari belum juga muncul di ufuk Timur."

Pada tanggal 5 Juni 1962 Bung Karno memberitahu Pejabat Sekretaris Jenderal PBB U Thant bahwa sekiranya cara diplomasi gagal, Indonesia akan merebut Irian Barat dari Belanda dengan kekuatan bersenjata.

Sadar bahwa bahwa Bung Karno tidak sekedar menggertak, pada tanggal 16 Juni 1962, perwakilan Belanda untuk PBB C.W. A. Schurmann, menyatakan kepada U Thant bahwa pemerintahnya secara prinsip menerima Formula Bunker.

Foto : Bung Karno dan Ellsworth Bunker. Di tengah nampak Howard Jones

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Muhammad Yamin

Ibukota Pindah ke Yogyakarta

Mahabharata