Pemicu Politik Konfrontasi adalah Inggris
Sebuah kajian Greg Poulgrain mengenai asal-usul politik konfrontasi menemukan bahwa Inggrislah yang merupakan pemicu utama politik tersebut. Poulgrain berbeda dengan J.A. C. Mackie yang mengatakan bahwa pihak yang patut dipersalahkan di balik kebijakan ini ialah Indonesia, khususnya Presiden Sukarno.
Berdasarkan pengakuan seorang mantan kepala Pasukan Khusus Inggris di Serawak dan dari risetnya terhadap berbagai dokumen yang relevan yang tersimpan di Public Records Office di London, Poulgrain menemukan bahwa kebijakan yang dianut oleh pemerintah Inggris terkait Malaysia adalah mempertahankan seluas mungkin akses ke dalam sumber-sumber daya ekonomi koloninya di Kalimantan Utara menyusul dibubarkannya Dinas Kolonial Inggris.
Menurut Poulgrain kebijakan semacam itu mensyaratkan "dihilangkannya" Bung Karno, sebab di mata Inggris Bung Karno adalah seorang pemimpin berhaluan kiri yang punya potensi besar membahayakan akses Inggris ke wilayah-wilayah tersebut. Itulah sebabnya intelijen Inggris (Cabang Khusus, M15-M16), berusaha menciptakan suatu situasi yang dapat mendorong munculnya pemberontakan di wilayah tersebut, dengan harapan bahwa hal ini dapat memprovokasi Bung Karno dengan sentimen anti-kolonialnya yang kental untuk menentang Malaysia.
Inggris lebih jauh berharap bahwa keterlibatan Bung Karno itu akan membuat pemerintahannya lumbung dan dengan demikian kejatuhannya dari kekuasaan pun tinggal menunggu waktu saja. (Greg Poulgrain, The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia, 1945-1965, Bathurst, Australia: Crawford House Publishing, 1998 : 5-14).
Komentar
Posting Komentar